Ah, sialan!
Liga berusaha tetap terlihat biasa saja walau kenyataannya perasaannya sangat gugup sekarang. "Aku hanya mengunjunginya saja dan tidak melakukan apapun. Tapi di--"
"Mengunjungi?" Mafia menyela, menatap Liga cukup intens, membuat ucapan Liga terhenti dan berganti anggukan.
"Iya. Aku hanya ingin mengunjunginya saja. Tap--"
"Sejak kapan kamu suka mengujungi tahanan?" sela Mafia lagi yang tanpa diketahui berhasil membuat jantung Liga berdebar kencang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Jantung Liga berdebar. Lidahnya mendadak terasa kelu, seluruh badannya terasa gemetar. Apa yang harus kukatakan pada Mafia?
"Liga, kenapa kamu diam saja? Apa ada yang masih sakit dan perlu diperiksa ulang?"
"O-oh, ti-tidak perlu. Aku hanya merasa tidak enak badan saja Mafia. Sepertinya Aku ingin tidur saja." kilahnya, berharap Mafia akan melupakan pertanyaan yang tadi itu.
"Oh,"
Mafia mengerti, dia menepuk pelan bahu Liga, kemudian pergi dari ruangan itu. Kemudian menuju ruangan yang sudah ada Vair didalamnya. Setelah sampai diruangan yang sudah disiapkan oleh Haru. Mafia menyeringai melihat Vair yang terduduk dipinggiran tempat tidur.
Melihat siapa yang datang, Vair membuang muka. Dia sudah jengah melihat wajah penjahat yang sudah membuatnya berjauhan dengan sang adik.
"Haru, kamu boleh keluar." perintahnya pada Haru yang berdiri disisi pintu.
"Baik tuan."
Setelah hanya ada mereka berdua, Mafia berjalan pelan mendekati Vair. Ditatapnya wajah yang sebenarnya cantik, hanya saja, wajah itu kotor dengan debu karena sudah dua hari ini Vair tidak diper izin kan bebersih diri. Mafia juga tidak bisa membayangkan betapa risihnya wanita itu saat ini.
"Akan aku izinkan kamu mandi jika kamu mengakui apa yang telah kamu lakukan pada Liga,"
"Cih! Aku nggak mandi juga nggak apa apa."
"Oh! Begitu ya?" Mafia mengangguk, dia bertepuk tangan, mengakui jika vair memang berani. Berani menolak perintahnya dan siap diberi hukuman.
"Sudah aku katakan, Vair. Semua yang aku katakan adalah perintah dan siapapun yang menolak perintahku, maka siap siap saja untuk mendapatkan hukuman."
"Aku nggak takut, walau hukuman yang kamu kasih ke aku adalah kematian sekalipun."
Melihat wajah Vair yang tidak ada takut takutnya sama sekali, membuat Mafia merasa geram. Entah, ini pertama kalinya ada seseorang yang beraninya abai dengan ancamannya.
Awas saja, sebentar lagi kamu pasti akan bertekuk lutut padaku Vair
"Kasiiim...!"
"Siap tuan," Kasim yang memang ditugaskan untuk jaga jaga diluar, segera mendekat. "Tuan perlu bantuan?" menunduk hormat.
"Ambilkan cambuk sekarang juga, dan cambuk wanita ini seratus kali, cepat..!"
"Baik, tuan."
Kasim bergegas mengambil cambuk yang ada diruang latihan Mafia. Sedangkan Vair, dia menahan napas sejenak dia tahu hukuman yang akan Mafia berikan padanya pasti sangat menyakitkan. Tapi sebisa mungkin Vair tidak menunjukan rasa takut yang mulai membayanginya.
Setelah berhasil membawa cambuk, Kasim memberikannya pada Mafia tapi Mafia menolak, dan memintanya untuk mencambuk Vair secara langsung.
Ctazzz
"Awrghhh...!"
Ctazzz
"Arghhh...!"
"Lebih kencang..."
"Siap tuan," Kasim dengan tegas mengayunkan cambuknya pada tubuh wanita didepannya. Dia tidak peduli walau wanita didepannya sudah mulai terlihat lemah. Hingga entah cambukan yang keberapa kalinya Kasim mulai merasa iba pada Vair tetapi Kasim tidak berani menunjukannya atau dirinya sendiri yang akan terkena hukuman dari tuannya yang terkenal sangat kejam.
Mafia tersenyum sinis melihat wajah Vair yang kesakitan. Bahkan jubah putihnya sudah mulai terlihat bercak darah.
"Bagaimana Vair? Apa kamu masih sanggup bertahan hah?" Mafia meminta Kasim untuk berhenti. Sesuai perintah, Kasim pun menurut. Meninggalkan ruangan itu setelah melihat lambaian tangan tuannya, pertanda untuk keluar dari sana.
Nafas Vair memburu, dia memejamkan mata, menahan sakit akibat cambukan tadi. Cambukan yang hanya beberapa kali saja, belum sampai seratus kali seperti yang Mafia katakan barusan. Tetapi, rasa sakitnya sudah teramat luar biasa. Vair benar benar merasa tidak berdaya sekarang. Namun, dia tidak ingin terlihat selemah itu didepan Mafia.
Aku nggak boleh kalah. Aku harus kuat. Demi bisa bertemu adikku
Melihat Vair yang hanya mampu berdiam diri dengan deru napas yang kasar, Mafia tertawa kencang. Dia merasa jika Vair sudah kalah. Lihat wajahnya, sungguh, Vair benar benar terlihat tidak berdaya, hanya sekedar untuk bernapas saja terlihat sesulit itu.
"Hahahaaa....!"
Mafia menyentuh dagu Vair yang ternyata langsung mendapat cengkraman kuat dilengannya. Mafia tersenyum miring, rupanya dirinya sudah salah mengira. Ternyata Vair masih memiliki tenaga untuk melawannya, walau, tidak sekuat itu.
"Kamu yakin?" Mafia menatap Vair lekat lekat. "Kamu yakin mau melawanku Vair? Melawanku dengan keadaan tubuhmu yang selemah itu? Hahahaaaa.... Ow! Patut diajungi jempol," Mafia bertepuk tangan seolah wanita didepannya itu telah memenangkan sesuatu dan Mafia mengapresiasinya dengan tepukan tangan.
Cuih!
"Kamu---"
Mafia menggeram kesal ketika wajahnya kembali diludahi oleh Vair. Sedangkan Vair, dia merasa berbangga diri karena sudah berhasil melukai harga diri tuan yang terkenal kejam ini dua kali meludahinya. Lihat, tuan kejam itu terlihat murka. Bukannya merasa takut justru Vair merasa lucu dan ingin tertawa. Tapi Vair tentu menahannya.
Plak
"Arghhh...!" Wajah Vair terhempas kesamping cukup kasar, merasa kebas dan panas karena telah mendapat tamparan keras disatu pipinya. Tentu saja Mafia pelakunya. Kurang ajar sekali laki laki ini. Tidak bisa kah dia mengasihani dirinya yang seorang wanita?
Mungkinkah tamparan ini sebagai balasannya karena aku sudah meludahinya? Cih..!
"Haruuu....!" Mafia berteriak, wajahnya sudah merah padam, menandakan dia sudah berada dimode kemarahan yang tertinggi.
Tak lama Haru datang, dia menunduk hormat dihadapan tuannya, membuat Vair yang melihatnya merasa jengah.
"Bawa salah satu tahanan yang melihat kejadian yang menimpa sahabatku, CEPAT...!"
"Baik tuan." Haru bergegas menuju ruang bawah tanah. Begitu sampai disana, dia meminta salah satu diantara mereka untuk menjadi saksi mata dimana Liga yang tidak sadarkan diri didalam sel Vair. Tetapi mereka semua menolak, tidak ada yang mau dijadikan saksi mata. Entah mereka takut, atau memang tidak mau ikut campur atau apa itu, Haru benar benar tidak tahu.
"Oh ayolah, kalian bakal aku kasih uang deh, tapi salah satu dari kalian harus mau menghadap tuan Mafia. Gimana?" Haru mencoba memberi penawaran. Dia tidak mau jika tidak melakukan tugasnya dengan baik, atau si tuan Mafia murka dan memecatnya.
Oh tidak!
Haru masih belum bisa melunasi hutangnya, jadi jangan sampai tuannya yang terkenal ganteng tapi kejam itu mendepaknya dari pekerjaan ini. Pokoknya jangan sampai!
"Lima juta ya? Gimana?" Aan, salah satu tahanan yang sudah mengakar disini akhirnya bersuara membuat Haru sedikit lega walau uangnya akan hilang lima juta sekaligus.
"Halah, yang terpenting lakukan tugasmu dengan baik, masalah uang mah gampang. Entar aku kasih,"
Akhirnya mereka berdua pun menuju ruangan yang sudah ada tuan Mafia dan juga Vair. Begitu tiba disana, dapat Aan rasakan auranya begitu tegang, benar benar membuat Aan mendadak gemetar, takut nanti membuat kesalahan ketika berbicara.
"Apa yang terjadi dipenjara sehingga sahabatku dibuat menderita oleh wanita itu?" Pelan tapi terdengar tegas, tanpa Mafia sadari suaranya itu membuat persendian Aan gemetar.
"M-maaf t-tuan, tetapi tuan Liga lah yang lebih dulu menggoda nona itu,"