Aku Nadia istri dari Mas Afif dan ibu dari Bintang. aku istri yang setia, yang selalu berusaha melayani suamiku dengan baik, menemaninya dari nol. aku juga ibu yang baik untuk anakku Bintang. singkatnya aku berusaha menjadi yang terbaik untuk suami dan anakku.
Namun di saat pernikahanku yang ke tujuh, Mas Afif memberikanku kejutan besar, dia membawa seorang wanita lain ke dalam rumah tangga kami, namanya Laras dan anak tirinya bernama Salsa, yang Bintang selalu bilang kalau anak itu adalah anak tercantik di kelasnya.
cerita perhianatan dan kebangkitan Nadia dari penghianatan suaminya.
happy reading All❤️ bantu support cerita pertama saya ya, trims🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Sebetulnya pernikahanku dan Mas Afif tak di restui oleh keluarga bibi. Saat aku bertanya kenapa, bibi beserta Arka, sepupu berkata. Tak suka saja melihat mas Afif, kata mereka aku dan Mas Afif tak bisa bersama dan tak cocok__akan tetapi aku bersikeras dan membujuk mereka supaya mereka mau menerima Mas Afif sebagai suamiku.
Penolakan-penolakan itu begitu gencar dan kompak di lakukan bibi dan adik sepupuku Arka. Akan tetapi sama seperti mereka, setiap hari aku dan Mas Afif kompak berusaha mendapatkan restu dari mereka. Dari Mas Afif yang inisiatif sendiri membeli martabak kesukaan bibi hingga membeli beberapa camilan dan mendatangi rumah bibi tiap hari, juga di bantu dengan aku yang selalu membicarakan semua kebaikan Mas Afif dan betapa kami saling mencintai satu sama lainnya, sampai dua bulan berikutnya bibi merestui hubungan kami dan ya, saat itu aku sangat bahagia sekali. Aku merasa jalanku terbuka lebar untuk bisa bersama dengan Mas Afif, seseorang yang sangat aku cintai dan menjanjikan kebahagiaan apabila menjadi istrinya.
Hingga setelah menikah, semua itu terasa omong kosong belaka. Sebab ternyata kehidupan setelah menikah itu tak seperti bayanganku. Atau barangkali aku yang terlalu berekspektasi tinggi kepada Mas Afif yang kala itu baru merintis, sepertinya memang iya__walau terkadang lelah dan capek, namun aku selalu ingat bahwa menikah dengan Mas Afif adalah pilihanku. Makanya aku menerimanya semua sifat, semua yang dia usahakan, ya. Walau pada saat itu kami cukup berkesusahan.
Hal yang tak ku sangka-sangka pun terjadi, bibi dan Arka mendatangi rumahku. Tentu aku senang, karena sudah cukup lama juga kami tak bertemu, tapi ada ketakutan di hatiku juga apa lagi kalau sampai Arka atau bibi bertanya soal Mas Afif yang saat ini lebih memilih tinggal bersama istri keduanya dan anak tirinya.
Ya, beberapa hari yang lalu Mas Afif menghubungiku dan dia mengatakan dalam satu bulan ini akan tinggal bersama istri keduanya di rumah baru yang katanya tak jauh dari sekolah Salsa dan Bintang, aku yang sudah tak peduli pun mengiyakan saja, lagian kalau dia pulang pun ke rumah ini. Bisa di pastikan kalau aku tidak akan menyambutnya penuh suka cita, apalagi melayaninya lagi. Aku sudah terlampau kecewa dengannya.
“Mas Afif di mana, kak?.“Tanya Arka yang membuatku memaksa bibirku tersenyum dengan satu tangan menggaruk kepalaku yang tak gatal.
“Eumm ker..ja lah, apa lagi Ka?.“Jawabku dengan setengah gugup, aku berharap kalau Arka tak bertanya macam-macam lagi soal Mas Afif, aku tidak tahu harus menjawab apa, apalagi besar kemungkinan Arka maupun bibi akan bertemu dengan Mas Afif, mengingat Mas Afif kembali ke desa sekitar sini.
Untungnya Arka hanya mengangguk singkat dengan tatapan matanya yang terasa agak aneh, seperti tidak percaya dengan apa yang aku bilang barusan.
“Oh gitu, tapi Afif baik-baik kan, di sana?.“Tanya bibi yang membuat atensiku teralih pada wanita yang telah merawatku dan membesarkanku sepeninggal kedua orang tuaku meninggal. Aku sayang pada bibi dan sudah ku anggap dia sebagai ibu keduaku.
“Baik kok bi.. oh ya, gimana kabar bibi juga Arka?“Tanyaku setengah merajuk sambil mengurucutkan bibirku kesal. Aku rindu sekali, apalagi masakan bibi yang menurutku terasa lebih lezat ketimbang dengan masaman Mia. Ya, tentu saja, karena di setiap masakan yang di buatnya, bibi selalu membumbui itu dengan cinta dan kasih sayangnya yang tulus.
“Baik juga alhamdulillah. Tapi adikmu tuh..“Ujar bibi sambil menyenggol lengan Arka dan membuat pria itu mendengus sebal.
“Apa sih, ma?.“
“Ada apa Bi? Ada apa sama Arka?.“
“Masmu kan ngajak Arka supaya ikut mengurusi bisnis travel umrohnya yang ada di luar kota, tapi Arka gak mau.“Ucap bibi seraya menghela nafasnya panjang, tatapan mataku tertuju pada Arka dengan satu alis terangkat, meminta penjelasan lewat tatapan mataku.
“Apa sih kak? Lagian aku udah masukin lamaran ke beberapa perusahaan kok “Jawabnya dengan nata melototnya, aku hanya bisa mendengus pelan.
Rencana itu memang sudah di sampaikan Mas Afif beberapa waktu lalu, sebelum aku memergoki dirinya dan Laras di sekolah Bintang, ya. Aku sih ok-ok saja, apa lagi kan Arka belum punya kerjaan juga, kan lumayan tuh. Arka jadi punya pemasukan kalau mau bekerja di bisnis yang di geluti mas Afif, namun dari dulu Arka selalu menolaknya, entah karena gengsi atau merasa di remehkan ya? Entahlah. Aku juga tak paham apa yang ada di kepala Arka.
“Tuh, Arka selalu kayak gitu. Bibi bener-bener gak ngerti sama jalan pikirannya. Padahal tinggal maunya aja lho, dia udah bisa dapet kerjaan, meski di luar kota sekalipun.“Bibi terdengar ngomel dan Arka mengerucutkan bibirnya sebal sambil buang muka. Aku tahu yang bibi pikirkan saat ini dan aku juga paham apa yang bibi rasakan, akan tetapi sepertinya memang Arka ini masihlah berpegang teguh dengan prinsipnya, yang ingin cari kerja sendiri, tanpa campur tangan orang lain.
“Yaudah, mending kita makan aja yuk? Kebetulan sekali, Mia udah buat nasi liwet lho bi.“
Kedua mata bibi terlihat membelalak sempurna, tampaknya cukup kaget saat ku bilang membuat nasi liwet__bibi yang paling paham, kalau aku tidak suka dengan nasi liwet dan pastinya bibi pun berpikir “aneh sekali” ya, mau bagaimana lagi. Si adek yang di perut maunya makan nasi liwet.
“Kamu hamil ya, Nad?.“Tanya bibi tepat sasaran, yang entah kenapa dia bisa tahu kalau aku sedang isi. Walau janin di dalam perutku tidak begitu ku harapkan, tapi seperti kata Mia. Mungkin inilah jawaban dari do'a-do'a yang dulu ku lantunkan, dan aku mencoba untuk menerimanya dengan senang hati, walau ada rasa sedikit kesal, karena aku harus muntah dan ngidam sendiri, maksudku tak di dampingi oleh si pelaku yang sudah membuatku seperti ini.
“Ehm iya bi.“
Mata bibi terlihat berbinar pun dengan bibirnya melengkung indah. Tampaknya bibi sangat bahagia sekali, aku jadi tak tega untuk membicarakan satu fakta yang mungkin akan membuat bibi terperangah karena kaget, yaitu fakta tentang suamiku yang sudah menikah lagi dan sudah sangat jarang mengunjungiku.
“Wah selamat ya, bibi bener-bener seneng lho. Bibi do'akan, semoga di kehamilan yang kedua ini. Kamu selalu di beri kesahatan, di lancarkan juga rejekinya dan semoga kamu serta janin yang ada di kandungan kamu sehat ya, sampai waktunya melahirkan nanti.“
“Aamiin, makasih ya bi?.“
“Sama-sama.“
“Yaudah, kalau gitu kita makan yuk? Udah laper soalnya.“Ajakku pada bibi dan Arka. Bibi dan Arka pun mengikuti langkah kakiku yang menuju ke dapur.
******
“Mi, tolong angkatin barang-barang yang ada di bagasi ya? Itu lho yang ada di dalam kardus.“Ucapku memberi titah pada Mia supaya mengangkut barang-barang yang sudah ku pesan beberapa hari yang lalu__setelah banyak menimbang-nimbang, akhirnya aku memutuskan untuk menjadi conten creator saja. Dengan tema masak-masak, meskipun ada Mia, tapi jangan salah, sebab sejak tinggal bersama bibi__sebetulnya salah satu hobiku ya, memasak. Namun berhubung sudah ada Mia, hobiku itu tak bisa ku salurkan setiap hari, apalagi di tambah dengan kehadiran Bintang yang super aktif dan masih sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang dariku.
Untungnya uang bulanan dari Mas Afif sampai detik ini masihlah rutin di transfer ke rekening milikku dan berhubung aku memutuskan untuk menjadi independent woman, aku pun memutuskan untuk mencari salah satu pekerjaan yang bisa ku kerjakan di rumah sambil memomong anakku, Bintang.
Dan pekerjaan yang menurutku cukup ringan dengan penghasilan yang lumayan, ya. Conten creator ini. Apa lagi aku tahu dari Mia, kalau ternyata Melati cukup mahir dalam edit-edit foto dan video__ya, bisa ku manfaatkan skill Melati dan Mia untuk menunjang pekerjaan baruku ini.
“Lho, kamu Ka? Kirain Mia. Aku nyuruh Mia lho.“Ucapku setelah menemukan Arka yang sudah membawa salah satu kardus milikku yang ku letakan di bagasi bawah.
Soroyt mata Arka terlihat berbeda sekali, tajam dan seolah meng-intimidasiku.
“Ka__.“
“Aku ngeliat suami kamu sama wanita lain, mereka berpelukan erat sekali.“Ucapnya yang lantas membuatku mematung di tempatku dengan kedua bola mata bergerak-gerak gelisah. Jadi, Arka sudah bertemu dengan Mas Afif dan istri barunya itu?
“Kamu kok, gak kelihatan marah sih, Nad? Atau jangan-jangan kamu udah tahu?.“Tudingnya, aku bungkam dan memilih membuang muka ke samping sambil menghela nafas panjang.
“Jangan bilang suami kamu selingkuh, Nad?.“
“Kalau iya, maka kamu tahu apa yang bisa aku lakukan sama dia!.“Nada suara Arka terdengar naik beberapa oktaf, pun dengan tatapan matanya yang berubah tajam__untung Mas Afif tidak sedang berada di rumah ini, kalau iya. Maka habis dia di tangan Arka.
Sejak dulu Arka memang se-posesif itu padaku, bahkan tak segan melukai siapapun yang menghina apalagi menyakitiku. Dia hari pernikahanku, Arka bahkan mengancam Mas Afif. Katanya kalau dia tahu Mas Afif suatu saat menyakiti aku, maka Mas Afif akan habis di tangannya.
Betapa terharunya aku, memiliki adik sepupu yang sangat peduli padaku ini. Tapi__
“Ka__.“
“Nad, dari dulu. Aku udah enggak suka sama dia, aku udah pernah bilang kan, kalau di mataku, dia itu bukan pria yang cocok sama kamu! Tuk kejadian kan? Dia gak setia, Nad. Dia brengsek, dia udah sakitin kamu.“
“Cukup Ka, kamu gak tahu apa-apa.“Tukasku sambil mendengus dan menunjuk wajahnya, bukan aku membela Mas Afif, sama sekali tidak. Aku bahkan tak peduli dengan apa yang akan di lakukan Arka pada pria itu, tapi aku tidak suka ketika Arkan mengungkit-ngungkit kejadian di masa lalu__aku pun kalau tahu akan begini, maka aku tidak akan memilih menjadi suamiku, aku lebih memilih untuk menjomblo saja lah daripada seperti ini juga. Tapi masalahnya, siapa sih yang tahu masa depan? Kayaknya gak ada deh.