NovelToon NovelToon
Pacar Sewa Satu Milyar

Pacar Sewa Satu Milyar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Andi, seorang akuntan kuper yang hidupnya lurus seperti tabel Excel, panik ketika menerima undangan reuni SMA. Masalahnya: dulu dia selalu jadi bahan ejekan karena jomblo kronis. Tak mau terlihat memprihatinkan di depan teman-teman lamanya, Andi nekat menyewa seorang pacar profesional bernama Nayla—cantik, cerdas, dan terlalu mahal untuk dompetnya.

Namun Nayla punya syarat gila: “Kalau kamu jatuh cinta sama gue, dendanya satu milyar.”
Awalnya Andi yakin aman—dia terlalu canggung untuk jatuh cinta.

Tapi setelah pura-pura pacaran, makan bareng, dan menghadapi masa lalu yang muncul kembali di reuni… Andi mulai menyadari sesuatu: dia sedang terjebak.
Antara cinta pura-pura, kontrak tak wajar, dan perasaan yang benar-benar tumbuh.

Dan setiap degup jantungnya… makin mendekatkannya ke denda satu milyar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alarm Setan Huru Hara Subuh

Kamar Andi hening… terlalu hening bahkan AC tua yang biasanya berisik kayak kereta sayur mendadak malu menjerit, seolah tahu pemilik kamar sedang berdialog dengan takdir.

Laki laki berkulit putih itu masih menutup wajahnya dengan bantal, bergumam lirih korban kegencet ranjang susun.“Di… gue bakal mati besok.”

Dio menyilangkan tangan, duduk di ujung kasur miring itu. “Ndik, lu mati bukan karena Nayla. Lu mati karena panik, bedain dong.”

Andi membuka bantal pelan-pelan, rambutnya berantakan kayak sarang burung.“Centong … jam 5, jam 5, Gue biasanya masih REM tahap 3, mimpi naik pesawat ke Korea tanpa visa.”

"Ngapain lu ke Korea Utara, mimpi ama Kim Jong Un di kandang Buaya? " Dio ngakak kuat matanya berair."

" Bangke, lu dengerin Napa."

" Siap komandan regu, "Ia menutup mulutnya menahan tawa yang tersisa. "kali ini lu naik mobil ke Jatinegara pakai hidup lu sendiri.”

“Gue belum siap keliatan sama cewek cantik dengan mata bengkak kurang tidur.”

“Solusinya lu jangan tidur.”

“What ?”

“Jangan tidur! Begadang. Lu tinggal mandi jam 4, siap berangkat jam 4.30. Selesai. Mata lu udah lewat fase bengkak paling tinggal mata panda dikit.”

.

“Besok hari Minggu, Rendang ! bangun jam 4 sungguh menyiksa."

" Lha ? gimana sih lu ?"

" Mental gue tetap mental pegawai pajak, Di Begadang tuh dosa berat!”

Dio berdiri menepuk bahunya seperti motivator pemula dibayar pakai mie seduh.

“Ndik, ini bukan sekadar begadang. Ini misi penyelamatan hidup. Lu mau dijodohin sama Sofiah dengan gaya mafia mama lu? Atau memilih subuh-subuh ngelihat Nayla pakai hoodie abu-abu?”

Andi terdiam mengevaluasi, mengkalkulasi dan menimbang risiko hidup.“Dio…”

“Hah?”

“Kalau Nayla ternyata… cantik banget… gue grogian dan jantung pecah?”

“Bagus, Dodol! Dio menjambak rambutnya pelan. "Mama lu tinggal batalin acara jodoh-jodohan dengan Sofiah dan lu dirawat inap dengan case norak, " Seorang pegawai pajak jantung bocor dikedipin ama gadis cantik.

" Bukan itu setan..."

Laki laki berahang keras itu kembali tertawa terbahak bahak.

“Di..."

" Sorry becanda-becanda, Ndik."Ia lalu meraih remote AC dan mematikannya. “Udah. Lu tidur.”

“Tadi lu bilang jangan tidur—”

“Lu tidur sebentar. Nanti jam 3 subuh gue bangunin.”

Andi menggeleng keras.“Jam 3 tuh bukan jam manusia tapi ngumpulnya pada dedemit untuk menyatukan visi dan misi menggoda manusia mau shalat tahajud."

"“Udah. Gue set alarm tiga lapis—HP gue, HP lu, sama jam weker ayam broiler kawin."

Laki laki berparas lugu itu menutup muka suaranya melemah sisa-sisa nafas korban banjir “Gue… gue takut… Nayla beneran ada di gerbang jam 5… terus dia tersenyum manis … terus gue pingsan.”

Dio memutar bola matanya kelilipan. “Duuh anak ini buat susah aja kalau lu pingsan, gue yang angkat, udah.”

“Di…”

“Apa sih lu? Da, Di, Da, Di Gue ngantuk."Dio meradang seperti ngadapin anak TK minta jajan.

“Kalo Nayla ternyata jahat? Atau ternyata tulang punggungnya kekar kaya Bencong Pancoran ? Gimana?”

Dio memandangnya datar, seperti gak yakin masih ada pemuda kuper ngadep cewek “Andi, cewek itu bangun jam 5 pagi dengan riang untuk ketemu ma lu mendapatkan uang ghaib."

"Maksud lu ? Dia mengernyit.

"Kalo dia cowok nyamar dedikasinya terlalu tinggi bahkan gue aja gak sanggup.”

Andi terdiam suasana kamar kembali tenang.

Jam dinding berbunyi tik… tak… tik… tak…

Membuat suasana dramatis trailer film horor, penghuni kamar mandi .

Dio mematikan lampu.“Tutup mata lu. Tidur. Besok lu akan menghadapi subuh paling menentukan dalam sejarah hidup lu.”

"Di…”

“Apa lagi sih ? Gue cekek lu, dari tadi gak abis abisnya."

“Besok kalo gue gugup… lu jangan ninggalin gue.”

Dio akhirnya bangkit menyelimutinya seperti membungkus kado, " Nyinyir aja lu."

" Lepasin gue ...Andi menjerit, "lu mau bunuh ?"

Laki laki itu tertawa terpingkal pingkal menarik selimut, " tenang lu, gue nggak bakal ninggalin, gue ikut sampai gerbang perumahan Nayla dan gue pantau dari jauh.”

Andi akhirnya menutup mata tapi sesaat lalu keluar lagi suara cemprengnya, “Di...kelon”

Dio melempar mukanya pakai bantal.

---

Langit Jakarta masih abu-abu murung, ayam masih belum sepenuhnya ikhlas berkokok, dan kota masih dalam fase " gue belum siap hidup hari ini, lu tidur aja."

Sementara itu…

Andi tidur nyenyak, dalam, tanpa rasa bersalah. Di dalam mimpinya, ia sedang duduk santai di ruang pajak surga: tanpa deadline, tanpa Mama yang ngomelin, tanpa Nayla, dan tanpa denda enam ratus ribu yang selalu ngikutin seperti bayaran hutang.

Tiba-tiba, brakk. Pintu kamar dibanting keras.

"Ndiiii!!!"

Ia terlonjak seperti ikan lele dilempar ke aspal panas, matanya langsung terbuka — lalu membeku. Jam dinding menunjukkan angka yang bikin jantungnya resign tanpa surat pengunduran diri: 05.02.

Tidak ada teriakan, tidak ada umpatan. Hanya satu napas panjang, lalu teriakan dengan suara nyaris pecah: "Anjiiir!!!"

Ia terjatuh dari kasur miringnya, mendarat di lantai dingin dengan gaya korban razia pajak mendadak lalu merangkak ke meja, menyambar HP tangan gemetar — tidak ada satu pun alarm berbunyi. Semua mati, bisu, seperti sengaja berkhianat dengannya.

Dio berdiri di pintu, masih memakai kaos tidur, rambutnya berdiri liar antena TV rusak ga bisa nerima sinyal. "Ndik… lu bangun sendiri jam segini? Itu prestasi, lu."

Laki laki itu hampir menangis. "Jam lima, Dio! Nayla nunggu jam lima! Gue harus keluar jam empat tiga puluh!"

Dio menguap santai menggeleng kan kepalanya "Sekarang jam lima lewat dua."

Andi menatapnya seperti menggugat cerai. "Kenapa lu gak bangunin gue?!"

Dio mengangkat HP layar hitam. "Alarm gue juga mati — HP lowbat. HP lu? Silent. Jam weker? Baterainya mati dari tahun lalu."

Ia memukul lantai dengan telapak tangan. "Ini bukan kesalahan teknis! Ini kutukan Mama!"

melompat berlari ke kamar mandi — lalu keluar lagi dalam dua detik, kain sprei melilit di tubuhnya, "Sial! gue mandi bukan tidur."

. "Lu mau mandi, atau mau hidup ngelawan rasa malu ketemu Nayla?"

Andi menatap dirinya di cermin: rambut acak-acakan pohon cemara terombang-ambang ditiup angin, mata panda seperti anak lajang nonton drama korea semalaman, wajah meriang laporan pajak salah format. "Gue gak bisa ketemu cewek jam subuh dengan muka kayak gini!"

Dio menyambar sesuatu diatas sandaran kursi, melempar ke arahnya. "Muka bisa diselamatkan. Waktu? Enggak."

Andi mandi lima menit tercepat dalam sejarah umat manusia: sampo jatuh ke bak mandi, sabun kepeleset ke lantai, dan kampret itu ternyata salah memberi bukan handuk tapi sarung cap gajah.

Ia keluar kamar mandi dengan napas memburu memakai baju melompat-lompat. "Kaos terbalik?!" "Biarin! Kan gelap subuh!"

Sepatu salah kaki, ikat pinggang lupa dipakai, parfum disemprot tiga kali — satu di mata. Suasana menjadi heboh, riuh rendah mungkin membuat penghuni apartemen bertanya tanya, " gempa bumi kok di dalam kamar doang? "

Dio sudah berdiri di pintu apartemen, kunci mobil di tangan. "Berangkat sekarang."

Andi menyambar HP, lalu matanya membesar. Sebuah chat masuk dari Nayla:

Kak Andi, gue udah di gerbang ya 😊 Tenang aja, gue santai kok.

Dia berhenti di tengah langkah. "Nayla … udah nunggu."

Dio membuka pintu. "Ya udah. Jangan panik. Tarik napas."

Andi menghela napas dalam berkata lirih "Kalau gue mati hari ini, tolong bilang Mama… gue udah usaha."

Dio mendorongnya keluar kamar. "Lu nggak mati. Lu cuma telat sedikit. Tapi hidup lu bakal berubah percaya."

Pintu apartemen menutup dengan suara klik. Dan subuh Jakarta akhirnya menyambut akuntan kuper terlambat — menuju takdirnya sudah menunggu di gerbang.

1
Greta Ela🦋🌺
Dah ketebak pasti si Nayla/Facepalm/
Ddie: 🤣🤣 ...ya gitu dk...Nayla
total 1 replies
Greta Ela🦋🌺
Jadi dia ini anak mama yang manja ya/Chuckle/
Ddie: ya begitu lah dk ...kalau dk gak begitu ya..mandiri ...mandi sendiri
total 1 replies
Ddie
lucu absurd tapi mengena di hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!