Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.
Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode-07

waktu istirahat, Nara bersama dua sahabatnya bernama Mona dan Ayu berada di sebuah restoran yang berada di seberang kantor..
Suasana restoran yang nyaman seolah menjadi pelarian sementara bagi Nara dari tekanan kerja. Baru saja mereka duduk, Nara langsung menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi dengan napas panjang.
"Hahhh... akhirnya bebas sebentar. Rasanya pengen teriak sepuas hati deh!" keluh Nara sambil memijat pelipisnya yang terasa berat.
Mona yang duduk di sebelahnya langsung menyenggol lengan Nara pelan. "Ih, kenapa sih Nar? Muka lo kusut banget kayak garem kering. Si monster kecil ngamuk lagi ya pagi tadi?"
Ayu yang sedang membuka menu makanan ikut menimpali, matanya membelalak penasaran. "Iya nih, dari tadi lo lewat keliatan lesu banget. Apa sih yang dilakuin si Bos Muda sama lo?"
Nara mendengus kesal, lalu mulai menceritakan semua kejadian pagi ini. Mulai dari masalah kopi yang dinyatakan rasanya seperti air got, sampai masalah kertas cetak yang dijadikan bahan amukan di ruang rapat tadi.
"...terus dia marah-marah cuma gara-gara kertasnya hitam putih! Padahal kan dia sendiri yang suruh hemat! Terus dia bilang aku ceroboh, pikiran kekanak-kanakan, segala macem!" curhat Nara meledak-ledak. "Padahal kan umur dia cuma beda beberapa tahun doang sama aku, kelakuannya kok bisa ya lebih tua dari batu!"
Mona dan Ayu tertawa mendengar keluhan sahabatnya. Mereka berdua sudah hafal betul dinamika hubungan Nara dan Arkan.
"Hahaha dasar lo! Nasib jadi sekretaris idaman tapi sekaligus sasaran emosi," celetuk Mona sambil menunjuk menu. "Tapi gue heran deh Nar, lo kan mantan nyonya besar, mantan model terkenal, dulu perintah orang seenaknya. Sekarang kenapa mau aja dihina-hina gitu? Lo gak capek apa?"
Nara menghela napas, lalu tersenyum kecut. "Ya gimana lagi, Mon. Hidup itu berputar. Dulu aku tinggi banget, sekarang Tuhan turunin biar aku belajar rendah hati. Lagipula... gajinya lumayan banget kok. Cukup buat cicilan dan makan enak. Lagian kalau bukan karena dia, mana ada kerjaan buat wanita seumur aku ini?"
"Yaelah, umur 43 itu masih prime time lah!" sahut Ayu semangat. "Tapi serius Nar... lo gak ada rasa apa-apa gitu sama dia? Jujur ya, Arkan itu ganteng, kaya, muda. Walaupun galak sih, tapi kan bad boy gitu lho..."
Nara langsung melotot, wajahnya memerah. "Apaan sih Yu! Jijik aja kali! Dia itu kayak anak kecil yang kurang kasih sayang! Galak, manja, aneh, mau apa aja diturutin. Aku mah liat mukanya aja rasanya pengen cubit sampai biru!"
Meskipun berkata begitu, entah kenapa di benak Nara tiba-tiba terlintas momen saat Arkan berbisik terima kasih tadi. Jantungnya berdebar aneh, tapi ia buru-buru mengusir pikiran itu jauh-jauh.
"Halah, mulutnya harimau, hatinya kucing," ledek Mona. "Tapi inget ya Nar, hati-hati. Jangan sampai baper. Umur lo beda jauh, dan dia itu bos lo. Kalau sampe ada apa-apa, yang repot lo sendiri. Lagian kan lo baru aja ketemu sama masa lalu kemarin?"
Mendengar kata 'masa lalu', wajah Nara berubah sendu. Ia menceritakan juga soal pertemuannya dengan Askia kemarin.
"Terus gimana perasaan lo sekarang?" tanya Ayu lembut.
"Legaaa banget... kayak beban berat diangkat dari pundak aku. Kia itu wanita hebat banget, dia maafin aku sepenuhnya. Malah ngajak temenan," jawab Nara tulus. "Tapi ya gitu deh, hidup emang penuh kejutan. Dulu aku musuhan sama dia, sekarang malah jadi sahabat."
"Wah, keren tuh! Tanda hati lo udah bersih Nar," puji Ayu.
Tiba-tiba ponsel di meja bergetar keras. Nama Bos👿 muncul di layar.
Ting!
✉️ "Makan lama banget sih? 10 menit lagi harus ada di kantor! Beliin aku Bakso Malang! Yang banyak pentolnya! Jangan ladaaa!"
Nara membaca pesan itu dan langsung mendengus kasar.
"Lihat kan?! Belum selesai makan aja udah disuru-suruh! Dasar vampir penghisap tenaga manusia!" geram Nara tapi tangannya sigap mengetik balasan.
"Siap Bos!!! Bakso Malang segera meluncur!!!"
Mona dan Ayu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang kesal tapi tetap patuh.
"Yaudah ayo cepet makan! Nanti kalau telat lo dijadiin sate lagi sama si Bos!" ajak Ayu tertawa.
Hari ini mungkin melelahkan, tapi setidaknya Nara bersyukur masih punya sahabat yang selalu siap mendengar keluh kesahnya, dan... punya bos yang menyebalkan yang membuat hidupnya tidak membosankan.
___________
Sesampainya di ruangan kerja, suasana yang tadinya tenang kembali berubah menjadi medan perang kecil.
"Kurang kecap! Ini hambar banget! Gak ada rasanya sama sekali!" omel Arkan sambil mendorong mangkuk bakso ke depan Nara. Wajahnya masam melihat isinya yang menurutnya kurang sempurna.
"Ya ampun Pak! Tadi kan Bapak bilang jangan terlalu asin, jadi saya kurangi kecapnya dikit. Ini juga udah ada rasanya kok!" Nara sudah mulai naik pitam. Baru saja istirahat tenang barusan, sekarang dimarahin gara-gara kecap doang!
"Gak peduli! Tambahin kecap sekarang juga! Atau kamu mau saya suruh balik jalan kaki ke sana cuma buat minta kecap?" ancam Arkan dengan wajah juteknya yang khas.
Nara menghentakkan kakinya pelan, tangannya siap meraih botol kecap yang sudah ia bawa sedia (karena sudah hafal sifat bosnya yang aneh).
"Ya sudah, ya sudah! Tambah kecap, tambah kecap! Besok-besok saya bawa genteng kecap biar puas!" gerutu Nara kesal.
Klek!
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu.
"Assalamualaikum..." suara lembut namun tegas terdengar dari arah pintu.
Nara dan Arkan serentak menoleh.
Di sana, berdiri seorang wanita paruh baya yang sangat anggun dan berwibawa. Memakai setelan kebaya modern yang elegan, wajahnya teduh namun tatapannya cukup tajam menatap putranya. Itu adalah Ibu Suryani, ibu kandung Arkan.
"Waalaikumsalam, Bu / Ma..." jawab Nara dan Arkan bersahutan.
Ibu Suryani melangkah masuk dengan santai, matanya menyapu pandang ke arah meja kerja yang berantakan, lalu berhenti pada mangkuk bakso dan wajah masam Arkan, serta wajah kesal Nara.
Ia menghela napas panjang, lalu menggeleng-gelengkan kepala pelan.
"Huft... Astaga, Arkan. Apa lagi ini?" tanya Bu Suryani dengan nada menekan. "Mama baru aja lewat depan, dengar suara kamu teriak-teriak dari jauh. Kamu ini bos atau apa sih? Kerjaan cuma ngomelin orang aja?"
Arkan yang tadi galak, langsung menunduk seperti anak kecil yang ketahuan nakal. "Ini Mah,Nara salah beli bakso. Kurang kecap lho!" dalihnya mencoba mencari pembenaran.
Nara langsung melotot. "Hah?! Bapak yang..."
"Sstt!" Bu Suryani memotong dengan tatapan tajam ke arah anaknya. "Sudah jangan dibela! Mama tahu sifat kamu yang bagaimana! Manja, cerewet, dan perfeksionis sampai berlebihan!"
Bu Suryani lalu berjalan mendekati Nara, dan menggenggam tangan wanita itu dengan lembut. Wajahnya berubah menjadi sangat ramah dan penuh simpati.
"Maafkan anak Ibu ya, Nara. Kamu pasti capek dan kesel banget kan tiap hari ngadepin kelakuan dia yang kayak gini?" ucap Bu Suryani pelan. "Ibu aja sebagai ibunya kadang pengen nyubit pipinya kalau dia lagi begini."
Nara tersenyum kecut, sedikit lega akhirnya ada yang membelanya. "Iya tidak apa-apa, Bu. Sudah biasa kok."
"Biasa apanya? Lihat tuh, cuma gara-gara kurang kecap doang bisa ribut segitunya," celetuk Bu Suryani sambil menatap sinis ke arah Arkan. "Kamu itu ya Kan, untung ada Nara yang sabar banget ngadepin kamu. Orang lain mungkin sudah pada mundur semua atau ngamuk balik dari dulu."
Arkan mendengus kesal tapi tak berani membantah. Ia mengambil botol kecap sendiri lalu menuangkannya ke mangkuknya dengan wajah manyun. "Hmph... Mama nih selalu belain dia."
"Bukan belain, tapi fakta!" potong Bu Suryani tegas. "Nara itu sudah bekerja sangat baik. Dia jaga kamu, dia urus semua kerjaan kamu, dia sabar hadapin sikap kamu yang aneh-aneh itu. Kamu harusnya banyak terima kasih, jangan malah jadi tiran."
Nara yang mendengarnya diam-diam tersenyum bangga. Nah lo! Ditegur sama emak sendiri kan! Rasain! batinnya bersorak.
"Sudah, Mama kesini mau ngajak kamu makan siang di luar, tapi kayaknya kamu sudah pesan bakso. Ya sudah, habiskan! Jangan nyusahin Nara lagi ya!" perintah Bu Suryani sambil menepuk bahu anaknya pelan.
Lalu ia menoleh ke Nara lagi, "Kamu juga Nara, istirahat yang cukup ya. Jangan dengerin omongan dia kalau sudah mulai nggak jelas. Kalau dia nakal, bilang Ibu ya, nanti Ibu cubit pantatnya!"
Nara tertawa kecil, "Iya Bu, siap Bu. Makasih ya."
Bu Suryani pun pamit undur diri, meninggalkan ruangan yang kini kembali hening.
Arkan melahap baksonya dengan lahap tapi wajahnya masih cemberut. Sementara Nara sibuk membereskan barang-barang dengan senyum kemenangan di wajahnya.
"Hemmm... enak ya dimarahin sama Ibu sendiri?" goda Nara tak sengaja.
Arkan menatap tajam. "Diam! Kamu juga jangan senang dulu! Kerjaan kamu masih banyak! Cepet selesaikan!"
Tapi anehnya, nada suaranya tidak sekeras tadi. Dan kali ini, Nara yakin... si Bos Galak itu sebenarnya sedang malu!
BERSAMBUNG...