NovelToon NovelToon
THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:265
Nilai: 5
Nama Author: Husein. R

"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."

​Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.

​Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.

​"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."

​Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Abu di Atas Angin

Rumah sakit ini terlalu putih. Terlalu bersih untuk gue yang baru saja kehilangan separuh jiwa dalam genangan darah. Gue duduk di tepi tempat tidur dengan perban melilit dada dan kepala. Pak Maman berdiri di sudut ruangan, matanya sembab, pistol yang tadi dia pegang sudah kembali tersembunyi, tapi aura dinginnya masih tertinggal.

​"Tuan Muda," suara Pak Maman serak. "Nyonya Nadia ada di ruang sebelah. Beliau pingsan karena syok, tapi fisiknya baik-baik saja. Ibu... Ibu Lastri juga selamat, beliau sedang dalam penanganan psikis."

​Gue cuma diam. Gue menatap telapak tangan gue. Kosong. Dua tombak naga itu lenyap seolah cuma mimpi. Tapi rasa sakit di dada gue—rasa kehilangan Baron dan Kian—itu nyata banget.

​"Kapan pemakamannya?" tanya gue datar.

​"Tadi pagi, Tuan. Kenji yang mengurus semuanya secara tertutup di tanah pemakaman khusus klan Utara. Kami tidak berani menunggu Anda bangun karena kondisi keamanan yang belum stabil," jawab Pak Maman sambil menunduk.

​Gue bangkit berdiri. Rasa pening menghantam kepala gue, tapi gue paksain. Gue jalan ke jendela, natep langit Jakarta yang warnanya abu-abu, seolah ikut berduka.

​"Mereka mati karena gue, Man. Baron yang selalu bilang Tuan, jangan konyol, sekarang dia yang mati konyol demi ngelindungin kepala gue. Dan Kian... dia masih terlalu muda buat dipaku pake pipa besi kayak gitu."

​Gue ngerasain air mata gue jatuh, tapi gue nggak terisak. Itu adalah air mata paling panas yang pernah gue rasakan.

​"Ini bukan soal Reno lagi," desis gue. "Pria bertopeng itu... dia bukan manusia biasa. Dia tahu titik lemah kekuatan naga gue."

​Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Nadia masuk dengan kursi roda yang didorong oleh salah satu anak buah Kenji. Wajahnya pucat, tapi begitu dia liat gue berdiri, dia langsung maksa buat bangun dan meluk gue erat banget.

​"Arka... aku pikir kamu juga bakal pergi," Nadia nangis di dada gue.

​Gue bales pelukannya, gue cium rambutnya. "Aku nggak akan kemana-mana Nad. Tapi duniaku... duniaku udah berubah sekarang."

​Gue nengok ke Kenji yang baru masuk dengan map hitam di tangannya.

​"Tuan Muda, saya sudah melacak jejak energi dari jentikan jari pria bertopeng itu," Kenji bicara dengan nada sangat serius. "Itu bukan sihir biasa. Itu adalah Seal of Silence, teknik terlarang dari klan Naga Selatan yang legendaris. Hanya satu orang yang diketahui menguasainya di abad ini."

​"Siapa?" tanya gue.

​"Guru besar dari Surya Kencana. Orang yang selama ini dianggap sudah mati oleh sejarah," Kenji membuka map itu. "Namanya Sakti Langit. Dia adalah orang yang dulu hampir menghancurkan klan Utara sebelum kakek Anda menyegel kekuatannya."

​Gue mengepalkan tangan sampai luka di lengan gue kembali berdarah, merembes ke perban putih. Jadi ini alasannya. Surya Kencana cuma pion. Reno cuma mainan. Musuh yang sebenernya baru saja keluar dari kegelapan.

​"Kenji," suara gue berubah, lebih berat dan bergetar karena kekuatan yang mulai merayap kembali di nadi gue. "Kumpulkan semua sisa pasukan Utara yang masih setia. Bilang sama mereka, masa sembunyi sudah selesai."

​Gue natep Nadia, lalu beralih ke Pak Maman.

​"Mulai hari ini, nggak ada lagi supir bernama Arka yang ramah. Nggak ada lagi naga yang bermain perang-perangan. Jika mereka mau darah, akan gue kasih banjir darah. Dan buat pria bertopeng itu... gue bakal bikin dia nyesel karena sudah biarin gue bangun lagi di rumah sakit ini."

​Gue ngeraih kunci motor matic lama gue yang ada di meja samping tempat tidur. Kunci itu berlumuran darah Kian yang sudah mengering. Gue genggam erat-erat.

​"Ayo berangkat. Ada satu pengkhianat di kantor yang harus gue interogasi sebelum matahari tenggelam."

Gue jalan keluar dari kamar rumah sakit, mengabaikan protes suster yang bilang luka gue belum kering. Di lorong, Kenji dan pasukannya langsung berbaris rapi, nundukin kepala pas gue lewat. Suasananya bukan lagi kayak asisten bisnis, tapi kayak jenderal yang mau berangkat perang.

"Kenji, Pak Maman jaga Nadia di sini. Jangan biarkan satu pun lalat asing masuk ke lantai ini," perintah gue tanpa nengok belakang.

"Tuan Muda, Anda mau ke mana dengan kondisi begitu?" tanya Pak Maman cemas.

"Gue mau nemuin tikus yang ngebocorin lokasi ziarah kita kemarin," jawab gue dingin. "Nggak mungkin Reno tahu kita ke makam jam segitu kalau nggak ada orang dalam yang nyanyi."

Gue masuk ke dalam mobil SUV hitam yang udah disiapin Kenji. Di dalem, udah ada satu orang yang duduk gemeteran dengan tangan terikat dan kepala ditutup karung hitam. Gue duduk di sampingnya, sengaja diem seribu bahasa biar suasana makin mencekam.

Gue buka karungnya pelan-pelan. Begitu wajahnya kelihatan, gue nggak kaget. Itu adalah Bimo, asisten pribadi Paman Bram yang kemarin sempat Nadia pertahanin karena katanya dia "paling rajin".

"Pagi Bim. Udah sarapan?" tanya gue sambil ngeluarin pisau kecil lipat milik Kian yang gue temuin di lokasi kejadian.

"T-tuan Arka... saya... saya dipaksa! Mereka ancam keluarga saya!" Bimo nangis-nangis, air matanya bercampur ingus.

Gue mainin pisau itu di depan matanya. "Bim, Baron mati karena info dari lu. Kian ditusuk tiga pipa besi karena lu kasih tau jadwal kita. Lu bilang keluarga lu terancam? Terus lu pikir keluarga gue nggak?"

Gue deketin pisau itu ke lehernya. "Siapa pria bertopeng itu? Di mana dia sembunyiin Reno sekarang?"

"Saya nggak tau namanya! Sumpah! Dia cuma muncul kayak asap! Reno dibawa ke sebuah villa di kaki gunung Salak, tempat persembunyian tua milik Surya Kencana!" Bimo teriak histeris pas ngerasain dinginnya mata pisau di kulit lehernya.

Gue narik napas panjang. Amarah gue pengen banget nebas leher orang di depan gue ini, tapi gue inget pesen terakhir Baron: "Tuan, jangan biarkan monster di dalem diri Anda menang."

Gue tutup lagi kepala Bimo pake karung. "Kenji, bawa dia ke markas Utara. Serahin ke tim interogasi. Jangan dibunuh, gue mau dia liat gimana bos-bosnya hancur satu per satu."

Gue turun dari mobil, berdiri di parkiran rumah sakit yang sepi. Gue natap telapak tangan gue. Getaran tanah itu mulai kerasa lagi. Bukan gempa, tapi resonansi dari kekuatan naga yang lagi nuntut balas dendam.

"Salak ya?" bisik gue ke arah angin.

Tiba-tiba, HP gue bunyi. Satu pesan masuk, tapi kali ini bukan dari musuh. Dari nomor yang gue kenal sebagai informan rahasia klan Utara yang udah lama ilang.

"Jangan ke Salak, itu jebakan kedua. Sakti Langit nunggu lu di tempat semuanya dimulai: Kantor lama Papa Nadia. Dia nggak nunggu dokumen, dia nunggu nyawa lu buat nyempurnain segelnya."

Gue nyengir sinis. Mereka pikir mereka bisa mainin gue pake info palsu lewat si Bimo? Mereka lupa kalau Naga Utara punya mata di mana-mana.

"Kenji, batalin ke Salak. Kita balik ke kantor Atmaja Group. Tapi kali ini, bilang sama anak-anak... bawa senjata berat. Kita nggak akan nangkep tawanan lagi."

Gue masuk ke mobil kemudi, injek gas dalem-dalem. Mata gue kembali berpendar merah di spion. Di tengah duka yang belum usai, gue bakal pastiin kantor itu jadi kuburan buat siapa pun yang berani ngetawain kematian Baron dan Kian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!