novel ini untuk sementara sedang direvisi mohon maaf kalau ada ketidak nyamanan dalam membacnya🙏🙏,
Dinda,Arin,Dimas,Dani dan Wiira berencana mengisi liburan setelah ujian akhir sekolah,mereka berencana pergi ke naik ke gunung ciremai.
Fadilah dan Farhan teman teman Dani yang mendengarnya ikut bergabung,mereka adalah seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi dikota Jakarta sedang liburan ditempatnya Dani.
Mereka tak menyangka liburan mereka jadi bencada dan mengakibatkan kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JK Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arin dan yang lainnya hilang
Malam itu terlihat pak Santoso duduk memegang tasbih sambil terus melafazkan asma Allah,sudah dua hari Dinda dan teman-temannya dinyatakan hilang dan belum ditemukan jejak keberadaan mereka.
Air mata pak Santoso jatuh,ia meminta dalam hati agar cucunya selalu dilindungi dimanapun dia berada dan meminta petunjuk keberadaan mereka.
Sementara bu Yanti hanya bisa menangis dikamar,memikirkan dimana anaknya sekarang berada.
Sementara itu dihutan Dinda dan Dani berlari menghindari sosok berpakaian putih yang mengejarnya.
"Aku takut Dani,"Dinda berlari sambil terus berdoa dalam hati.
"Aku juga takut,kita harus kuat kita cari tempat sembunyi,"ujar Dani sambil melirik kearah pepohonan,ia melihat sosok-sosok itu semakin banyak.
"Hihihihi....."
"Hihihihi....."
"Hihihihi....."
"Mau lari kemana kalian,kalian tidak akan bisa kemana-mana,kalian sudah masuk hutan larangan,kalian harus jadi teman kami,"salah satu sosok berteriak dan kemudian melesat dan tiba-tiba sudah ada didepan mereka.
"Hihihihi....."
"Mau lari kemana kalian."
Dinda dan Dani yang berlari terkejut.
"Akhhhh......"
"Awas Dani...."
Dinda berhenti karena melihat sosok itu sudah didepan,sementara Dani baru sadar setelah Dinda berteriak.
"Kemarilah,temani kami,"sosok perempuan yang menghadang Dani tangannya terulur panjang dan semakin panjang,diraihnya leher Dani.
"Daniii....."
Dinda berteriak melihat tubuh Dani diangkat,matanya melotot dan ia mulai sulit bernafas.
"Lepaskan dia,"Dinda teringat dengan tasbih pemberian Kakeknya yang selalu ia bawa kemanapun,ia lalu mengambilnya.
"Hihihihi....."
"Tenang kamu juga akan menemaninya disini,siapapun yang sudah memasuki hutan ini harus tinggal disini beraama kami,"ucap sosok yang sedang mencekik Dani.
Sosok yang lain mulai menghampiri Dinda dan ingin mencekik lehernya.
"Hihihihi...."
"Ikutlah bersama kami,kamu akan jadi budak kami disini,'sosok itu melayang,menyambar tubuh Dinda.
Dinda ingat apa yang diajarkan Kakeknya ketika memberikan tasbih itu,ia membaca amalan yang diajarkan Kakeknya sambil menghitung biji tasbih dan memejamkan matanya.
"Ingat Dinda,jangan takut apapun,takutlah hanya kepada yang diatas,serahkan semua pada yang diatas biarkan hati dan pikiranmu menyatu
Dinda mulai duduk dirumput,ia pejamkan mata mengikuti setiap lafaz yang diucapkan dengan hatinya.
Tiba-tiba semua sosok itu menutup telinga dan berteriak kesakitan.
"Hentikan....."
"Panas......"
"Hentikan...."
"Hentikan,aku bilang hentikan!!"
Sosok yang mencekik leher Dani melepaskan cekikikannya dan berteriak sambil menutup telinganya,begitupun dengan sosok-sosok yang lain.
Dani beringsut mendekati Dinda yang duduk sambil berzikir dan menutup matanya,tiba-tiba Dani terkejut melihat ada cahaya yang melesat dari tasbih yang dipegang Dinda dan menghantam semua sosok yang ada disitu.
"Akhhhh...."
"Panas....."
"Panas....."
"Panas....."
Setelah beberapa saat sosok-sosok itu berteriak kesakitan lalu mereka hilang seperti debu.
Tubuh Dinda jatuh tidak sadarkan diri,Dani bergegas memeluknya.
"Din...."
"Din..."
"Din,bangun Din,"dengan wajah panik Dani berusaha menyadarkan Dinda.
Tak berapa lama Dinda terbangun,ia melihat kesekeliling,"kemana perginya mahluk-mahluk itu Dan?"
"Enggak tahu,mereka kesakitan dan seperti kepanasan ketika kamu berzikir lalu menghilang entahlah aku juga tidak mengerti,"ucap Dani.
"Ayo kita pergi sebelum mereka kembali,kita harus bisa menemukan jalan ketenda kita,"ucap Dani lagi.
Dengan tubuh yang masih lemas Dinda berusaha bangun dan berdiri dibantu Dani.
"Sekarang kita akan kemana Dan,kita enggak tahu jalan Ketenda,semuanya gelap ditambah dengan kabut yang sering muncul tiba-tiba."
"Kita coba terus kedepan,mudah-mudahan kita bisa menemukan jalan ketenda kita,"sahut Dani.
Ketika mereka baru melangkah beberapa meter,terlihat dari arah samping kanan kunang-kunang berdatangan dan berkumpul didepan mereka,lalu mereka terbang kearah sebelah kanan.
"Kunang-kunang banyak sekali Dan,dan kenapa mereka berkumpul dan pergi kesebelah kanan,apa mereka ingin menunjukkan jalan pada kita?"tanya Dinda.
"Mungkin,lihat mereka berhenti tidak bergerak,coba kita ikuti mereka."
Kunang-kunang itu berhenti seperti menunggu Dani dan Dinda mengikutinya,ketika Dani dan Dinda mengikuti mereka,kenapa itu kembali terbang.
Dani dan Dinda terus mengikuti mereka,tak diperdulikannya suara-suara dibelakang mereka,kurang lebih satu jam mereka berjalan.
"Dan,itu lihat didepan tenda kita,"ujar Dinda berjingkrak kegirangan.
"Iya,ayo,"sahut Dani.
Dani dan Dinda berterimakasih pada kawanan Kunang-kunang itu.
"Terima kasih sudah mengantar kami,terima kasih,entah siapa yang telah mengirim kalian,kami hanya bisa mengucapkan terima kasih,"Dinda dan Dani menangkupkan tangan.
Seperti mengerti apa yang Dinda dan Dani bicarakan,mereka kemudian berputar-putar disekitar Dinda dan Dani kemudian mereka pergi meninggalkan tempat itu.
Dani bergegas mengecek keadaan tenda,tapi ia bigung kenapa sepi sekali.
"Din,harusnya mereka sudah kembali dari tadi,tapi kenapa tidak ada siapapun,apa yang terjadi yah?"
"Iya yah,kok bisa padahal sekarang sudah jam 3 pagi,Dani perasaanku kok jadi tidak enak yah."
"Sudahlah,mungkin mereka sedang mencari kita atau kemana,kita makan dulu terus istirahat sebentar,masih ada waktu sebelum subuh,kalau mereka nanti datang kita ajak pulang saja."
Setelah membuat mie istan mereka masuk ketenda dan beristirahat.
"Dan,kamu disini saja yah,aku takut,hutan ini aneh,"pinta Dinda ketika Dani mau keluar menuju ketendanya.
"Ya sudah,tidurlah,aku akan menemanimu sampai Arin datang,"ujar Dani.
Matahari menyeruak diantara dedaunan dan masuk ketenda,Dinda mengucak matanya,Dani masih tertidur disampingnya berarti Arin dan yang lainnya belum balik ketenda.
Dinda melihat jam dihandphonenya,waktu sudah menunjukkan jam 8.
"Dan,bangun Dan,apa mereka belum balik?"
Dani membuka matanya,ia melihat sekeliling,"iya yah,kok bisa,kalau mereka pulang pasti tenda dan perlengkapannya dibawa,ini ranselnya masih ada."
"Jadi kita harus bagaimana?Aku bigung Dan."
"Sudah,kita sarapan dan cari mereka ditempat kemarin dan kita tinggalkan catatan jadi kalau mereka datang mereka tahu kita sudah sampai dan sedang mencari mereka."
Sementara dikantor polisi,orang tua Dinda dan yang lainnya berkumpul,mereka kembali meminta pihak kepolisian segera menemukan mereka.
Terlihat kepala polisi sedang memberikan pengarahan kalau mereka sudah memeriksa kemungkinan-kemungkinan Dinda dan teman-temannya berada sekarang,karena minimnya informasi yang didapat mereka kesulitan untuk melacak keberadaan mereka,bahkan semua handphone mereka tidak dapat dihubungi.
Bu Yanti pulang dari kantor polisi ditemani pak Santoso,dengan langkah gontai bu Yanti turun dari motor.
"Bu Yanti gimana,udah ada kabar belum."
"Apa kata polisinya."
Berbagai pertanyaan muncul dari para tetangganya begitu bu Yanti turun dari motor.
Bu Yanti hanya mengeleng dan masuk kedalam rumah,para tetangga yang berkumpul terlihat prihatin melihat keadaan bu Yanti.
"Kasian bu Yanti."
"Iya,mana anak satu-satunya,udah suaminya kabur sekarang anaknya enggak tahu ada dimana,"sahut yang lain.
"Ekhmmm...."
pak Santoso membuat suara ketika melewati Ibu-Ibu tadi.
"Eh pak Santoso,jadi tadi bagaimana?"tanya salah seorang tetangga.
"Belum ada kabar bu,minta doanya saja mudah-mudahan mereka cepat ditemukan,mari Ibu-Ibu saya masuk dulu."
"oh ya silakan pak,"sahut salah seorang Ibu-Ibu yang berkumpul.
Setelah pak Santoso masuk Ibu-Ibu itu pulang kerumah masing-masing.
Sementara Dinda dan Dani memutuskan untuk kembali ketempat kemarin mencari teman-temannya yang tak kunjung balik ketenda,kali ini mereka membawa potongan-potongan kain yang banyak untuk menandai jalan mereka.
Kalau mereka memakai cat,mereka khawatir kalau malam tidak terlihat seperti tadi malam.
mana berkuasa pula kepala sekolah
ruwet
supaya aman di pesantren kan saja
pergilah ke alam baka buat makhluk tekutuk di hutan itu
jangan sembarang ke tempat orang.. semua tempat ada peraturannya masing-masing. saling menghargai...
kembali jadi ke aslinya kakek peot
dr awal aku juga udah curiga sama Dimas...