NovelToon NovelToon
Dijadikan Taruhan

Dijadikan Taruhan

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:23.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yenny Een

Rani tanpa sadar dijadikan taruhan oleh Wira karena kalah balapan liar dengan Arlo. Arlo rela memberikan motor sport barunya untuk Wira demi untuk mendapatkan Rani.

Arlo memasukkan sesuatu ke dalam minuman dan makanan Rani. Arlo hampir melecehkan Rani. Tapi sesuatu terjadi.

Rani berhasil melarikan diri bersama seseorang dan mengalami kecelakaan. Rani menghilang. Arlo dan Wira mencari Rani karena mereka takut Rani membocorkan rahasia mereka.

Rahasia apa yang tersembunyi?

Apa yang akan terjadi kepada Rani?

Apakah Wira dan Arlo tidak akan melepaskan Rani?

Ikuti kelanjutan ceritanya?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenny Een, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

"Bima, Bima, apa perlu ke rumah sakit?" Dokter Ardalan berdiri dari duduknya.

"Om, Om, aku ingat semuanya."

"Ingat semuanya?" Dokter Ardalan kembali duduk di samping Bima.

Bima memegangi kepalanya. Bima minum obat yang selalu dibawanya. Perlahan, memori Bima kembali. Bima mengingat kejadian sebelum dia bertemu dengan Dinda.

Bima cerita kepada Dokter Ardalan saat dia bertemu dengan Dinda di depan kafe. Dinda dikejar seseorang. Orang itu juga menembaki mereka. Dan dari arah belakang dan samping, motor Bima diseruduk. Terakhir yang Bima ingat, dia dan Dinda tercebur ke dalam sungai.

"Dinda dalam bahaya. Hati-hati, mungkin saja orang-orang itu mencari Dinda sampai ke kota ini."

"Om, terima kasih sudah mengizinkan saya tinggal di kota ini. Saya akan mencari pekerjaan sampingan untuk biaya sekolah."

"Kamu cukup fokus belajar, biaya sekolah biar Om."

Mereka masuk kembali ke dalam mobil. Setelah Dinda bangun dari tidurnya, Dokter Ardalan mengantarnya ke rumah orang tua angkatnya.

...----------------...

Hari ini hari minggu. Dinda, Bima dan Dita duduk santai di area pantai. Dinda sungguh bahagia menatap ombak yang berkejaran di bibir pantai. Angin pantai berebut menyibak rambut panjangnya.

Bima dan Dita setiap hari libur membuka lapak di area pantai. Mereka jualan es kelapa muda dan juga gorengan. Setiap hari minggu dan liburan, pantai banyak dikunjungi wisatawan lokal dan juga luar negeri.

Pengunjung pantai hari ini banyak. Dinda membantu Bima dan Dita melayani para pembeli. Penjualan mereka lebih banyak dari minggu kemarin. Jualan Dita kini tidak hanya gorengan, Dinda ikut membuat aneka kue menambah ragam jualan mereka.

Dinda mengantarkan pesanan gorengan ke sekumpulan cowok yang sedang main voli pantai. Dinda menghampiri salah seorang dari mereka.

"Maaf, ada yang pesan gorengan?" Dinda menghampiri cowok yang duduk di bawah payung.

Cowok itu terkesiap, dia berdiri sambil memegangi pundak Dinda.

"Rani, Rani, lu Rani kan?"

"Maaf, saya Dinda. Apa Anda yang pesan gorengan?" Dinda mengangkat styrofoam yang berisi gorengan.

"Rani, lu gak ngenali gue?" Wira memperhatikan Dinda.

"Maaf, saya bukan Rani," Dinda memberikan gorengan kepada Wira.

Wira menurunkan tangannya. Wira membayar harga gorengan. Dinda berlalu pergi. Wira memperhatikan Dinda. Wira masih penasaran dengan gadis yang mirip dengan Rani.

Wira sangat yakin gadis itu adalah Rani. Rasanya tidak mungkin ada orang yang begitu mirip kecuali dia saudara kembar. Wira dari kejauhan masih memperhatikan gadis yang mirip Rani.

Dinda merasa diperhatikan. Kebetulan saat itu, jualan mereka sudah habis. Dinda cerita kepada Rama dan Dita, dia bertemu dengan orang yang memanggilnya Rani. Rama dan Dita sontak kaget.

Awalnya Dita merasa senang karena ada yang mengenali Dinda. Siapa tahu orang yang ditemui Dinda adalah keluarganya ataupun temannya. Mereka bisa mencari tahu identitas Dinda.

Tapi berbeda dengan Rama, ketakutan dan kekhawatirannya sangat besar. Dinda masih belum mengingat penyebab dia bisa berada di tengah laut. Siapa tahu Dinda dan Bima dirampok orang dan orang yang merampok mereka adalah orang yang tadi bertemu dengan Dinda.

Rama juga diam-diam mengamati sekitar. Rama berpura-pura membereskan jualan. Rama menemukan cowok yang terus memperhatikan di lapak jualan mereka.

Rama mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Bima. Rama bilang ada cowok yang memanggil Dinda dengan nama Rani. Rama takut orang itu bukan orang baik-baik.

Bima setelah mendapatkan pesan dari Rama segera menuju pantai dengan motornya. Bima melihat Rama, Dita dan Dinda sedang merapikan lapak jualan mereka. Bima memasang matanya mencari cowok yang di maksud Rama.

Bima berjalan ke arah pantai. Tujuan utama Bima mendekati cowok-cowok yang asik main voli di pantai. Bima juga menemukan cowok yang terus memperhatikan lapak jualan Rama.

Bima sungguh tidak mengenalinya. Bima masih ingat wajah cowok yang mengejar dan menembakinya dengan pistol. Cowok itu bukan dia.

Bima perlahan menjauh menuju motornya. Bima menelpon Rama agar Dinda menemuinya di depan gerbang masuk pantai. Rama memberitahu Dinda dan Dinda menyusul Bima ke gerbang depan.

Wira melihat Dinda yang berjalan sendirian. Dengan cepat Wira berlari meninggalkan teman-temannya yang masih asik bermain voli. Wira mengambil motornya di parkiran. Wira mengikuti Dinda.

Rama segera menghubungi Bima dan bilang cowok itu mengikuti Dinda. Bima harus berhati-hati. Rama mempercayakan keselamatan Dinda kepada Bima.

Bima memasang helmnya. Bima menyuruh Dinda agar naik ke atas motornya. Bima tanpa izin meraih kedua tangan Dinda dan melingkarkannya ke pinggangnya.

Mata Dinda melotot dengan tingkah Bima. Dinda berniat melepaskan pelukannya, tapi belum sempat Dinda menarik tangan, Bima sudah melaju kencang dengan motor sportnya.

"Bimaaaaaaaa, kamu ngapain siiiiiih!" Dinda mencubit paha Bima.

"Awwwwww! Sorry. Ada yang ngejar kita!" Teriak Bima.

Dinda perlahan menoleh ke belakang. Memang benar ada motor sport yang mengejar mereka dari belakang. Dinda tidak jelas melihat wajahnya. Entah kenapa saat itu Dinda merasa sangat-sangat ketakutan. Dinda berpegangan erat pada Bima.

Tubuh Dinda bergetar hebat. Bima menenangkan Dinda dengan menepuk-nepuk lengan Dinda dengan tangan kirinya.

Bima melihat dari balik kaca spion, cowok itu terus mengikutinya. Bima meliuk-liukkan motornya. Bima perlahan berhenti di depan pom bensin. Bima antre sambil matanya terus melihat ke arah kaca spion.

Cowok itu ikut antre di pom bensin persis di belakang motor Bima. Cowok itu memanggil Dinda dengan panggilan Rani.

"Rani, Rani!"

Bima melirik dari kaca spion. Cowok itu terlihat menarik baju Dinda. Dinda seperti orang ketakutan dan memilih diam tidak menghiraukan.

"Rani, gue selama ini mencari lu. Akhirnya gue menemukan lu. Ayah Ibu sakit-sakitan. Apa yang terjadi sama lu? Kenapa lu gak pulang-pulang?"

Dinda hanya diam tidak berani menoleh ke belakang. Bima menghidupkan mesin motornya. Bima keluar dari antrean dan meninggalkan pom bensin. Wira menyusulnya dari belakang.

Bima terus melaju. Wira yang masih penasaran dan sangat yakin itu adalah Rani, terus membuntuti dari belakang. Wira mensejajarkan motornya dengan motor Bima.

"Hei, lu! Gue mau ngomong sebentar sama dia!" Teriak Wira.

"Lu, siapa?" jawab Bima.

"Gue, saudaranya. Gue selama ini cari dia. Dia sudah lama tidak pulang."

Bima memperlambat jalan motornya. Bima menepikan motor id pinggir jalan. Wira berhenti tepat di samping motor Bima.

"Rani, gue Wira. Pulang yuk," ajak Wira.

Dinda penuh keberanian menoleh ke arah Wira. Dinda menatap Wira. Jika benar dia adalah saudaranya, tentunya dia orang baik-baik. Tidak mungkin saudara menyakiti saudaranya.

"Pulang ke mana?" tanya Dinda.

"Pulang ke rumah. Ayah dan Ibu sakit cariin kamu."

Tidak semudah itu. Bima menghalangi Dinda agar tidak turun dari motornya. Bima juga mengingatkan Dinda agar jangan mudah percaya sama orang asing.

Wira terus saja meyakinkan Dinda bahwa dia adalah saudaranya. Wira mengambil ponselnya dan membuka galeri foto. Wira menunjukkan kepada Dinda foto lebaran tahun lalu di mana di foto itu ada Dinda, ayah dan ibunya beserta Wira yang sangat terpaksa diajak foto keluarga.

Dinda menatap foto. Di dalam hati kecilnya entah kenapa sangat merindukan kedua orang tua itu. Dinda membisikkan sesuatu kepada Bima. Dinda turun dari mobil Bima.

"Baiklah, Ka. Aku ikut Kaka pulang," Dinda naik ke atas motor Wira..

Wira dengan senyuman puas, melambaikan tangannya kepada Bima. Wira berhasil meyakinkan Dinda. Wira berniat membawa Dinda ke vilanya.

Untung saja, foto lebaran itu gue simpan. Rani, gue gak akan biarin lu kembali ke rumah. Mungkin saja lu sudah tahu rahasia gue. Gue akan bermain sama lu, batin Wira.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Fang
😱
Mauk
kembaran Wira 😱
Al!f
Siapa
Rose
Salfok sama covernya. 😍
Wings
Covernya cihuy badai
Al!f
Ada yg beda, covernya 👍👍👍👍👍
Queen
Gila, covernya mantap. Kereeeeeen 👏👏👏👏
Kimberly
makin cakep aja covernya Thor. suka ❤❤❤❤❤
Andi
Covernya mantap 💪
Bho Tak
Aku suka covernya ❤
Ais
wawwwww covernya keren 😍😍😍😍
Mauk
😱😱😱😱
Mauk
Terserah author aja dah 🤣
Mauk
Ihhhh
Mauk
Kenzo ternyata
Mauk
kok bisa 😱
Mauk
Yah ko it 😱
Al!f
pilih lari
Al!f
waduh 😱
Na!
kok bisa ingat ya 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!