NovelToon NovelToon
ARKANA

ARKANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:121.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: Canum Xavier

Aku jatuh cinta, pada pandangan pertama.
Awalnya aku tidak pernah percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada dan aku tidak mengira bahwa hal itu akan terjadi padaku.

Matanya yang menatap penuh keangkuhan, alisanya yang entah bagaimana berada di sana menambah kesan menawan di wajahnya, coklat gelap di matanya menatap berkeliling ruangan kelas dengan tajam, tidak ada kesan ramah di sana. Matanya sempat bertatap sebentar denganku.

Lalu tersungging sedikit senyum di bibirnya saat dia memperkenalkan diri.

" Halo semua, namaku Arkana Samudera Wijaya. Panggil saja aku Kana", dia berkata sambil menatapku tanpa malu-malu.

Dan aku berani bersumpah, dia mengedipkan sebelah matanya padaku sebelum berjalan ke arah bangku yang ditunjuk guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canum Xavier, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi Ke Bali

Sabtu pagi yang cerah, matahari bersinar dengan lembut memberi kehangatan di kulitku.

Dengan wajah yang tidak niat tapi di niat-niatkan, aku menunggu Kana di depan rumahku. Hari sabtu ini seharusnya aku masih tidur dengan nyenyak, lalu bangun untuk nonton drama korea sampai lupa waktu.

" Hah menyebalkan memang ", aku mengeluh sendiri sambil menendang-nendang pelan batu kecil di bawah sepatuku

" Siapa yang menyebalkan", suara Kana tiba-tiba membuatku terlonjak.

" Eh . . . Kamu nongol kayak hantu. Buat kaget saja", aku protes.

" Kamu melamun apa sih, sampai tidak dengar suara mobilku", kata Kana.

" Kamu bawa mobil? Hah? Aku kira kita naik kereta", aku melihat ke arah mobilnya yang berwarna hitam metalik.

" Kamu mau berdempetan sama orang? Aku sih ogah", katanya sambil berjalan menuju ke arah mobilnya.

Aku masih diam terpaku melihat ke arah Kana sambil memikirkan betapa polosnya aku berpikir Kana akan naik kendaraan umum.

" Kamu mau masuk sendiri atau aku bantu gendong untuk masuk mobil?", tegur Kana membuatku buru-buru berlari ke arah mobilnya.

***

Kana menyetir dengan lancar sepanjang perjalanan kami. Aku yang awalnya memegang erat sabuk pengamanku karena tidak percaya mulai menurunkan kewaspadaan.

" Kamu dari tadi liatin aku mau nanya apa?", Kana tiba-tiba memecah keheningan.

Aku yang memang sedang menyimpan seribu satu pertanyaan langsung melihat ke arah luar jendela mencoba untuk tidak tergoda tawaran Kana. Tapi belum 5 menit pertahananku runtuh.

" Kamu beneran bawa aku ke dufan?", tanyaku penasaran. Aku bukannya takut di culik, hanya saja aku tidak bisa menebak jalan pikiran Kana. Raut wajahnya saja seperti sudah di atur, datar terus. Kalau bahasa Inka sok cool padahal emang Kana seperti itu.

" Hmm... Kita ke rumah nenek aku saja. Aku gak suka naik wahana ", jawabnya santai.

Aku mengangguk mendengar jawaban Kana. Tapi aku bertanya lagi, entah keberanian ini datang dari mana sampai aku berani bertanya kepada patung es di sebelahku ini.

" Kenapa tiba-tiba ke rumah nenek kami ?", tanyaku penasaran.

" Ya. . Kangen saja sama nenek ", jawab Kana santai.

Aku mengangguk paham dengan jawaban si patung es ini. Tidak perlu ada pertanyaan lagi. Aku akan mendapatkan jawaban satu arah. Jadi aku menyerah mencairkan suasana.

" Kamu sudah sarapan?", tanya Kana melihat ke arahku.

" Belum", jawabku jujur.

" Oke nanti kita sarapan dulu sebelum penerbangan", jawab Kana.

Aku mengangguk lalu melihat keluar jendela. melihat gedung tinggi-tinggi. Lalu tersadar.

" Bentar-bentar. Penerbangan apa ini? memangnya rumah nenek kamu ada di mana? ", aku menjadi panik tiba-tiba.

Kana tidak menjawab, hanya wajahnya serius fokus menyetir. Seperti enggan di ganggu.

Aku melihat keluar jendela mulai terlihat pohon-pohon teratur dan plang yang muncul di sepanjang jalan menunjukan gambar pesawat dan tertulis dengan jelas Soekarno Hatta.

Aku melihat ke arah Kana " Ini kita ke mana ya?", tanyaku mulai curiga.

" Bali ", jawabnya santai.

" Hah... Gimana? Bali ?", tanyaku bodoh.

" Iya Bali ", jawabnya santai sambil menurunkan kaca mobil untuk membayar tol dengan kartunya.

Aku terdiam tidak mengucapkan satu katapun. Seperti kerasukan setan bisu. Ini aku yang sedang mimpi atau memang benar-benar terjadi.

Aku terus terdiam sedang memikirkan apa yang aku lakukan sekarang ini. Sampai entah bagaimana aku sudah duduk bersama Kana di kursi bisnis salah satu penerbangan ternama.

" Kana ... Kana.... aku gak bawa koper baju ganti dan perlengkapan", aku mulai merengek menarik narik lengannya yang akan memakai sabuk pengaman.

" Nanti beli di sana", jawab Kana santai sambil membantuku memasang sabuk pengaman karena aku sibuk dengan kegelisahanku.

" Aku juga belum ijin orang tua Kana",aku masih merengek.

" Sudah di urus Inka", jawabnya lagi sambil mengatur posisi badannya agar nyaman.

Aku bengong mendengar jawaban Kana. " Inka teh tau, aku mau ke Bali sama kamu?", tanyaku penasaran.

" Iya tau", jawab Kana seraya menutup matanya mencoba tidur.

Sialan anak itu, di sogok apa sama Kana sampai mau kerjasama makiku di dalam hati. Aku mengigit bibirku masih gelisah, melihat ke arah Kana yang tidak ada beban sama sekali.

" Kana.... Kana... Nanti kalau teman sekolah tau kita bisa digosipin", aku mulai menarik-narik lagi lengannya.

" Biarin ", jawab Kana sambil lalu.

Tidak hilang akal aku mulai menarik lagi lengannya. " Kana... Kana....", belum sempat rengekanku selesai Kana menggenggam erat kedua tanganku sambil menatapku dengan tatapan penuh arti.

" Tidur atau aku cium", ancam Kana tenang.

Aku yang mendengar itu langsung mingkem dan menarik tanganku, memperbaiki poisisi duduk berusaha nyaman dan mulai pura-pura menutup mata. Karena itu adalah ancaman yang terlalu berbahaya bagiku.

***

" Awan . . . Hei ...mau tidur sampai kapan?", Kana mengguncang tubuhku pelan.

Aku terbangun dan melihat berkeliling, sedikit bingung dengan mbak-mbak berseragam yang sibuk di dekatku. Lalu aku menyadari bahwa aku sedang di pesawat menuju ke Bali.

Aku berpaling melihat Kana yang sedang menatapku dengan matanya yang indah. Kejengkelan di hatiku sedikit sirna sampai dia berkata.

" Tadi kamu ngorok, kenceng banget", katanya santai sambil membantu melepaskan sabuk pengamanku.

Mulai detik itu wajahku menjadi cemberut dan jutek sampai kami berada di dalam mobil jemputan Kana. Entah kenapa saat bangun tidur aku menjadi sangat kesal saat melihat Kana.

Aku marah karena Kana tidak minta pendapatku untuk pergi ke Bali, rasanya aku seperti di culik. Kalau Kana bilangnya baik-baik, aku mungkin bisa minta ijin sama orang tuaku. Kalau nanti pas pulang aku di marahi, trus uang jajanku gak di kasih gimana. Apalagi aku perginya sama cowo, wah Kana dan aku bisa di kawinkan. Brabe jadinya. Maka terjadilah sepanjang jalan aku menolak menatap Kana dan sikapku menjadi jutek. Entah Kana sadar atau tidak.

" Awan, kamu marah?", Kana bertanya kepadaku yang sibuk memandang keluar jendela.

Aku tidak menjawab, berharap dengan aku diam bisa menunjukan kemarahanku padanya.

" Awan, kita ke pantai. Pemandangannya bagus, kamu pasti suka", kata Kana.

Aku diam saja masih tidak merespon. Pikiranku hanya di penuhi kemarahan, sampai aku melihat pemandangan yang muncul di hadapanku. Pemandangan yang membuat tentram hati dan merendahkan kemarahan.

Saat turun dari mobil aku menatap lautan luas yang terbentang di hadapanku. Warna birunya menentramkan hati dengan pasir putih di pinggirnya yang seolah-olah memanggilku untuk berlari di atasnya. Langit biru terbentang di atas kami dengan cerahnya. Matahari bersinar terang.

Aku melihat ke arah Kana seolah meminta ijin untuk turun ke pasir pinggir pantai. Kana tersenyum lalu mengangguk padaku, aku berjalan cepat dan menginjakkan kakiku di pasir dengan penuh semangat.

Kemarahan yang tadi menguasai hatiku seketika hilang. Aku tidak mampu untuk menahan senyum saat melihat keindahan ini. Kana berjalan mengikuti di belakangku.

" Suka?", Kana bertanya saat di dekatku.

Aku tersenyum senang dan menjawab " Iya, suka banget. Makasih".

***

1
Diana
awan, tentukan pilihanmu sekarang!!🤭
Diana
so sweet😊
Diana
nah kan hawa²nya kisah mereka kayak juan nandes yg ngerebutin embun. tp walaupun akhirnya jodoh berpihak pd nandes tp aku tetap di barisan juan. hidup juan!!✊🤭
Diana
persahabatan awan dan inka mengingatkanku sama embun dan elsa. semoga kisah kasih awan kana tak setragis embun juan.
Diana
kok embun? awan kali, thor. 🤔
Diana
ke gunung apa ke pantai ya? ke gunung sj. ngapain ke pantai kl gak bisa berenang🤭
Diana
🤣🤣🤣jurus ngelawak inka
Diana
semoga konfliknya gak berat. biarlah badanku sj yg berat.🤭
Diana
masih setia dgn awan kana👍
Diana
jd pinisirin
Diana
jamanku dl SMA naik sepeda ontel, anak sekarang sdh main pesawat²an😂
Diana
ini settingnya thn berapa ya? dulu waktu SMA terakhir ada kelas bahasa (A4) alumni 93. entah thn berapa lg ada kelas bahasa.
Diana
ini novel ke 2 yg aku baca setelah merpati kertas yg berhasih membuat hatiku tidak baik² sj. semoga ini tak kalah istimewa👍🙏
ocha falisha
kasian juga tian yak...
nyR
aaaaahhhh so sweet G siiihhh
ocha falisha
kana maunya apa sih thor?
ocha falisha
apa tian memang jodohnya awan? 🤔
CheapShop
semoga ga ada konflik lagi
Ayas Arus
aaahhh bahagianya awan n nyeseknya tian
Evita
Apa cerita ini sdh selesai thor, kok akhirnya ga enak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!