NovelToon NovelToon
The Extra Who Changed Fate

The Extra Who Changed Fate

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: areann._

Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.

Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.

Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.

Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.

Namun kali ini, takdir berubah.

Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.

Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Kabar kemenangan tim debat Starline High School menyebar cepat begitu rombongan tiba kembali di sekolah menjelang sore. Seluruh siswa yang masih berada di sekolah menyambut kedatangan mereka dengan sorak-sorai meriah, bangga atas pencapaian bersejarah yang berhasil diraih tim debat tahun ini.

"Selamat!" seru Elora, berlari kecil menghampiri Rean begitu bus rombongan tiba di halaman sekolah. "Aku denger kalian juara kedua!"

"Iya!" Rean tersenyum lebar, masih terlihat lelah namun dipenuhi kebahagiaan. "Ini pencapaian terbaik sekolah kita dalam lima tahun terakhir."

Elora memeluknya spontan, terlalu bahagia untuk menahan diri dari ekspresi tulus itu. "Aku bangga banget sama kamu!"

Pelukan spontan itu membuat Rean sedikit terkejut, namun ia membalasnya dengan tulus, menikmati momen kebahagiaan yang dibagikan bersama sahabat dekatnya itu.

"Makasih udah selalu dukung," katanya, tersenyum hangat begitu mereka melepaskan pelukan.

Kepala sekolah, yang turut menyambut kedatangan tim debat, mengumumkan rencana perayaan kecil yang akan diadakan keesokan harinya sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian membanggakan tersebut.

---

Keesokan harinya, aula sekolah dipenuhi dekorasi sederhana namun meriah, menyambut perayaan kemenangan tim debat yang dihadiri seluruh siswa dan guru. Kepala sekolah memberikan sambutan singkat, memuji kerja keras dan dedikasi seluruh anggota tim yang telah mengharumkan nama sekolah.

"Prestasi ini nggak lepas dari kerja sama luar biasa yang ditunjukkan seluruh anggota tim," kata kepala sekolah, menatap ke arah Rean dan Kieran yang berdiri di depan bersama seluruh anggota tim debat. "Terutama koordinasi solid dari Kieran Ashford dan Rean Vale sebagai penanggung jawab utama persiapan tim."

Tepuk tangan meriah menggema di seluruh aula, membuat keduanya saling bertukar senyum bangga atas pengakuan tersebut.

Usai acara resmi berakhir, perayaan dilanjutkan dengan sesi santai di lapangan sekolah, di mana seluruh siswa berkumpul menikmati camilan dan minuman yang disediakan panitia sambil merayakan kemenangan bersama.

"Kamu pantas banget dapat pengakuan itu," kata Elora, duduk bersama Rean di salah satu bangku taman sambil menikmati suasana perayaan.

"Kita semua yang pantas dapat pengakuan itu," Rean membalas rendah hati, meski dadanya dipenuhi kebanggaan tulus. "Terutama Kieran, dia yang mimpin tim dengan luar biasa."

Elora tersenyum mendengar pujian tulus itu, semakin kagum dengan sifat rendah hati yang selalu ditunjukkan Rean meski telah mencapai berbagai pencapaian membanggakan sejak pertama kali masuk sekolah ini.

"Kamu tahu nggak," katanya pelan, menatap langit sore yang mulai berubah warna, "aku selalu kagum sama caramu ngeliat segala sesuatu. Kamu selalu bisa liat sisi baik dari orang lain, bahkan waktu situasinya sulit sekalipun."

"Aku cuma berusaha jujur aja sama apa yang aku liat," jawab Rean sederhana, tersenyum tulus.

Kesederhanaan jawaban itu, seperti biasa, membuat Elora semakin jatuh cinta pada sosok yang duduk di sampingnya — meski perasaan itu masih tersimpan rapat, menunggu waktu yang tepat untuk akhirnya diungkapkan secara terbuka.

---

Tidak jauh dari mereka, Kieran duduk bersama Sophia dan Adrian, menikmati suasana perayaan dengan hati yang jauh lebih ringan dibanding beberapa bulan lalu.

"Kamu kelihatan beda banget sekarang," komentar Sophia, memperhatikan ketenangan yang terpancar dari sikap Kieran belakangan ini.

"Aku belajar banyak hal dari pengalaman beberapa bulan terakhir," jawab Kieran jujur, tersenyum tipis mengenang perjalanan panjang yang telah ia lalui sejak awal semester penuh kecemburuan dan kebingungan hingga akhirnya mencapai ketenangan seperti sekarang.

Sophia mengangguk, tersenyum bangga melihat perkembangan sahabatnya itu. "Aku seneng lihat kamu udah lebih bahagia sekarang."

Kieran mengangguk, menatap ke arah Rean dan Elora yang masih duduk bersama menikmati suasana sore itu, tanpa lagi merasakan kepahitan yang dulu selalu menghantuinya setiap kali melihat kedekatan mereka.

Perayaan kemenangan itu, meski sederhana, menjadi penanda penting dari perjalanan panjang yang telah membawa perubahan berarti bagi setiap tokoh dalam kisah ini — sebuah babak yang menutup dengan kebahagiaan bersama, sekaligus membuka jalan bagi berbagai perkembangan baru yang masih akan terus berlanjut dalam kehidupan mereka di Starline High School.

---

Beberapa hari setelah perayaan kemenangan tim debat, kehidupan sekolah kembali pada rutinitas biasa. Namun suatu sore, sebuah kejutan datang ke rumah Keluarga Vale yang mengubah dinamika yang selama ini berjalan tenang.

"Rean, ada tamu untukmu," panggil Liora dari ruang tamu, suaranya terdengar sedikit terkejut.

Rean turun dari kamarnya, penasaran siapa yang datang berkunjung di sore hari seperti ini. Ketika sampai di ruang tamu, ia mendapati sosok yang tidak pernah ia duga akan muncul di rumahnya — Harrison Ashford, ayah Kieran, duduk berhadapan dengan Darius yang tampak sedikit tegang.

"Selamat sore, Rean," sapa Harrison, nadanya formal namun tidak bermusuhan.

"Selamat sore, Paman," jawab Rean sopan, meski bingung dengan kedatangan tak terduga itu.

Darius memberi isyarat agar Rean duduk bersama mereka, wajahnya menunjukkan campuran antara kewaspadaan dan rasa ingin tahu terhadap maksud kedatangan tamu penting itu.

"Aku datang bukan untuk membahas persaingan bisnis kita," Harrison memulai, langsung ke inti pembicaraan setelah basa-basi singkat. "Aku dengar dari Kieran, kalian berdua bekerja sama dengan sangat baik di sekolah, terutama dalam kompetisi debat kemarin."

"Kieran memimpin timnya dengan luar biasa," jawab Rean jujur, masih tidak sepenuhnya memahami arah pembicaraan itu.

Harrison mengangguk, tersenyum tipis mendengar pujian tulus itu. "Aku juga dengar, kalian sempat mengalami kesalahpahaman di awal, tapi berhasil menyelesaikannya dengan dewasa."

Rean sedikit terkejut mengetahui bahwa Kieran ternyata menceritakan detail hubungan mereka kepada ayahnya sendiri, namun ia memilih untuk tetap tenang menanggapi situasi itu.

"Kami memang sempat ada kesalahpahaman," aku Rean jujur. "Tapi sekarang kami udah bisa kerja sama dengan baik."

---

Harrison menatap Darius sejenak, sebelum melanjutkan maksud sebenarnya dari kunjungannya sore itu. "Aku ingin mengusulkan sesuatu. Mengingat hubungan personal yang baik antara putra kita berdua, mungkin ini saat yang tepat untuk mempertimbangkan kolaborasi bisnis antara Vale Group dan Ashford Group, alih-alih terus bersaing secara langsung di sektor yang sama."

Usulan itu membuat Darius terdiam sejenak, mempertimbangkan dengan serius implikasi besar dari tawaran tersebut. "Kolaborasi seperti apa yang kamu maksud?"

"Alih-alih bersaing di sektor teknologi yang sama, kita bisa membagi fokus ke area yang saling melengkapi," jelas Harrison, mengeluarkan beberapa dokumen proposal yang telah ia siapkan. "Ini akan menguntungkan kedua perusahaan, sekaligus mengurangi tekanan kompetitif yang tidak perlu."

Darius membaca proposal itu dengan seksama, mempertimbangkan berbagai aspek bisnis yang terlibat di dalamnya. "Ini proposal yang menarik. Aku perlu mendiskusikannya lebih lanjut dengan tim eksekutif kami."

"Tentu," Harrison mengangguk mengerti. "Aku hanya ingin membuka jalan komunikasi, mengingat hubungan baik antara Rean dan Kieran mungkin bisa menjadi awal yang baik untuk hubungan kerja sama yang lebih besar antara keluarga kita."

Rean mendengarkan seluruh percakapan itu dengan seksama, menyadari bahwa persahabatannya dengan Kieran ternyata memiliki dampak yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan — bukan hanya mempengaruhi dinamika sosial di sekolah, melainkan juga berpotensi mempengaruhi hubungan bisnis besar antara kedua keluarga mereka.

Setelah Harrison berpamitan sore itu, Darius menatap Rean dengan bangga yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Kamu nggak nyangka, kan, persahabatanmu bisa membawa dampak sebesar ini?" tanyanya, tersenyum bangga pada putranya.

"Nggak," Rean menggeleng jujur, masih mencerna seluruh percakapan yang baru saja terjadi. "Aku cuma berusaha jadi teman yang baik buat Kieran."

"Itulah kekuatan sebenarnya dari ketulusan, Rean," jelas Darius bijaksana. "Terkadang, hal-hal besar bisa terjadi hanya karena kita memilih untuk bersikap tulus dan terbuka terhadap orang lain."

Malam itu, Rean merenungkan seluruh percakapan yang telah terjadi, menyadari bahwa perjalanannya di Starline High School telah membawa dampak yang jauh lebih luas dari yang pernah ia bayangkan — sebuah bukti nyata bahwa persahabatan tulus mampu menciptakan perubahan besar, bahkan dalam dunia bisnis yang penuh persaingan sekalipun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!