Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian dari Dimensi Lain
Lokasi: Menara Pusat, Kota Saranjana.
Waktu: Zona Merah (Kritis).
Lantai emas Menara Pusat berguncang hebat. Retakan-retakan menjalar di dinding kristal, memancarkan cahaya merah yang berkedip-kedip seperti error code pada sistem komputer raksasa.
Dimas berlari sekuat tenaga sambil mendekap Mandau Sumpah yang terbungkus kain batik mantra. Senjata itu terasa panas dan berat, seolah-olah membawa gravitasi planet sendiri.
Di belakangnya, Sarah menembakkan grappling hook-nya ke langit-langit yang runtuh, berayun melewati jurang lantai yang menganga.
“Dim! Lewat kiri! Tangga spiral!” Teriak Sarah, matanya memindai struktur bangunan dengan kacamata AR-nya. “Lift gravitasi mati total!”
Mereka menuruni tangga kristal spiral itu dengan kecepatan bunuh diri.
Di setiap lantai yang mereka lewati, mereka melihat pemandangan horor. Penduduk Limun—yang tadinya anggun—kini berubah wujud. Kulit pualam mereka meleleh, memperlihatkan kerangka cahaya di dalamnya. Mereka merayap di dinding seperti cicak raksasa, mulut mereka terbuka lebar mengeluarkan suara statis yang memekakkan telinga.
KREEEEKKK… ZZZZTTTT…
“Mereka bukan manusia!” Teriak Sarah sambil menembakkan peluru bius (yang sia-sia). “Mereka glitch!”
“Mereka sistem imun kota ini!” Balas Dimas. “Dan kita virusnya!”
Salah satu Penduduk Limun melompat dari dinding, mencoba menyambar kaki Dimas.
Dimas tidak bisa menggunakan tangan (karena memegang Mandau). Dia berputar, menggunakan momentum lari, dan menendang wajah makhluk itu dengan lututnya yang dilapisi pelindung lutut taktis.
PRANG!
Wajah makhluk itu pecah seperti kaca lampu neon. Pecahannya bukan darah, tapi serbuk cahaya.
“Jangan berhenti! Lari terus sampai pintu depan!”
Alun-Alun Kota.
Mereka meledakkan pintu kaca lobi menara, berguling keluar alun-alun.
Pemandangan di luar lebih kacau. Langit emas Saranjana telah berubah menjadi ungu gelap, berputar seperti putaran badai. Kendaraan-kendaraan terbang berjatuhan.
Di tengah alun-alun, ribuan Penduduk Limun sudah menunggu. Mata marah mereka menyala serentak menatap Dimas dan Sarah.
Mereka terkepung.
“Sar, hitung peluang,” napas Dimas tersengal, punggungnya menempel ke punggung Sarah.
“Nol persen kalau lari,” Sarah mengecek amunisinya. Habis. “Kecuali kita bisa terbang.”
Mata Sarah tertuju pada satu kendaraan kapsul yang melayang rendah di dekat air mancur, pintunya terbuka karena pemiliknya (Penduduk Limun) sedang glitch.
“Dim, cover aku sepuluh detik!”
Sarah berlari menuju kendaraan itu. Dimas berdiri di tempat, menghunus Keris Patrem kecilnya di tangan kanan (tangan kiri memeluk Mandau).
“Maju kalian, Setan Digital!” Tantang Dimas.
Puluhan Penduduk Limun menerjang. Dimas bergerak seperti penari silat. Dia tidak menusuk fisik, tapi menusuk titik simpul energi mereka. Setiap goresan kerisnya memutus aliran chi makhluk-makhluk itu, membuat mereka freeze atau hancur.
Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Satu makhluk berhasil mencengkeram bahu Dimas. Dinginnya bukan main, seperti nitrogen cair.
“Dapat!” Teriak Sarah.
Sarah sudah ada di dalam kapsul kendaraan itu. Dia meretas panel kendalinya dengan cara memutus kabel kristal dan menyambungkannya manual.
Mesin kapsul itu mendengung hidup.
“Masuk!”
Sarah memundurkan kendaraan itu, menabrak kerumunan Penduduk Limun, lalu membuka pintu samping.
Dimas melompat masuk tepat saat cakar-cakar bercahaya hendak merobek punggungnya.
WUUUSSH!
Kapsul itu melesat terbang, menembus kerumunan, menuju gerbang kota di kejauhan.
Gerbang Perbatasan (The Fog Wall).
Sarah mengemudikan kendaraan asing itu dengan insting pilot drone. Kapsul itu melesat zig-zag diantara gedung-gedung yang runtuh.
“Gerbangnya menutup!” Tunjuk Dimas.
Kabut tebal yang menjadi pembatas dimensi mulai memadat menjadi dinding solid. Jika dinding itu tertutup sempurna, mereka akan terjebak selamanya di dalam Batu Bara Kalimantan.
“Pegangan!” Sarah mendorong tuas kecepatan sampai mentok.
Kapsul itu melaju 300 km/jam.
Tiba-tiba, dari dalam kabut, muncul bayangan raksasa.
Sebuah tangan besar—berbulu hitam lebat dengan kuku seukuran pisau—menghantam jalan raya di depan mereka.
BLAAARR!
Jalan cahaya itu hancur. Kapsul mereka terpelanting, berguling-guling di udara sebelum jatuh keras di dekat dermaga.
Dimas dan Sarah merangkak keluar dari rongsokan kapsul. Mereka berdarah, memar, dan pusing.
Di depan gerbang kabut, berdiri Penjaga Gerbang.
Sosok setinggi 4 meter. Tubuhnya seperti manusia purba, tapi kepalanya adalah Burung Enggang Gading raksasa. Matanya satu di tengah dahi, bersinar kuning. Ia memegang tombak petir.
“Panglima Burung…” bisik Dimas gemetar. “Versi Penjaga.”
Makhluk itu tidak bicara. Ia mengangkat tombaknya, siap menghukum pencuri yang berani mengambil pusaka kota.
Sarah mengangkat pistolnya, tapi tangannya gemetar. “Dim, pistolku nggak bakal ngaruh ke Godzilla ini.”
Dimas menatap Mandau Sumpah di pelukannya. Dia mendapat ide gila.
“Sar, ingat kata Kai Imur?” Tanya Dimas cepat.
“Soal makan buah?”
“Bukan. Soal ‘Jangan nyalan cahaya putih di atas air’.”
Dimas melihat sekeliling. Mereka ada di dermaga. Di bawah mereka adalah air sungai dimensi lain.
“Ini pertaruhan,” kata Dimas. Dia mengambil Flare Gun dari pinggang Sarah.
“Dim? Kamu mau ngapain?”
“Bikin dia buta. Penjaga ini matanya sensitif cahaya murni. Di sini nggak ada matahari, Sar. Mereka nggak pernah liat Fosfor Magnesium.”
Dimas membidikkan pistol suar itu bukan ke makhluknya, tapi ke Permukaan Air di bawah kaki makhluk itu.
“Tutup mata, Sar! Rapat-rapat!”
Dimas menarik pelatuk.
DOR!
Suar meluncur, menghantam air.
SSHH… BLAAARRRR!
Cahaya putih menyilaukan meledak. Karena ditembakkan ke air, cahaya itu memantul, melipatgandakan intensitasnya menjadi ribuan kali lipat seperti cermin raksasa.
Dunia menjadi putih total.
KRAAAAKKKK!
Penjaga Gerbang itu menjerit kesakitan. Mata tunggalnya terbakar oleh cahaya murni yang asing bagi dunianya. Ia terhuyung mundur, menjatuhkan tombaknya, menutupi wajahnya.
“SEKARANG! LOMPAT!”
Dimas menarik tangan Sarah.
Mereka berlari ke ujung dermaga, dan melompat terjun bebas ke dalam dinding kabut yang sedang menutup.
Gelap.
Dingin.
Rasanya seperti ditarik masuk ke dalam mesin cuci raksasa. Tubuh mereka serasa ditarik memanjang lalu dipadatkan lagi.
Lokasi: Hulu Sungai Cengal, Hutan Kalimantan (Dunia Nyata).
Waktu: Subuh (05.00 WITA).
BYUUURR!
Dimas dan Sarah jatuh ke dalam air sungai yang dingin dan berlumpur.
Mereka muncul ke permukaan, terbatuk-batuk, menghirup udara yang berbau tanah basah dan solar. Udara nyata.
“Kita… Uhuk… kita hidup?” Sarah mengusap lumpur dari wajahnya.
Di dekat mereka, perahu klothok tua masih mengapung tenang.
Kai Imur duduk di sana, masih denga posisi yang sama seperti saat mereka tinggalkan. Dia sedang menyeruput kopi hitam dari batok kelapa.
Kai Imur menatap mereka berdua yang basah kuyup. Dia melihat bungkusan kain batik di tangan Dimas yang masih utuh.
Dia tersenyum ompong.
“Panjang umur,” kata Kai Imur santai. “Kukira kalian sudah jadi Pindang (lauk) buaya putih.”
Dimas tertawa, tawa lega yang lepas. Dia mengangkat Mandau Sumpah tinggi-tinggi.
“Oleh-olehnya aman, Kai.”
Sarah berenang mendekat ke perahu, dibantu naik oleh Kai Imur. Dia merebahkan diri di lantai kayu perahu, menatap langit subuh yang mulai membiru. Bintang-bintang asli masih terlihat.
“Nggak ada lagi kota emas,” gumam Sarah. “Aku lebih suka hutan becek ini.”
Dimas naik ke perahu, meletakkan Mandau itu dengan hati-hati.
“Ayo pulang, Kai. Istri saya butuh mandi air hangat dan pijat refleksi.”
EPILOG: Tiga Hari Kemudian.
Lokasi: Gudang Penyimpanan Benda Berbahaya BPCBAN, Jakarta.
Level: Sangat Rahasia.
Sebuah pintu besi tebal tertutup rapat. Di dalamnya, Mandau Sumpah kini tersimpan di dalam kotak kaca anti-peluru, dialiri mantra pengunci 24 jam, dan dijaga sensor laser.
Di ruang observasi, Dimas dan Sarah berdiri melihat artefak itu melalu kaca satu arah.
Sarah memakai jas lab putihnya lagi. Dimas memakai kemeja batik rapi. Luka-luka mereka sudah diperban.
“Mr. Vaan ditemukan tewas di Hutan Kalimantan,” lapor Sarah, membaca tabletnya. “Penyebab Kematian: Serangan jantung. Dan… tangan kanannya hilang putus rapi.”
“Dia korban ambisinya sendiri,” komentar Dimas dingin. “Saranjana tidak pernah memberi. Dia hanya mengambil.”
Pintu ruangan terbuka. Seorang kurir masuk membawa paket kotak kayu.
“Paket untuk Profesor Dimas. Dari Bali.”
Dimas mengerutkan kening. Dia membuka kotak itu.
Isinya adalah Topeng Rangda yang mereka curi. Tapi sekarang, topeng itu bersih. Tidak ada aura jahat. Dan di dahinya tertempel stiker kecil: SUDAH DISUCIKAN-BESAKIH.
Dan ada secarik kertas nota tulisan tangan cakar ayam:
”Ongkis Suci: 5 Juta. Transfer ke rekening biasa. -Mangku Pastika.”
Dimas dan Sarah tertawa terbahak-bahak.
“Tagihan dukun lebih mahal dari tagihan dokter ya,” kekeh Sarah.
Dimas merangkul bahu istrinya. Dia melihat pantulan mereka di kaca. Dua orang biasa dengan pekerjaan luar biasa.
“Jadi…” tanya Dimas. “Apa agenda kita selanjutnya? Cuti beneran?”
Sarah menggeleng. Dia memperlihatkan layar tabletnya. Ada notifikasi baru berkedip merah.
ALERT: ANOMALI TERDETEKSI. GUNUNG PADANG, CIANJUR.
SINYAL SUARA DARI DALAM PERUT BUMI.
“Gunung Padang?” Mata Dimas berbinar. “Piramida tertua di dunia?”
“Mereka bilang ada suara gamelan dari dalam tanah,” kata Sarah, senyum petualangannya kembali. “Dan Seismic sensor mendeteksi rongga raksasa di bawah situs Megalitikum itu.”
Dimas membetulkan letak kacamatanya. Dia mencium pipi Sarah.
“Siapkan tasmu, Dok. Kita bakal gali kuburan raksasa.”
Kamera menjauh dari mereka, melewati lorong-lorong gudang yang penuh dengan ribuan kotak artefak lain yang menunggu untuk diceritakan.