Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kamar rumah sakit dengan lebih cerah, namun atmosfer di kediaman Karadağ justru terasa mencekam dan sedingin es.
Hari ini adalah jadwal keberangkatan Zaenab menuju Erzurum, sekaligus hari di mana Aliya harus menghadapi ujian susulan hari kedua.
Emirhan berdiri di depan cermin, merapikan setelan hitamnya.
Wajahnya tampak sedikit pucat setelah malam yang panjang, namun ia harus tetap tegak.
Ia menoleh ke arah Zartan yang sejak tadi berdiri di dekat pintu.
"Zartan, aku minta tolong padamu. Temani Aliya di rumah sakit selama ujian hari ini. Pastikan tidak ada siapa pun yang mengganggunya, termasuk pengawas yang mungkin bertanya macam-macam," ucap Emirhan dengan nada serius.
Zartan mengangguk mantap. Ia mengerti bahwa Emirhan memiliki tugas berat yang tidak mungkin dilakukan sambil menemani Aliya.
"Jangan khawatir, Kak Emir. Selama aku di sana, tidak akan ada seekor lalat pun yang berani mengusik Aliya. Selesaikan urusanmu di mansion."
"Terima kasih, Adikku," balas Emirhan singkat sebelum melangkah pergi.
Di Kediaman Karadağ. Emirhan sampai di mansion tepat saat sebuah mobil van hitam sudah terparkir di halaman depan.
Beberapa pelayan tampak mengangkuti koper-koper sederhana ke dalam bagasi.
Tidak ada kemewahan, hanya barang-barang kebutuhan pokok yang diizinkan oleh Onur.
Di teras depan, Onur berdiri dengan tangan di belakang punggung, menatap lurus ke depan dengan ekspresi tanpa ampun.
Sementara itu, Zaenab berdiri lemas di samping mobil, wajahnya tertutup kerudung tipis, matanya bengkak karena terus menangis.
Tak jauh dari sana, di paviliun belakang mansion, Laura—keponakan Onur yang selama ini hanya menjadi pengamat—berdiri di balik jendela.
Ia menatap keberangkatan bibinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Laura tahu, setelah Zaenab pergi, posisinya di keluarga ini juga berada di ujung tanduk.
Selama ini ia hidup di bawah bayang-bayang perlindungan Zaenab, dan kini pelindungnya itu telah tumbang.
Emirhan mendekati ibunya. Suasana mendadak sunyi.
"Sudah waktunya, Ibu," ucap Emirhan pelan namun tegas.
"Emir, kamu benar-benar tidak akan mengantar Ibu?" tanya Zaenab dengan suara parau, berharap ada sedikit belas kasihan di detik-detik terakhir.
Emirhan menggelengkan kepalanya. "Aku harus memastikan Aliya baik-baik saja di rumah sakit. Sopir ini akan membawamu langsung ke Erzurum. Ayah sudah mengatur segalanya di sana."
Onur melangkah maju, memberikan isyarat kepada petugas keamanan untuk segera membawa Zaenab masuk ke mobil.
"Cukup. Pergilah sekarang, Zaenab. Jangan pernah menoleh ke belakang jika kamu ingin sisa hidupmu tenang."
Dengan langkah gontai dan isak tangis yang tertahan, Zaenab masuk ke dalam mobil.
Saat mesin dinyalakan dan mobil mulai bergerak perlahan meninggalkan gerbang besar Karadağ,
Emirhan hanya bisa mematung. Ia merasakan perih di dadanya, namun ia tahu ini adalah operasi pembersihan yang harus dilakukan demi menyelamatkan masa depan mereka semua.
Sementara itu, dari kejauhan, Hakan menatap keberangkatan ibunya dari jendela kamarnya dengan tangan mengepal. Ia melihat ke arah Emirhan dan Onur dengan tatapan penuh dendam, lalu beralih menatap Laura yang juga sedang memperhatikannya dari paviliun belakang.
Sebuah rencana rahasia mulai tersusun di kepala Hakan, dan ia tahu Laura bisa menjadi pion yang berguna untuk membalas dendam ini.
Setelah mobil yang membawa ibunya menghilang di balik gerbang mansion, Emirhan menarik napas panjang untuk mengumpulkan kembali sisa-sisa kekuatannya.
Tidak ada waktu untuk berkabung atas perpisahan itu. Ia segera memacu mobilnya menuju kantor pusat.
Sebagai pimpinan operasional, ia tidak boleh membiarkan drama keluarga melumpuhkan roda bisnis yang menghidupi ribuan orang.
Di dalam ruang rapat utama yang berdinding kaca, para pemegang saham dan jajaran direksi sudah menunggu.
Emirhan masuk dengan langkah tegap, wajahnya kembali menjadi topeng baja yang dingin dan profesional.
"Maaf atas keterlambatan saya. Mari kita mulai pembahasannya," ucap Emirhan sambil membuka tabletnya, langsung membedah laporan proyek pembangunan dermaga baru yang sempat tertunda.
Meskipun suaranya terdengar tegas saat memaparkan angka-angka dan strategi, sesekali matanya melirik ke arah ponsel yang ia letakkan di atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah.
Pikirannya terbagi; ia terus memikirkan bagaimana keadaan di rumah sakit.
Sementara itu, suasana di kamar Aliya sangat sunyi.
Hanya terdengar gesekan pena di atas kertas. Aliya sedang duduk bersandar di tempat tidur dengan meja kecil di pangkuannya.
Ia tampak sangat fokus, keningnya sedikit berkerut saat membaca soal-soal ujian matematika yang cukup rumit.
Di sudut ruangan, Zartan duduk dengan tenang. Ia benar-benar menepati janjinya pada Emirhan.
Ia tidak memainkan ponsel, tidak membuat suara, bahkan napasnya pun diatur agar tidak mengganggu konsentrasi Aliya.
Sesekali, Zartan menatap tajam ke arah pintu setiap kali ada perawat yang lewat di lorong, seolah-olah ia adalah perisai hidup yang siap menghalau siapa pun yang berani masuk tanpa izin.
"Kak Zartan..." panggil Aliya lirih tanpa menoleh dari kertas ujiannya.
"Ya? Ada yang sakit?" Zartan langsung sigap berdiri.
"Boleh minta tolong ambilkan air minum? Tenggorokanku kering," ucap Aliya sambil tersenyum tipis.
Zartan dengan cekatan menuangkan air ke gelas dan membantu Aliya minum menggunakan sedotan agar tidak mengganggu posisi tangannya yang sedang menulis.
"Terima kasih, Kak," bisik Aliya.
"Fokuslah pada ujianmu, Kecil. Aku di sini. Jangan pikirkan apa pun di luar sana," jawab Zartan dengan nada yang jauh lebih lembut dari biasanya.
Aliya mengangguk, merasa aman. Dengan kehadiran Zartan yang menjaga pintunya dan bayangan Emirhan yang selalu memberinya kekuatan, Aliya merasa mampu melewati ujian paling sulit sekalipun, baik ujian sekolah maupun ujian hidup yang sedang menimpanya.
Sinar matahari siang itu terasa lebih hangat saat Onur memarkirkan mobilnya di depan rumah makan Maria.
Setelah ketegangan yang menguras emosi di mansion pagi tadi, tempat sederhana ini adalah satu-satunya tujuan yang bisa memberikan Onur ketenangan.
Begitu melangkah masuk, aroma rempah yang kuat dan harum daging panggang langsung menyambutnya.
Di dapur yang terbuka, Maria tampak sibuk dengan celemeknya. Ia sedang dengan telaten mengolah Kıymalı Pide—roti pipih khas Turki dengan taburan daging cincang yang dibumbui bawang bombay, peterseli, dan tomat.
Onur berdiri sejenak di ambang pintu, menatap punggung wanita itu.
Ada rasa bersalah yang kembali mencuat di hatinya; Maria seharusnya berada di sisinya sebagai nyonya Karadağ, bukan berjuang sendirian di dapur kecil ini.
"Baunya sampai ke depan, Maria," ucap Onur lembut.
Maria sedikit terkejut dan menoleh. Ia tersenyum tipis sembari menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan.
"Kamu sudah datang, Onur? Tunggu sebentar, ini hampir matang. Aku sengaja membuatkan daging cincang kesukaan Aliya. Dia butuh banyak energi untuk ujiannya hari ini."
Onur mendekat, berdiri di samping Maria dan memperhatikan tangannya yang lincah membungkus makanan itu ke dalam wadah tahan panas.
"Kamu selalu memikirkan orang lain, bahkan di saat kamu sendiri pasti merasa lelah dengan semua kekacauan ini," kata Onur dengan nada penuh kekaguman.
"Aliya adalah segalanya bagiku, Onur. Dan sekarang..." Maria menjeda kalimatnya, menatap
Onur dalam-dalam. "Zartan juga sudah kembali bersamamu. Itu sudah lebih dari cukup untuk menghapus lelahku."
Onur mengambil wadah yang sudah rapi terbungkus itu.
'Biarkan aku yang mengantarkannya ke rumah sakit setelah ini. Aku ingin memastikan dia makan dengan lahap."
Maria mengangguk, lalu tangannya terhenti sejenak.
"Bagaimana dengan, keberangkatannya?"
Onur menghela napas, ia tahu Maria sedang menanyakan tentang Zaenab.
"Dia sudah pergi ke Erzurum. Emirhan yang memastikan semuanya tadi pagi. Sekarang, tidak akan ada lagi yang berani menyentuh Aliya atau mengganggu hidupmu, Maria. Aku janji."
Di dalam rumah makan yang sederhana itu, di antara kepulan uap masakan daging cincang yang gurih, Onur merasa perlahan-lahan hidupnya yang sempat hilang mulai kembali ke arah yang benar.