NovelToon NovelToon
Mei Yang Terakhir

Mei Yang Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Gadis Amnesia
Popularitas:800
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.

Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.

Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—

Fero.

Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.

Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang pria yang mencintainya dengan kesabaran yang menyakitkan.

Sementara Andra harus menerima satu kenyataan pahit: Cinta yang pernah mereka bangun mungkin tidak akan pernah kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bakso

Sore itu langit mulai berubah warna.

Matahari turun perlahan di balik atap-atap rumah kecil di sekitar panti, meninggalkan cahaya jingga yang hangat. Anak-anak masih berlarian di halaman, tapi tenaga mereka mulai berkurang hampir seharian bermain.

Andra sedang duduk di tangga teras, memegang obeng kecil. Di depannya, sebuah mobil-mobilan plastik terbuka bagian bawahnya. Roda depannya lepas.

“Bisa diperbaiki, Om?” tanya seorang anak laki-laki kecil dengan wajah penuh harap, sang Kapten.

Andra tidak terlalu yakin sebenarnya tapi dia mengangguk.

“Kita coba.”

Kapten duduk di samping menonton dengan serius seperti seorang mekanik kecil

“Om pernah benerin mobil beneran?”

“Tidak.”

“Terus kenapa bisa?”

“Sesuatu harus kita coba, baru mengatakan tidak bisa.

Deni terlihat kagum dengan jawaban itu.

Beberapa menit kemudian—klik.Roda itu terpasang kembali.

“Bisa!” Ia bersorak.

“Coba.”

Ia mendorong mobil di lantai dan berhasil.

“Om hebat!”

“Tidak juga.”

Dari ujung teras, seseorang memperhatikan mereka Meisyah memangku seorang gadis kecil tidak sehat sejak siang tadi.“Rani, satu sendok lagi,” katanya pelan

“Tidak mau.”

“Gak bisa main besok, lho, kalau kita sakit .

Ia tetap menggeleng.

Mei berpikir sebentar menunjuk ke arah lain

“Lihat Om itu, dia sedang memperbaiki mobil, “Kalau Rani makan satu sendok lagi… nanti kita pinjam mobilnya.

Gadis kecil itu terlihat berpikir lalu membuka mulutnya sedikit.

Mei tersenyum.“Satu sendok.”

Andra memperhatikan dari tangga tanpa sadar tersenyum sendiri.

--

“Kak...!”

“Iya?”

“Mobilnya sudah bisa!”

Mei berjalan mendekat sambil tetap menggendong Rani“Wah, hebat."

Deni sang Kapten mengangkatnya dengan bangga.“Om yang benerin!”

“Terima kasih, Mas," Balas Mei dengan senang hati

“Tidak apa-apa.”

Sesat pandangannya beralih ke arah Deni," Kak Mei boleh pinjem mobil nya?"

Deni terlihat ragu.

“Cuma sebentar, untuk Anya."

Untuk pertama kalinya hari itu Rani tertawa dalam gendongan memegang mobil mobilan.

--

Menjelang Maghrib Andra berdiri di dekat ayunan tua mulai berderit setiap kali didorong.

Dia mencoba duduk sebentar, creeeak.

Ayunan itu berbunyi keras.

“Sepertinya ini butuh diperbaiki.”Suara Mei terdengar dari belakang.

“Memang.”

“Sudah rusak sejak minggu lalu.”

Andra melihat rantainya.“Kalau ada tang mungkin bisa diperbaiki.”

Ia menunjuk ke gudang kecil.“Ada.”

Sepuluh menit kemudian Andra sudah berdiri di atas kursi kayu, mencoba mengencangkan rantai ayunan.

“Kenapa Mas sering datang ke sini?” tanya Mei memecah keheningan

” Gak tahu

Ia tersenyum kecil.“Jawaban aman.”

“Memang benar.”

“Dan disini sangat berbeda."

“Berbeda bagaimana?”

“Mereka cepat sekali percaya sama orang.”

Gadis itu menatap halaman kosong “Karena mereka tidak punya pilihan.”

Andra hanya diam

“Kalau mereka tidak percaya orang… mereka akan sendiri.”

Angin sore lewat perlahan di halaman.

Andra turun dari kursi mencoba mendorong ayunan. Ayunan bergerak halus sekarang.

“Sudah.”

Ia mencobanya sebentar.

Tidak ada bunyi lagi.

“Hebat.”

Andra tertawa kecil. “Hari ini saya sudah jadi mekanik mobil dan tukang ayunan.”

Mei ikut tertawa.

“Multitalenta.”

Langit semakin gelap Lampu halaman mulai menyala satu per satu. Relawan berangsur angsur pulang. Halaman hampir kosong sekarang.

"Mas mau pulang ?” tanyanya pelan

“Sebentar lagi."

Ia menunjuk ke arah jalan depan," Mesjid disana, shalat magrib."

"Baik Mei, terimakasih, mungkin setelah shalat aku pulang."

“Kenapa cepat cepat? gak makan dulu ? "

"Nanti aja, dirumah.'

" Mas mau makan bakso ? biar saya yang traktir."

"Terimakasih Kak Mei."

"Kak Mei...Kak Mei...Meisyah tau!" " Ia tertawa kecil. Habis shalat kita kesana."

Andra hanya diam terpaku

-

Warung bakso itu kecil sekali. Hanya gerobak kayu usang dengan lampu minyak yang menggantung di atas kompor berisi panci berisi kaldu mendidih. Empat bangku plastik merah disusun berhadapan, dua-dua.

Beberapa sudah retak di bagian kaki, tapi masih kokoh menahan beban. Lantai tanahnya sedikit becek bekas air cucian, bercampur aroma khas bakso mengepul dari panci.

Mereka duduk berhadapan. Jarak di antara mereka hanya selebar meja kayu pendek yang permukaannya penuh goresan dan noda kecap.

Penjual bakso—seorang bapak tua dengan kaus oblong lusuh dan sarung—langsung bertanya tanpa basa-basi, “ Halo Mei, pa kabarnya?"

Mei tersenyum lebar seperti nya dia sudah hapal dengannya, "Baik baik aja Pak De"

Sekilas wajah laki laki tua itu mengernyit" "Bakso Dua?”

“Iya, Pak De, dua.”

" Tumben Mei, ini siapa ? Pacarnya?

" Eh ..Mulut Mei secara tidak sadar menganga diantara desis kaldu mendidih dan irisan bawang bumbu," Relawan baru Pak De,"

" Oh ..ia lah ...Ia tersenyum, "'Pakde kira pacarnya Mei, karena Pak De gak pernah melihat Mei dengan laki laki lain"

" Assalamualaikum Pakde, " sapa Andra ramah mencoba mengalihkan "Saya teman nya Mei.."

Bapak tua itu tertawa,"'Teman apa teman."

Andra kikuk mukanya merah jambu

-

Laki laki itu melirik sekeliling ingin mengabadikan malam ini dalam ingatan. Lampu jalan di seberang jalan menyala temaram—kuning, redup, seperti sengaja tidak ingin mengganggu ketenangan mereka. Sesekali suara kendaraan lewat, tapi cepat menghilang, menyisakan dengung samar yang malah membuat suasana terasa lebih sunyi.

Sederhana. Segalanya sederhana.

Tapi di dalam dada Andra mengembang perlahan seperti gelembung udara di dalam kaldu naik ke permukaan, pecah, dan meninggalkan kehangatan.

“Mas” Ia memulai. Tangannya bergerak lambat menuang saus ke mangkuk, tapi matanya sesekali menatap, “Terimakasih."

Ia mengangguk kecil, "Gak ada spesial Mei, membantu anak anak itu sudah menjadi bagian aktifitas diri

“ Saya cuma heran masih ada pemuda yang begitu perhatian dan jujur. "

Andra mengangkat alis. “Kamu? Apa bedanya?

" Saya cuma..."Mei tercelat lidah

" Volunteer cantik yang begitu penyayang dengan anak anak."

Dua mangkuk mengepul, ditaburi bawang goreng, seledri, dan satu sendok sambal yang sengaja dipisahkan di pinggir mangkuk, memecah wajah tersipu malu," Mas ada ada aja." Cuma itu yang ia ucapkan tanpa ada penjelasan.

Mereka mulai makan. Angin malam turun, membawa dingin perlahan merayap. Andra menikmati dingin, menikmati sunyi , menikmati bagaimana Meisyah sesekali menyeka bibirnya dengan punggung tangan menatap kosong ke jalan.

Ia tidak lagi fokus pada rasa baksonya. Pikirannya melayang bagaimana gadis itu dengan sabar menyuapkan tanpa ada rasa sungkan, menggendong, memangku seolah. Anak anak itu adiknya sendiri

Dan ia menyadari, hari ini mereka:memperbaiki mobil mainan rodanya copot tiga kali, memperbaiki ayunan talinya hampir putus, memberi makan anak kecil berusia empat tahun, dan sekarang makan bakso di pinggir jalan dengan bangku plastik retak.

Hal-hal kecil sebenarnya sangat biasa.

Tapi entah kenapa—ia merasa ...jantung nya berdegup tidak tahu kapan terakhir kali ia seperti ini.

“Mas datang lagi minggu depan?”

“Iya.”

Ia menatap jalan di depan mereka. Lampu jalan yang sama, suara kendaraan, angin malam yang sama dinginnya.

“Anak-anak akan senang.”

Andra tidak tahu apakah itu benar. Mungkin iya. Mungkin juga anak-anak di sana tidak terlalu peduli siapa yang datang. Tapi ia tahu satu hal dengan pasti.

Mulai hari ini— ia punya alasan baru untuk datang kembali ke panti itu, entah dengan gadis yang sedang sedang duduk di sana sambil memainkan sisa bakso di mangkuknya

1
Wawan
Hadir
Ddie: terimakasih banyak ya mas
total 1 replies
Ddie
Mengapa kamu tidak mengingatku, Mei ? Aku adalah suamimu..bukan orang lain mencintai karena harta benda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!