NovelToon NovelToon
Bayangan Pewaris Kadipaten

Bayangan Pewaris Kadipaten

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata-mata/Agen / Ahli Bela Diri Kuno / Menyembunyikan Identitas / Era Kolonial
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hayisa Aaroon

Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?

Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.

Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.

Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.

Risikonya? Hampir mati setiap hari.

Akankah Arjo bertahan?

Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Ki Guru Harjo

Nyi Seger sudah berbalik berjalan keluar. Tapi ia berhenti sejenak di ambang pintu, menoleh dengan senyum yang membuat bulu kuduk Arjo berdiri.

"Sampai kau bisa jadi bupati sungguhan." Ia terkekeh dengan suara rendah mengerikan. "Atau sampai mati. Mana yang lebih dulu?"

Lalu ia menghilang di balik kegelapan.

Arjo berdiri mematung.

‘Apa maksudnya itu?’

Tapi tidak ada waktu untuk memikirkannya. Sebentar lagi maghrib.

Arjo mengambil kain sarung batik untuk basahan dan berjalan ke pemandian.

‘Jadi bupati sungguhan, katanya? Memangnya aku ini siapa? Apa Ndoro Gusti Bupati sudah bosan jadi bupati? Ada-ada saja dia, orang-orang setengah mati bermimpi menjadi bupati, dia yang dapat jabatan malah mencari pengganti?’

\~\~\~

Usai mandi dan makan malam bersama, Arjo berpakaian rapi, bukan kemeja lusuh cokelat yang tadi sore ia pakai, tapi pakaian yang jauh lebih pantas. Kemeja hitam dari kain halus, kancing kuningan mengkilap di dada, kerah tegak rapi.

Celana panjang hitam dari bahan yang sama halusnya, potongan ningrat yang pas di tubuh. Kain batik parang rusak, motif yang hanya boleh dipakai keluarga keraton dan bangsawan tinggi, melilit pinggang dengan simpul yang rapi. Ikat kepala batik senada melengkapi penampilannya.

Semua ini fasilitas dari Sang Bupati. Pakaian-pakaian mahal yang sama dengan yang bupati asli kenakan.

Arjo memandang bayangannya di cermin kecil yang tergantung di dinding.

Tampan, pikirnya.

Sekarang, dengan pakaian seperti ini, ia bisa membuat raden ayu mana pun menoleh dua kali. Tapi sayang sekali tidak ada raden ayu di padepokan dan ia tak bisa sembarangan keluar masuk.

Yang ada hanya Nyi Seger dan nenek-nenek menyeramkan lainnya.

Arjo menghela napas, lalu bergegas ke pendopo barat.

\~\~\~

Pendopo barat adalah bangunan terbuka dengan tiang-tiang kayu jati berukir dan atap joglo yang menjulang tinggi.

Lampu-lampu minyak menggantung di setiap sudut, menerangi ruangan dengan cahaya keemasan yang bergoyang pelan tertiup angin malam.

Dupa gaharu yang dibakar di sudut menebarkan wangi yang menenangkan, bercampur dengan bau khas malam di hutan. Di tengah pendopo, seorang pria tua duduk bersila dengan mata terpejam.

Kang Guru Harjo.

Tubuhnya tegak sempurna meski usianya sudah melampaui enam puluh tahun. Beskap hitam dengan sulaman benang emas di kerah dan lengannya terkancing rapi. Blangkon di kepala. Wajahnya kurus, tulang pipi menonjol, kumis tipis memutih di atas bibir yang terkatup rapat.

Di hadapannya, meja rendah dari kayu jati berpelitur gelap. Di atas meja, tumpukan buku-buku tebal bersampul kulit, sebagian berbahasa Belanda, sebagian berbahasa Jawa dengan aksara pegon. Alat tulis tertata rapi di sudut: botol tinta hitam, pena bulu angsa, kertas-kertas kosong, dan sebuah cap lilin dengan lambang kadipaten.

Dan di samping semua itu, setumpuk foto hitam putih.

Arjo melangkah masuk, berusaha tidak menimbulkan suara. Ia duduk bersila di hadapan sang guru, menundukkan kepala dengan hormat.

Hening.

Kang Guru Harjo tidak bergerak. Napasnya panjang dan teratur, seperti orang tertidur. Tapi Arjo tahu, guru ini tidak sedang tidur, tapi bermeditasi. Atau sedang menguji kesabarannya. Atau keduanya.

Satu menit berlalu. Dua menit. Lima menit.

Arjo mulai bosan, ia menguap. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyum nakal saat mengenang apa yang terjadi siang tadi. Mengingat rasa benda asing itu di telapak tangan.

Lalu, tanpa peringatan, mata Kang Guru Harjo terbuka. Satu mata. Tajam.

Senyum di bibir Arjo sontak surut.

"Di mana-mana murid menunggu guru." Suaranya pelan tapi menusuk. "Bukan guru menunggu murid."

Arjo membuka mulut hendak membela diri—

"Kamu ini memang ndableg. Keras kepala. Susah diatur." Mata satunya terbuka, sama tajamnya. "Lima tahun belajar, tidak berubah. Tetap saja terlambat. Tetap saja malas. Tetap saja—"

Arjo tidak mendengarkan.

Lima tahun belajar di padepokan ini, tidak ada guru yang tidak pernah memarahinya. Kang Guru Harjo marah karena ia terlambat. Ki Guru Slamet marah karena kuda-kudanya kurang rendah. Nyi Seger marah karena … apa pun. Semuanya serba salah.

Telinganya sudah kebal.

Omelan masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Wajahnya memasang ekspresi menyesal yang sudah ia latih bertahun-tahun, alis sedikit turun, bibir sedikit mengerucut, mata sedikit berkaca-kaca.

Ekspresi yang mengatakan saya menyesal, Guru, saya akan berubah. Padahal dalam hati ia sedang menghitung berapa lama lagi omelan ini akan berakhir.

Matanya melayang ke meja. Ke setumpuk foto hitam putih yang tadi sempat menarik perhatiannya.

Wajah-wajah asing. Pakaian Eropa. Bintang-bintang dan medali di dada.

‘Siapa mereka?’

"—kau dengar tidak?!"

Arjo tersentak, kepalanya mengangguk tegas. "Nggih, Guru. Mendengar. Sangat mendengar."

Kang Guru Harjo menghela napas panjang, napas seorang guru yang sudah lelah dengan murid yang sama selama lima tahun, yang kenakalan dan kepintarannya seimbang.

"Sudahlah." Tangannya meraih tumpukan foto itu, menyodorkannya ke arah Arjo. "Malam ini kau belajar ini. Hafalkan."

Arjo menerima tumpukan foto itu. Cukup tebal—mungkin dua puluh lembar atau lebih. Kertas foto yang tebal dan halus, gambarnya hitam putih tapi cukup jelas.

"Ini siapa, Guru?"

"Gubernur Jenderal Hindia Belanda." Kang Guru Harjo mengetuk meja dengan jari telunjuknya. "Para penguasa tertinggi tanah Jawa. Di balik setiap foto ada nama, data diri, dan pencapaian selama memimpin. Hafalkan semuanya."

Arjo membalik foto pertama.

Wajah seorang pria Eropa berusia lima puluhan balas menatapnya. Rahang tegas, mata tajam, rambut disisir rapi ke belakang. Seragam militer penuh dengan tanda jasa—bintang-bintang, pita-pita, epaulet emas di bahu. Pose tegap dengan satu tangan di pinggang, seperti sedang bersiap memimpin pasukan.

Di balik foto, tulisan tangan rapi dalam aksara Jawa.

‘Tidak menarik,’ batin Arjo. ‘Kenapa hanya foto dia, tidak foto keluarga? Paling tidak, kalau foto keluarga, mungkin ada anak gadisnya yang lebih enak di pandang, bukan wajah-wajah tua membosankan seperti ini.’

Arjo membalik ke foto berikutnya. Sama tidak menariknya dengan foto-foto berikutnya. Wajah-wajah yang semakin membosankan.

Pria-pria tua berumur empat puluh lebih, lima puluh, enam puluh tahun. Kumis tebal. Janggut lebat. Cambang menyamping. Alis tebal. Mata dingin. Seragam penuh medali. Pose angkuh seolah dunia ini milik mereka.

Johannes van den Bosch. 1830-1833.

Arjo berhenti di foto terakhir ini lebih lama. Bukan karena wajahnya menarik, sama membosankannya dengan yang lain. Tapi karena tulisan di baliknya lebih panjang dari foto-foto sebelumnya.

Johannes van den Bosch. Gubernur Jenderal 1830-1833. Pencetus Cultuurstelsel—Sistem Tanam Paksa. Rakyat Jawa diwajibkan menanam tanaman ekspor (kopi, tebu, nila, dan lain-lain.) di seperlima tanahnya untuk diserahkan kepada pemerintah kolonial. Dan masih banyak lagi keterangan di belakangnya.

"Yang itu." Suara Kang Guru Harjo memotong. Jari keriputnya menunjuk foto yang sedang Arjo pegang. "Johannes van den Bosch. Nama yang harus kau ingat baik-baik."

Arjo mengangkat wajah. "Kenapa, Guru?"

1
Kustri
kiro" kelingan ro rupamu ra Jo🤔
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
Rahayu Wilujeng
sugeng dahar siang ndoro bupati🙏
Ricis
akhirnya ketemu lagi ya Jo, jangan konyol lagi ya Jo 😀
Teh Qurrotha
apakah Agnes kenal sama wajah Arjo yang sekarang, waktu penyerangan dkereta Arjo blm di make over
SENJA
nah itu makanya jangan terbawa emosi terus jo 😶
SENJA
kamu bakal di cap antek pki ada bukti atau ngga 🤭 makanya jangan kritis terang2an lah tahun 1920-30 an mah 🤭
SENJA
dan tan malaka dan pimpinan lain sebenernya ga setuju 🤭 ini aksi massa bukan massa aksi 😶
SENJA
tidak sesederhana yang terlihat 😶
SENJA
yah memang itu tugasmu kan 🤔 mau gimana? kejam tapi yah itu🤭
SENJA
sekarang udah telat jo 🤭
Muchamad Ikbal
muaaanteeep tenaan....🥳
ᵖᵓ➳⃟✿- 𝘀𝘆𝘂 ˢʸ֟ᵘ
Semua berawal dari tatapan lalu remashhhh an Arjo😭😭😭
Kenzo_Isnan.
waaahhh lha iki jo jo . .
Kenzo_Isnan.: tak melu ngamini wis pokok'e 😆
total 2 replies
Kenzo_Isnan.
malah adu nasib kalian bertiga to ya 😅
Kenzo_Isnan.
tedjo+arjo sama" gendeng 🤣🤣🤣
Kenzo_Isnan.
semangat jd bayangan kakak mu sendiri arjo . .
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo
Muhammad Arifin
Iki Paleng jodohmu Jo 🤪🤪
Kenzo_Isnan.
kasian kamu arjo tp yakinlah sesudah hujan pasti ada pelangi yg menanti mu di dpn sana
Muhammad Arifin
arjo welas asih....pantes Soedarsono suka...
Wiya Tun: betul,selalu ingat teman²nya
total 1 replies
Rahayu Wilujeng
wah..... harusnya pelajarannya lebih lengkap lagi, termasuk memberi respon pada semua istrinya, kan pasti beda2 responnya😄
Wiya Tun: mboten nopo² ndoro,Kula seneng, maturnuwun 🙏👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!