Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Zaidan keluar dari ruangan Komisaris Hendrawan dengan langkah gontai.
Peringatan atasannya tadi terasa seperti alarm yang terus berdenging di telinganya.
Fokusnya harus pada Guntur, tapi realitanya, hidup pribadinya kini lebih mirip medan perang daripada kasus yang sedang ia tangani.
Ia masuk ke ruang kerjanya yang masih berantakan.
Baru saja ia meletakkan lencana dan senjatanya di atas meja, ponselnya bergetar di atas permukaan kayu yang dingin.
Sebuah pesan singkat dari Maya masuk, namun isinya jauh dari kata damai.
"Mama dan Papa sudah di rumah. Mereka sudah tahu semuanya. Mereka minta kamu datang sekarang juga kalau kamu masih punya muka di depan keluarga kami."
Zaidan menghela napas panjang, sangat panjang hingga dadanya terasa sesak.
Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.
Ia tahu momen ini pasti akan datang, tapi ia tidak menyangka Maya akan secepat itu melibatkan orang tuanya.
Rumah yang baru saja ia tinggalkan adalah rumah pemberian mertuanya, dan bagi mereka, Zaidan bukan sekadar menantu, melainkan investasi kehormatan.
Tanpa sempat merapikan pakaian atau menyamarkan lebam di wajahnya, Zaidan menyambar kunci mobil.
Ia harus menghadapi badai ini sebelum ia kembali ke rumah kontrakan untuk menemui Sulfi.
Sesampainya di halaman rumah Maya, Zaidan melihat sebuah mobil mewah terparkir di sana—mobil milik mertuanya.
Suasana rumah itu tampak sunyi namun mencekam, seperti ketenangan sebelum badai besar menghantam.
Zaidan melangkah masuk. Di ruang tamu, Maya duduk di samping ibunya yang terus mengusap air mata, sementara Papa Maya, Pak Surya, berdiri di dekat jendela dengan punggung yang tampak kaku dan sangat marah.
"Akhirnya datang juga pahlawan kita," sindir Pak Surya tanpa menoleh saat mendengar langkah kaki Zaidan.
Zaidan berdiri mematung di tengah ruangan. "Selamat siang, Pa, Ma. Mohon maaf saya terlambat."
Pak Surya berbalik, matanya berkilat tajam menatap wajah Zaidan yang lebam.
"Jangan panggil saya Papa kalau mulutmu baru saja mengkhianati putri saya dengan janda kampung! Apa yang ada di otakmu, Zaidan? Kami memberikan segalanya untukmu, memfasilitasi hidupmu, dan ini balasanmu?"
Maya hanya menunduk, memegang tangan ibunya dengan erat, sesekali melirik Zaidan dengan tatapan penuh kebencian sekaligus kemenangan karena kini ia memiliki dukungan penuh.
"Zaidan," giliran ibu mertuanya bicara dengan suara gemetar, "apa kurangnya Maya? Dia sabar menunggumu pulang bertugas, dia mengurus rumah ini dengan baik. Kenapa kamu harus membawa perempuan lain masuk ke dalam hidup kalian?"
Zaidan menarik napas, mencoba mengatur suaranya agar tetap stabil.
"Ma, Pa. Kejadian semalam benar-benar sebuah kecelakaan tugas. Saya dipaksa warga. Jika saya tidak melakukannya, nyawa saya taruhannya dan institusi saya akan tercemar."
"Kecelakaan?" Pak Surya tertawa hambar. "Seorang detektif hebat sepertimu tidak bisa menghindari jebakan warga kampung? Jangan buat alasan yang menghina kecerdasan kami! Pilihannya sederhana sekarang..."
Pak Surya melangkah mendekat, mengintimidasi Zaidan dengan jarak yang sangat dekat.
"Ceraikan perempuan itu hari ini juga, umumkan di depan warga kampungnya bahwa pernikahan itu tidak sah, dan sujud minta maaf pada Maya. Jika tidak, jangan harap kamu bisa melangkah keluar dari rumah ini dengan membawa satu benang pun milik keluarga kami. Termasuk kariermu, aku bisa saja bicara dengan Kapolda untuk meninjau kembali posisimu."
Zaidan terdiam. Ancaman itu bukan main-main. Di satu sisi ada karier dan kenyamanan hidup bersama Maya, di sisi lain ada Sulfi—wanita yang baru saja kehilangan segalanya dan kini hanya memiliki selembar surat nikah siri dan perlindungannya.
"Saya tidak bisa menceraikannya sekarang, Pa," jawab Zaidan lirih namun tegas.
"Saya sudah berjanji untuk menjaganya."
Plak!
Satu tamparan keras dari Pak Surya mendarat di pipi Zaidan yang sudah lebam.
Maya tersentak, namun ia tidak mencegahnya.
"Keluar kamu dari sini!" teriak Pak Surya.
"Bawa semua sampahmu! Jangan pernah injakkan kakimu di sini lagi sampai kamu sadar siapa yang sudah membuatmu menjadi 'orang' di kota ini!"
Zaidan berdiri tegak di tengah ruang tamu yang kini terasa asing baginya.
Rasa panas di pipinya akibat tamparan Pak Surya tak sebanding dengan rasa sesak di dadanya.
Ia menatap Maya untuk terakhir kalinya—wanita yang selama ini ia puja, namun kini justru menjadi orang yang paling ingin menginjak-injak harga diri manusia lain.
"Ma, Pa. Maafkan saya jika kehadiran saya selama ini hanya mengecewakan," suara Zaidan terdengar berat dan dalam.
Ia kemudian beralih menatap Maya yang masih terisak di pelukan ibunya.
"Maya,karena kamu sendiri yang memintaku memilih, dan karena syarat yang kamu ajukan sudah melampaui batas kemanusiaan..."
Zaidan menjeda sejenak, tenggorokannya terasa tersumbat.
"Hari ini, di depan orang tuamu. Maya binti Surya, aku menjatuhkan talak satu kepadamu."
Ruangan itu mendadak senyap, seolah waktu berhenti berputar.
Maya mendongak, matanya membelalak tak percaya.
Ia mengira ancaman orang tuanya akan membuat Zaidan berlutut, bukan justru melepaskannya.
"APA?! MAS ZAIDAN!" jerit Maya histeris.
Ia bangkit berdiri, wajahnya merah padam. "Kamu gila, Mas! Kamu menceraikan aku demi janda miskin itu? Aku tidak akan pernah memaafkan kalian! Aku bersumpah, Sulfi tidak akan pernah hidup tenang! Aku akan menghancurkan dia!"
Zaidan tidak menjawab lagi. Ia berbalik dan melangkah keluar tanpa menoleh sedikit pun.
Di dalam mobil, pertahanannya runtuh. Air mata jatuh membasahi pipinya yang lebam.
Ia menghapusnya dengan kasar, mencoba menguatkan hati sebelum kembali ke kantor.
Ja telah kehilangan rumah, istri yang ia cintai, dan dukungan keluarga, namun ia masih memiliki harga diri yang harus dijaga.
Sementara itu, di rumah kontrakan yang sederhana, suasana jauh lebih tenang.
Sulfi sedang menyapu lantai semen yang sedikit berdebu ketika mendengar suara teriakan khas dari luar pagar.
"Sayuuur! Sayuuur!"
Sulfi mengintip dari balik tirai jendela yang tipis. Seorang penjual sayur dengan gerobak motor sedang berhenti tepat di depan rumah.
Ia teringat nasihat Zaidan untuk tidak membuka pintu, namun ia melirik ke arah dapur yang masih kosong melongpong. Hanya ada karung beras pemberiannya tadi pagi.
Dengan hati-hati, ia membuka pintu sedikit dan memanggil tukang sayur itu.
"Bang, beli sayurnya!"
Sulfi memilih beberapa ikat bayam, jagung, tempe, dan sedikit ikan asin.
Ia juga membeli bumbu-bumbu dapur dasar. Uangnya tidak banyak, sisa tabungan suaminya yang lama, namun cukup untuk menyambung hidup beberapa hari.
Di dapur kecil yang pengap, Sulfi mulai memetik sayur. Ia mencuci beras pemberiannya sendiri dengan telaten.
Ada senyum tipis yang terukir di wajahnya yang masih sembap.
"Semoga Mas Zaidan menyukai masakanku," bisiknya lirih pada dirinya sendiri.
Ia tahu hidupnya ke depan akan sangat berat. Ia tahu ia berada di tengah badai rumah tangga orang lain. Namun, melihat kompor yang mulai menyala dan aroma bawang yang mulai tercium, Sulfi merasa sedikit berguna.
Ia ingin rumah kontrakan kecil ini menjadi tempat berteduh yang nyaman bagi pria yang sudah mengorbankan segalanya demi melindunginya.