NovelToon NovelToon
"Transmigrasi: Putri Lemah Berhati Bar-Bar!"

"Transmigrasi: Putri Lemah Berhati Bar-Bar!"

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: acep maulana

PENGUMUMAN PENTING!

Saya Acep Maulana memohon maaf kepada para pembaca. Karena satu dan novel ini akan saya Remake Total.
Saya sadar masih banyak belajar sebagai pemula, dan saya ingin memberikan karya yang lebih layak untuk kalian baca. Versi baru akan segera hadir dengan judul yang sama namun dengan kualitas tulisan yang jauh lebih baik.

Sampai jumpa di versi terbaru yang lebih bar-bar!

‎"Sial beneran! Erika, mantan agen rahasia yang energinya tak habis-habis, malah transmigrasi ke dalam novel tragis menjadi Rosalind von Astride, sang Putri Terbuang yang lemah dan sakit-sakitan!
‎Lebih parahnya lagi, keluarganya adalah kumpulan orang 'Tampan tapi Telmi (Telat Mikir)' yang ditakdirkan hancur total dalam dua tahun. Beruntung, Erika punya Sistem Makan Melon (Gosip) yang bisa membongkar semua rahasia musuh.
‎Sambil menikmati martabak diskon dari Ruang Sistem, Erika bertekad merombak takdir tragis keluarganya. Tapi masalahnya... radio batin Erika ternyata bocor ke seluruh keluarganya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26 Sakura yang Enggan Gugur

Desa Grier membentang di lembah curam dengan rumah-rumah kayu beratap jerami yang menghitam akibat lembapnya udara utara. Jalanan tanahnya berkelok menyerupai urat nadi yang tersumbat lumpur pekat saat hujan melanda. Di pinggiran desa, ladang gandum yang meranggas berserakan di bawah bayang-bayang perbukitan batu kapur yang gersang, menciptakan nuansa pemukiman yang terisolasi, sunyi, dan penuh kemiskinan.

Panti asuhan ini menempati bangunan tua bekas asrama prajurit yang dinding batunya telah terkikis usia dan ditumbuhi lumut kerak. Jendelanya yang kecil memiliki terali kayu yang mulai lapuk, sementara atap sirapnya yang miring seringkali membocorkan air ke lantai tanah yang dingin. Di halaman depan, sebuah pagar besi berkarat berdiri miring, seolah berusaha melindungi sisa-sisa harapan anak-anak yatim.

​Suasana di aula utama Panti Asuhan Gema Harapan terasa seperti sebuah perayaan kematian yang dipercepat. Isak tangis pecah dari setiap sudut ruangan yang remang-remang. Ibu Sarah, pemilik panti yang sudah berusia lanjut, duduk bersimpuh di atas lantai kayu yang berderit, wajahnya yang penuh kerutan kini basah oleh air mata yang seolah tak mau berhenti. Di pelukannya, dua anak balita menangis histeris, seolah mereka tahu bahwa dalam empat hari lagi, atap yang melindungi mereka dari salju akan rata dengan tanah.

​"Maafkan Ibu... maafkan Ibu yang tidak berdaya ini," bisik Ibu Sarah dengan suara yang serak dan pecah. "Tanah ini... Baron Malvin Sandro telah menunjukkan dokumen segel kekaisaran. Empat hari lagi, buldozer dan pasukan sewaannya akan datang. Ibu tidak tahu harus membawa kalian ke mana lagi di musim dingin yang kejam ini."

​Anak-anak yang lebih tua hanya bisa menunduk, bahu mereka berguncang hebat. Salah satu anak laki-laki berusia sepuluh tahun mengepalkan tangannya ke lantai. "Ini tidak adil! Mengapa mereka ingin membangun resor mewah di atas rumah kita? Apakah nyawa kita lebih murah daripada tempat tidur empuk para bangsawan itu?"

​Di ujung ruangan, duduk seorang gadis kecil yang tampak berbeda dari anak-anak lainnya. Ia memiliki rambut pirang kusam yang panjangnya sebahu, dengan wajah mungil yang sangat pucat hingga pembuluh darah biru terlihat di pelipisnya. Matanya yang besar berwarna abu-abu tampak sayu namun menyimpan keteguhan yang aneh. Itu adalah Lily, adik kandung dari Maid Martha.

​Tangan kecilnya yang gemetar memegang erat sebuah kalung medali perak kusam—satu-satunya benda yang ditinggalkan Martha sebagai tanda pengenal. Ia terus mengusap medali itu seolah-olah benda logam dingin itu bisa memberikan kehangatan.

​"Kakak pasti datang," gumam Lily lirih, suaranya hampir hilang di tengah riuh tangisan. "Kakak sudah janji... saat sakura pertama mekar, dia akan menjemput ku. Dan di panti ini, sakuranya sudah mulai mengeluarkan kuncup, meski warnanya masih pucat."

​Lily menatap pohon sakura tua di luar jendela dengan pandangan kosong.

​[(Batin Lily):]

"Ibu Sarah bilang kita akan diusir, tapi aku tidak takut. Aku hanya takut jika Kakak datang dan tempat ini sudah hilang, Kakak tidak akan bisa menemukanku. Kakak bekerja di rumah Duke yang agung, dia pasti sedang berjuang keras untukku. Aku harus kuat. Aku tidak boleh menangis seperti adik-adik yang lain. Kalau aku menangis, siapa yang akan menyemangati Ibu Sarah? Tapi... perutku sangat lapar, dan Baron jahat itu kemarin bilang akan mengubur kami hidup-hidup. Apakah Kakak tahu kalau Lily sedang ketakutan di sini?"

​Lily memejamkan matanya, memeluk medali perak itu ke dadanya, mencoba membayangkan wajah Martha yang sudah mulai kabur dalam ingatannya.

​Sementara itu, puluhan kilometer dari Desa Grier, debu membumbung tinggi menutupi cakrawala. Deru derap kaki kuda dari satu resimen ksatria elit klan Wiraatmadja membelah kesunyian hutan perbatasan. Xander memimpin di depan, matanya fokus menatap jalanan setapak yang berkelok-kelok. Di sampingnya, Pangeran Riski Pratama berkuda dengan tenang namun waspada, diikuti oleh Julian, Yanuar, Liandra, dan Arga yang tampak kelelahan.

​Yanuar Mahesa, yang biasanya tidak bisa diam, memacu kudanya mendekat ke arah Xander. Wajahnya yang biasa penuh cengiran kini terlihat sangat serius, namun ia tetap berusaha mencairkan ketegangan dengan gayanya sendiri.

​"Xander, Bro, pelan-pelan sedikit! Kuda kita bisa jantungan kalau dipacu begini terus tanpa henti," seru Yanuar sambil membetulkan posisi pedang di pinggangnya. "Tapi serius, aku sudah menyiapkan pukulan terbaikku untuk wajah Baron Malvin itu. Aku baru tahu ada bangsawan yang lebih rendah dari kotoran kuda sampai tega mengusir panti asuhan di tengah musim dingin. Rekomendasiku, setelah kita menangkapnya, kita ikat dia di tiang jemuran panti asuhan itu selama semalam agar dia tahu rasanya kedinginan!"

​Liandra Dirgantara menyahut dari belakang dengan suara datar yang dingin. "Mengikatnya saja tidak cukup, Yanuar. Baron Malvin telah bekerja sama dengan Hans Jarwo untuk menyabotase dokumen tanah. Ini adalah tindakan makar terhadap kemanusiaan dan properti wilayah Duke. Aku sudah menyiapkan dokumen penyitaan aset sementara untuk seluruh propertinya."

​Pangeran Riski Pratama menoleh ke arah Xander. "Xander, bagaimana rencana seranganmu? Kita tidak bisa sekadar masuk dan membantai semua orang. Baron Malvin kemungkinan membawa tentara bayaran dari pasar gelap untuk menjaga area penggusuran."

*​**Xander** menarik tali kekang kudanya sedikit, memberikan tanda agar rombongan sedikit merapat untuk berkoordinasi. "Rencananya sederhana namun mematikan," desis Xander. "Liandra**, kau dan tim pemanah mu akan mengambil posisi di bukit kapur yang mengitari panti. Jangan lepaskan satu anak panah pun sebelum ada instruksi, tapi pastikan tidak ada satu pun tentara bayaran yang bisa melarikan diri dari perimeter*."

​Xander menunjuk ke arah peta mental yang ia miliki. "Julian dan Yanuar akan memimpin serangan dari gerbang depan sebagai pengalihan. Gunakan panji Duke agar mereka tahu siapa yang datang. Sementara aku, Pangeran Riski, dan Arga akan masuk melalui jalur belakang panti yang menurut informasi batin Rosalind... eh, maksudku menurut laporan intelijen, ada jalan setapak tersembunyi di dekat pohon sakura tua."

​Arga Wicaksana, yang napasnya masih tersengal-sengal, mencoba berbicara sambil membuka tas peralatannya. "Aku... hosh... aku sudah menyiapkan bom asap dan peledak suara tingkat rendah untuk mengacaukan formasi mereka. Kita akan membuat mereka berpikir bahwa kita membawa satu legiun penuh prajurit."

​"Tujuannya satu," lanjut Xander dengan mata yang berkilat haus darah. "Selamatkan Lily dan semua anak di sana tanpa ada goresan sedikit pun. Jika Baron Malvin mencoba menjadikan anak-anak sebagai sandera... aku sendiri yang akan memastikan kepalanya terpisah dari tubuhnya sebelum dia sempat mengedipkan mata."

​Kembali ke kondisi di panti, suasana semakin mencekam saat beberapa pria berpakaian hitam mulai terlihat di luar pagar pagar besi. Mereka membawa obor dan palu godam, tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul pagar untuk menakut-nakuti penghuni panti.

*​*Baron Malvin Sandro berdiri di atas kereta kudanya yang mewah, sekitar seratus meter dari gerbang. Ia menyesap anggur merah dari gelas kristalnya dengan ekspresi puas. "Empat hari? Mengapa harus menunggu selama itu? Aku ingin tanah ini bersih besok pagi. Jika anak-anak itu tidak mau pergi, bakar saja asramanya. Anggap saja sebagai pemanasan musim dingin."

​Lily, yang melihat dari balik jendela, merasakan jantungnya berdegup sangat kencang. Ia melihat kuncup sakura di luar jendela bergoyang tertiup angin kencang.

​[(Batin Lily):]

"Mereka membawa api. Ibu Sarah sedang berdoa, tapi orang-orang jahat itu terus tertawa. Kakak... jika Kakak tidak datang sekarang, mungkin Lily tidak akan bisa memberikan kalung ini kembali padamu. Tapi aku janji, aku akan melindungi Ibu Sarah. Aku akan berdiri di depan pintu. Jika mereka mau membakar tempat ini, mereka harus melewati aku dulu."

​****Lily berdiri dari sudutnya, berjalan perlahan menuju pintu utama panti yang sudah mulai digedor-gedor dari luar. Di tangannya, ia memegang sebuah kayu kecil, mencoba menjadi berani meskipun tubuhnya sangat mungil.

​Namun, di tengah suara tawa para tentara bayaran dan isak tangis anak-anak panti, sebuah suara terompet perang yang sangat akrab bagi keluarga ksatria terdengar dari kejauhan. Suaranya menggelegar, membelah lembah Grier yang sunyi.

​TET... TET... TEEEET!

​Itu adalah terompet perang Singa Wiraatmadja.

​Baron Malvin tersedak anggurnya, gelas kristalnya jatuh dan pecah berkeping-keping. "Suara itu... tidak mungkin! Apa yang dilakukan pasukan Duke di tempat sampah ini?!"

​Dari arah perbukitan, bayangan para ksatria mulai muncul di bawah cahaya bulan yang baru saja terbit. Panji-panji perak berkibar, memancarkan cahaya yang mematikan. Xander Wiraatmadja telah sampai, dan ia tidak datang untuk bernegosiasi.

​"Hancurkan mereka!" teriak Xander dari kejauhan, suaranya terdengar seperti vonis mati bagi Baron Malvin.

​Lily, yang mendengar suara itu, menjatuhkan kayu kecilnya. Ia menempelkan wajahnya ke kaca jendela yang dingin, matanya berbinar melihat sosok ksatria dengan mantel hitam dan sulaman singa perak yang paling depan.

​"Pahlawan..." bisik Lily dengan air mata yang akhirnya jatuh mengalir. "Kakak benar-benar mengirim pahlawan untukku."

1
Manusia Ikan
sistem b like :
Manusia Ikan
ooh ada sistem nya😏👍
Manusia Ikan
bro kena mag :v
Manusia Ikan
jangan remehkan kekuatan dari lantai yang licin di kamar mandi😂
Manusia Ikan
ah biasa ini mah😏
Rina Yuli
celana dalam lagi 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rina Yuli
urusan celana dalam pakek mau dibongkar segala lagi 🤣🤣🤣🤣🤣
Rina Yuli: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
acep maulana
sama 2 kk maaf kalau cerita sebelumnya saya hapus 🤣🤣🤣🤣
acep maulana: rekomendasi untuk bab berikutnya hehehe
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Manusia Ikan: hadir thor
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!