NovelToon NovelToon
Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Berbaikan / Tamat
Popularitas:548.9k
Nilai: 5
Nama Author: Uki Hara

Follow instagram @Ukiii__21 untuk info karya ini

ANGKASA SERIES
Seri 1: MENIKAHI TEMAN KELAS (END)
Seri 2: MUHASABAH CINTA (END)
Seri 3: (BUKAN) PERNIKAHAN SEMPURNA

***

Kegagalan pernikahan di masa lalu menghentikan niat Angkasa menikah lagi. Kehidupannya yang dulu kosong dan tanpa arah seolah terulang kembali, bahkan lebih buruk.

Angkasa tenggelam dalam kesedihan, hingga Sakti yang merupakan sahabat sejak SMA rela melepas kesenangan demi kesembuhan dirinya.

Kehidupan berjalan sesuai takdir. Bersama Sakti, Angkasa mulai membangun mimpinya yang pernah hilang. Namun, saat semua fokus Angkasa terarah pada pekerjaan dan pencapaian, mantan istrinya kembali.

"Kasa, kamu ingat aku?" Wanita bermata bulat dengan cadar hitam di wajahnya itu bertanya pelan.

Bibir Angkasa tertutup rapat, tetapi hati berbisik, "Bagaimana aku bisa lupa saat tajamnya namamu mampu memutus semua syaraf di kepala sampai aku nggak ingat lagi kehidupan yang sebenarnya, Myria?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uki Hara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

“Mama lihat dari kemarin wajahmu selalu kusut. Ada masalah di kantor?” Usapan lembut diberikan Nyonya Nasita pada rambut Angkasa. Wanita itu baru saja menyelesaikan kue buatannya dan sengaja mengantar beberapa potong pada sang anak untuk dicicipi.

Angkasa mengambil garpu yang telah disediakan, lalu menyuapkan potongan kue ke mulut. “Enak. Masakan Mama nggak pernah mengecewakan.”

Tawa ringan keluar dari mulut Nyonya Nasita mendengar pengalihan pembicaraan sang anak. Beliau lantas mundur dan duduk di sofa ruang kerja yang saat ini dihuni. “Persis seperti Papa, pintar merayu hanya karena ingin menyenangkan hati Mama.”

Angkasa menggeleng. Dia ikut beranjak dari kursi dan duduk bersama sang ibunda. “Serius, Ma. Ini enak. Aku mau bawa buat besok, biar Sakti ikut mencicipi.”

Senyum Nyonya Nasita makin mengembang. Kelopak mata yang mulai bergaris halus itu menyipit sesuai gerakan otot-otot dan tulang wajah. “Kalian baik-baik saja, kan?”

Kening Angkasa mengerut. “Ya, baik. Memangnya kenapa Mama tanya gitu? Apa karena Sakti jarang ke sini? Sakti lagi sibuk menikmati hari-hari bersama orang tuanya sekarang. Gimana pun juga, dia udah lama ditinggal dari kecil, Ma.”

“Benar juga. Orang tuanya sibuk di luar negeri selama ini. Tapi Mama salut sama dia, meski tidak jarang bersama dan hanya diasuh mendiang neneknya, Sakti tetap jadi anak baik.”

Angkasa manggut-manggut. Membahas sahabatnya, dia ikut bersyukur mengenal pria seperti Sakti.

“Lalu kenapa dari kemarin wajahmu sedih begini? Jangan bohongi Mama, karena Mama hafal soal sikapmu atau sikap mendiang kakakmu, Nak.”

Kue tinggal sepotong, diletakkan Angkasa di sampingnya duduk. Pria berkaus panjang abu-abu itu menyandarkan diri sambil membuang napas. “Mendekati pembuatan katalog produk baru, desainer kantor mengajukan undur diri, Ma. Aku jadi pusing.”

“Alasan dia resign?”

“Ikut suaminya ke luar negeri, sekalian meneruskan pendidikan.”

“Kamu dan Sakti tidak membuka lowongan pekerjaan untuk menggantikannya?”

“Sudah, dari bulan kemarin. Tapi belum dapat yang sesuai. Direktur personalia ikut turun tangan, bahkan beberapa karyawan yang memiliki saudara atau kenalan juga membantu cari pengganti desainer yang pas. Tapi, ya, memang belum ada.”

“Kapan tanggal karyawanmu bekerja terakhir?”

“Masih ada waktu satu minggu.”

Nyonya Nasita terdiam, lantas memberi usapan lembut di lengan sang anak. “Jangan dipikir berat-berat, nanti juga ada solusinya. Apa perlu Mama saja yang jadi gantinya karyawanmu itu?”

Angkasa tertawa hingga lesung pipinya terlihat nyata. Dia menggeser piring kue, lalu mendekat pada Nyonya Nasita dan berakhir memeluk. “Aku nggak akan kuat menggaji Mama. Seberapa pun itu, nggak akan pernah bisa. Bahkan bayaran nyawaku sekalipun, itu nggak akan sebanding dengan jasa Mama.”

***

Kafe semi outdoor menjadi tempat Friska menunggu seseorang. Hampir tiga puluh menit dia duduk sembari memutar sedotan ke gelas minuman. Beberapa kali pula wanita itu mengecek ponsel untuk mendapat kabar.

“Hai.” Suara bariton dari arah depan mengalihkan perhatian Friska. Wanita itu mendongak dan mempersilakan tamunya duduk.

“Sorry, kena macet gue.”

“Nggak pa-pa. Gue aja yang kecepetan kayaknya. Eh, mau pesen apa?”

“Gue aja pesen sendiri.” Pria yang tak lain adalah Sakti itu berdiri. Dia menuju kasir untuk melakukan pemesanan. Setelah itu, baru kembali duduk dan menunggu minumannya datang.

“To the point aja, apa yang pengin lo tanyain. Nggak enak sendiri gue, nemuin cewek cuma berdua gini.”

Friska mengangguk. Sebenarnya, dia juga sedikit waswas karena jarang sekali hanya pergi sendiri apalagi bertemu lelaki. Selama bekerja bersama ibunya, Friska selalu ditemani entah ibunya atau salah satu karyawan perempuan.

“Kayak yang gue tanyain kemarin soal lo sama Kasa. Jujur aja, ya, gue gini sebenarnya cuma nggak tega aja lihat Myria. Dia masih ngarep banget sama Kasa meski nggak pernah ngomong langsung.”

Sakti mengangguk-angguk. Dia terdiam beberapa saat dan berujung membuang napas berat. Friska yang ada di depannya tentu saja heran.

“Banyak hal yang nggak bisa gue jelasin satu-satu, Fris.” Omongan Sakti terjeda karena pesanannya datang. Dia mengucap terima kasih pada pekerja kafe, lalu melanjutkan, “Angkasa mengalami depresi setelah kita lulus. Semester akhir saat sekolah, dia memang terlihat fokus dengan ujian, tapi setelah wisuda dan kepergian Myria, kondisinya memburuk.”

Tenggorokan Friska serasa dicekik. Lidahnya kelu untuk menimpali apalagi bertanya.

“Kasa menunda kuliahnya selama setahun hanya untuk pengobatan. Beberapa bulan dia tinggal di RSJ untuk perawatan intensif karena nggak bisa diajak ngomong sama sekali. Sumpah! Hancur hati gue ngeliat dia gitu. Jadi gue mutusin buat ikut nunda program pendidikan cuma buat nemenin dia.”

Tatapan Sakti mengarah pada Friska beberapa saat, lalu menyeruput moccacino yang ada di cangkir.

“Lo ….” Bingung. Kabar itu terlalu mengejutkan untuk Friska. Pikirannya mencipta tanda tanya besar, bagaimana bisa Angkasa demikian, padahal pekan lalu bertemu pria itu sudah terlihat tampan dan makin berkharisma. “Lo nggak bercanda, kan?”

“Buat apa gue bercanda? Oragnya masih hidup kalau lo pengin mastiin omongan gue.”

“Bukan gitu, Sakti. Selama ini gue lihat Angkasa cowok yang rajin ibadah dan deket banget sama Allah. Kenapa bisa separah itu?”

“Orang depresi sering lupa sama Tuhannya. Lo salah kalau ngira orang yang rajin ibadah nggak bakal bisa kayak gini? Sebanyak apa pun iman, kalau emang pikirannya yang kena, susah, Fris, buat diajak ngomong. Mereka lebih butuh didampingi dan teman berbagi dulu buat numpahin apa yang bikin pikirannya kacau. Ntar kalau bebannya udah mendingan, perkara keyakinan itu baru bisa didenger.”

 “Jangan mikir sempit apalagi menilai kalau orang-orang yang kena penyakit mental itu gara-gara kurang iman.” Sakti bicara panjang lebar. “Nggak. Mereka yakin kalau punya Tuhan, tapi karena memang kenyataan yang dihadapi saat itu beneran mengguncang jiwa, rasanya jadi nggak kuat. Batin mereka capek, Fris.”

Bibir Friska merapat. Otaknya sibuk menelaah setiap penjabaran Sakti hingga beberapa menit. Ternyata, sosok Angkasa yang sekarang adalah pria yang banyak melewati kesulitan.

“Lo sama Myria gimana?” Setelah cukup lama sama-sama diam, Sakti mengganti topik.

“Ah, ya? Gue ….” Lamunan Friska pecah. Fokusnya mengarah kembali pada Sakti. “Gue sama Myria fine-fine aja, sih. Alhamdulillah Myria nggak sebegitunya. Dia kuat mungkin karena udah terlalu sering ngejalani hidup yang pahit, jadi kayak, ya, udahlah dijalani aja.”

Ganti Sakti yang jadi penyimak.

“Dia kuliah, ya, kuliah. Cuma nggak mau sendirian dan ngasih syarat sama Om Tirta bakalan mau tinggal sama beliau asal ngebawa aku. Jadi, aku kuliah itu yang biayain Om Tirta karena nemenin Myria sampai dia balik ke Singapur.”

“Mirip.”

“Apanya yang mirip?” Friska heran lagi karena Sakti hanya berucap satu kata.

“Nasib kita mirip. Rela berkorban demi persahabatan.”

Mulut Frika membulat sesuai kata ‘oh’ yang keluar. Dia lanjutkan menyeruput minuman sambil menikmati kentang goreng pesanannya tadi.

“Kerja di mana kalian sekarang?”

“Gue di rumah, bantu Ibu ngelola konveksi. Kalau Myria … dia nganggur, sih. Lagi cari kerjaan di sini katanya.”

“Perusahaan bokapnya nggak kurang, cari kerjaan gimana maksudnya?”

“Ya, itu, Myria nggak mau kerja di tempat keluarga. Makanya dia cabut dari perusahaan nyokap tirinya yang ada di Singapur, terus balik ke sini. Tapi, dia nggak mau juga kerja di perusahaan Om Tirta. Lebih millih mau kerja di tempat orang buat tambah pengalaman katanya.”

Bibir Sakti menyeringai. “Aneh-aneh aja pikiran cewek.”

Bahu Friska terangkat. “Lo sendiri kerja di mana?”

“Gue sama Kasa ngejalani bisnis industri fashion. Itu kerja sama nyokap kami berdua sebenernya. Butik Tante Ayu tutup dan dijual, hasil jualnya buat modal ini. Tapi gue lagi pusing sekarang.”

“Kenapa? Usaha macet?”

“Sembarangan lo ngomong, Fris.” Andai Friska adalah lelaki, kakinya mungkin sudah ditendang Sakti. “Desainer gue resign, belum nemu gantinya. Kasa tiap hari marahin gue, padahal itu bukan tanggung jawab gue cari karyawan.”

Tiba-tiba Friska menggebrak meja dan membuat Sakti berjingkat hingga punggung menabrak sandaran kursi. Wanita itu berkata ,”Gimana kalau gue atau Myria kerja di tempat lo? Gue sama dia dulu ambil jurusan fashion design.”

1
Uti Cimoy
Hai kakak author, aq suka tulisan mu. ini lagi baca maraton
ig: ukiii__21: udah tamat di f1zz0 kak
total 3 replies
Sri Puryani
kok gt sih sakti ....mbok yo mendekati faiza kasihan kan
Sri Puryani
ya deketin faiza dong sakti.....msk tanya sama ibrahim
Sri Puryani
myria egois....mementingkan diri sdr
Sri Puryani
kok rasanya gk percaya ya myria bs mikir gt, kirain ilmu agamanya tggi itu pinter ternyata.......
kenapa bs menekan suaminya spt itu? kyk gk menghormati & menghargai suaminya
Sri Puryani
thor faisa srh nolak nikah sama angkasa blg aja mo nikah sama sakti biar myrianya gk ngeyel
Sri Puryani
oalah myria ....jd orang kok gk sabar....br jg sethn blm punya anak dah bingung, aq aja 5 th br punya anak gk papa 🤭
Sri Puryani
oh faisa kirain friska ....ya udah faisa sama sakti aja
Sri Puryani
udah sama sakti aja friskanya
Sri Puryani
semangat angkasa myria
Sri Puryani
jangan" myria lg tekdung😀
Sri Puryani
sdh jd suami panggilannya dirubah dong my....
Sri Puryani
ternyata dendam
Sri Puryani
kyknya ada yg dendam sama angkasa
Sri Puryani
Luar biasa
Sri Puryani
ikut seneng baca 😀
Sri Puryani
kok gk rela ya thor angkasa sama orang lain
Sri Puryani
oalah thor kok gt nasib angkasa....kasihan thor, hukum bpk nya myria aja thor
Sri Puryani
ortu yg egois....myria lakukan sesuatu spy ayahmu kehilangan dirimu
Sri Puryani
kyknya yg dtg ortu angkasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!