Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.
Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!
Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendadak Jadi Ponakan CEO: Drama Kartu Perak di Kopi Senja
Ekantika mengangguk, menyandarkan kepalanya ke jok mobil. "Lancar. Terlalu lancar, Dimas. Aku... aku menyukainya."
Dimas tertawa kecil. "Saya senang mendengarnya, Bu. Setidaknya semua kerepotan kita terbayar."
"Kerepotan yang nyaris jadi bencana," Ekantika mengingatkan, teringat insiden rumah angker.
"Oh, itu. Lupakan saja, Bu," Dimas mengibaskan tangan. "Yang penting kan rahasia Ibu aman."
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Ekantika dipenuhi oleh wajah Riton. Bagaimana Riton tertawa lepas saat mereka berdebat soal musik, bagaimana matanya menatapnya saat ia berbicara tentang "jiwa yang hilang," bagaimana tangannya menggenggam jemarinya. Setiap detail terukir jelas di benaknya, membentuk sebuah mozaik kebahagiaan yang rapuh. Ia merasa seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta, melayang di atas awan. Perasaan ini begitu kuat, begitu nyata, hingga ia hampir lupa bahwa itu dibangun di atas pasir kebohongan.
Setibanya di apartemen mewahnya, Ekantika segera membersihkan diri. Ia melepaskan pakaian "Nana" dan menggantinya dengan gaun tidur sutra. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Wanita 35 tahun, CEO sukses, dengan lingkaran hitam samar di bawah mata karena kurang tidur dan tekanan. Ini aku. Ekantika. Bukan Nana. Perasaan melayang itu sedikit demi sedikit menguap, digantikan oleh beban realita.
Ia meraih tas kecil yang ia bawa tadi, hendak mengeluarkan ponsel dan kartu akses. Tangannya merogoh ke dalam tas, mencari-cari. Ponselnya ada. Dompetnya ada. Tapi... ada yang kurang.
Jantung Ekantika tiba-tiba berdebar kencang, kali ini dengan irama yang berbeda. Irama panik. Ia mengosongkan isi tasnya di atas meja rias. Lipstik nude, bedak padat, kunci apartemen, tisu bekas, beberapa lembar uang ratusan ribu. Semuanya ada. Kecuali satu.
Kartu akses kantornya. Kartu akses CEO Garuda.
Tidak mungkin.
Ekantika kembali merogoh tasnya, kali ini lebih brutal. Ia mengacak-acak setiap sudut, setiap saku kecil. Tidak ada. Jemarinya gemetar, peluh dingin mulai membasahi keningnya. Kartu akses itu adalah kunci seluruh kehidupannya sebagai Ekantika Asna. Identitasnya, jabatannya, seluruh kendali atas perusahaan. Jika kartu itu jatuh ke tangan yang salah...
Bagaimana bisa hilang? Aku ingat memasukkannya ke tas sebelum pergi!Ia mencoba mengingat kembali setiap detik kencan tadi. Apakah jatuh saat ia mengambil menu? Saat ia mengeluarkan ponsel untuk membalas pesan? Atau...
Saat Riton memegang tanganku?
Sebuah pikiran menakutkan menyelinap masuk. Riton. Bagaimana kalau Riton yang menemukannya?
Ekantika segera meraih ponselnya, jemarinya hampir salah menekan. Ia mencari nomor Dimas. Tidak peduli sudah jam berapa, ia harus menghubunginya.
"Dimas! Dimas! Angkat!" desisnya, mondar-mandir di kamarnya.
Akhirnya, Dimas menjawab, suaranya serak karena baru bangun tidur. "Halo, Bu? Ada apa? Apa ada masalah?"
"Kartu akses kantorku hilang, Dimas! Aku tidak menemukannya di tasku! Aku rasa aku menjatuhkannya di Kopi Senja tadi!" Ekantika berbicara cepat, tanpa jeda.
Ada keheningan sejenak di seberang. "Apa? Hilang, Bu? Bagaimana bisa?" Dimas terdengar terkejut sepenuhnya.
"Aku juga tidak tahu! Aku rasa jatuh saat aku... entahlah! Pokoknya, kita harus kembali ke sana sekarang! Sebelum kafenya bersih-bersih!"
"Tapi, Bu, ini sudah larut malam. Mungkin staf kafe sudah pulang semua," Dimas menyuarakan kekhawatirannya.
"Tidak peduli! Aku tidak bisa tidur tenang kalau kartu itu di luar sana! Bagaimana kalau ada yang menemukannya? Bagaimana kalau ada yang mengambilnya?" Ekantika merasa suaranya mulai naik. Paranoia mencengkeramnya.
"Baik, Bu. Saya akan menjemput Ibu sekarang," Dimas mengalah, suaranya tegang. Ia tahu ini bukan saatnya untuk berdebat.
*
Perjalanan kembali ke Tebet terasa jauh lebih lama dan menegangkan dibandingkan beberapa jam yang lalu. Hujan gerimis mulai turun, menambah suasana kelabu. Setiap tetesan yang membasahi kaca mobil terasa seperti tetesan air dingin yang menetes di saraf Ekantika. Jantungnya berdebar kencang, memompa adrenalin. Bagaimana kalau sudah ditemukan? Bagaimana kalau Riton yang menemukannya?
Saat mereka tiba di Kopi Senja, lampu kafe sudah redup. Pintu sudah digembok. Hanya ada seorang pria yang sedang membersihkan teras depan, menyapu daun-daun yang basah.
"Cepat, Dimas! Tanyakan padanya!" Ekantika mendesak, hampir melompat keluar dari mobil.
Dimas mengangguk, lalu menghampiri pria itu. "Permisi, Mas. Maaf mengganggu malam-malam. Tadi ada teman saya yang kencan di sini. Sepertinya dia menjatuhkan kartu identitasnya. Ada yang melihat?"
Pria itu menghentikan aktivitas menyapunya. "Kartu identitas? Wah, saya nggak tahu, Mas. Tadi sih waktu saya mau tutup, Mas Riton masih di dalam. Dia ngobrol sebentar sama pemiliknya."
Mas Riton?Ekantika tercekat. Riton masih di sana?
"Riton masih di dalam?" Ekantika tanpa sadar melangkah mendekat, mengabaikan Dimas.
"Iya, Mbak. Tadi Mas Riton bilang mau ngobrol bentar sama pemiliknya. Katanya ada yang mau dibahas." Pria itu menunjuk ke dalam. "Mungkin dia masih ada di dalam."
Ekantika merasakan darahnya mendidih. Tentu saja. Dia mungkin menemukan kartuku. Itu adalah skenario terburuk yang bisa ia bayangkan.
"Dimas! Aku masuk!" Ekantika berkata, tanpa menunggu Dimas merespons. Ia mengetuk kaca pintu kafe, yang kini hanya diterangi oleh lampu remang-remang di balik meja barista.
Pria yang membersihkan teras itu memanggil-manggilnya, "Mbak, kafenya sudah tutup!"
Namun, Ekantika tidak peduli. Ia terus mengetuk, hingga akhirnya, pintu kafe terbuka sedikit. Wajah Riton yang terkejut muncul di celah pintu. Matanya membulat saat melihat Ekantika berdiri di depannya, dengan pakaian "Nana" yang sama persis.
"Na? Kamu... kenapa balik lagi?" Riton bertanya, nadanya bingung.
Ekantika tak bisa berbicara. Ia hanya menatap Riton, matanya melirik ke dalam kafe. Di tangan Riton, sebuah kartu kecil berwarna perak berkilauan di bawah cahaya redup. Kartu akses kantornya.
Dia menemukannya.
Riton membalik kartu itu, jemarinya mengusap permukaan plastik. Matanya membaca nama yang tertera di sana. "Ekantika Asna." Ia mengulangi nama itu pelan, seolah mengeja. Lalu ia menatap Ekantika, kebingungan dan sedikit kecurigaan mulai muncul di matanya. "Ini... kartu apa, Na? Kenapa ada nama Ekantika Asna?"
Ekantika merasakan seluruh dunia berputar. Napasnya tercekat. Keringat dingin membasahi punggungnya. Tamat. Ini tamat. Semua kebohongan, semua upaya yang ia lakukan, akan runtuh dalam hitungan detik. Ia hampir saja ambruk, merasakan kakinya lemas. Pingsan saja, Ekantika. Biar ini cepat berakhir.
Namun, insting bertahan hidupnya sebagai CEO, sebagai wanita yang selalu memegang kendali, muncul. Ia harus berpikir. Cepat. Alibi. Sekarang.
"Oh, itu!" Ekantika berusaha keras tersenyum, senyum yang terasa pahit di bibirnya. "Itu... kartu akses kantor Tante-ku, Ton! Dia kan CEO di sebuah perusahaan besar. Tadi pagi, waktu aku mau pergi kencan sama kamu, dia nitip tasnya ke aku. Ternyata kartu aksesnya tertukar di tasku!" Ia mengarang cerita secepat kilat, berharap suaranya terdengar meyakinkan.
Riton masih menatapnya dengan curiga, namun kerutan di keningnya sedikit mengendur. Ia kembali membalik kartu itu, membaca logo perusahaan yang tercetak samar. "Garuda? Perusahaan teknologi itu?"