No plagiat 🚫
Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa
Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.
Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.
Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?
"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Berbicara dan Kontrak Bayangan
Gua di balik air terjun hitam itu terasa seperti peti mati yang dingin. Suara gemuruh air di luar menjadi perisai alami dari pendengaran tajam para pengejar kekaisaran. Ming Luo bersandar di dinding gua, napasnya tersengal. Jubah jenderalnya yang dulu gagah kini compang-camping, lebih mirip kain pel daripada seragam pejabat kasta atas.
"Oi, Yuan..." Ming Luo terbatuk, mengeluarkan sedikit sisa darah dari tenggorokannya. "Secara logika, kalau kau tidak segera memberiku air, aku akan mati karena dehidrasi, bukan karena serangan Tetua Agung. Dan itu akan menjadi catatan kematian paling memalukan dalam sejarah auditku."
Yuan, yang sedang duduk bersila sambil menahan gejolak energi Ao Kuang di dadanya, membuka mata. "Kau masih bisa bercanda setelah hampir terbelah menjadi dua?"
"Itu bukan bercanda, itu mekanisme pertahanan diri," sahut Ming Luo sambil menerima botol kulit berisi air dari Yuan. Setelah meneguknya rakus, ia menyeringai. "Tetua Agung itu... dia benar-benar monster. Teknik Seribu Pisau Penumpas Sukma-nya hampir saja menghapus baris kode keberadaanku."
Ming Luo kemudian mengeluarkan sebuah gulungan perak yang berkilau redup dari balik bajunya. Ini adalah barang yang ia curi dari arsip rahasia Ibukota.
"Yuan, dengar. Alasan kenapa aku tetap hidup dan membantumu bukan cuma karena rasa bersalah masa kecil," ucap Ming Luo, wajahnya mendadak serius. "Lihat simbol ini."
Ming Luo menunjuk sebuah lambang naga yang terbelah oleh pedang di dalam gulungan itu.
"Ini adalah Proyek Naga Hitam. Ibukota tidak hanya ingin memusnahkan para Pemanah Naga, mereka ingin mengekstrak roh naga seperti Ao Kuang untuk dimasukkan ke dalam mesin-mesin perang mekanik mereka. Ibumu adalah salah satu peneliti yang menentang proyek ini. Dia melarikan diri dengan membawa kunci utamanya—yaitu kau."
Yuan tertegun. Busur di sampingnya bergetar hebat. “BOCHOOOOR! MANUSIA-MANUSIA SERAKAH ITU!” geram Ao Kuang di dalam kepala Yuan.
"Jadi... selama ini aku adalah kunci yang mereka cari?" tanya Yuan dengan suara rendah.
"Tepat. Dan secara logika, tempat terbaik untuk menyembunyikan kunci adalah di dalam lubang singa," Ming Luo menyeringai tipis. "Tanah Tak Bertuan ini adalah wilayah yang tidak bisa dipetakan oleh kekaisaran karena anomali energinya. Di sini, kita punya waktu untuk membuatmu menguasai Ao Kuang sepenuhnya, tanpa harus mengorbankan nyawamu setiap kali menembakkan satu anak panah."
Tiba-tiba, dari kegelapan gua yang lebih dalam, terdengar suara geraman yang bukan berasal dari naga maupun manusia. Sepasang mata berwarna ungu menyala muncul dari balik bebatuan.
"Waduh," Ming Luo berdiri perlahan, memegang pedang giok merahnya yang retak. "Secara logika, gua ini sudah ada penghuninya. Dan sepertinya dia tidak suka kita masuk tanpa izin audit."
Seekor Shadow Stalker—monster kelas bencana yang berbentuk seperti macan tutul namun terbuat dari asap hitam pekat—melompat keluar. Kecepatannya hampir menyamai kilat.
Yuan berdiri, namun kakinya masih lemas. "Ming Luo, mundur. Biar aku yang urus."
"Jangan bodoh! Kau baru saja menguras darahmu!" bentak Ming Luo. Ia maju ke depan, melakukan gerakan tangan cepat. "TEKNIK EDITOR: AREA TERBATAS!"
Sebuah kotak transparan berwarna biru muncul melingkupi monster itu, memperlambat gerakannya secara drastis seolah-olah waktu di dalam kotak itu tersendat.
"Yuan! Sekarang! Gunakan panah biasa, jangan pakai darah! Fokuskan auramu pada titik pusat di dahi monster itu!"
Yuan menarik napas dalam. Ia tidak mendengarkan provokasi Ao Kuang kali ini. Ia mencoba menyatukan ritme jantungnya dengan getaran busur tulang naga. Tanpa api hitam, tanpa ledakan besar. Hanya satu garis lurus cahaya yang tipis namun sangat tajam.
SING!
Anak panah itu meluncur, menembus kotak transparan Ming Luo dan tepat mengenai dahi sang monster. Shadow Stalker itu melengking sebelum akhirnya hancur menjadi debu hitam.
Ming Luo jatuh terduduk, energinya benar-benar habis. "Bagus... teknikmu makin presisi. Secara logika, kau mulai belajar untuk tidak menjadi penghancur buta."
Yuan berjalan mendekati Ming Luo dan mengulurkan tangannya. "Terima kasih, Ming Luo. Untuk semuanya."
Ming Luo menatap tangan Yuan, lalu menjabatnya dengan erat. "Jangan berterima kasih dulu. Kita masih punya ribuan mil untuk ditempuh, satu kekaisaran untuk digulingkan, dan satu rahasia besar tentang ibumu yang harus kita pecahkan."
Yuan mengangguk. "Mulai sekarang, tidak ada lagi pelarian. Kita akan melakukan audit yang kau katakan tadi... sampai ke akar-akarnya."
Di luar, badai di Tanah Tak Bertuan mulai mengamuk, namun di dalam gua itu, dua sahabat yang terikat takdir berdarah itu telah menemukan tujuan baru.
Ming Luo menyandarkan kepalanya ke dinding gua yang kasar, memejamkan mata sejenak sambil mengatur napasnya yang masih terasa berat. "Yuan," panggilnya lirih, kali ini tanpa embel-embel 'secara logika'.
"Hmm?" Yuan menoleh, tangannya masih sibuk membersihkan sisa debu monster dari busur naga miliknya.
"Jika suatu saat nanti... audit ini menjadi terlalu berat, atau jika aku berubah menjadi baris kode yang rusak dalam rencana kita," Ming Luo membuka matanya, menatap langit-langit gua dengan tatapan kosong. "Janji padaku, jangan ragu untuk meninggalkanku. Masa depan dunia ini ada di tanganmu, bukan di tangan seorang editor gagal sepertiku."
Yuan terdiam. Keheningan di dalam gua itu terasa lebih menyesakkan daripada gemuruh air terjun di luar. Ia bangkit berdiri, berjalan menuju pintu gua dan menatap hamparan Tanah Tak Bertuan yang diselimuti kabut beracun dan kilatan petir ungu di kejauhan.
"Aku sudah kehilangan keluargaku sekali karena aku tidak cukup kuat," ucap Yuan tanpa menoleh. "Aku tidak akan membiarkan sejarah itu terulang hanya karena alasan yang kau sebut logis. Kita masuk ke neraka ini bersama, maka kita akan keluar untuk membakar singgasana itu bersama juga."
Ao Kuang mendesis pelan di dalam batin Yuan, bukan dengan amarah, melainkan dengan semacam rasa hormat yang jarang ia tunjukkan. *“Bocah ini... dia punya api yang lebih panas dari nafas naga, Ming Luo.”*
Ming Luo terkekeh pelan, sebuah tawa yang berakhir dengan rintihan kecil karena lukanya yang tertarik. "Yah, sepertinya aku memang tidak pandai memprediksi tindakan orang bodoh sepertimu. Baiklah, Pemanah Naga. Mari kita lihat seberapa jauh takdir ini bisa kita jalani."
Malam itu, di jantung wilayah yang paling ditakuti manusia, dua buronan kekaisaran itu tertidur dalam kewaspadaan yang tinggi. Di luar, suara raungan monster dan desis angin seolah menjadi simfoni yang menyambut kelahiran legenda baru. Namun, jauh di lubuk hatinya, Yuan tahu bahwa Tetua Agung tidak akan berhenti. Luka yang ia berikan pada pria tua itu bukan hanya luka fisik, melainkan penghinaan yang akan memicu pengejaran paling berdarah dalam sejarah mereka.
Fajar di Tanah Tak Bertuan mulai menyapa dengan warna merah yang menyerupai darah, menandakan bahwa istirahat mereka telah usai.
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏