Cinta pertama, semua orang pasti pernah merasakan, itulah yang di rasakan Briana gadis cantik yang baru saja menginjakkan kakinya di sekolah menengah atas atau SMA.
Briana dia mengagumi kakak kelasnya yang merupakan ketua team basket, hanya saja sampai si pria lulus sekolah Briana tidak pernah mengungkapkan perasannya dia hanya menyimpan rasa suka itu di hatinya.
Hari-hari di sekolah Briana lewati dengan santai walau permasalahan mulai muncul namun dia tidak pernah ambil pusing.
Tiga tahun sudah dia sekolah disana dan saat masuk universitas Briana di pertemukan lagi dengan sang pujaan hati.
Apakah Briana mengambil kesempatan ini untuk mendekati sang pujaan hati?....
Yu baca kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di tuduh rebut cowok orang.
Sudah satu minggu Rio tidak masuk sekolah dan hari ini kita semua dapat kabar jika Rio pindah sekolah. Aku yang lumayan dekat sama dia kaget saat mendengar kabar Rio pindah sekolah. Aku yang masih penasaran dengan alasan ke pindahan Rio membuat aku mencari tau. Saat jam istirahat baru saja berbunyi dan semua murid langsung keluar, aku malah pergi ke bangku belakang dimana Yudistira berada.
"Ada apa? " tanyanya saat aku menghampirinya.
"Kasih tau gue, alasan Rio pindah sekolah, " jawab ku dengan nada serius.
"Ya lo kan dengar sendiri tadi guru bilang kalau Rio ikut dengan keluarganya, " ucap Yudistira santai lalu berdiri dan merangkul ku mengajak ke kantin.
"Gue gak percaya "ucapku membuat Yudistira melepaskan tangannya dari pundak ku.
" Terserah lo mau percaya atau tidak karena itu kenyataannya, "ujar Yudistira lalu pergi meninggalkan ku di kelas sendiri.
Aku pun akhirnya ke luar kelas dan hanya diam di depan kelas sambil melihat ke bawah ke lapang basket. Namun tiba-tiba aku melihat seseorang yang berapa minggu ini tidak pernah aku lihat karena aku fokus belajar dan teman-temanku yang lain. Akhirnya aku hanya melamun sambil melihat ke lapang basket.
"Hayo lo ngapain bengong disini sendirian? " Zahara tiba-tiba datang dan langsung ngegertin aku.
"Bikin kaget aja, " ucapku sedikit kesal.
"Ya lagian gue perhatian serius amat lihat ke lapang basketnya, "ucap Zahara sambil melihat ke lapang basket.
" Oya ya, tadi di kantin ada cewek kelas lain yang cari lo dan ngasih ini buat lo, "beritahu Zahara lalu menyerahkan sebuh kertas.
" Apaan ni? "tanya ku sambil menerimanya.
" Ya lo buka aja, gue gak bermain buka karena dia bilang jangan dibuka sebelum ke tangan lo, "jawab Zahara.
Aku pun membukanya dan aku kaget saat membaca isi kertas itu.
" Ada apa? "tanya Zahara.
" Tar pulang Zidan ngajak gue ketemu, "jawab ku memberitahu isi kertas itu.
"Zidan, ngapain dia ngajak lo bertemu? " tanya Zahara kaget.
"Gue juga gak tau, " jawab ku.
Zahara pun terdiam sepertinya mikirin sesuatu. Aku pun berpikir ngapain Zidan ngajak aku bertemu.
"Eh Na, lebih baik lo ajak Yudistira deh, gue kok takut lo di jebak ya, " ucap Zahara satu pikiran dengan ku.
"Kok tebakan lo sama kaya gue ya, " ucap ku.
"Ya udah lo ajak dia aja, " ucap Zahara.
Kebetulan aku melihat Yudistira baru kembali dari kantin bareng tan kelas yang lain.
"Yudistira, " panggil Zahara dan dia pun melirik kami lalu menghampiri kami.
"Ada apa? " tanya nya.
"Nanti pulang lo ada eskul gak? " tanya Zahara.
"Gak ada kenapa? " jawab Yudistira.
"Lo temani Briana ketemu Zidan ya! " pinta Zahara.
"Kenapa gak lo aja? " tanya Yudistira dengan raut wajahnya sepertinya gak suka dengar nama Zidan.
"Gue cewek kalau Brian kenapa-kenapa gue gak bisa bantu, " jawab Zahara.
"Lah emang apa yang bakal di lakukan Zidan, paling dia mengungkapkan cinta, "ucap Yudistira.
" Gak mau ni, ya udah gue cari yang lain aja, "ucap ku lalu masuk dan aku dengar Zahara marah sama Yudistira.
Bel masuk pun berbunyi dan semua murid masuk namun kebetulan kelas ku dapat kelas kosong karena gurunya gak ada jadi membuat semua murid sibuk masing-masing. Aku pun melihat sekeliling mencari orang yang bisa bantu aku buat temani ketemu Zidan.
Namun aku tidak menemukan yang cocok dan aku pun pasrah kalau harus bertemu dengan Zidan sendiri.
Bel pulang pun berbunyi dan aku pun segera membereskan buku lalu hendak keluar namun tiba-tiba tangan ku di tarik.
"Gue temani, " ucap Yudistira, ya orang yang menarik tangan ku Yudistira dan dia tidak melepaskan tangan ku sampai ke tempat aku bertemu dengan Zidan.
"Gue tunggu disini kalau ada apa-apa teriak aja, " perannya sebelum aku masuk.
"Iya, " jawab ku lalu masuk.
Tibanya di belakang gedung aku melihat sekeliling tempatnya sepi dan aku bingung kenapa dia cari tempat yang sepi seperti ini. Namun tiba-tiba sebuah balon yang beri air di lempar ke arah ku membuat aku basah.
"Kalian, " ucap ku kaget melihat April dan teman-temannya.
"Ini batu permulaan, " ucap April.
"Maksud lo apa? " tanya ku dengan nada tinggi.
"Kemarin lo bilang gak pernah suka orang nya tapi hanya gayanya, lalu kenapa sekarang lo berani main belakang?" tanya April.
"Maksud lo gue gak ngerti? " tanya balik Ku karena aku benar-benar gak ngerti.
"Lah lo gak usah pura-pura bohong deh, gue tau kalau lo dekat sama Zidan kan? " bentuknya membuat aku gak terima.
namun baru saja aku hendak melawan tiba-tiba aku di pegang oleh anak buahnya April.
"Apa-apa ni, lepasin gak, " teriak ku agar Yudistira mendengarnya dan benar saja Yudistira datang lalu bantu aku lepas dari April.
"Kalau aku ngapain cewek gue? " tanya Yudistira membuat aku kaget.
"Cewek lo? " kaget April.
"Iya kenapa? " tanya Yudistira.
"Lo gak usah bohong deh, dia tuh merebut Zidan dari gue, " beritahu April.
"Merebut, lo salah orang karena yang saat ini sedang dekat dengan Zidan bukan Briana tapi teman lo sendiri Sindi, " beritahu Yudistira membuat aku kaget.
"Sindi?, gak mungkin, " ujar April.
"Kalau lo gak percaya, lo datang aja ke kefe kenanga hari ini dan lo lihat Zidan jalan sama siapa, " beritahu Yudistira lalu membawa ku pergi dari tempat itu.
Yudistira melawan jaket nya lalu memakaikannya pada ku.
"Gue antar lo balik, " ucap Yudistira.
Aku pun gak menolak karena hari ini aku gak ada ya g jemput di tambah baju ku basah juga. Aku pun naik ke motornya dan Yudistira langsung menjalankan motornya. Aku pun memberitahu dimana alamat rumah ku namun aku gak bertanya masalah Zidan kenapa Yudistira tau tentang Zidan. Aku pun sampai depan rumah dan langsung turun dari motor.
"Makasih ya, untuk jaketnya gue bawa dulu lusa gue kembalikan, " ucap ku.
"Oke, santai aja, gue balik, " ucap Yudistira lalu pergi dan aku pun masuk.
Namun saat masuk aku melihat mama berdiri di teras rumah dengan senyum ngeledek karena aku di antar cowok.
"Anak mama udah gede aja, " ucap mama ngeledek aku.
"Apaan sih ma, dia cuman teman doang jangan mikir macam-macam deh, " ucap ku setelah mencium tangannya.
"Iya deh iya deh cuman teman, " balas mama dan aku langsung tinggal masuk.
Namun saat aku keluar dari kamar mandi tiba-tiba ponsel ku berdering dan saat di lihat ternyata Zahara mengirim vidio pertengkaran April dengan Sindi di sebuah kafe.