Original Story by : Chiknuggies (Hak cipta dilindungi undang-undang)
Aku pernah menemukan cinta sejati, hanya saja . . . Arta, (pria yang aku kenal saat itu) memutuskan untuk menjalin kasih dengan wanita lain.
Beberapa hari yang lalu dia kembali kepadaku, datang bersama kenangan yang aku tahu bahwa, itu adalah kenangan pahit.
Sungguh lucu memang, mengetahui Arta dengan sadarnya, mempermainkan hatiku naik dan turun. Dia datang ketika aku berjuang keras untuk melupakannya.
Bak layangan yang asyik dikendalikan, membuat aku saat ini tenggelam dalam dilema.
Hati ini. . . sulit menterjemahkan Arta sebagai, kerinduan atau tanda bahaya.
°°°°°°
Airin, wanita dengan senyuman yang menyembunyikan luka. Setiap cinta yang ia beri, berakhir dengan pengkhianatan.
Dalam kesendirian, ia mencari kekuatan untuk bangkit, berharap suatu hari menemukan cinta yang setia. Namun, di setiap malam yang sunyi, kenangan pahit kembali menghantui. Hatinya yang rapuh terus berjuang melawan bayang masalalu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Ruel juga menceritakan kepadaku mengenai masalah nya yang sebenarnya telah lama ia simpan, masalah mengenai keluarga yang memiliki barrier di antara satu dengan yang lainnya.
Ia memiliki ayah yang sangat memanjakkannya, dapat kulihat hasil dari kasih sayang tersebut dari sifat kekanak-kanakan yang ia miliki. Sementara itu berbeda dari sang Ayah, ibunya mendidik Ruel cukup keras dengan tujuan membuatnya menjadi anak yang tangguh.
Sumber masalah dari cerita yang Ruel sampaikan hanyalah mengenai ibunya yang kerap memberinya hukuman Verbal ketika ia membuat kesalahan-kesalahan kecil di rumah.
Kekerasan verbal yang diberikan begitu tajam, dan penilaian yang ku berikan ini, bukan berdasarkan hubungan yang ku jalin bersama Ruel sehingga aku ingin membelanya. Melainkan hasil banding dari cara ibunya dan cara ibuku ketika mengasuh kami.
Memang, semua orang tua memiliki hak dan tanggung jawab penuh, serta memiliki cara yang berbeda-beda dalam mendidik anaknya. Akan tetapi mendengar cerita dan hukuman yang Ruel dapatkan dari kesalahan kecil saja, bisa mengubah sudut pandangku sendiri kepada ibuku.
Awal cerita.
Semenjak masih dalam lingkup sekolah dahulu, ia sudah dipaksa untuk mengikuti 5 ekstra kulikuler berbeda atas perintah ibunya, tidak lupa dengan les bahasa juga matematika sepulang sekolah. Di rumah, ia tidak lantas dapat beristirahat karena tentu sudah banyak PR yang menunggu, sama seperti murid lain.
Semua tekanan itu menumpuk atas kemauan ibunya yang menginginkan Ruel menjadi anak yang sempurna. Bila sewaktu-waktu ia lalai dalam mengerjakan tugas yang, maka ibunya akan segera tahu dari nilai ujian yang tidak memuaskan.
"Kalau sudah besar nanti, kamu mau jadi apa dengan nilai segini? Kamu nggak liat ini? (Menunjuk kearah hasil ujian yang ada di genggaman nya.) Kamu sudah besar El, kamu harus bisa memanage waktu dan tenaga lebih baik lagi, kamu harus bisa buat mamah bangga." Ujar ibunya angkuh dengan nada yang datar.
Lalu tanggapan dari ayahnya yang melihat langsung kejadian tersebut, tentu tidak terima atas perlakuan istrinya itu kepada anak kesayangannya. Kerap kali mereka bertengkar membela kemauan satu sama lain mengenai cara mendidik anak yang baik menurut presepsi mereka satu sama lain.
Dan tentu saja, anak manapun memiliki batas untuk terus diandalkan. Tekanan yang menumpuk menjadikan Ruel selalu menutupi kesedihannya dengan topeng senyum yang tak pernah ia lepaskan.
Menurut Ruel, setelah melihatku menangis puas di peluknya semalam, ia mencoba untuk menanamkan rasa percaya kepadaku dan mulai bercerita. Ia juga merasa iri setelah mendapatiku terlihat lega di pagi hari setelah meluapkan masalah tadi malam.
Pendapatku, Ruel sudah cukup kuat berjuang sampai dititik ini, meliatnya bertarung sampai akhir membuatku berkaca kepada diri yang selalu menyerah akan keadaan.
Hidup itu sebenarnya harus apa? Harus seperti apa? Apa terus bertahan melawan takdir, atau justru menurut kepada semesta yang curang memberi langkah.
Aku yang selama ini hidup dengan keadaan seadanya dan harus berjuang untuk menjadi seseorang demi ibuku, memiliki keterbalikan dengan Ruel yang serba ada namun harus menerima perintah yang tidak umum dari ibunya. Bukan kah jika keadaan kami di tukar, kami akan mendapatkan titik seimbang dihidup kami masing-masing.
Walaupun kenyataan nya tetap tidak semudah statemen yang aku buat barusan, tetapi aku yakin semua ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari yang kami rasakan saat ini.
Andai kehidupan ini seperti permainan, yang bila terlalu sulit dapat di muat ulang kembali dari awal, maka ini adalah kali ke seribu aku mengambil kesempatan yang baru.
Tidak ada obat ataupun terapi, yang dapat menyembuhkan rasa sakit dari perjuangan kepada keluarga, sedangkan itu tidak kunjung membuahkan hasil. Bukan karena usaha yang tidak maksimal, namun kembali lagi bahwa, semesta tidak sesederhana itu.
Bila kami adalah nelayan, sedangkan hidup itu bagaikan laut lepas, maka hari ini laut tidak sedang berpihak kepada kami berdua. Deburan ombak tidak sama seperti terakhir kami mengunjungi pesisir, pantai yang kukenal memiliki ombak lembut, berhembus bersama suara riak yang mendekati api unggun di bawah gemerlap cahaya bintang.
Bolehkan sekali lagi, aku memilih hidup seperti kucing saja?
Saat ini aku mendapati sosok Ruel yang tidak pernah kutemui sebelumnya, sosok ceria itu luntur sekejap bersama cerita dan air mata. Ku dengar isak tangis yang cukup hebat dari Ruel, membuat nya sesak mencari nafas hinga hampir saja ia kehilangan kesadarannya. Dari yang ku perhatikan, sepertinya raga yang dia milikipun tidak sanggup untuk menahan gejolak tangis yang meluap keluar.
°°°°°
Tidak terasa, hari semakin siang dan aku memutuskan untuk menghiburnya dengan cara yang sederhana, namun bisa jadi ampuh untuk mengobati rasa sakitnya.
Sesaat setelah ia dapat mengatur jalannya nafas, aku menawari dia untuk keluar, bertujuan untuk mengalihkan perhatiannya dari masalah, "El kamu laper lagi ndak? Kamu dari tadi nangis aja pasti sekarang jadi laper banget. Ikut aku yuk makan di luar, aku juga udah mulai laper nih." Ajakku sembari mencubit kedua pipinya dan digoyang-goyangkan.
Ruel mengusap matanya dengan kepalan tangan, lalu mengangguk dan mengiyakan tawaranku.
Dengan motor yang Ruel miliki, aku mengarungi jalan berdua dengan dia yang patuh memelukku dari kursi penumpang.
Mungkin memang terkesan sederhana, akan tetapi ku ketahui sedari dulu, KFC adalah tempat makan kesukaannya, namun fast food juga merupakan salah satu larangan yang ibunya berikan.
"El, kamu kenapa sih seneng banget makan di sana?" Tanyaku sambil menoleh ke arah kaca spion.
"Dulu, pas ruel ulang tahun, ruel pernah diajak ngerayainnya di situ sama ayah. Saat itu tuh ruel ngerasa kaya ratu~ banget!. Mamah juga dulu masih sayang banget sama ruel. Tapi bukan berarti sekarang mamah nggak sayang sama ruel, tapi. . . " Penjelasan nya buntu, tertutup oleh mata yang kembali menunjukkan tanda-tanda akan menangis.
"Iya-iya ratu. Bentar lagi kita sampe kok." Setelah sedikitnya mengerti, aku menahan pertanyaanku lebih lanjut, dan memutuskan untuk fokus pada jalanan, agar segera sampai ke tujuan.