Masih duduk di bangku SMA tapi sudah dijodohkan, apa jadinya?
Thea, gadis yang mencintai kebebasan tanpa kekangan harus dijodohkan dengan Sagara yang selalu taat pada aturan dan prinsip hidupnya. Keduanya setuju untuk menikah, namun mereka mempunyai aturan masing-masing. Keduanya akan hidup satu atap tanpa ikut campur urusan masing-masing dan juga cinta. Namun, karena kesalahpahaman, hubungan mereka memburuk. Thea mengira Sagara hanya mengincar harta keluarganya, sementara Sagara mengira Thea lah dalang dibalik kematian adik kandungnya. Lalu, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?
"Sudah Lima tahun, kita berpisah atau hidup kamu akan Aku buat lebih menderita!"
Thea menyunggingkan seulas senyuman. "Mana mungkin aku melepaskan kamu begitu saja, kamu adalah peliharaan keluargaku!"
"Brengsek! bahkan harta yang kamu miliki nggak bisa beli hati Sagara! kamu terlalu angkuh dan sombong! Sagara, nggak cocok hidup sama kamu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan_Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diganggu Preman
Sagara meluruskan kaki Thea di atas kursi panjang. Lalu, perlahan-lahan pemuda itu mengangkat sedikit celana jeans Thea untuk memastikan lukanya parah atau tidak.
"Ahh," rintih Thea.
Sagara tersenyum tipis, "Manja tapi so soan kuat," cibirnya sambil tersenyum.
Thea mengerutkan keningnya sambil mendelik sebal.
"Lo bener-bener ya, ish!" cetus Thea sambil melipat kedua tangannya.
Sagara melihat jika kaki Thea masih mengeluarkan darah segar. Agar lukanya tak semakin parah, Sagara berniat ingin mencari obat untuk mencegah adanya infeksi di luka Thea.
"Kamu tunggu di sini sebentar, aku cari obat merah buat kamu."
Sagara segera berdiri untuk pergi mencari obat. Namun, saat dia melihat ke arah depan tiba-tiba ada bayangan hitam yang sedang memandang ke arahnya. Dengan wajah penasaran Sagara berniat untuk mendekat ingin memastikan jika tempat itu aman untuk Thea.
Perlahan-lahan Sagara mendekat ke arah siluet yang ada di depannya.
"Sagara? Itukah kamu?"
Deg
Tiba-tiba saja jantung Sagara berdebar kencang saat mendengar suara perempuan yang sangat dia kenal.
"Kamu? Sedang apa kamu di sini?"
Tak ingin keberadaan wanita itu diketahui oleh Thea, Sagara segera menarik lengan wanita itu menyeretnya ke tempat sepi.
"Sagara?"
Wajah teduh yang terlihat lemah dihadapannya itu membuat Sagara tak bisa berbuat kasar. Ayumi, dia adalah kekasih Sagara.
"Kenapa kamu bisa sampai di sini?" tanya pemuda itu.
Ayumi menundukkan wajahnya, "Aku merasa bosan setiap hari harus berbaring di ranjang rumah sakit. Aku juga ingin pulang dan bebas," tutur Ayumi dengan nada lemah.
Sagara menghela nafasnya, pemuda itu segera menarik Ayumi ke dalam pelukannya.
"Jangan seperti ini, tunggu kamu sembuh dulu baru kamu bisa pulang ke rumah," bujuk Sagara.
Mata Ayumi berkaca-kaca, embusan nafasnya yang lemah bisa Sagara rasakan menembus kulit yang terbalut jaket miliknya.
Sagara melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Ayumi dengan seksama, "Kamu kenapa?" tanya pemuda itu.
Ayumi menatap mata Sagara dalam-dalam, "Apa dia wanita pilihan itu? Dia Thea?"
Wajah Sagara langsung berubah drastis, tatapannya kini dingin, tatapan yang tak pernah dia tunjukkan kepada siapapun selain Ayumi.
Sagara mengangguk pelan, "Iya, itu dia," sahut Sagara.
Ayumi kembali tersenyum lalu meraih lengan Sagara, "Dia cantik, kamu beruntung!"
Nanar pemuda itu tak bisa dibohongi, perasaan campur aduk yang kini dia rasakan tak bisa dia utarakan hanya dengan kata-kata.
"Kamu harus kembali ke rumah sakit!"
"Tapi.."
Sagara melepaskan jaket kulit miliknya lalu memakaikannya kepada Ayumi.
"Setelah urusan ini selesai, aku janji akan urus dokumen pemindahan kamu agar bisa pindah ke apartemen," ucap Sagara.
Wajah Ayumi yang semula sendu kini berubah menjadi ceria. Tanpa ragu wanita itu langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Terima kasih banyak, kamu memang yang terbaik," puji Ayumi.
Sagara mengeluarkan ponsel miliknya untuk menelpon sahabatnya.
Jefri | ("Tolong jemput Ayumi, aku kirim lokasinya!")
(Location)
Sagara kembali menyimpan ponsel miliknya ke dalam saku celana setelah pesannya terkirim dan di baca.
"Jefri akan jemput kamu," ucap Sagara.
Ayumi mengangguk mengerti.
Lalu wanita itu langsung duduk di kursi yang berada di dekatnya tanpa di suruh. Ayumi memang wanita yang sangat pengertian. Dia adalah cinta pertama Sagara, kini hubungannya dengan Sagara sudah menginjak delapan tahun. Ayumi sebelum dia seperti sekarang dahulu dia adalah wanita yang ceria, humoris dan lemah lembut. Ayumi adalah wanita yang di inginkan oleh semua lelaki di angkatannya. Namun, hanya Sagara yang berhasil menaklukkan hati Ayumi. Perjalanan cinta Sagara dan Ayumi begitu indah, tak ada pengkhianatan di dalam hubungan itu. Namun, Keadaan Ayumi kini berbeda dengan dahulu.
"Kamu nggak apa-apa aku tinggal sendiri di sini?" tanya Sagara dengan wajah cemas.
Ayumi tersenyum hangat, "Aku nggak apa-apa, dari tadi aku juga sendirian. Bukannya Jef sebentar lagi nyampe?" ujarnya.
Akhirnya Sagara bisa bernapas lega setelah mendengar ucapan Ayumi.
Tak ingin membuat Thea menunggu terlalu lama, akhirnya Sagara pergi dari tempat Ayumi untuk mencari obat merah.
Di sisi lain, Thea yang masih meringis kesakitan terus mengumpat menyumpahi Sagara karena dia sudah meninggalkan Thea cukup lama.
"Lama banget sih tuh cowok kolot! Mimpi apa sih gue semalam? Kenapa bisa-bisanya Papa percaya sama cowok modelan kayak gitu? Awas aja, pas balik nanti Gue pasti omelin dia!" gerutu Thea.
Bip
Ponsel Thea berbunyi, beberapa pesan grup masuk.
("The, Lo di mana? Are you okay?")
("Kalo ada apa-apa langsung kabarin kita, ya!")
("Gue aman, jangan khawatir. Gimana sama Rio?")
("Dia kelihatan kesel, tapi aman Gue sama Dea bakalan terus bujuk dia supaya nggak salah faham, oke?")
("Thanks, kalian emang yang terbaik!")
(Emoticon Peluk)
Thea kembali menyimpan ponsel miliknya ke dalam tas, lalu dia melihat lukanya lagi yang semakin terasa perih.
"Awh, sakit banget! Awas aja kalo sampe lukanya infeksi Gue bakalan tuntut tuh cowo!"
Lagi, Thea kembali menggerutu kesal.
Saat Thea sedang sibuk dengan lukanya, tiba-tiba saja dua orang pria datang menghampiri Thea.
"Hai manis, sendirian aja nih!" ucap salah satu pria itu.
Thea terkejut setengah mati saat pria itu berani mendekat ke arahnya.
"Ngapain Lo? Pergi!" teriak Thea.
Kedua pria yang di duga preman itu tertawa renyah melihat perlawanan dari Thea.
"Wis, boleh juga nih cewe, mana malam-malam begini sendirian lagi!" ucap pria yang satunya lagi.
Thea langsung berdiri, tak peduli dengan lukanya yang masih terasa perih. Gadis itu punya firasat buruk tentang dua pria dihadapannya ini.
"Kalian mau apa? Jangan macem-macem yah Lo berdua!" ucap Thea sambil terus berjalan mundur.
Salah satu pria semakin mendekat ke arah Thea, "Gausah takut manis, kita nggak macem-macem, kita cuma mau satu macem aja kok, hahaha!" ujar salah satu pria itu sambil terbahak-bahak tertawa lepas.
Tubuh Thea langsung merinding mendengar pernyataan dari preman dihadapannya ini. Kemana yang katanya calon suami yang siap menjaganya? Kenapa Sagara begitu lama pergi? Apa mungkin dia sengaja!
"Jangan mendekat! Kalo kalian berani macem-macem, Gue bakalan teriak sekencangnya biar semua orang dateng kesini!" ancam Thea sambil melotot kan matanya.
"Hahaha, coba aja kalo lo berani!" tantang preman itu lalu segera menutup mulut Thea menggunakan tangannya.
"Tolong, tolong!"
Sebisa mungkin Thea berteriak walaupun mulutnya dibekap oleh kedua pria itu.
Air mata Thea tak terasa jatuh membasahi pipinya, di saat seperti ini apa mungkin ada yang bisa membantunya?
"Dimana Lo Rio? Tolongin Gue, Gue mohon!" lirih Thea di dalam hatinya.
Tiba-tiba.
Bugh!
"Kurang ajar! Siapa Lo?"
"Berani kalian sentuh cewek itu, kalian nggak akan selamat!"