NovelToon NovelToon
Bereinkarnasi Sebagai Penjahat Sampingan

Bereinkarnasi Sebagai Penjahat Sampingan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Reinkarnasi / Barat
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: J

Cerita Generik tentang reinkarnasi di dunia lain dengan gimik sistem ala-ala game.
.
Arga mati tertabrak truck (standar awalan kisah isekai) kemudian berienkarnasi di dunia yang serupa dengan game favoritnya, sebagai Argeas Danae, seorang Penjahat Sampingan, yang akhirnya akan mati di tangan tokoh jagoan.
.
Ikuti kisah Arga/Argeas dalam upayanya menghindari kematian menggunakan pengetahuan tentang seluk beluk dari game favoritnya tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjodohan

"Ku dengar kau melakukan duel dengan putra keluarga Garland, Ar?" tanya ayah Argeas saat mereka sudah berada di meja makan sehari setelahnya.

"Benar, Yah." Argeas menjawab setengah hati.

"Raynold yang membujuknya untuk menerima tantangan itu." Regina menyahut membantu Argeas menjelaskan.

Regina dan Raynold memang masih berada di kediaman Danae karena baru akan kembali ke akademi besok paginya.

"Tapi setimpal, kan? Melihat penerus keluarga Garland yang arogan itu langsung terkapar tak berdaya kurang dari 3 detik melawan Ar." Raynold terkikih pelan. Terlihat rasa puas pada wajahnya.

"Belum lagi melihat reaksi murid-murid penyihir tahun terakhir yang merasa paling berpengalaman dalam bertarung itu tidak dapat berbicara apa-apa melihat kempuan Ar," lanjutnya lagi dengan tatapan meremehkan ke arah Regina.

'Apa kelakuan kak Raynold ini karena dampak dari kelas Penyihir dan kelas Kesatria yang kabarnya selalu bersaing itu?' pikir Argeas saat melihat kelakuan Raynold yang seolah antipati dengan murid penyihir akademi.

Sedang Regina sendiri tidak terlalu acuh menanggapi ucapan Raynold barusan.

"Kau mengalahkan murid penyihir tahun ketiga kurang dari 3 detik, Ar?" Maximus mengeleng pelan. Seolah tidak tahu lagi akan sampai sebesar apa kekuatan sihir Argeas.

Sedangkan Argeas hanya tersenyum canggung. Ia kelepasan saat melawan pemuda itu.

"Tiga Magic Spell secara beruntun tanpa jedah dalam sekali serang." Raynold kembali berucap. "Menilai reaksi dari teman-teman kakak, pasti itu hal yang tidak mungkin mereka lakukan," lanjutnya masih mencoba untuk menyerang teman-teman Regina.

"Itu mungkin saja bila mereka sudah memiliki level yang cukup tinggi," balas Regina tidak merasa terganggu atau terprovokasi dengan ucapan Raynold tersebut.

"Apa levelmu sudah tinggi, Ar?" tanya Raynold kepada Argeas menyikapi ucapan Regina.

Dan kembali Argeas hanya tersenyum tanpa menjawab.

"Tapi meskipun kau lebih kuat dari orang-orang kebanyakan, tetap kau tidak boleh menyalah gunakan kekuatanmu untuk bersikap semena-mena terhadap mereka yang lemah. Kekuatanmu hanya untuk melindung. Ingat itu, Ar." Kall ini sang ibu yang memotong pembicaraan dengan nasihat.

"Ar mengerti, bu." Argeas pun menjawab dengan cepat.

"Kemudian ada satu hal lagi yang ingin ayah sampaikan padamu, Ar," ucap sang ayah kemudian. Terlihat wajahnya berubah sedikit lebih serius.

Sementara terlihat sang ibu tersenyum samar. Seolah tahu apa yang akan kepala keluarga Danae itu sampaikan.

"Sepertinya Marquis Lavis sangat tertarik denganmu setelah perbincangan kemarin," ucap sang ayah.

"Dan tampaknya perkataan beliau tentang menjadikanmu menantu keluarga Lavis itu serius," lanjutnya.

'Sebentar...' Argeas menahan ucapannya dalam batin. Ia mencoba membantah dugaannya sendiri.

"Marquis Lavis hendak menjodohkan mu dengan putri bungsu beliau. Putri ketiga keluarga Lavis," sambung sang ayah menyampaikan kabar utamanya.

'Ya... Sudah kuduga.' Dan lagi-lagi Argeas hanya mampu tersenyum diam.

Sementara sang ibu dan kakak-kakaknya mulai memberikan selamat, karena meski baru perjodohan, namun pasangannya adalah putri dari keluarga Marquis.

-

"Ya setidaknya aku bakalan punya pasangan. Meski karena perjodohan," ucap Argeas setelah berada di kamarnya.

"Kurasa malah baik, mengingat budaya dunia ini. Syukur-syukur bisa menjauhkanku dari si Alexa. Dan mencegah kematianku."

"Tapi perjodohan ini belum tentu berhasil juga, sih. Bisa saja putri Marquis tidak menyukaiku."

Dan Argeas pun kembali terduduk di depan meja belajarnya.

Perjodohan pada usia muda memang sangat umum dalam kehidupan sosial para bangsawan. Meski tak sedikit yang sampai berakhir ke jenjang pernikahan, namun tak jarang juga yang urung dan batal di tengah jalan.

Dan inilah kenapa perjodohan dan pertunangan dilakukan di usia-usia dini mereka. Disamping alasan utamanya untuk mengikat dua keluarga secara sementara, juga supaya mereka punya waktu untuk mencari pasangan baru bila mereka tidak merasa cocok dengan pasangan awal mereka. Argeas paham akan hal tersebut.

"Jadi anggap saja pertemuan nanti sebagai kencan buta. Tak perlu dipikirkan sekarang."

"Item Status," serunya kemudian untuk melupakan masalah tersebut.

Dan Jendela Inventory pun terbuka.

.

Item Status

+

+Weapon+

[Crimson Wand]

+

+Accessories+

[Gaia Amulet]

[Ring of Nox]

[Ring of Lux]

[Belphegor's Ring]

[Lumos Bracelet]

[Hairpin of Crescent]

[Robe of Ivalna]

[Zephyr Cape]

[Shoes of Feathers]

[Sigil of Plague]

[Sigil of Miracle]

[Lantern of Path]

[?¿Sprout]

+

+Inventory+

••Potion (x11)

••Dry Ether (x8)

••Elixir (x5)

••Remedy (x6)

+

+Material+

••Carbuncle' Fur (x1)

••Bat Eye's Leather (x40)

••Phrekyos's Scale (x1)

••Green Wasp's Sting (x28)

••Pryfly's Wing (x1)

••Oversoul's Teeth (x14)

••Overfear's Teeth (x1)

••Geonna's Feather (x1)

••Crab Hermit's Shell (x33)

••Tortoise Hermit's Shell (x1)

••Revenant's Bone (x63)

••Fayht Revenant's Bone (x1)

••Wild Coerul's Fur (x80)

••Alpa Coerul's Claw (x1)

••Cephalo's Tentacle (x12)

••Inferno Arachid' Fang (x20)

••Elvoreth's Leather (x1)

••Elvoreth's Claw (x1)

••Elvoreth's Wing (x1)

••Blue Magicite (x128)

••Black Magicite (x112)

••Green Magicite (x137)

••Grey Magicite (x161)

••Red Magicite (x98)

••Yello Magicite (x103)

[Spatial Map] - Used

[Spatial Storage] - Used

.

"Hm... sepertinya aku sudah terlalu banyak menyimpan material. Harus segera mencari cara untuk mengolahnya. Atau kalau tidak menjualnya," ujar Argeas setelah mengamati isi tempat penyimpanannya yang hampir tak pernah ia buka selama sibuk menjelajah reruntuhan sebelum pesta perayaan.

"Aksesorisnya juga cukup banyak yang tidak akan pernah ku gunakan," lanjutnya setelah mengamati lebih rinci.

"Lebih baik aku berikan ke Kak Regina dan Kak Raynold sebelum mereka kembali ke akademi besok. Mereka pasti memerlukannya," ujar Argeas berencana.

"Dan bila mereka bertanya semua ini dari mana? Tinggal kujawab hadiah ulang tahun dari para tamu. Mereka pasti percaya."

Padahal tak ada satu pun hadiah dari para tamu yang merupakan perlengkapan sihir. Semua menghadiahi Argeas dengan perhiasan dan barang-barang mewah.

-

-

Dan keesokan harinya, Argeas pun memberi Regina [Zephyr Cape], dan Raynold [Shoes of Feathers] sebelum mereka berangkat kembali ke akademi. Yang meski ditolak di awal, tapi tetap mereka terima pada akhirnya.

[Zephyr Cape] memiliki kemampuan meningkatkan Attribute Magic [Wind] yang menurut Argeas cocok dengan kakak perempuannya yang seorang penyihir.

Sedang [Shoes of Feathers] memiliki Combat Moves [Evade+] yang dapat diaktifkan saat alas kaki tersebut dikenakan. Jadi pas untuk kakak ketiganya yang seorang kesatria.

Dan setelah itu tak lupa Argeas juga memberikan hadiah untuk adiknya, [Lumos Bracelet]. Gelang sihir yang dapat membatalkan Skill [Shadow Hiding] di sekitarnya.

Argeas menghadiahkan [Lumos Bracelet] itu disamping karena bentuk dari gelangnya yang cantik dan cocok di pergelangan tangan Luxia, juga karena sifat dari adik perempuannya yang seorang penyendiri. Setidaknya dengan gelang sihir anti penyusup itu, Luxia akan sedikit lebih aman. Setidaknya menurut Argeas.

Dan setelah itu keseharian Argeas pun kembali seperti biasa, sampai beberapa hari kemudian.

-

-

Tibalah saat untuk Argeas menghadiri Gala tahunan yang diadakan di Kotaraja sebagai ajang bagi para putra dan putri bangsawan yang baru saja menginjak usia dewasa untuk bersosialisasi.

Dan tambahan untuk Argeas adalah bertemu dengan bakal pasangannya.

.

Argeas datang bersama ayahnya ke acara tersebut. Yang kemudian akan ditinggal untuk berinteraksi dengan teman sebayanya, sementara sang ayah berinteraksi dengan kepala keluarga yang lain.

Sedang di mata sosial reputasi Argeas mendapat penilaian yang cukup beragam. Beberapa menilainya baik dan kagum karena terlahir dengan class [Arcmage]. Beberapa lainnya tampak kecewa dan tidak suka karena sikap buruknya sebelum ini. Diluar itu tidak terlalu diperdulikan. Karena praktis Argeas memang belum melakukan kontribusi apapun pada lingkungan sosial untuk dapat dinilai.

-

"Putri bungsu Marquis bernama Evangeline," ucap ayah Argeas ketika mereka baru saja memasuki ballroom.

"Kau tidak perlu merasa tertekan atau semacamnya. Temui saja dulu. Kenali dulu lebih dalam. Bila memang kalian merasa tidak cocok satu sama lain, ayah akan meminta Marquis untuk membatalkan perjodohan kalian," lanjut sang ayah yang maksudnya mencoba membantu Argeas mengurangi kegugupannya.

"Baik, Yah. Ar mengerti," jawab Argeas yang tidak merasa gugup sama sekali.

Tidak untuk bertemu dengan calon pasangannya, ataupun menghadiri acara semacam ini.

Karena di kehidupan lalunya, Argeas sering sekali menghadiri acara kantor yang serupa dengan acara ini. Hanya bedanya acara kantor dihadiri oleh orang-orang yang berusia jauh lebih tua.

Sedang untuk bertemu dengan putri Marquis, Argeas juga tidak merasa gugup atau tertekan, karena ia memang tidak mengharap apapun dari pertemuannya kali ini.

Ia hanya akan melakukan hal terbaiknya dalam mengambil simpati sama seperti saat ia berbicara dengan Marquis. Dan bila sang putri menyukainya, maka tidak ada salahnya untuk mencoba menjalani hubungan tersebut.

"Ya, hitung-hitung pacaran," ucap Argeas kepada dirinya sendiri saat memikirkan tentang perjodohan tersebut, seraya menunggu putri ketiga keluarga Lavis tiba.

-

Tak lama kemudian terlihat sosok pria yang dikenal Argeas sebagai Marquis Lavis berjalan mendekat bersama seorang gadis di sebelahnya.

Gadis yang hanya setahun lebih tua dari Argeas itu memiliki perawakan mungil tak lebih tinggi dari pundak Argeas.

Rambutnya berwarna pirang perak lurus digerai sepanjang punggung. Tanpa hiasan apapun kecuali penjepit rambut di atas telinga kanannya. Yang berbentuk seperti bunga dengan safir kecil tertatah di bagian tengah. Warna yang serasi dengan warna matanya yang biru gelap.

Gadis itu tersenyum kecil saat melihat Argeas. Wajahnya yang munggil dengan kulit putih menawan itu benar-benar telah menarik perhatian Argeas.

"Salam, Marquis." Argeas menyapa sang Marquis.

"Selamat siang, Marquis." Sang ayah juga ikut menyapa.

"Siang, Gerld, Ar," balas pria berbadan gempal itu dengan suara beratnya.

"Salam, Viscount Danae." Kali ini gadis di sebelah Marquis yang berucap memberi salam kepada ayah Argeas.

"Ya, lama tak melihatmu. Sekarang kau sudah menjadi gadis yang cantik, Eve," ucap ayah Argeas memuji gadis tersebut.

"Saya tersanjung atas pujian anda, Viscount," balas gadis itu dengan sopan.

"Kenalkan, Eve. Dia Argeas putra keempat Viscount Danae." Sang Marquis tiba-tiba menyela untuk mengenalkan Argeas kepada putrinya.

"Perkenalkan saya Argeas Danae." Argeas berinisiatif mengenalkan diri terlebih dahulu.

"Perkenalkan saya Evangeline Lavis." Giliran gadis itu yang mengenalkan diri kepada Argeas.

"Baiklah kalau begitu, berbincanglah kalian. Kami tinggal dulu," ucap sang Marquis yang terlihat tidak sabar untuk membiarkan putrinya berduaan dengan Argeas.

Argeas dan Evangeline mengangguk sopan mengiring kedua ayah mereka pergi meninggalkan mereka berdua.

-

'Gadis ini cantik dan menawan. Tapi karena kini mentalku jauh lebih dewasa dari umurku yang seharusnya. Aku yang merasa sudah berusia 25 tahun ini jadi tidak bisa melihat gadis berusia 16 tahun itu dengan cara yang romantis,' pikir Argeas dalam hati.

'Mungkin tidak masalah untuk saat ini. Aku hanya akan menganggapnya adik bila dia tidak menolak perjodohan ini. Mungkin setelah lulus akademi nanti perasaanku bisa berubah. Bersama bertambah dewasanya dia,' batinya lagi.

"Untuk mengakrabkan diri, bolehkah kita saling memanggil nama. Disamping usia kita tidak terpaut jauh." Evangeline membuka percakapan.

"Aku tidak keberatan dengan itu." Argeas menjawab.

"Berarti mulai sekarang aku akan memanggilmu Ar, dan kau bisa memanggilku Eve," ucap gadis itu memberi usulan.

"Baiklah, Eve." Argeas menyetujuinya.

"Ternyata kau tidak seperti rumor yang ku dengar." Evangeline kembali berucap memulai percakapan.

"Rumor seperti apa?" Argeas berpura-pura bodoh untuk memperpanjang percakapan tersebut.

"Kabarnya putra keempat Viscount Danae memiliki sifat arogan dan kasar karena terlahir dengan class langka," jawab gadis mungil itu tanpa ragu.

Argeas tersenyum kecil. "Ya aku memang kadang bersikap seperti itu," ucapnya menjawab.

"Hm... kurasa kau tidak seperti itu," sanggah Evangeline tidak setuju.

"Bagaimana kau bisa menyimpulkannya?"

"Karena tidak ada orang arogan yang mengakui kalau dirinya arogan."

"Oh, benarkah begitu?" Argeas tertawa kecil.

Calon pasangannya ini gadis yang cukup tegas dan cerdas, pikir Argeas.

"Dan kau juga bukan orang yang kasar. Karena dari yang kuperhatikan semenjak tadi, kau tidak menunjukan gelagat kalau kau seorang yang kasar," lanjut gadis itu kemudian.

"Kau memperhatikanku?" Argeas sedikit menurunkan alisnya seperti tidak percaya.

"Benar. Dari sejak pertama kau datang," jawab Evangeline cepat.

"Oh, benarkah?"

"Tenang saja, aku bukan penguntit atau orang dengan kebiasaan aneh. Aku hanya perlu memastikan siapa orang yang akan dijodohkan pada ku," balas Evangeline meluruskan maksud dari ucapan sebelumnya.

"Dan bagaimana hasil dari pengamatan itu?" Argeas bertanya.

"Sampai sejauh ini sih, kau lolos," balas gadis itu dengan tersenyum lebar.

Argeas tertawa kecil. "Syukurlah kalau memang begitu."

"Jadi apa yang sedang kau lakukan belakang ini?" tanya Evangeline tiba-tiba. Membuat tema percakapan baru.

Ada rasa penasaran terlihat dari mata gadis itu.

"Tak banyak. Hanya berlatih dan belajar kurasa," balas Argeas yang tidak bisa benar-benar menjawab dengan pasti.

"Apa kegemaranmu?" Tidak terlalu memperdulikan jawaban Argeas, Evangeline kembali mengeluarkan pertanyaan.

"Aku tidak punya satu kegemaran yang sangat menonjol. Mungkin belajar dan berlatih?" Kembali Argeas tidak dapat menjawab pertanyaan calon pasangannya itu dengan pasti.

"Warna kesukaanmu?" Lanjut Evangeline.

"Biru, mungkin..."

"Biru apa?"

"Biru langit... malam? Kalau itu kedengaran masuk akal," ucap Argeas ragu.

"Ya, aku mengerti maksud dari biru langit malam itu," balas putri bungsu keluarga Lavis itu cepat.

'Wah.... Apa seperti ini rasanya melakukan kencan buta? Seperti wawancara, hanya saja bidang yang ditanyakan sangat subjektif dan tak pernah aku anggap penting sama sekali,' batin pemuda itu. Yang mulai merasa terintimidasi dengan pertanyaan yang tak benar-benar dapat ia jawab.

"Kalau kau sendiri? Apa kegemaranmu?" Argeas segera bertanya balik sebelum alur percakapan terputus.

"Crafting dan Gathering," balas gadis itu segera.

"Warna kesukaanmu?"

"Kuning dan Hijau."

"Dan apa yang sedang kau lakukan belakangan ini?"

"Sedang sibuk mempersiapkan diri untuk memasuki Akademi," ucap Evangeline yang seolah tanpa berpikir sama sekali.

"Wah, apa kau sudah mempersiapkan semua jawaban itu sebelumnya? Kau menjawabnya dengan tegas dan cepat." Argeas terkesan.

"Benar. Karena kau hanya membalik pertanyaanku. Mana mungkin aku tidak menyiapkan jawaban untuk pertanyaanku sendiri," jawab gadis itu mengakui.

"Ya, kurasa kau benar." Argeas merasa sedikit malu seraya menggaruk kepala belakangnya.

"Bertanyalah sesuatu yang baru," ucap Evangeline meminta.

"Oh, baiklah."

Argeas terlihat berpikir keras mencari pertanyaan yang ia anggap relevan untuk seorang gadis usia 16 tahun dalam situasi seperti saat ini.

'Kurasa lebih mudah berbicara dengan Marquis dibanding putrinya. Apa karena aku merasa diriku sudah tua?' batin Argeas.

"Hm... kau benar-benar seperti yang dikatakan ayah saat menawarkan perjodohan ini padaku." Tiba-tiba Evangeline berucap saat Argeas tak kunjung mengeluarkan pertanyaannya.

"Apakah itu hal buruk?" tanya Argeas sidikit kuatir.

"Bukan hal buruk," balas gadis itu sambil menggeleng. Senyumnya hangat mengembang.

"Bila kau tak mau bertanya, biar aku yang bertanya lagi padamu," lanjut Evangeline kemudian. "Bagaimana pendapatmu tentangku?"

"Tentangmu?" Argeas tidak mengantisipasi pertanyaan tersebut. "Menurutku kau cantik. Ramah. Tegas, dan cerdas," lanjutnya kemudian dengan sedikit terburu.

"Terima kasih telah memujiku. Aku cerdas karena class ku memang [Erudite]," balas Evangeline dengan percaya diri. "Lalu, apa kau menerima perjodohan ini dan mau menemuiku sekarang ini karena aku putri dari seorang Marquis?" susulnya dengan pertanyaan lain.

Argeas pun tersenyum kecil. "Apa ini sebuah ujian?" tanyanya balik.

"Ya, kurang lebih." Evangeline menjawab dengan santai.

"Jujur aku menerima tawaran perjodohan dan menemuimu sekarang ini memang karena Marquis Lavis. Tapi bukan karena status Marquis beliau, atau kebanggaan dapat menjalin hubungan dengan keluarga Lavis yang tersohor,"

Argeas menjedah ucapannya. Sementara Evangeline menanti dengan ketertarikan.

"Tapi itu dikarenakan sifat dan kepribadian beliau. Dengan berbincang sebentar saja dengan beliau, aku bisa merasakan ketegasan, ketulusan, dan nilai baik lainnya dari diri beliau.

"Jadi saat tawaran itu datang, aku merasa yakin bahwa putri beliau pasti tidak akan jauh berbeda dari beliau. Maka dari itu aku menerimanya.

"Dan sepertinya tiga perempat dari dugaanku benar," tambah Argeas kemudian menutup jawaban panjangnya.

"Hanya tiga perempat saja? Lalu yang seperempatnya? Tidak seperti dugaanmu?" Evangeline bertanya sedikit penasaran.

"Tidak. Karena kau lebih cantik dari yang kubayangkan," balas Argeas mencoba mengambil hati gadis di hadapannya itu.

"Kau orang yang pandai menyenangkan hati, Ar," ucap Evangeline yang tidak mencoba untuk menutupi ekspresi senang dan wajah tersipunya.

"Hanya berkata jujur," balas Argeas.

"Baiklah, akan aku terima pujianmu itu," jawab putri bungsu itu yang masih terlihat tersipu.

Dan setelah melanjutkan percakapan untuk beberapa saat, terdengar dari ujung ballroom seorang pria memberi tahukan bahwa acara dansa akan segera dimulai. Dan meminta orang-orang untuk mengosongkan area tengah ruangan tersebut.

"Apa dari sebegitu banyak bidang yang kau latih dan pelajari itu berdansa adalah salah satunya?" tanya putri keluarga Lavis itu kepada Argeas.

Argeas tersenyum, kemudian mengarahkan tangan kanannya ke depan Evangeline seraya membungkuk kecil.

Ia sudah berlatih tentang hal ini selama 2 bulan penuh.

"Apakah anda bersedia berdansa denganku, nona Lavis?" ucapnya bertanya.

Evangeline tersenyum lebar seraya meraih tangan kanan Argeas. "Dengan senang hati, tuan Danae," jawabnya kemudian.

Dan mereka berdua pun berdansa bersama pasangan-pasangan muda lain di ballroom itu hingga tiba saatnya untuk berpisah.

-

Setelah pertemuan pertamanya dengan Evangeline, Argeas pun jadi sering bertukar surat dengan gadis itu.

Karena memang setelah pertemuan tersebut, keluarga kedua belah pihak setuju dan berencana meresmikan pertunangan mereka, setelah Argeas menginjak usia 16 tahun.

Evangeline merupakan [Erudite] yang cukup berpotensi. Dan dari percakapan mereka melalui surat, Argeas tahu bahwa Evangeline juga memiliki minat di bidang ramuan dan obat. Dan ingin menjadi seorang Alchemist di kemudian hari.

Dan karena perasaan ingin membantu calon tunangannya meraih mimpi, Argeas pun tanpa ragu menghadiahkan [Grimore] Alchemy miliknya. Dan beberapa [Scroll] yang berisi skill Non-Combat yang penting untuk mendukung seorang Alchemy.

Hal itu direspon positif oleh Evangeline. Yang membuat Argeas jadi lebih bersemangat lagi untuk membantunya.

-

1
StoN Rp
oj
Reksa Nanta
aku rasa keputusan Argaes untuk memilih kelas B di akademi, adalah keputusan yang tidak adil bagi para murid lainnya.
Reksa Nanta
dalam artian, Argeas kurang cerdas dan jeli dalam mengakali ujian tertulisnya.
Reksa Nanta
Terima kasih untuk penjelasannya, Author.
Reksa Nanta
Serigala kan meman hewan yang hidup dalam kawanan.
Reksa Nanta
Selebar telapak tangan, sepanjang dua ruas jari ?? 🤔🤔
Reksa Nanta
Kenaikan level secara bertubi tubi dalam waktu singkat apakah tidak membebani fisik ?

apakah tubuh tidak akan meledak jika tidak mampu menampung beban level ?
Reksa Nanta
Hati hati, Ar .. Perempuan akan menaruh harapan besar pada kata katamu itu.
Reksa Nanta
Kemungkinan itu bisa jadi besar jika bisa menarik suara rakyat dan adanya kerjasama dengan pihak beastman
Reksa Nanta
Perbedaan persepsi antara laki laki dan perempuan dalam memaknai arti dan tujuan sebuah hadiah.
Reksa Nanta
Di setiap film film, cerita cerita tentang para bangsawan, nama Bennet hampir selalu muncul.
Regard Qianzhou
alur santai
Regard Qianzhou: menenangkan
total 1 replies
ion arashi
Lembut sekali alurnya, menyenangkan sekaligus deg-degan menunggu kejutan ceritanya
ion arashi
gimana cara iklanin nih novel biar banyak yg baca?
Haytrea: Buat Pos (Postingan) Toon, biasanya kalau buka apk Mangatoon ikon nya ada di tengah, kayak globe gitu (atau apalah namanya). Ketuk dan buat postingan. Di bawahnya kan ada pilihan tag (pilih atau buat tag sendiri) dan tautkan karya yang berada di atasnya (di atas tag), cukup ketuk tautkan karya dan ketik nama novel ini, maka jadilah promosi. Bila perlu beri sedikit atau banyak tulisan berdasarkan pengalaman anda membacanya (ringkasan saja). Jangan lupa, untuk memperkuatnya beri tahu di Pos itu nama Penulisnya serta bukti berupa Screenshot (1 atau 2/ terserah jumlahnya).
total 1 replies
Reksa Nanta
Alih alih menggunakan kata 'mau', kata 'bersedia' tedengar lebih sopan.
Reksa Nanta: Yes .. aku baru mulai baca.
total 2 replies
Reksa Nanta
Class ArcMage kan harusnya ?
Reksa Nanta
Ada juga rambut yang berwarna seperti ini ? Hahaha
Regard Qianzhou: ada reks
total 1 replies
ion arashi
serru
Reksa Nanta
Jika Argaes bertemu dengan para petualang dan pemburu harta di reruntuhan ini. Apakah akan terjadi konflik ?
Reksa Nanta
Arga bukannya tidak terlalu dekat dengan keluarganya ya ?!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!