Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.
Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.
Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Hari itu berjalan begitu lancar dan menyenangkan bagi Aira Maharani. Sejak pagi ia menemani suaminya, Elvano Praditya, ke kantor, ia berhasil tampil dengan sangat anggun, sopan, dan memancarkan aura keibuan yang lembut di hadapan semua karyawan, staf, maupun rekan bisnis suaminya. Tidak ada satu pun cela yang bisa digunjingkan orang. Semua orang memandangnya dengan hormat, bahkan banyak di antara mereka yang berbisik-bisik pelan, betapa serasinya pasangan suami istri ini berdiri berdampingan.
"Wih, cocok banget ya sama Bos kita..."
"Iya nih, cantik banget dan kalem orangnya..."
"Beruntung sekali Tuan Elvano dapat istri sebaik dan secantik Nona Aira..."
Bisikan-bisikan pujian itu terdengar samar namun jelas masuk ke telinga Aira, membuat pipinya terus saja memerah menahan rasa malu, namun hatinya berbunga-bunga luar biasa. Ia merasa sangat dihargai, sangat diterima, dan merasa pantas berada di samping pria sehebat Elvano.
Namun, seiring berjalannya waktu menuju sore hari, suasana di luar sana perlahan-lahan mulai berubah drastis. Langit yang tadinya cerah berwarna biru bersih dengan gumpalan awan putih yang indah, perlahan berubah warna menjadi kelabu pekat, lalu makin lama makin gelap hingga berubah menjadi hitam legam, seolah-olah malam hari datang lebih cepat dari jadwal yang seharusnya.
Awan-awan hitam yang tebal dan menyeramkan itu bergumpal-gumpal padat menutupi seluruh pemandangan kota Surabaya, membuat cahaya matahari sama sekali tidak bisa menembusnya. Suasana di dalam gedung pencakar langit itu pun menjadi agak remang-remang, memaksa lampu-lampu ruangan dinyalakan lebih awal dari biasanya.
Belum lagi suara gemuruh guntur yang mulai terdengar samar-samar dari kejauhan, Buum... brum... suara itu menggema perlahan namun pasti, bergulung di antara awan-awan hitam itu, menandakan bahwa badai besar dan hujan lebat akan segera turun dengan sangat derasnya.
Aira yang sejak tadi duduk manis di sofa tamu sudut ruangan kerja Elvano sambil membolak-balik majalah, menghentikan aktivitasnya. Matanya menatap lurus ke arah jendela kaca besar yang menghadap langsung ke pemandangan kota.
"Langitnya gelap sekali ya, Mas." gumam Aira pelan sekali, suaranya halus dan lembut terdengar di ruangan kerja yang luas dan mewah itu.
Elvano yang sejak tadi sibuk merapikan berkas-berkas di mejanya, menandatangani dokumen-dokumen penting, dan memeriksa laporan keuangan dengan serius pun menghentikan sejenak aktivitasnya. Ia mendongak, meletakkan pulpen emasnya di atas meja, lalu menatap ke arah jendela besar itu.
"Iya." sahut Elvano pelan, suaranya berat dan tenang khas dirinya. "Sepertinya sore ini hujannya bakal deras banget. Cuaca memang lagi nggak menentu belakangan ini. Kadang panas terik menyengat, tiba-tiba bisa berubah jadi badai besar begini dalam sekejap mata."
Aira mengangguk-angguk kecil, jari-jarinya yang lentik dan putih salju saling memilin ujung kain gaunnya di atas pangkuan karena sedikit merasa cemas.
"Ya ampun, nanti kalau pas kita pulang hujannya turun gimana dong, Mas? Ribet nanti, kan kita harus jalan ke parkiran yang lumayan jauh itu." ucap Aira dengan nada khawatir.
"Nggak usah khawatir." Elvano menutup map dokumennya dengan rapi, lalu menguncinya ke dalam laci meja kerjanya. "Paling kita pakai payung besar atau lari dikit aja ke mobil. Nggak bakal kenapa-napa kok. Kamu tenang aja ya, ada aku."
Kata-kata penenang itu keluar begitu santai dari mulut Elvano, namun mampu membuat hati Aira terasa lebih tenang dan aman seketika.
Waktu terus berjalan, jarum jam antik yang tergantung di dinding perlahan bergerak menunjuk angka lima sore. Waktu pulang kerja pun tiba.
"Yuk, Aira. Kita berangkat. Kerjaan hari ini udah kelar semua kok," ajak Elvano sambil berdiri tegak dari kursi kerjanya yang empuk dan mewah itu. Ia mengambil jas hitamnya yang tergantung di sandaran kursi dan memakainya kembali, seketika membuat penampilannya kembali tampak gagah, sempurna, dan sangat berwibawa.
"Iya, Mas. Ayo." Aira pun segera berdiri dengan gerakan yang anggun, merapikan sedikit lipatan gaun yang dipakainya agar terlihat tetap rapi dan sopan.
Mereka berdua pun berjalan berdampingan keluar dari ruangan kerja itu. Para karyawan yang masih ada di sana yang sedang membereskan barang-barang mereka, langsung berdiri hormat serentak.
"Selamat sore, Tuan Elvano... Selamat sore, Nona..."
"Selamat sore..." jawab Aira ramah sambil tersenyum manis dan menganggukkan kepala pada mereka semua, sementara Elvano hanya menganggukkan kepala singkat dengan wajah yang tenang namun berwibawa seperti biasanya.
Saat mereka berdua melangkah keluar dari lobi gedung yang dingin dan ber-AC itu menuju ke area parkir terbuka yang luas..
BRUUUAAAAAAK!!!
Hujan turun dengan sangat derasnya! Bukan main-main derasnya!
Air hujan jatuh bukan seperti tetesan biasa yang perlahan, tapi seperti air yang dicurahkan dari langit dalam jumlah yang sangat banyak sekaligus tanpa henti. Suaranya sangat keras berdentum Dug dug dug... menghantam lantai beton, atap-atap mobil, dan jalanan aspal dengan suara yang memekakkan telinga.
Angin kencang pun ikut bertiup sangat kencang sekali, membuat butiran air beterbangan ke mana-mana, membuat jarak pandang menjadi sangat terbatas dan kabur karena kabut air yang tebal.
"Waduhhh! Gila banget ini hujan!" seru Elvano kaget, ia segera menarik tangan Aira mundur sedikit ke balik atap lobi agar tidak langsung kena guyur air dari atas.
"Ya ampun. Deras banget, Mas." Aira memejamkan mata sejenak karena kaget dengan derasnya air dan angin yang menerpa wajahnya. "Gimana ini, Mas? Mobilnya kan parkir agak jauh di situ lho..l"
Pak Budi, sopir pribadi mereka yang setia, yang sedari tadi sudah menunggu di sana dan siap sedia dengan payung besar super jumbo yang kuat, segera berlari mendekat ke arah majikannya dengan sigap.
"Tuan! Nona! Ini payungnya!" seru Pak Budi sambil membentangkan payung besar berwarna hitam itu di atas kepala mereka berdua dengan cepat. "Hujannya deras banget dan anginnya kencang sekali, Tuan. Kita harus hati-hati dan jalan pelan-pelan supaya payungnya nggak terbalik."
"Iya, Pak Budi. Makasih. Ayo, Aira," Elvano menoleh menatap istrinya dengan tatapan yang lembut namun tegas. "Pegang baju aku atau pegang tanganku, jangan sampai lepas ya. Jangan menjauh, nanti keseret angin atau kehujanan."
"I... iya, Mas." Aira mengangguk cepat, jantungnya mulai berdegup kencang bukan main karena suasana yang mendadak menjadi seru dan menegangkan ini.
Tanpa menunggu lama, tangan besar dan hangat milik Elvano langsung menggenggam erat tangan kecil dan dingin milik Aira. Jari-jarinya saling mengunci dengan kuat, memberikan rasa aman dan kekuatan yang luar biasa bagi Aira saat ini. Sentuhan itu hangat, kokoh, dan membuatnya merasa terlindungi.
"Siap-siap. Kita jalan pelan-pelan tapi pasti ya. Pak Budi, payungnya tolong diarahkan dengan baik ya, lindungi Nona Aira lebih dulu," instruksi Elvano tegas namun tetap tenang.
"Siap, Tuan!"
"Masuk sini, Aira. Dekat ke samping aku." Elvano sedikit menarik tangan Aira agar posisi gadis itu berada tepat di tengah, terlindungi sempurna di bawah naungan payung dan juga terlindungi di balik tubuh kekar suaminya sendiri.
Mereka bertiga pun mulai berjalan menembus hujan deras dan angin kencang itu. Suara air yang menghantam kain payung terdengar sangat keras dan memekakkan telinga, Prang prang prang... seolah-olah ada batu-batu kecil yang dilempar ke atas sana dengan kuat.
Namun, tak disangka-sangka...
Angin kencang tiba-tiba berhembus sangat kencang sekali dari arah samping kanan!
WUSSSSHHHH!!!
Angin itu sangat kuat hingga membuat payung besar yang dipegang Pak Budi hampir terbalik dan hampir lepas dari tangan! Payung itu melengkung ke atas karena tekanan angin yang luar biasa.
Akibatnya, air hujan langsung menyambar deras ke arah tubuh mereka berdua tanpa ampun!
"Awas!!!" teriak Elvano keras di tengah suara hujan yang menderu dan suara angin yang menderu-deru.
Dengan refleks yang sangat cepat dan luar biasa, Elvano langsung melepaskan tangan Aira sejenak hanya untuk menarik tubuh gadis itu mendekap erat ke dalam pelukannya!
Ia memutar posisi tubuhnya dengan sangat cepat, membuat punggungnya yang lebar dan kekar itu yang menghadap ke arah datangnya angin dan hujan, sementara dada depannya yang hangat dan kokoh melindungi tubuh kecil Aira sepenuhnya dari serangan air dan angin yang dingin itu.
"Mas!!!" Aira terkejut setengah mati, napasnya tercekat di tenggorokan.
Ia bisa merasakan detak jantung suaminya yang berdegup dengan kencang dan kuat tepat di dekat telinganya karena posisi mereka yang saling menempel erat sekali itu. Tubuh mereka rapat tanpa celah sedikitpun. Aira bisa merasakan hangatnya tubuh Elvano, aroma wanginya yang khas, dan kekuatan fisik pria itu yang seolah menjadi tameng manusia yang sempurna.
"Diam aja di situ, Aira! Jangan gerak-gerak! Pegang pinggang aku kuat-kuat!" seru Elvano lagi, suaranya terdengar berat dan tegas di atas kepala Aira, berusaha menyaingi suara deru hujan yang sangat keras.
"I... Iya, Mas!" Aira langsung memeluk pinggang suaminya erat-erat dengan kedua tangannya, membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu agar tidak terkena cipratan air dan angin.
Walaupun payung sudah dibuka sekuat tenaga oleh Pak Budi dan sudah diperbaiki posisinya, angin terlalu liar sehingga bagian punggung Elvano, bahunya, dan ujung rok Aira tetap terkena cipratan air yang dingin menusuk kulit.
Akhirnya, setelah perjuangan yang terasa sangat panjang dan mendebarkan itu, mereka berhasil sampai di samping mobil mewah mereka yang hitam.
Pintu mobil segera dibuka lebar oleh Pak Budi dengan sigap.
"Masuk cepat, Aira!" Elvano mendorong pelan bahu istrinya agar masuk dulu ke dalam kabin mobil yang kering dan hangat.
Setelah Aira duduk dengan aman di kursi belakang, Elvano baru masuk dan duduk di sebelahnya. Pintu ditutup rapat dengan suara bam yang keras, memisahkan mereka dari dunia luar yang sedang dilanda badai besar itu.
Suasana di dalam kabin mobil seketika menjadi hening, hangat, dan tenang. Hanya terdengar suara hujan yang menghantam bodi mobil dan kaca dari luar yang terdengar meredam, menciptakan suasana yang unik, romantis, dan sedikit mendayu-dayu.
Elvano menghela napas panjang sekali, Haaaaah... lega karena sudah sampai di tempat yang aman. Ia lalu menoleh, menatap istrinya yang duduk di sampingnya dengan napas yang masih sedikit terengah-engah.
"Kamu gimana, Ra? Basah banyak nggak?" tanya Elvano cemas, matanya yang tajam dan dalam itu menyapu seluruh tubuh Aira dengan cepat, memeriksa kondisi istrinya dengan teliti.
Aira mengibaskan sedikit ujung bajunya dan lengan bajunya yang basah terkena cipratan air. "Sedikit dikit, Mas. Di bagian pinggir sama ujung rok doang kok. Nggak terlalu basah kok, alhamdulillah."
Aira lalu mengangkat wajahnya menatap suaminya, dan matanya langsung terbelalak melihat kondisi Elvano saat ini.
"Tapi Mas Elvano..." Aira membelalakkan matanya, tangannya terulur ingin menyentuh namun urung karena masih ada rasa sungkan yang tersisa. "Punggung Mas basah kuyup tuh, sama bahu kiri Mas juga basah semua. Rambut Mas juga basah kena air."
Benar saja. Bagian bahu dan punggung jas mahal milik Elvano terlihat basah kuyup dan warnanya menjadi lebih gelap pekat karena menyerap air hujan. Rambutnya yang tadi rapi dan klimis, kini sedikit berantakan dan lepek di bagian depan karena air yang menetes dari ujung rambutnya.
Elvano tersenyum tipis melihat wajah cemas Aira yang tulus dan polos itu. Ia mengusap air yang menetes dari dahinya dan alisnya dengan punggung tangannya sendiri dengan santai.
"Nggak apa-apa, Ra. Biasa lah. Laki-laki kan kuat. Basah dikit doang mah nggak bakal sakit apa-apa," jawab Elvano santai dan tenang, seolah hal itu adalah hal yang paling biasa terjadi. "Yang penting kamu nggak banyak basahnya. Kalau kamu yang sakit atau masuk angin nanti, aku yang bakal pusing dan repot ngurusinnya."
"Masa sih." Aira menundukkan wajahnya sedikit, pipinya terasa panas dan memerah menahan rasa haru bercampur malu. "Tapi kan jadi kasihan lihat Mas basah-basah gitu demi lindungi Aira."
"Udah ah, jangan dibahas terus. Nanti malah beneran masuk angin lho kalau dibiarin basah gini terus," Elvano berusaha mengalihkan topik agar suasana tidak terlalu canggung dan terlalu romantis. Ia menoleh ke depan ke arah sopirnya. "Pak Budi, jalan pelan-pelan ya, jalannya pasti licin banget dan banjir di beberapa titik sekarang. Hati-hati."
"Siap, Tuan! Siap berangkat!" jawab Pak Budi sigap dari kursi depan.
Mobil pun perlahan melaju meninggalkan area parkir gedung kantor itu, menembus hujan deras dan kegelapan sore hari itu menuju ke rumah besar keluarga Praditya.
Di sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil sangat hangat dan tenang. Wiper kaca depan bergerak maju mundur dengan cepat menyapu air hujan, memberikan pemandangan jalanan yang basah dan berkilau memantulkan cahaya lampu-lampu kota.
Aira sesekali mengintip wajah suaminya dari ujung matanya yang sedang diam memandang keluar jendela. Pikirannya melayang-layang kembali ke momen beberapa menit yang lalu saat Elvano menariknya dan melindunginya di dalam pelukan.
'Pelukannya erat banget. Badannya hangat. Rasanya aman banget di dekat Mas.' batin Aira berbunga-bunga, tersenyum-senyum sendiri di tempat duduknya tanpa sadar. Rasa dingin akibat air hujan seketika hilang berganti dengan rasa hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya.
Perjalanan pulang terasa lebih lama dari biasanya karena jalanan yang macet akibat hujan deras dan genangan air di mana-mana. Namun, bagi Aira, waktu seolah berjalan lambat dan nikmat. Ia menikmati setiap detik kebersamaan tenang ini di samping suaminya.