NovelToon NovelToon
Asphyxia

Asphyxia

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Misteri / Sci-Fi / Fantasi Wanita / Balas Dendam / Dunia Masa Depan / Chicklit / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.9
Nama Author: xrubberbandx

“Baiklah, kita akan mengambil jalan masing-masing. Aku akan melepaskanmu kali ini. Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan membunuhmu.”

“Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan menyelamatkanmu."


genres:
DARK FANTASY • DARK ROMANCE • SCI-FI • ACTION • MYSTERY

tropes:
ENEMIES TO LOVERS • STRONG FEMALE LEAD • SECRET INDENTITY • FORCED PROXIMITY • REVENGE


[ SINOPSIS ]
Rozeale harus kembali ke tanah kelahirannya yang sudah lama ia tinggalkan, yakni Aplistia, sebuah kerajaan masa depan di abad ke-22 yang kental dengan budaya leluhurnya, bangsa Yunani. Selain untuk mengklaim kembali takhtanya, ia menyimpan maksud tersembunyi yang berbahaya. Bangsawan yang tidak becus baginya tak lebih dari sekadar sampah. Dan, daripada mendaur ulang sampah, ia lebih suka "membakarnya". Namun, akankah apinya tetap membara, di saat hatinya dipertaruhkan?

"We get dirty so the world stays clean."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xrubberbandx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Academy

"Kau hanya perlu menandatangani ini, tidak sulit! Ayolah!" Zeze menyodorkan selembar map di atas sebuah meja makan panjang kepada seseorang pemuda berseragam koki yang duduk berhadapan dengannya.

Pantang menyerah, map itu ia dorong terus hingga menekan-nekan sisi tangan sang Koki yang bertengger manis di meja. Namun lelaki itu itu sama sekali tidak menunjukkan gelagat bahwa ia terusik. Sebatang rokok dia nyalakan, mengabaikan kenyataan bahwa seseorang, lebih dari itu, tuan putri, tengah memohon padanya.

Koki itu mendengus, "Mengapa kau tidak memakai marga aslimu saja? Tidakkah kau tahu ini sangat merepotkan? Selisih kita hanya sembilan tahun, siapa yang akan percaya kalau kau adalah putriku?"

Alis Zeze bertaut saat ia balik mendebat, "Kau bukanlah seorang selebriti, jadi jangan berlagak seakan semua orang mengenalmu!"

"Dan sekarang kau menghina orang yang kau mintai tolong," Koki itu mencibir.

Zeze kembali merengek, "Kumohon, jadilah waliku! Aku sangat ingin pergi ke sekolah. Aku memilihmu karena kau terikat langsung dengan istana. Tidak semua orang bisa diterima di sana."

"Aku dibayar di sini untuk memasak makanan, bukan menjadi aktor," cibir sang Koki sembari mengembuskan asap rokoknya.

Hidung Zeze mengernyit, baru sadar, "Tidak ada rokok di dalam istana, Dave," Sebuah desisan mengikuti peringatannya.

Dave bertatapan dengannya sesaat sebelum menekan puntung rokoknya ke asbak terdekat.

"Kumohon?" Zeze mengedit suaranya agar terdengar lembut sambil menyatukan kedua telapak tangan setinggi wajah.

Dave mendengus pasrah. Diraihnya map pendaftaran itu, sampulnya ia cermati di depan muka, merasa aneh pada gagasan bahwa ia akan berperan sebagai ayah dari seseorang yang sama sekali tidak mirip dengannya. Meski begitu pada akhirnya map itu ia buka, dan Zeze tak bisa menahan senyum saat melihatnya.

"Jadi, mengapa kau menolak menggunakan identitas aslimu?" Tanya Dave tanpa menatapnya.

"Itu... ada hal yang ingin sekali aku lakukan."

"Dan kau merasa tidak akan bisa bebas melakukan hal tersebut jika kau menggunakan identitas aslimu?"

"Entahlah. Kurasa aku hanya membuat alasan. Sebagai siapa aku tidak sepenting itu untukku asalkan aku bisa menghabiskan sisa waktuku dengan seseorang yang sudah lama tidak kutemui. Aku telah melewatkan banyak hal. Aku tidak mau menyesal untuk kedua kalinya. Selagi ada kesempatan... mengapa tidak dipergunakan? Benar, kan?"

Dave mendengus geli, "Kau terdengar seperti kau akan mati besok. Ternyata kau orang yang cukup dramatis."

Tidak mendengar komentar Dave, Zeze merenung saat wajah "dia" melintas di kepalanya. Mengumumkan eksistensiku di hadapan orang-orang merepotkan itu bisa belakangan. Ace juga tidak melarangku melakukan ini, bukan? Bukankah memang sudah seharusnya keturunan kerajaan seusiaku bersekolah? Lagipula Juni dan yang lainnya juga masih belum kembali, "Cih, mentang-mentang habis menyelesaikan misi, mereka lupa waktu dan asyik liburan berminggu-minggu," gerutunya pelan, "Mereka tidak bisa menyalahkanku jika aku juga bersenang-senang di sini!"

"Apa?"

Bunyi goresan pena dan pertanyaan bernada bingung menampar Zeze kembali ke realita. Zeze bertepuk tangan begitu menyadari Dave sedang menandatangani mapnya.

"Dari mana kau belajar memalsukan dokumen? Ini kelihatan seperti asli," Dave mengagumi tampilan kertas-kertas di dalam map. "Ini benar-benar sidik jarimu?"

"Well," Zeze menggaruk tengkuknya sambil mengalihkan pandangan, "Singkatnya, aku punya seorang teman yang ahli dalam mengurus hal-hal semacam ini." Ia kemudian mengeluarkan plastik obat dari sakunya, hanya saja itu tidak berisi obat-obatan, melainkan sepuluh potong silikon super tipis berwarna kulit yang hanya muat di pasangkan di ujung masing-masing jari tangan.

Binar di mata Dave menunjukkan bahwa ia sungguh terkesan.

"Ngomong-ngomong, aku berhutang satu hal padamu, Dave."

Dave bangkit dari duduknya, "Tentu saja. Aku minta gajiku ditambah, Yang Mulia."

Pemuda itu membungkuk dengan gerakan dilebih-lebihkan sehingga sukses menciptakan ekspresi jijik di wajah Zeze. Karena pada kenyataannya di antara para penghuni istana, hanya Dave-lah yang akrab dengannya dan berani bersikap selayaknya seorang teman. Ada alasan tertentu di balik itu.

Puas dengan akting anehnya, Dave terbahak dan berlalu pergi. Suara tawanya perlahan memudar ditelan jarak. Sementara Zeze meraih map di seberangnya dan membacanya sekilas. Rozeale Finn. Yup, itulah nama barunya untuk sementara.

°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•

Figur ramping seorang siswi dalam hoodie dan rok godet hitam selutut mengayunkan kaki jenjangnya melewati gerbang Akademi Kemiliteran Exousia. Ketiga gedungnya membentuk huruf U dengan pancuran air tersemat di tengah halaman depan. Setengah kilo meter dari gedung utama akademi, tepat di atas tanah yang empat meter lebih tinggi, berdiri menara kembar sebagai asrama untuk pelajar. Di sejumlah lokasi terpajang patung Ares, Sang Dewa Perang, sebagai titik singgah para burung gereja.

Koridor lantai satu adalah karpet merahnya. Dengan headphone di telinga, kedua tangan terkubur dalam saku hoodie, siswi itu melenggang bak model runway. Tudungnya tidak terpasang sehingga mengekspos paras eloknya yang mampu mematahkan langkah siapa pun. Rambutnya adalah untaian benang perak yang terwujud dari cahaya bulan, berayun seirama dengan langkah mantapnya. Sejumlah orang yang semula berlalu-lalang, mulai berbaris secara estafet di kedua sisi koridor, seakan-akan langkah mereka terbelah oleh kehadirannya.

Rozeale Finn, seorang putri dari juru masak istana, mulai membuka bungkus permen karet yang diambilnya dari saku rok. Belok kanan, mata safirnya secara tak sengaja menangkap visual tujuh manusia yang tinggal satu atap dengannya, mereka sedang bersantai di kursi yang mengitari sebuah meja makan panjang kantin outdoor. Enam dari mereka memberikan reaksi yang diharapkan; terkejut sewaktu menemukan sosoknya di sekolah mereka. Sementara Sang Pangeran adalah permukaan danau di musim dingin, tenang tak terusik di bawah es yang membeku.

Tak ada makhluk lain dalam jarak tiga meter di sekitar ketujuh orang itu. Semuanya menyingkir dan membiarkan mereka bersinar sebagai objek pemujaan. Di sejumlah titik, pengawal berkacamata dan berpakaian serba hitam memantau dalam jarak aman. Berkat kemampuan observasi yang diasahnya sejak kecil, Zeze mampu menandai jumlah dan titik jaga mereka dalam sekali sapuan mata.

Matanya menemukan Airo dan Saga, Zeze menyempatkan diri tersenyum di sela aktivtas mengunyah permen, sebelum berbelok ke kiri untuk menaiki eskalator.

"Dia..." Luna mulai membuka pertanyaan, tapi Kion langsung memotongnya dengan satu kalimat telak, "Tidak ada satu pun dari kalian yang boleh mengajaknya bicara."

Ucapan Kion tentunya adalah titah bagi mereka, sehingga tidak ada yang berani membantah.

Berdasarkan umur, Zeze dijadwalkan menghadiri kelas Tahun Kedua, oleh karena itu kakinya keluar dari eskalator ketika ia mencapai lantai empat.

Sebelumnya ia telah mempelajari denah gedung, sehingga tidak sulit baginya untuk menemukan ruang kelasnya. Langkahnya surut di ambang pintu kelas. Mengejutkan, interiornya ternyata jauh lebih minimalis dan modern dibanding eksterior gedung. Mata birunya berkeliling, memindai bangku kosong, mengabaikan tumpukkan perhatian yang tengah menggelayuti punggungnya.

Ketemu. Pojok, paling belakang, dekat jendela.

Zeze melewati ambang pintu. Beruntung baginya karena bangku di sebelahnya juga kosong. Begitu menempati meja yang merapat pada jendela, ia langsung berurusan dengan ponselnya, cara yang efektif untuk mengenyahkan perasaan tidak nyaman yang disebabkan oleh yang perhatian menumpuk.

Beberapa menit kemudian, ia merasakan para murid yang semula terpencar mulai menghuni bangku mereka masing-masing. Tak lama berselang, masuklah seorang wanita berkemeja putih dipadu rok mini hitam, yang Zeze yakini adalah wali kelasnya.

Setelah basa-basi pembuka, guru itu melesatkan matanya ke ujung-pojok kelas. "Hari ini kita kedatangan murid baru." Ia memberi tanda agar Zeze maju ke depan. "Nona ini adalah murid baru pertama kita di semester ini..." Sang guru melirik Zeze yang telah berdiri di sisinya.

"Rozeale Finn," Zeze melanjutkan ucapan guru itu, tersenyum, senyum paling manipulatif, paling licik, yang pernah disaksikan dunia. Tapi, toh, orang-orang di hadapannya tetap menahan napas ketika melihatnya. Mereka jelas sekali terpana.

Norak, Zeze memutar bola matanya.

Benaknya mulai berkicau, mengharapkan agar acara perkenalan cepat tuntas, dan beruntung harapan itu terkabul. Sang guru mempersilakannya duduk setelah menyadari ketidaksabarannya.

Usai kembali ke bangkunya, pandangan Zeze berkeliling untuk pertama kali. Mata birunya adalah mesin penghakiman, menilai penampilan teman-teman sekelasnya. Semua mengenakan setelan pakaian yang sama dengannya; kemeja cokelat saddle berbahan rapilo dan rok godet hitam selutut—pakaian yang mengingatkan Zeze dengan seragam pramuka—dengan lencana bermacam-macam simbol yang dijahit di lengan atas, dada kiri-kanan, dan ujung kerah. Dinilai dari merek di perabotan mereka, tak perlu diragukan bahwa latar belakang teman-teman sekelasnya itu bukan dari kalangan biasa, sejalan dengan hasil riset yang ia lakukan beberapa waktu lalu terhadap akademi yang akan menjadi tempatnya menuntut ilmu.

Salah satu hasil risetnya menemukan bahwa Exousia adalah bagian dari tiga institusi pendidikan terbaik di Aplistia yang secara eksklusif dibangun untuk para penduduk berkasta tinggi; anggota keluarga kerajaan, bangsawan, dan konglomerat. Selain melatih kemampuan penalaran, Akademi Exousia juga memfasilitasi pengembangan kemampuan pertolongan pertama, bela diri, dan bersenjata partisipannya. Singkatnya adalah sebuah sekolah dengan sistem kemiliteran yang sudah dimodifikasi menyesuaikan zaman. Sehingga metode pengajaran menggunakan hukuman fisik dan suara lantang tidak akan ditemukan di sana.

Guru sudah memulai pelajaran jam pertama, Zeze memilih untuk tidak mendengarkan. Ia menopang dagu dan melempar pandangan ke luar jendela. Setelah berhari-hari berkutat di dalam sangkar dengan hanya game sebagai hiburan, ditemani Saga dan Airo, akhirnya ia berhasil mencicipi lingkungan baru yang dinamakan ‘sekolah’.

Pikirannya mulai berkelana. Apakah ia dapat bertemu dengannya hari ini? Sekedar melihatnya pun ia sudah puas.

Senyum merekah di bibir saat matanya ia pejamkan. Itu benar, tidak perlu terburu-buru. Waktu berpihak padanya kali ini. Untuk sekarang, ia hanya akan menikmati masa remaja yang sering digemborkan orang-orang sebagai 'masa terindah dalam hidup'.

Zeze terkekeh tanpa suara. Indah? Ia membuka matanya.

Tidak buruk.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Masih belum tampak pertanda Zeze akan menemukan apa yang dicarinya. Padahal sudah dua hari ia mengorbankan jam istirahatnya untuk berkeliling sekolah dan menguras tenaga dengan menggunakan kemampuannya pada saat upacara baris berbaris kemiliteran di lapangan.

Malu bertanya, sesat di jalan, Zeze paham itu. Tapi ia selalu menghindari kemungkinan berinteraksi dengan orang asing sebelum kedatangan teman-teman satu timnya yang lebih mengerti situasi. Maka ia memutuskan untuk memasuki kelas bertepatan dengan bunyi bel masuk, sehingga sifat sombong dan arogan mulai diucapkan bersama namanya.

Mereka, terutama para siswi, mencibir Zeze di belakang punggungnya. Bibir mereka sangat mahir membahas hal-hal negatif tentangnya, entah itu fakta maupun karangan. Paling parah adalah gosip tentang bagaimana Zeze menggoda murid laki-laki dan hal buruk lain yang sama sekali tidak pernah ia lakukan.

Di kelas, Zeze lebih sering melamun dan melihat ke luar jendela, menikmati pemandangan kebun mawar yang terhampar di bawah jendela. Angin musim gugur datang dan membuatnya terbuai.

Matanya terbungkus, menikmati belaian angin pada setiap inci kulit wajahnya, ketika nama palsunya yang keluar dari mulut seorang wanita mematahkan kontaknya dengan sang angin.

Pandangan Zeze tersedot ke depan kelas.

"Bisakah Miss Finn menyelesaikan soal di papan tulis?" sang Guru bertanya, tepatnya memerintah. Wanita itu pasti menangkap basah Zeze yang sedang memejamkan mata.

Oh, celaka, Zeze menelan ludah, mukanya mendadak kaku. Aku sama sekali tidak pernah memperhatikan pelajaran apa pun di kelas ini. Bahkan materi apa yang baru saja disampaikan oleh guru itu pun aku tak tahu.

Zeze bertopang dagu selama beberapa detik, meratapi nasib, sebelum bangkit dan berjalan ke depan kelas ditemani banyak tatapan. Langkahnya surut di hadapan guru dan telinganya menangkap kikikan dua orang siswi di meja barisan terdepan. Diliriknya mereka melalui bahu; kedua gadis itu seketika merinding tanpa tahu apa penyebabnya, seolah ada pisau yang menodong di leher mereka.

Sang guru memberikan kapur elektrik kepada Zeze lalu bersedekap. Mata hitamnya adalah paku yang menancap pada seorang gadis yang melongo begitu dihadapkan dengan sebaris soal di papan tulis. Jika tidak mengingat fakta bahwa dia adalah murid baru, detensi pasti akan menjadi pilihan terbaik. Peraturan bahwa tidak ada yang boleh tidur di kelasnya adalah hal yang mutlak.

Di lain sisi, Zeze yang masih tercengang pada angka-angka rumit di hadapannya, membatin,Yang benar saja? Apakah wanita itu bercanda? Aku harus menyelesaikan ini?

Usai berdiri selama satu menit, akhirnya Zeze diperbolehkan menyentuh bangkunya kembali. Ia menopang dagu, menikmati ekspresi sang ibu guru yang menganga ketika dihadapkan dengan papan tulis yang telah padat oleh angka-angka.

Bola mata wanita itu adalah roller coaster, bergerak naik-turun di sepanjang papan tulis. Usai mencapai angka terakhir, matanya langsung melesat ke ujung kelas, kepada Zeze yang langsung membuang mukanya ke arah jendela.

Sulit dipercaya. Soal yang rencananya akan ia gunakan sebagai sample untuk memulai materi baru, telah terpecahkan dalam waktu super singkat. Ia tahu Zeze tidak mendengarkan pengajarannya sama sekali, dan bahkan mendapatinya sedang memejamkan mata setelah diberitahu oleh siswi di barisan terdepan, di saat dirinya tengah memunggungi seisi kelas untuk mengukir soal tersebut. Itu sebabnya ia bermaksud mengerjainya dengan memberinya soal dari materi yang bahkan belum pernah dipelajari sebagai bentuk keringanan daripada memberikan detensi.

Di ujung sana, Zeze yang menyadari tatapan guru itu hanya mendengus. Terlalu mudah hingga membuatku kaget tak terkira ketika pertama kali melihatnya.

Soal itu memberinya petunjuk tentang sistem kurikulum yang diberikan kepada anak-anak seusianya. Ekspektasinya yang tinggi terhadap sekolah yang katanya ‘terbaik’ langsung runtuh. Lebih dari itu, ia merasakan ketidakadilan!

Ini tidak sebanding dengan apa yang telah ibuku berikan kepadaku! Aku bahkan sudah menguasai itu di umur tujuh tahun.

Guru itu sepertinya telah lanjut mengajar. Zeze menjulurkan leher, mengintip murid yang duduk di depannya. Meja di bawah sikunya adalah tablet berukuran jumbo. Satu lembar di aplikasi khusus mencatat hampir penuh oleh goresan tinta artifisial; Zeze yakin itu adalah jawaban dari soal di papan tulis.

Mata birunya beralih ke meja berlapis kaca di bawah sikunya sendiri. Masih berbentuk meja. Tak sulit untuk mencari tombol on/off; cahaya merah berkedip-kedip di ujung sebelah kiri meja. Berbagai macam tools langsung menjajah layar ketika ia menekan tombol itu. Zeze mendengus saat meraih stylus pen, dan langsung mau menyerah di baris pertama.

"Kertas asli masih jauh lebih baik."

Saat memasuki lembar kedua, punggung tangannya sontak digigit oleh sesuatu yang menyebabkan benda silinder itu meluncur dari sela jarinya.

“Apa salahku padamu?” Sekolah pasti sudah membuatnya gila sampai terpikir olehnya untuk mengajak seekor semut merah berbicara. Ia meniupnya dan bergegas mencari stylus pen yang hilang. Tapi ia tak dapat menemukannya di atas meja.

Kemudian ia mengecek ke bawah meja kosong di sisi kanannya. Ketemu. Ia membungkuk guna meraihnya. Saat hendak menegakkan tubuh, tak sengaja matanya menangkap pemandangan aneh di kolong meja tersebut.

Terdapat tumpukan buku. Aneh, bukankah bangku di sebelahnya itu kosong? Zeze mengambil salah satu buku. Sampul depannya telah ditimpa coretan berisi kata-kata makian. Di antaranya menyuruh untuk mati, angkat kaki, kata-kata ancaman, bahkan nama-nama binatang. Bahkan ia baru menyadari bahwa kaca yang melapisi meja di sampingnya itu juga menyuguhkan kata-kata tidak senonoh yang digores menggunakan spidol permanen.

Alisnya bertaut membaca semua itu. Sangat tidak sinkron dengan reputasi Exousia yang terkenal dengan murid-muridnya yang berasal dari keluarga terpandang.

Pendidikan tata krama seharusnya sudah menjadi santapan sehari-hari mereka. Apakah ada informasi yang aku lewatkan tentang tempat ini?

Zeze mencoba berpikir positif. Kemungkinan buku itu adalah buku bekas yang dibuang di meja pojok, meja terbuang, wadah melepas sisi terburuk manusia. Remaja manusia.

Well, aku tidak bisa menyalahkan mereka. Biar bagaimana pun mereka juga manusia, wajar bila membutuhkan pelampiasan. Tapi, mengapa buku dan meja ini masih dibiarkan oleh petugas kebersihan? Ah, sudahlah.

Zeze memutuskan membenamkan kembali buku itu ke tempatnya semula dan lanjut menulis.

1
Nu razizah
bener Thor nyari nyari ternyata gk ada lanjutannya
Chronos
lah tamat cuman sampai sini kah? gak ada lanjutannya gitu? gimana keadaan Rhea sama Norofi 😭
Chronos
Imphy?
Chronos
ada Indonesia coy
Chronos
oh jadi piper pied of hamelin itu mereferensikan organisasinya ya (nyulik anak-anak)?
Chronos
ada Indonesia coy
Azera
kapan update lagi kak lin, aku udah kangen banget sama zeze😭 udah berkali-kali aku lupa alur dan baca dari awal tapi belum ada updatenya lagi🥺
jeji hoha
kak kok gaada lanjutan,ini ceritanya masi gantung bgt. pliss lanjut
Nia Indawasih
kak lin ini novel dr tahun kapan si seingetku dr anakku belum ada sampe udah mau 5thn, dr pasang copot app nya 😂😂 gak kelar2
jeji hoha
thor,,,, ga update
di 2025 aku masih nunggin, lanjut update ya aku tunggu kak lin
Amethys: Samaaa, udh lumutan nih aku
total 1 replies
penyuka novel <3 :D
kak knapa g d lanjut bkin karya lain knp dri dlu cuma ada aspyxia ini?!
aku smpe nyari ksna kmari aspyxia krna udh lma g buka noveltoon dan kangn pngen baca kirain udh nmbah krya yang lain ny...syang bangt/Cry//Cry//Cry/
oceanad.
authornya suka bts kah?
Naturelight
kyaknya byk othor yg kcewa dg platform ini y
Nana Bee: betul
total 1 replies
Naturelight
1st love always fail in real life😟
Naturelight
pnsaran, Lin udh baca seri Red Queen blum y
Naturelight: iy, ad 4 buku, othorny Victoria Aveyard
total 4 replies
Alvia Maharani
thor.. uda setahun, ga mau update?
Alvia Maharani: lin, belum mau ada update??
total 3 replies
Naturelight
luv this story so much
brasa bca novel trjemahan
Naturelight
ap motif Glen?🤔
Naturelight
kyakny bkal ska ma ni crita, dh lama nyari² fanfic yg detail. smoga aj gk brenti d tengah jln
kika
bgus bgt thor karyanya...semangat thor...tpi jgn sampe lulus kuliah bru lanjut lagi update nya ya thor... wkwk...
L I N: makasih udah dukung kak 😺💕
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!