NovelToon NovelToon
Hallo, Mas Sersan

Hallo, Mas Sersan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Naylest

Nayra, siswi SMA yang cerewet, polos, dan sedikit konyol, tak pernah menyangka kalau hidupnya akan jadi seribet ini. Semua gara-gara ia jatuh hati pada kakak dari sahabatnya sendiri, Sersan Arga. Seorang Tentara muda yang dingin, cuek, dan hampir tak pernah tersenyum. Hari-hari selalu membayangkan betapa tampannya seorang Arga Arfian.

Nayra selalu mencari cara agar bisa bertemu dan menyapa sang Sersan. Banyak rintangan yang ia lalu, namun itu tak menyurutkan semangat nya untuk memiliki Sersan Arga.
___

"Hallo, Mas Sersan"

Akan menjadi teman bacamu lebih menyenangkan... Yuk Baca selengkapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naylest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Bayang-bayang Arga.

Udara pagi masih terasa hangat ketika sepeda motor Dinda berhenti di depan rumah sederhana milik keluarga Nayra. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul sepuluh lewat sedikit, sinar matahari sudah cukup terik, tapi bayangan pepohonan di halaman membuat suasana tetap teduh.

“Pelan-pelan, Nay,” ujar Dinda sambil menurunkan standar motornya. Ia menoleh ke belakang, membantu Nayra yang masih tampak lemas turun dari boncengan. Wajah sahabatnya itu pucat, rambutnya sedikit berantakan, dan matanya masih sayu.

Nayra berusaha tersenyum. "Makasih ya, Din."

Dinda menghela napas lega. "Senyum juga akhirnya, dari tadi monyong terus. Sakit hati ya sama ucapan kak Arga?"

Mendengar nama itu, jantung Nayra berdetak lebih cepat tanpa alasan yang jelas. Bayangan wajah dingin pria berseragam itu kembali muncul di benaknya. Sorot mata tajam, nada suaranya tegas, tap entah kenapa terasa sangat menantang baginya.

"Enggak kok, Din. Tapi..." Nayra tak melanjutkan ucapannya.

"Kenapa?"

"Aku malu, huaaaaa."

Dinda menutup telinganya, saat suara Nayra mampu memekakkan telinganya.

"Nayraaaaaaaa." Dinda pun ikut berteriak seperti sedang menegur sang teman.

"Din, aku malu banget. Masa aku pingsan di depan om-om Tentara, aaaaa." Ucapnya yang terdengar malu bercampur panik.

"Dih. Sejak kapan kamu kenal yang namanya malu?" Ucap Dinda menggoda.

"Dinda, aku serius! Mana pas pulang Om-om Tentara itu pada liatin aku lagi, kan malu banget aku." Kesal Nayra.

Dinda mendengus dan memutar bola matanya. "Udah ah, aku mau pulang dulu. Ingat ya, besok kita joging bareng." Kata Dinda, lalu menegakkan motornya dan menaikan standar motornya.

Brumm! Suara mesin motor Dinda terdengar, pertanda ia siap untuk pulang.

"Dimana, Din?"

"Ntar aku kasih tau tempatnya. Soalnya Sari pengen ikut juga, tapi dia bilang, dia yang bakal nentuin tempatnya." Jawab Dinda sambil membenarkan helmnya.

"Oh, Ok deh. Kasih tau aja."

"Hm. Aku pulang."

"Hati-hati!"

"Hm."

Brummm.

Dinda pun meninggalkan halaman rumah Nayra. Sedangkan Nayra, masih terbengong dengan tatapan kosong ke depan.

"Nayra."

"Eh ayam." Kaget Nayra. Ia menoleh ke belakang, dimana suara seseorang memanggil namanya.

"Mama."

"Kamu ngapain bengong di sini? Mau kesambet penunggu pohon Mangga." Heran Mama Indy.

Nayra mendengus kesal. "Apaan sih, Ma? Aku habis nungguin Dinda pulang."

"Mama dari tadi di teras ya, Nay. Mama juga lihat Dinda udah pulang lima menit yang lalu. Lah kamu, ngapain bengong sendirian di sini?" Ujar Mama Indy.

"Ya udah, kita bengong berdua aja kalo Mama gak suka lihat aku bengong sendirian." Jawab Nayra yang terdengar menggoda.

"Dih, ngapain juga Mama bengong sama kamu. Mending Mama tidur daripada ikut-ikutan gila kaya kamu." Setelah mengatakan itu, Mama Indy pun berjalan menuju rumah.

Sedangkan Nayra melotot lebar mendengar ucapan Mama nya. Wajahnya kesal, tubuhnya membeku seperti syok.

"Dasar!" Ucapnya, lalu ikut masuk ke dalam rumah.

Setibanya di kamar, Nayra langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Pikirannya melayang jauh, membayangkan bayang-bayang Arga yang kini semakin menghantui pikirannya.

"Kak Arga. Kenapa kamu ganteng banget sih? Aku jadi klepek-klepek nih." Ucapnya dengan senyum malu-malu.

Ia juga mengingat perkataan Dinda, kalau Arga lah yang menggendongnya saat ia pingsan.

"Sepertinya aku memang sedang jatuh cinta. Ahhh, ternyata seperti ini rasanya jatuh cinta." Nayra berguling-guling di tempat tidurnya, dengan pipi yang bersemu merah.

"Gimana ya caranya biar ketemu terus sama kak Arga? Jadi pengen lihat wajah ganteng nya itu terus hehe." Nayra cekikikan, ia bahkan melupakan semua kejadian tadi pagi, yang membuatnya begitu malu.

"Kak Arga, pokoknya aku harus dapetin kamu. Jika harus dilakukan, maka akan ku lakukan apapun agar aku bisa miliki kamu."

Ting.

Nayra menoleh, handphone berdenting, menandakan adanya pesan masuk. Ia pun meraih benda pipih itu di atas nakas.

Dinda : Nay, besok jogging di Taman Bunga dekat bataliyon 403. Jangan bangun kesiangan kamu ya. AWASSS!

"Bataliyon? Bataliyon bukannya tempat Tentara latihan ya?" Seketika senyum nya mengembang.

Me : Tempat kak Arga ya?

Ting.

Dinda : Iya.

Me : Asyikkkk (emoticon senyum)

Dinda : Dih, knpa kamu?

"Waduh." Nayra menutup mulutnya, panik.

Dinda tak lagi membalas pesan dari temannya itu. Dan Nayra pun menyimpan kembali handphonenya di atas nakas. Ia kembali berbaring dan membayangkan betapa menyenangkannya esok pagi saat bertemu Sersan Arga.

"Kak Arga, bolehkah aku berharap bisa mendapatkan kamu? Rasanya tuh, pengen banget jadi istri seorang tentara. Tapi tunggu!" Seketika ucapan itu terhenti saat Nayra mengingat sesuatu. "Kak Arga udah punya pacar belum ya? Kalo udah, gimana dong? Masa aku saingan sama perempuan lain."

Nayra terdiam sejenak, bagaimana jika Arga sudah memiliki pasangan dan bagaimana dengan perasaannya yang kini semakin berdebar-debar jika menyebut nama Sersan Arga.

"Dih, ngapain juga aku bingung. Kan kak Arga belum nikah, beda lagi kalo udah nikah. Sipp, aku harus deketin kak Arga."

Nayra mesem-mesem sendiri. Bayang-bayang Arga membuatnya ingin segera bertemu dan akan mendekati laki-laki yang dingin dan cuek seperti yang dikatakan oleh Dinda.

____________

Keesokan harinya....

Cahaya pagi merembes masuk dari sela jendela, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, Nayra tersenyum bahkan sebelum membuka mata. Hari ini, ia akan joging bersama Dinda dan Sari di Taman dekat Bataliyon, tempat yang belakangan menjadi rumah bagi satu sosok yang diam-diam memenuhi pikirannya. Sersan Arga. Dingin, tegas, dan entah bagaimana sukses membuat hati Nayra berlari lebih cepat daripada langkah kakinya sendiri.

Setelah siap, Nayra pun memacu kendaraan nya menuju rumah Dinda, yang mana Sari juga sudah otw ke sana. Wajah cantik dengan rambut di kuncir, membuat Nayra terlihat lebih fress, di tambah lagi ia akan melihat Sersan Arga di sana. Semangat nya tak lagi semangat 45, tapi semangat 95.

Saat tiba di rumah Dinda, ternyata Sari belum tiba. Hingga ia memilih mengirim pesan singkat kepada Dinda, bahwa dirinya sudah ada di depan. Dan belum juga di baca oleh Dinda, Sari pun datang.

"Nay, udah lama?" Tanyanya sambil menurunkan standar motornya.

"Baru datang juga, Sar." Jawab Nayra tersenyum sumringah.

"Oh."

Terdengar pintu rumah Dinda terbuka dan ternyata Dinda lah yang keluar dengan pakaian jogging nya.

"Nay, kok kamu udah siap duluan? Biasanya aku yang nungguin kamu lho."

Nayra senyum-senyum aneh sambil nutupin pipinya. "Lagi semangat aja. Pagi ini cerah banget." Jawabnya.

"Ya, secerah wajah mu itu. Kaya ada sesuatu gitu." Kata Sari.

"Apaan sih." Jawab Nayra berkilah.

Dinda melipat tangan, menatap curiga ke arah Nayra. "Jogging sih, jogging. Tapi kenapa kamu make lip balm dan perfume ringan? Biasanya tiap jogging kamu bau apek."

Nayra terlihat panik. "Kan biar wangi. Masa joging bau keringet duluan." Jawabnya dengan hati-hati.

"Udah-udah. Kapan berangkatnya kalo ngobrol terus." Sela Sari.

"Ya udah, Yuk. Nanti keburu siang."

Ketiga gadis cantik itu pun bergegas menuju Taman Bunga, yang mana Taman itu berdampingan dengan Batalyon tempat Arga bertugas. Setibanya di sana, ternyata sudah banyak orang yang datang dan terlihat beberapa Tentara yang ikut jogging di Taman.

"Widih, pantesan Nayra pake wangi-wangian. Ternyata banyak Om-om Tentara." Ujar Sari sambil menatap kagum ke arah beberapa Tentara yang sedang berolahraga.

"Apaan sih, Sar. Gak suka banget aku pake wangi-wangian." Ujar Nayra dan terdengar kesal, tapi juga sedih.

"Bukan gak suka. Biasanya kamu paling anti pake minyak wangi, sekarang malah pake wangi-wangian. Kan rasanya aneh gitu." Jawab Sari, lalu merangkul pundak Nayra.

"Ih, udah keburu siang nih. Kapan mulainya sih?" Jawab Nayra dan melepaskan rangkulan Sari, lalu mulai berlari kecil di taman yang sudah di padati orang-orang.

Dinda dan Sari pun menyusul. Ketiga berlari sambil bercanda, tertawa terbahak-bahak membuat orang-orang menatap mereka.

"Oh ya, Din. Kak Arga udah punya pacar belum?"

Seketika Dinda memberhentikan langkahnya, membuat Nayra dan Sari ikut berhenti.

"Kenapa kamu tanya soal pacar Kak Arga, Nay? Apa kamu....?" Dinda tak melanjutkan ucapannya, karena ia tahu Nayra tahu maksudnya.

Nayra tersenyum dan mengangguk, lalu kembali berlari meninggalkan Dinda dan Sari yang terbengong.

"Din, seriusan Nayra suka kak Arga?" Tanya Sari dengan tatapan yang tak lepas dari Nayra di depan sana.

"Kenapa Nayra bisa suka sama kak Arga ya?" Jawab Dinda dengan wajah syok.

"Sakit tuh anak."

"Aku aja gak bisa ngobrol sama kak Arga. Dia malah nyari penyakit suka sama kak Arga." Kata Dinda.

"Terus gimana, Din? Apa kamu akan biarkan Nayra suka sama kak Arga?"

Dinda menghela nafasnya. "Pantesan semalam kamu bilang asyik, Nay. Gak tau nya ada sesuatu yang bikin kamu begitu semangat. Dan pagi ini, kamu juga pake lip balm dan minyak wangi."

"Biarin aja, Din. Ntar juga nyerah. Kita tahu kak Arga bagaimana? Mana bisa di dekati cewek. Kak Nia aja mundur, nyerah sama dinginnya kak Arga." Ujar Sari, dan merangkul Dinda.

"Ya, akan ku biarkan. Soalnya aku juga punya ide lain buat Nayra bisa berubah." Ucap Dinda sambil tersenyum miring.

Sari bingung. "Maksud mu?"

"Nayra kan sulit belajar Matematika. Jadi, aku akan gunain ini buat ngajak dia terus belajar. Aku bakal bilang, kalo kak Arga suka cewek pinter Matematika. Nah, kalo benar dia suka sama kak Arga, dia bakal rajin belajar dan merubah dirinya menjadi lebih baik lagi di pelajaran Matematika."

"Wahh, ide bagus, Din." Ujar Sari setuju.

Keduanya tersenyum, mereka akan membuat Nayra akan mencintai yang nama nya Matematika dengan Arga yang menjadi alasan.

******

Kalau suka sama ceritanya, Jangan lupa like, komen dan subscribe ya teman-teman.

1
Mashiro Shiina
Thor, aku rindu banget sama ceritamu, please update secepatnya!
Naylest: Akan saya usahakan ya kak☺️
total 1 replies
Gwatan
Wah, gila sukses bikin aku ketagihan bacanya! (👍)
Naylest: Terima kasih kak☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!