NovelToon NovelToon
CINTA SANG PEMBURU

CINTA SANG PEMBURU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Misteri / Horor / Tumbal / Mata Batin / Cintapertama
Popularitas:823
Nilai: 5
Nama Author: Hendriyan Sunandar

Mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda di jaman dahulu untuk meraih cinta dan menjungjung tinggi martabat seorang ibu. hidup sebagai seorang pemburu untuk menghidupi sekaligus menjadi tulang punggung dan terpaksa melewati bermacam rintangan demi mendapatkan hati seorang wanita yang di cintainya. serta calon mertua yang tak setuju karena memiliki latar belakang yang bertentangan. serta ikut campur bangsa dari dunia lain yang tak kasat mata yang menyulitkan mewujudkan impiannya. simak keseruan kisahnya di setiap babnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendriyan Sunandar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

"kau kenapa jang ? Seperti yang kaget saja mendengar kabar itu. Atau kau baru dengar sekarang kabar itu?"

Tanya mak Eha yang merasa sedikit heran karena Tumang tampak diam setelah mendengar cerita darinya.

"tadinya aku mau nager ikan sama mang Darman malam ini mak"

Ucap Tumang sembari melirik kantong plastik wadah ulat pisang itu. dan tentu saja ucapan Tumang itu seperti baru saja mengingatkan mak Eha yang meminta anaknya untuk berhati hati jika keluar rumah di malam hari.

"ja... Ja... Jangan jang. Jangan kalo bisa. Lagi pula inikan baru hujan pertama. sepertinya ikannya juga tidak akan ada"

Balas mak Eha seperti tiba tiba bingung dan teringat jika Tumang berniat menajur ikan malam itu.

"kalo banjir beginisih ikan pasti ada mak. Cuma... Cuma..."

timpa Tumang merasa tak kalah bingung pada niatnya di malam itu. bahkan karena kadung keduanya menceritakan kabar mengenai sosok pocong itu, pada akhrinya Tumang pun menceritakan obrolan bersama mang Darman ketika bertemu di sawah tadi.

Dari perkara kabar adanya saembara itu, sampai dirinya di ajak oleh mang Darman mengikuti saebara itu, semuanya di ceritakan kembali tanpa ada yang di tutup tutupi. Dan tentu saja mak eha pun yang mendengar kabar itu, dirinya terdiam seperti membenarkan dan sudah tau tentang perkara itu.

Bahkan raut wajah mak Eha ketika itu terkesan biasa biasa saja tanpa terlihat terkejut apalagi mengatakan mustahil jika sosok yang sipatnya gaib itu bisa di tangkap dengan tangan kosong.

"emak tidak terkejut mak ? Memangnya hantu bisa di tangkap ya mak ? Kira kira apa alasan bah Lemud sampai menginginkan pocong itu ya mak. Bah lemud itu sampai rela memberikan sawahnya loh mak kalau ada yang berhasil menangkap pocong itu"

Ujar Tumang yang merasa ibunya tetap tenang dan terkadang seperti cemas jika Tumang anaknya berniat mengikuti saembara itu.

"ujang... Anak emak... Mak harap kau tak ikut ikutan mencari pocong itu. Bukannya emak tak tertarik pada hadiahnya, tapi mak hawatir akan ada dampaknya. Pocong itu tentunya jelmaan setan jang. Dan kita sebagai manusia normal, tak sepantasnya menangkap mahluk begituan.

apa kau pernah mendengar orang yang muja pada setan atau siluman jang? Emak pikir, bah lemud juga selama ini melakukan itu. Coba kau pikir jang, dalam setaun ini saja hartanya ada di mana mana. Tanah, perkebunan, ladang, kolam ikan, dan beberapa sawah milik warga sini di belinya. Duit dari mana coba bisa membeli harta sebanyak itu. Buk Ikah saja yang punya uang pensiunan bulanan, cuma nyukup buat makan sehari hari.

sawah yang di janjikan untuk hadiah saembara itu tentu bukan apa apa jang buat bah Lemud. Hanya saja kalau mengenai mengapa pocong itu di buru dan bisa di tangkap secara nyata, emak juga tak tau. cuma orang orang yang paham sama yang begituan jang yang bisa menjelaskannya. Kau bisa bertanya pada orang pintar jang kalau mau tau jawabannya. Atau kalau tidak, kau coba tanya saja sama ustad Somad. Ya... sekalian jenguk beliau. Itung itung mewakili emak"

Dengan lemah lembut dan berhati hati mak Eha mengatakan itu pada Tumang. Dirinya hawatir jika Tumang akan salah menilai dan malah terjerumus tanpa tau sedang berhadapan dengan siapa nantinya. Tumang tau mengetahui jika sebenarnya ucapan mak Eha yang terkesan menuduh mentah mentah pada bah Lemud itu, bukalah tanpa alasan. Karena sebenarnya beberapa tahun sebelumnya mak Eha pernah mendengar kabar mengenai bah Lemud yang sengaja mencari orang pintar untuk mempermudah segala usahanya yang kerap kali rungi dan sering mengalami kebangkrutan.

"maksud emak ?"

Tanya singkat Tumang seperti belum benar benar paham kemana arah pembicaraan ibunya itu.

"ah sudahlah jang kalau kau tak mengerti. Pokoknya emak minta besok kau jenguk ustad Somad ya. Dan yang terpenting, kau itu harus banyak ngobrol sama sepuh jang. Biar kau banyak wawasan yang bermanfaat buat bekal hidupmu kela. Kau itu masih mentah jang. Kau harus banyak menimba ilmu baik itu ilmu lahir maupun batin. Baik agama maupun darigama. Ingat jang, belajar itu tak ada batasnya dan wajib sampai kau tutup usia. Tapi yang harus kau ingat, carilah ilmu yang bermanfaat yang hakikatnya ilmu Allah.

ilmu Allah itu tak terhingga loh jang banyaknya. Boro boro kau sanggup mempelajari semuanya, yang ada umur mu itu keburu habis. Ingat itu ya jang... Anak emak yang soleh... "

Alih alih Tumang di beri penjelasan mengenai rasa bingungnya itu. Yang ada dirinya malah di beri nasihat sampai dirinya sedikit sedikit paham pada ucapan ibunya itu.

Terlebih Tumang adalah seorang anak penurut dan tak pernah menimpali ketika ibunya sedang marah padanya sekalipun. Sehingga tak heran karena wejangan ibunya itu, nasehat itu berhasil menyerap pada hati dan pikirannya. Hanya saja karena diranya tergolong orang tak mampu dan tak sempat menduduki bangku sekolah sebelumnya, sudah seharusnya Tumang mandiri, berdikari sendiri untuk mencari wawasan dan ilmu pengetahuan yang di perlukannya.

Bisa membaca, menghitung, dan menulis saja Tumang sudah beruntung. Dan itu ia dapatkan dari atikan kedua orang tuanya dulu di tengah tengah kerusuhan yang melanda hampir seluruh penduduk di masa itu.

Singkat cerita, pada akhirnya Tumang mengiakan semua saran dan kemauan ibunya itu. Termasuk permintaan ibunya yang melarang dirinya pergi menajur ikan di malam itu. Hanya saja karena sebelumnya Tumang sudah membuat janji dengan mang Darman, tak heran Tumang pun sedikit merasa tak enak. Sehinga karena alasan itu, Tumang meminta ijin pada mak Eha untuk pergi ke rumah mang Darman sebelum mang Darman lebih dulu datang ke rumahnya.

"boleh ya mak aku ke rumah mang Darman sebentar ?

kasihan mak kalu dia keburu datang ke sini. Aku sendiri yang ngajak, tapi malah aku yang gak bisa pegang janji"

Pinta Tumang berusaha membujuk mak Eha untuk lebih dulu membatalkan rencana najurnya sebelum mang Darman datang menemuinya. Apalagi hujan besar itu lumayan lama dan bisa di pastikan mang Darman pun tak datang ke surau ikut sholat tarawih.

"ya sudah jang kalau begitu. Tapi jangan lama lama ya. lagi pula emak takut kalo sendirian di rumah"

Pada akhirnya mak Eha pun mengijinkan Tumang untuk pergi menemui mang Darman meski hati kecilnya entah mengapa tiba tiba merasa was was pada kepergian anaknya itu.

Berbekalkan obor bambu dan setelah berpamitan pada mak Eha, akhirnya Tumang mulai melangkah. Langkahnya tampak gagah seperti tak memiliki rasa takut sekalipun berjalan di kegelapan seorang diri.

celana panjang lusuhnya ia gulungkan demi menghindari genangan air yang tampak membanjiri jalanan kampung. Sementara sebelah tanganya menjinjing kantong keresek yang berisi ulat pisang.

"buang jauh jauh ya jang. Bikin emak geli saja kau ini ah"

Ucap mak Eha meminta Tumang untuk membuang keresek yang berisikan ulat pisang itu. Lantas menutup pintu dan melangkah menuju kamarnya.

Sementara Tumang hanya tersenyum dan menatap sejenak mak Eha seperti memastikan jika ibunya itu sudah menutup dan mengunci pintu dengan benar.

"buang ulat pisang saja sampai harus jauh jauh mak... mak..."

Gumam Tumang di hatinya sembari menggelengkan kepala. Lantas melirik samping rumahnya yang terdapat rumpun pisang dan beberapa pagar bambu itu. Pikirnya, keresek itu tak perlu di buang jauh dan cukup di lempar begitu saja pada rumpun di dekatnya itu.

Namun siapa sangka, belum sempat Tumang membuang keresek itu, pantulan cahaya obor yang di bawanya itu, tak sengaja menerangi sebagian bilik rumahnya dan memperlihatkan...

1
Akbar Aulia
setan silemin iku opo thor
Hendriyan Sunandar: ya itu ka. semacam siluman dan sebangsanya. atau mhluk tak kasat mata.
total 1 replies
Hendriyan Sunandar
amin. terima kasih atas apresiasinya. semoga menghibur dan ada sedikit sedikit hikmah yang bisa di petik dari kisah ini.
Mắm tôm
dahsyat ttg cerita ini, semoga terus sukses author!
Hendriyan Sunandar: amin ya Allah. terima kasih ka. semoga bisa menghibur dan kiranya bisa bantu promokan cerita ini ya. semoga Allah melimpahkan rejeqi yg barokah pada kk. amin
total 1 replies
Rowan
Aku udah ngebayangin situasi karakter-karakter disini ke kehidupan nyata, bisa ngeri ngeri sedap gitu loh!
Hendriyan Sunandar: terima kasih ka sudah berkenan singgah. semoga terhibur dan ada kimha yang bisa di petik di dalamnya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!