Aqilla Pramesti begitu putus asa dan merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dikhianati dan diceraikan oleh suami yang ia temani dari nol, saat sang suami baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan besar. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, siapa sangka nyawanya diselamatkan oleh seorang pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan ingin hidup lebih lama.
"Apa kamu tau seberapa besar perjuangan saya untuk tetap hidup, hah? Kalau kamu mau mati, nanti setelah kamu membalas dendam kepada mereka yang telah membuat hidup kamu menderita. Saya akan membantu kamu balas dendam. Saya punya harta yang melimpah, kamu bisa menggunakan harta saya untuk menghancurkan mereka, tapi sebagai imbalannya, berikan hidup kamu buat saya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Ilham bergeming, kedua matanya seketika berkaca-kaca, tatapan matanya nampak kosong memandang lurus ke depan sebelum akhirnya terpejam kemudian berjongkok tepat di depan Kaila, putri sulungnya.
"Apa kabar, Kaila sayang?" tanyanya seraya membelai rambut panjang sang putri dengan lembut.
Kaila mengurai pelukan dengan dada naik turun menahan isakan. "A-Ayah ke mana aja? Kenapa Ayah gak pernah pulang ke rumah? Keano sakit, Yah. Dia manggil-manggil Ayah terus, Keano kangen banget sama Ayah," lirihnya seraya mengusap kedua matanya yang berair.
"Maafin Ayah, Sayang. Ayah bukannya gak mau menemui kamu dan Keano, tapi Ayah sama Ibu kamu sudah tidak bersama-sama lagi," jawab Ilham dengan lemah dan bergetar. "Kami sudah berpisah, Kai. Ayah harap kamu mengerti."
"Nggak, Ayah sama Ibu gak boleh berpisah. Aku gak mau!" jerit Kaila, kembali terisak.
Sementara Aqilla seketika mendengus kesal, memandang wajah Ilham dengan tajam. "Kamu benar-benar keterlaluan, Mas Ilham. Bisa-bisanya kamu ngomong kayak gitu sama Kaila!" bentaknya, kedua matanya kembali memerah dan berair. "Aku berusaha keras menyembunyikan masalah keluarga kita dari anak-anak dan sekarang kamu seenaknya ngomong kayak gitu? Kamu gak mikirin perasaan anak-anak kita, hah?"
Ilham berdiri tegak, balas menatap wajah Aqilla dengan tatapan mata yang sama. "Mau sampai kapan kita menyembunyikan masalah ini dari mereka, Aqilla? Mau sampai kapan? Saya udah ada pendamping dan kamu juga sudah punya calon suami, sudah saatnya mereka tau apa yang terjadi sama kita."
"Dasar brengsek! Brengsek kamu, Mas!" bentak Aqilla, dadanya nampak naik turun menahan sesak.
"Aku benci sama kalian, benci!" teriak Kaila, berbalik lalu kembali memasuki kamar VVIP tempat di mana sang adik berada, pintunya pun seketika ditutup dengan kasar dan penuh tenaga hingga menimbulkan suara nyaring.
Anak itu benar-benar merasa kecewa setelah mendengar penuturan ayahnya. Sang ayah sudah memiliki pendamping dan ibunya sudah memiliki calon suami. Dengan entengnya Ilham mengatakan hal tersebut di depan Kaila tanpa memikirkan perasaanya. Hati seorang Kaila benar-benar hancur tidak bersisa.
Sementara Aqilla, kembali mendengus kesal. "Ya Tuhan," decaknya seraya mengusap wajahnya kasar dengan mata terpejam.
Radit hanya bisa menghela napas dalam-dalam seraya mengusap bahu Aqilla dengan lembut, mencoba untuk menenangkan. "Lebih baik kamu istirahat, Qilla. Tak ada gunanya meladeni mantan suami kamu yang tak tau diri ini," ujarnya, seraya memandang sinis wajah Ilham.
"Tapi tunggu, muka si Ilham ini rasanya gak asing. Di mana saya pernah ketemu sama dia?" batin Radit, seketika mengerutkan kening, berusaha untuk mengingat, tapi hasilnya sia-sia.
Ilham tiba-tiba menunjuk wajah Aqilla seraya menatapnya dengan tajam. "Pokoknya, kalau kamu gak becus ngurusin anak-anak, saya bakalan ajukan hak asuh mereka, Aqilla!" bentaknya dengan kesal.
"Permisi, maaf ini Rumah Sakit. Kalau kalian mau bertengkar, silahkan kalian keluar dari sini! Kalian sudah mengganggu ketenangan pasien di Rumah Sakit ini," tegur Perawat yang kebetulan melintas di tempat tersebut.
"Kamu dengar, Qilla? Lebih baik kita masuk, jangan sampai pertengkaran kalian mengganggu kenyamanan pasien di sini," ucap Radit kepada Aqilla, seraya memandang wajahnya dengan sayu dan hanya dijawab dengan anggukan oleh wanita itu.
Aqilla hendak melangkah menuju pintu, tapi langkahnya seketika terhenti, kembali memandang wajah wanita bernama Dona lalu mengalihkan pandangan matanya kepada Ilham. "Jangan pernah bermimpi untuk mengambil hak asuh anak-anak dariku, Mas. Mereka anakku, meskipun kamu Ayahnya, tapi kamu tak pernah bersikap selayaknya seorang Ayah, paham?" ucapnya dengan tegas, tapi dengan nada suara yang sedikit ditahan.
"Dasar wa--" seru Ilham, tapi ucapannya tertahan karena Dona segera menyela.
"Sudah cukup, Mas. Kita ke sini mau memeriksakan kandungan aku, 'kan? Kenapa jadi berantem di sini sih?" selanya dengan kesal.
"Maaf, Sayang. Kita ke ruang pemeriksaan sekarang, ya," jawab Ilham, tanpa basa-basi lagi melangkah melintasi Aqilla dan Radit begitu saja. Bahkan, tanpa melihat keadaan Keano yang tengah berbaring lemah di kamar.
Sepeninggal mereka berdua, kedua kaki Aqilla seketika melemas, dadanya naik turun, rasa sesak semakin menghimpit dada hingga tubuhnya hilang keseimbangan dan hampir saja tumbang. Beruntung, Radit segera menahan kedua sisi bahunya dengan lembut.
"Ya Tuhan, Qilla. Kamu baik-baik aja?" tanyanya dengan khawatir.
Aqilla menganggukkan kepala, kembali berdiri tegak seraya mengusap dadanya yang terasa sesak. "Aku baik-baik aja, Pak Radit. Terima kasih," jawabnya singkat.
Keduanya pun melangkah menuju kamar, Radit nampak memapah tubuh Aqilla yang terlihat lemas dan tidak bertenaga, pun dengan wajahnya yang pucat pasi. Langkah keduanya seketika terhenti sesaat setelah mereka memasuki kamar tersebut karena suara dering ponsel yang berasal dari saku jas hitam yang dikenakan oleh Radit tiba-tiba terdengar nyaring.
Aqilla menoleh dan memandang wajah Radit dengan sayu. "Aku baik-baik aja, Pak Radit. Anda angkat telpon aja dulu."
"Yakin kamu baik-baik aja?" tanya Radit dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Aqilla. "Baiklah, saya angkat telpon dulu, ya."
Aqilla kembali mengangguk, memandang kepergian pria itu dengan wajah datar.
***
Radit berjalan menjauhi pintu kamar seraya merogoh saku jas hitam yang ia kenakan, meraih ponsel canggihnya, menatapnya sejenak lalu mengangkat sambungan telepon.
"Ya halo, Dion. Ada apa?" tanyanya, menghentikan langkah tepat di depan jendela kaca berukuran besar, memandang keluar.
"Anda di mana, Pak Bos? Anda tak lupa 'kan kalau hari ini jadwal Anda cuci darah?" samar-samar terdengar suara pria bernama Dion, asisten pribadi Raditya.
"Astaga, hampir saja saya lupa," decak Radit seraya mengusap wajahnya kasar, telapak tangannya bahkan mulai berkeringat. "Harus sampai kapan saya cuci darah kayak gini, Dion? Saya capek!"
"Anda yang sabar, Pak Bos. Setelah kita dapat pendonor, Anda gak perlahan cuci darah lagi. Anda tau sendiri 'kan, Anda tidak hanya membutuhkan satu ginjal, tapi dua sekaligus, makannya agak sulit mendapatkan pendonor. Anda menderita gagal ginjal kronis stadium akhir. Beruntung Anda punya banyak uang dan masih bisa hidup sampai sekarang."
"Saya sudah dapet pendonor, Dion. Tinggal melakukan pengecekan apakah ginjal dia cocok buat saya atau tidak."
"Hah? Anda serius, Pak Bos? Di mana Anda mendapatkan pendonor? Kalau orang itu menyerahkan dua ginjalnya buat Anda, itu sama saja dengan dia menyerahkan hidupnya buat Anda."
Bersambung ....