Stella seorang pegawai pajak, tiba-tiba terbangun di sebuah novel berjudul "love Anastasya", dia tak percaya namun sedetik kemudian rasa senang melingkupi hati nya.
akhir nya impian nya masuk ke dunia fiksi bisa terwujud.
Namun kesenangan itu berubah menjadi keresahan ketika mengetahui dia masuk ke tubuh antagonis anak tunggal kaya raya, yang berakhir mengenaskan.
Stella pun mengambil langkah berani, dengan keluar dari alur, dan menjalani kehidupan nya sendiri, namun akan kah semudah itu?.
Apalagi ketika tanpa sadar terlibat dengan antagonis pria, yang paling berkuasa di dunia novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ka nvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
antagonis
Stella yang sedang minum merasa ada yang menatap nya pun mendongak ternyata benar Damian menatap nya, namun dengan tatapan yang Stella heran.
Mata memerah seperti menahan sakit, "Damian lo kenapa, hei lo kenapa? "
Ujar Stella bangkit dari duduk nya menghampiri Damian di samping nya berjarak satu kursi, Damian dengan menggerakan seluruh tenaga nya yang tersisa berusaha menggapai tangan Stella.
" S_sak_it, to-l-o_ng"
Stella panik, "bi! bi Wati!!! pelayan cepet kemari!! "
...
"Harus banyak istirahat nona muda, saya sudah suntikan untuk alergi, namun setelah bangun minum lah obat ini"
Ucap Dokter pribadi, Stella mengangguk, menatap Damian yang masih memejamkan mata nya, merutuki diri nya.
" ya Dokter, tapi dia akan baik baik saja kan"
"Sudah membaik nona, namun kedepan nya jangan memakan udang dan hal lain nya yang memicu alergi nya, terlalu sering bahaya. "
Stella mengangguk, " Bi Wati antar dokter ke depan. "
"Baik Nona muda. "
Setelah bi Wati pergi dengan dokter, Stella mendudukan diri nya di samping ranjang dimana Damian masih terbaring, mengusap wajah nya singkat.
" Sistem!! kenapa kau tak menghentikan ku saat menyuruh nya makan udang tadi, aku tak tahu dia alergi"
"Bukan kah bagus nona, itu juga memicu kenaikan kegelapan nya . "
" Tapi itu berbahaya, masih banyak cara, kau kejam sekali."
" Itu taktik Nona, lagi pula saya ini kan sistem antagonis, bukan sistem malaikat, kalau gak kejam saya malu. "
Stella kesal sekali, "terus bagaimana, dia benar benar akan baik baik saja kan?"
" Tenang saja Nona hanya alergi biasa, lagi pula langsung di tangani, dia masih antagonis nona, tak akan mati semudah itu. "
Stella menghela nafas lega, aduh dia tak setega itu, apalagi melihat wajah yang sedang tertidur itu adalah type nya sekali. Tapi misi sialan ini cih, Stella mengingatkan diri nya sendiri untuk mencoba tak perduli.
Stella hendak bangkit, namun satu tangan menahan nya, Stella menatap Damian yang masih memejamkan mata nya, namun dahi nya penuh dengan kerutan.
"Mah, engga jangan Mah, "
" Gamau, mau ikut "
lirih Damian, Stella cemas melihat nya, seperti nya Damian mimpi buruk.
" Nona suhu tubuh nya dingin sekali, coba anda tenangkan, dia melihat masalalu nya di mimpi itu nona. "
"Yenangkan, bagaimana aku tak paham, kau bantu lah kau kan sistem. "
" Saya ini sistem misi nona, bukan sistem ajaib, sudah lah anda tenang kan dulu, bye."
"Kau!! kembali kau sistem, tem. "
" Ahh menyebalkan. "
Stella menatap Damian dengan bingung, apa yang harus di lakukan nya, Stella pun duduk di di samping kepala Damian, duduk sembari bersandar.
Lalu perlahan menyentuh rambut Damian mengelus nya pelan, "stt ada gue, em....ada aku tenang oke" bisik pelan Stella.
Stella tak yakin cara itu berhasil, ini pertama kali bagi nya. Namun tak lama damian terdiam. Stella mengerjap, berhasil kah pikir nya sembari mengusap dahi nya.
Stella pun berniat akan bangkit, namun Damian yang tadi nya tidur terlentang bergerak menjadi menyamping, memeluk pinggang Stella dari samping dan yang satu nya di letakan di atas paha Stella.
Stella terkejut, menatap Damian yang tertidur wajah tampan itu terlihat polos, Stella berusaha menyingkirkan tangan Damian namun malah semakin mengerat.
Stella pun berakhir membiarkan nya saja sebentar, sembari memandangi wajah yang sangat tampan itu, kapan lagi coba ya kan, kalau mata itu terbuka Stella harus selalu membuat nya tidak nyaman bukan.
Jadi Stella akan menatap wajah itu hingga puas, di dunia nya mungkin dengan wajah seperti ini sudah menjadi aktor atau model. Namun di sini Damian masih SMA, satu bulan lagi akan kuliah.
Tapi ya masa depan tidak ada yang tahu bukan, tapi jangan lupa dunia ini adalah dunia buku, dan Damian adalah antagonis kejam yang akan menghabisi nya.
Tapi lihat lah wajah polos itu seolah mustahil untuk membunuh, Stella rasa nya ingin mengurung nya untuk nya seorang diri, pikir Stella dengan terkekeh lirih.
"Nona singkirkan pikiran aneh mu,"
"Ck hanya bercanda, kau ini pergilah aku sedang bad mood".
" Ya ya ya, mood wanita itu memang aneh. "
"Dih seperti lelaki saja bicara mu ini. "
" Saya hilogram nona, dan itu keren. "
"Ya keren kalau bisa ku sentuh dan ku buang ke palung mariana. "
" Anda, huh, cocok memang menjadi antagonis, dan akan jauh lebih baik singkirkan simpati mu itu. "
Stella memilih mengabaikan sistem menyebalkan itu, rasa kantuk mulai menyerang kedua mata nya.
Tak lama benar saja Stella terlelap,hingga dua jam mereka tertidur tanpa mengubah posisi.
Hingga Stella mengerjapkan mata nya, mencerna situasi dan melirik ke samping nya, sial dia ketiduran.
Untung nya dia terbangun lebih dulu, seperti nya Damian masih dalam pengaruh obat, Stella perlahan melepaskan pelukan Damian di pinggang nya dan perlahan turun dari ranjang, dan pergi keluar kamar.
...
Di sini lah Stella berada di ruang keluarga bersama kedua orang tua nya, Stella baru tahu ternyata mereka sehangat ini, benar benar devisi keluarga cemara.
Tadi sebenar nya dia cukup terkejut, wajah kedua orang tua Stella sangat mirip dengan orang tua nya di dunia nyata yang sudah tiada.
Stella menangis membuat kedua orang tua itu panik, melihat anak tunggal kesayangan mereka menangis, namun Stella hanya menggelengkan kepala nya.
Dan mungkin karena itu juga yang membuat Stella nyaman dengan kedua nya, sifat mereka juga sangat mirip, membuat Stella seolah bersama kedua orang tua nya.
"Pih, aku lupa Damian alergi udang, sorry. "
" Kali ini saja princes,bagaimana pun Damian sudah Papi anggap seperti anak Papi sendiri, perlakukan lah dia dengan baik."
"Tapi aku udah baik Pih, "
"Ya emang baik, saking baik nya Mami ingin buang kamu ke laut, kamu pikir Mami ga tau gimana kelakuan kamu ke Damian di belakang."
Stella menatap Papi dan Mami nya dengan memelas, ayolah dia bahkan belum memulai tapi sudah di sidang seperti ini.
" Iya."
" Iya apa? jangan galak galak sama Damian. "
"Ih iya Mami, lagian gak galak juga. "
" Kamu itu yah, belum sadar juga. "
Pekik sang Mami prustasi, sedangkan Stella hanya mengerjap ngerjain polos, pura-pura tak mengerti.
Sedangkan sang Papi yang melihat itu perasaan nya campur aduk ada kesal nya juga pada Outri semata wayang nya, tapi dia tidak tega memarahi nya.
Biarlah istri nya yang memiliki sifat 11-12 dengan putri nya itu yang memarahi nya,dia tak tega.
"Papiiii..." rengek Stella.
Mami Stella mendengus malas, dan terjadi lagi, suami nya ini akan mudah luluh pada kesayangan nya itu.
" Mih, udah_" ucap Papi namun terhenti.
"Papi!!" pekik sang Nyonya penguasa rumah membuat Stella dan Papi nya meneguk ludah nya kasar.
...****************...
semnagattt💪😍😍😍