Alika adalah seorang anak perempuan yg sangat tangguh dan kuat.. Alika seorang anak hasil perkosaan dari sepupuan satu keluarga.. Ibunda alika adalah seorang wanita cantik bunga desa yang disukai oleh banyak pria.. Hanya saja nasib malang menimpanya saat malam disaat semuanya sedang pergi ke acara undangan pernikahan dirumah hanya tinggal seorang wanita dan pria berdua saja.. Ibunda alika bernama Ema Sodara sepupu Ema bernama Zhali Zhali sangat menyukai ema dari dulu.. Karena meraka hanya berdua saja dirumah zhali punya fikiran ingin memiliki ema.. Akhirnya malam yang cekam itupun membuat zhali khilaf telah memperkosa ema.. Setelah beberapa bulan perut ema semakin membesar tanpa dirinya sadari karna ema wanita yang sangat polos dan lugu hingga dia tidak tau dirinya sedang berbadan dua..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALIKA DI PHK
Kehidupan Alika semakin bebas. Namun nasihat dari kakek, nenek, dan Ema selalu ia ingat lalu terapkan dalam kesehariannya. Sudah satu tahun Alika bekerja di pabrik catering. Namun karena Ramadan tinggal satu bulan lagi, semua usaha catering pasti mengalami penurunan penjualan. Saat pengumuman perampingan karyawan, ternyata nama Alika termasuk dalam daftar.
Alika merasa sedih sekaligus bahagia. Ia sedih karena dirinya tidak bekerja lagi dan harus berpisah dengan teman-temannya. Namun ia juga bahagia karena tabungan kerjanya sudah mencapai satu juta lima ratus ribu. Alika sangat gembira—ia sudah membayangkan apa saja yang akan ia beli nanti. Alika memang jarang terbuka, apalagi curhat pada keluarganya. Semua ia pendam sendiri, termasuk soal tabungannya.
Setelah mengambil uang tabungannya, Alika juga mendapat pesangon lima ratus ribu dari pabrik. Kini jumlah uangnya dua juta rupiah. Ia pulang dengan perasaan sangat senang. Alika ingin sekali bekerja lagi; ia sudah tidak ingin terus berada di rumah karena yang sering ia terima hanyalah omelan.
Setelah pulang dari pabrik pukul lima sore, Alika mandi dan berganti pakaian. Ia terlihat sangat cantik dengan penampilannya. Ia juga mulai paham memakai parfum. Dengan wangi tubuhnya, Alika berjalan menuju rumah Eka, temannya, di gang sebelah. Alika berpamitan pada kakeknya, dan kakek pun mengizinkan dengan syarat pukul sembilan malam sudah harus pulang. Alika lalu mengayuh sepedanya ke rumah Eka.
“Ekaa! Ekaaa!” panggil Alika dari depan rumah.
“Ya, sebentar! Siapa ya?” teriak Eka dari dalam.
Tak lama, Eka keluar. Melihat Alika datang, ia langsung memeluk sahabatnya itu dengan bahagia. Eka sangat riang karena sejak Alika bekerja, mereka jarang bertemu. Ia merasa kesepian tanpa Alika. Usia mereka sama—16 tahun—hanya status mereka yang berbeda: Alika sudah bekerja, Eka masih kelas 3 SMA.
Alika pun mengajak Eka makan bakso di luar karena ia sedang punya banyak uang. Ia tidak pernah melupakan sahabatnya itu—hanya Eka yang selalu ada saat Alika sedih atau kecewa. Eka girang mendengarnya dan mereka pun bersepeda menuju warung bakso.
“Mau pesan apa?” tanya pelayan saat mereka sampai.
“Aku bakso pakai mie bihun, tauge, dan sayuran satu. Kamu apa, Eka?” ucap Alika.
“Aku sama kayak kamu. Selera kita kan sama, hahaha!” jawab Eka ceplas-ceplos.
“Minumnya?” tanya pelayan lagi.
“Aku es jeruk tanpa gula. Kamu apa, Eka?”
“Aku es teh manis saja. Soalnya hidupku sudah lama nggak manis! Hahaha!”
Keduanya tertawa. Tak lama pesanan datang, dan mereka makan sambil bercanda. Setelah selesai, Alika membayar lalu mengajak Eka jalan-jalan ke alun-alun kota. Mereka menonton topeng monyet, melihat pameran, dan berkeliling. Alika sangat bahagia. Selama setahun bekerja, inilah rasa kebebasan yang ia impikan. Tapi kebebasan itu tidak membuatnya kebablasan. Alika tetap lugu dan polos. Eka sudah memiliki kekasih, tetapi Alika tidak merasa iri. Ia tidak terlalu memikirkan soal lelaki—baginya, merasakan kebebasan saja sudah membuatnya bahagia.
Semakin hari, Naswa dan Nindia semakin iri melihat Kakaknya yang bisa bebas keluar rumah. Penampilan Alika pun semakin menarik. Saat berjalan di alun-alun, Alika curhat pada Eka.
“Eka, aku ingin mencari pekerjaan lagi… tapi enaknya di mana ya? Sebelum uangku habis,” ucap Alika sambil menyusuri taman.
“Aku nggak tahu, La. Aku kan masih sekolah, belum ngerti soal pekerjaan,” jawab Eka jujur.
“Aku kepikiran mau bekerja di luar kota. Kayaknya menyenangkan,” ucap Alika sambil duduk di taman.
“Emang mamamu bakal izinin kamu kerja luar kota? Aku rasa nggak, apalagi kamu sendirian,” jawab Eka.
“Iya sih… tapi aku pengen mencari pengalaman biar bisa bahagiain diriku sendiri,” ujar Alika sedih.
“Sudahlah, kubur aja keinginanmu merantau. Cari kerja di sini saja. Nanti aku kesepian tanpa kamu,” ucap Eka.
“Aah, kamu bikin aku sedih,” ujar Alika lalu memeluk Eka erat.
Setelah puas bermain dan tertawa, mereka memutuskan untuk pulang. Dua lelaki yang melihat mereka sempat mengikutinya dari belakang karena tertarik ingin berkenalan. Namun niat itu batal saat Alika hampir sampai rumah. Meski begitu, mereka sudah tahu rumah kedua gadis itu.
Pukul sembilan kurang sedikit, Alika tiba di rumah.
“Assalamualaikum,” ucapnya sambil mendorong sepeda masuk.
“Waalaikumsalam. Dari mana, Alika?” tanya Ema yang menunggu di luar.
“Habis main ke rumah Eka, Mah. Aku udah izin sama Kakek. Memangnya Kakek nggak bilang? Tadi Mama lagi mandi soalnya,” jelas Alika.
“Oh ya sudah. Kamu sudah makan? Kalau belum, beli mie instan di warung ya. Lauk habis,” ucap Ema.
“Alika sudah makan sama Eka, Mah,” jawabnya.
“Ya sudah, istirahat sana. Sudah malam.”
“Mah, Kakek di mana?”
“Kakek di garasi jaga Playstation. Memangnya kenapa?”
“Nggak apa-apa… Alika kangen sama Kakek. Aku ke sana dulu, ya.”
Ema mengangguk.
Alika berjalan riang menuju garasi. Banyak pria yang sedang bermain game langsung menatap Alika, terkejut melihat kecantikannya. Alika memeluk Kakeknya dari belakang.
“Kakeeek…”
Kakek terkejut. Apalagi Alika menciumi pipinya bertubi-tubi.
“Alika, kamu kenapa? Ceria sekali,” ucap Kakek.
“Alika lagi bahagia, Kek. Sana istirahat, biar Alika yang jaga game,” ucapnya antusias.
“Husst! Banyak laki-laki di sini. Sana pulang!” tegas kakek yang tidak nyaman dengan tatapan pria-pria itu.
“Ya sudah… boleh nggak besok pagi Alika yang jaga game?”
“Kamu anak perempuan. Kakek nggak suka kamu berinteraksi sama laki-laki begini. Kamu kenapa ngotot sekali?”
“Alika sudah nggak kerja, Kek. Alika kena perampingan. Jadi Alika bosan kalau nggak punya kegiatan. Alika cuma mau bantu Kakek…”
Kakek menghela napas.
“Nanti Kakek pikirkan. Pulang sana, malam sudah larut.”
“Baik, Kakek. Muach! Good night!”
Kakek hanya geleng-geleng melihat polah cucunya.
---
Keesokan harinya, setelah bermusyawarah dengan Tholib, Kakek memanggil Alika.
“Alikaa! Sini, Kakek mau bicara.”
Alika duduk dengan patuh.
“Kamu boleh jaga game, tapi ada syaratnya,” ucap Kakek.
“Syarat apa?”
“Kamu harus berpakaian sopan. Celana longgar, baju longgar. Biar tidak ada yang menggodamu.”
“Ooh, paham, Kek!”
“Kamu jaga dari jam tujuh pagi sampai Kakek selesai salat Asar. Setelah itu pulang.”
“Siap, Kek!”
Besoknya, Alika membuka game. Benar yang dikhawatirkan Kakek—game semakin ramai karena mereka ingin melihat Alika. Kakek dan Tholib mengawasi dari jauh. Hari itu dibiarkan, tapi sore harinya, Tholib memanggil Alika dan menasihatinya dengan lembut agar tidak lagi menjaga game.
Alika pun patuh. Hanya Tholib yang selalu menasihati tanpa membuatnya sakit hati.
---
Keesokan hari, Alika pergi mencari kerja. Ia berjalan ke sana ke mari, namun nihil. Ia tidak punya ijazah. Kekecewaan menyelimuti hatinya. Alika pergi ke pantai untuk menenangkan diri. Di sana, ia memikirkan segalanya… dan akhirnya ia mantap ingin merantau. Tapi bagaimana caranya meminta izin?
Saat pulang, ia mencoba lagi pada Ema.
“Mah… Alika ingin bekerja di luar kota. Boleh, Mah?”
Ema langsung menolak tegas. Alika makin kecewa.
Ia mencoba pada kakek dan neneknya.
Namun jawaban mereka sama.
Kakek bahkan menertawakannya karena polosnya Alika, yang masih saja percaya bahwa berciuman bisa membuat hamil.
Akhirnya, Alika memikirkan satu cara lain.
Ia ingin kabur.
Tapi bagaimana?
Game tidak pernah tutup sampai subuh. Paman Tholib pasti melihatnya.
Namun ini Alika.
Ia selalu punya akal.
---
BERSAMBUNG
---
Bagaimana…?
Apakah Alika benar-benar akan kabur?
Atau justru ketahuan dan mendapat hukuman…?
...****************...
Bonus Casual ALIKA sudah REMAJA
ALIKA