seorang pemuda remaja yang bernama Gilang, dipindahkan dari sekolah lamanya menuju sekolah baru yang berada di Sumatera.
Sumatera itu sendiri adalah tempat kelahiran asal Gilang dan orang tuanya sebelum pada akhirnya mereka pindah ke kota Jakarta.
di sanalah Gilang diuji untuk mendapatkan jati dirinya yang sesungguhnya.
pernyataan bahwa gelang bukan seorang manusia biasa, membuat gelang shock namun tidak membuat gelang depresi.
tugasnya kali ini, selain mencari jati dirinya ialah mengumpulkan semua keturunan terakhir dari inyek leluhur/manusia harimau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuliana.ds, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps6
Di samping sekolah tempat kantin mereka berada.
"Eh kalian dengar nggak sih, ceritanya... Tadi katanya si Gilang ngigo di kelas ya. Masa katanya kita pergi ke bukit kumayan, kan nggak mungkin banget itu kan dilarang banget sama desa."
"Tahu tuh aneh banget sih Gilang,, Jangan-jangan karena itu lagi dia pindah ke sini."
*Ha ha ha*.
Ucap beberapa siswa yang lewat Dan itu pun didengar oleh Tasya.
Dengan ucapan mereka Tasya merasa ada yang aneh, Tasya pun bergegas menghampiri hilang.
"Loh, nggak mungkin pak. Baru aja kemarin kita pergi ke bukit itu. Dan ini tuh nggak masuk akal. Apa kalian mau bilang kalau aku tidur sambil jalan gitu."
"Ha ha ha... Nak Gilang,,, bukit itu udah lama ditutup udah nggak ada yang berani masuk ke bukit itu, konon siapapun yang masuk akan hilang dan tidak kembali."
"Nah nah ini lebih parah lagi.. orang di sana tempatnya bagus kok,"
Mendengar celecehan Gilang yang ngotot mengatakan iya pernah memasuki bukit kumayan, guru pun lantas menanyakan beberapa hal mengenai dan keadaan Gilang saat itu.
"Apa yang kamu lakukan di sana nak.. apa yang kamu lihat di sana."
"Nggak ada sih gue cuman ngelihat Sumur. Ya kata aki-aki itu sih sumurnya itu kalau nggak salah, sumur aliran mata air telaga Dewi. Gitu sih katanya."
Mendengar pernyataan gilang guru-guru sempat terkejut apalagi guru yang telah mengajar lama di SMA 1 kumayan.
"Eh pak tapi ngomong-ngomong kalau boleh tahu ada cerita apa sih di sana."
"Saya tidak berani banyak bercerita mengenai tempat tersebut. Tapi saya punya sedikit kisah mengenai desa kumayan lama. Dulunya tempat itu adalah kampung kumayan yang pertama. Kampung tersebut sering dikait-kaitkan dengan para penunggu hutan larangan."
Akhirnya Gilang memutuskan untuk duduk dan mendengarkan kisah tersebut dari gurunya.
"Konon, kabarnya dulu area hutan larangan ada sebuah perguruan di mana mereka mempelajari ilmu kebatinan tingkat siluman. Mereka pergi menempuh jalan menuju gunung Singgalang berhari-hari, kabarnya siapapun yang bisa mencapai puncak gunung Singgalang dan bertahan dengan persemedianya di sana selama 1 bulan penuh, maka ia akan mendapatkan ilmu harimau yang akan mendarah daging kepadanya. Kalau di zaman itu mereka mengatakannya sebagai inyek."
"Terus apa yang terjadi sama mereka pak,"
Tanya Gilang penasaran atas cerita gurunya tersebut.
"Beberapa dari mereka menjalankan tugas sesuai instruksi yang diberikan oleh guru mereka. Namun perjalanan ke sana bukanlah suatu hal yang main-main, bahkan lebih dari sebagian, dari mereka menghilang secara misterius ada juga yang ditemukan telah meninggal. Yang berhasil hanyalah sepasang murid pria dan wanita."
"Terus yang lainnya gimana,?"
"Ada beberapa dari mereka yang selamat namun cedera berat, entah apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka tidak ada yang bisa menjawabnya. Karena sepasang murid membina sebuah keluarga maka lahirlah inyek-inyek baru hasil didikan mereka menjadi 6 inyek pertama. Setelah itu banyak kejadian-kejadian aneh yang terjadi, seperti bencana alam, bahkan penyerangan terhadap desa yang dilakukan oleh para makhluk dari bukit barisan."
"Nah loh, kok jadi kayak dongeng...?"
Jawab Gilang terhadap semua cerita yang dilontarkan oleh gurunya tersebut. Guru tersebut hanya bisa tersenyummenatap ke arah Gilang.
"Ah udah ah, udah ya pak.. gue tadi ke sini mau nanya.. kenapa ninggalin gue sendirian di hutan itu, kan nggak pulangnya jadi jalan kaki pegal semua nih kaki gue."
"Bapak bersyukur kamu masih selamat nak."
"Bapak apa an sih pak, nggak bakal juga ada yang metong di sono. Ah udah ah makin gak jelas aja. Iya gue mau cabut. Bye bapak guru."
Ucap Gilang sambil melambaikan tangannua dan perlahan meninggalkan gurunya sendiri.
Melihat kelakuan Gilang gurunya itu tersenyum kembali untuk sekelas.
"Apa-apaan sih ah guru itu..., Bikin gue kelihatan jadi kayak tambah stres aja."
Ucap Gilang setelah meninggalkan ruangan tersebut. Namun tidak lama ketika ia telah meninggalkan ruangan tersebut, Tasya datang menghampirinya dan menyapanya.
"Gilang, tiga hari ini kamu ke mana kok nggak masuk sekolah.??"
"Hah tiga hari apanya, kalian kok aneh semua sih."
Mendengar ucapan Gilang Tasya pun mengerikan keningnya.
"Ini ya gue kasih tahu, kemarin itu kita pergi naik bis beramai-rame ke bukit kumayan. Terus tiba-tiba gue tenggelam di sumur nggak ada yang nolongin.tuh. Yakan... Pas gue keluar kalian semua udah nggak, ada udah ninggalin gue semua kalian ya. lo juga ngapain bohongin gue sih. Oh gue tahu kalian ini prank kan ya.yakan..."
Mendengar hal tersebut Tasya semakin mengerutkan jidatnya sambil menggeleng-geleng kepalanya.
"Lang, jalan menuju ke bukit kumayan itu nggak ada, apalagi bisa dimasukin bis. Jalan tersebut hanya bisa dilewati sambil berjalan kaki Karena jalannya terlalu liku dan sempit. Jadi sangat tidak mungkin untuk ada yang bisa masuk ke sana. Emangnya selama kamu di sana kamu ngalamin apa aja?"
Mendengar penjelasan dari Tasya, Gilang semakin yakin bahwa tempat itu ada yang tidak beres. Akhirnya Gilang pun berusaha untuk menutupi apa yang terjadi di sana dan berbohong bahwa ia mungkin tidur sambil berjalan.
"Intinya mungkin gue tidur sambil jalan kali ya, soalnya di rumah gue yang di Jakarta juga gue suka nego, hahaha.."
Jawabnya dengan gugup.
"Ya udah deh yuk gue laper nih lu makan dari tadi, gue mau makan dulu.. Lu mau ikut ke kantin nggak kita makan bareng."
Walau merasa aneh dengan sikap Gilang, Tasya pun tetap mengikutinya untuk pergi mengisi perutnya di kantin sekolah.
Akhirnya mereka pun pergi ke kantin sekolah secara bersamaan dan memesan makanan untuk sarapan mereka.
"Biik,,, kira-kira di sana Gilang apa kabar ya, udah nggak pernah ngabarin lagi.. nggak pernah telepon-telepon lagi.. apa beneran nggak kangen apa sama mamanya."
Ujar ibu Gilang kepada bi cah yang berada di sampingnya sembari mengikuti kaki ibu Gilang.
"Nggak tahu nyonya, aden mah memang suka gitu nyonya, nggak ingat kalau keluarga di rumah itu kangen gitu kan.. Apa saya telepon aja ya nyony, Kangen juga sama suaranya si Aden mah."
"Ih jangan dong bi. bibi itu gimana sih,,! Pan Gilang jam segini masih sekolah bi,, kalau kita ganggu dia nanti nggak fokus lagi sekolahnya si Gilang."
"Oh iya bener nyonya, terus gimana dong??"
"Gimana ya yang enaknya,, oh kalau nggak gini aja deh bi.. bibi pesan tiket, kita liburan ke Bali, gimana kayaknya seru tuh kan..!?"
"Wah serius nyonya, ngajakin aku kita liburan ke Bali...beneran..??"
"Iyelah bi beneran, pan katenya bosen tadi.. Jadi kita healing ke Bali. Pesan tiketnya, sekaligus hotelnya yang di dekat pantai."
"Hehehe,, aman nyonya,, semua akan beres dalam sekejap."
Ucap bik jah Dengan ber semangatnya.