NovelToon NovelToon
Bayangan Penguasa

Bayangan Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
​Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Tembok Baja dan Ujian Bertahan Hidup

​Pilar cahaya biru keperakan menembus atap gedung administrasi, menjulang tinggi membelah langit pagi kota Seoul. Dari radius belasan kilometer, siapa pun—baik manusia maupun monster—bisa melihat suar energi yang memanggil itu dengan jelas.

​Di dalam Ruang Kepala Sipir, Han Do-Yoon menatap penghitung waktu mundur yang melayang di atas Inti Wilayah.

​[Waktu tersisa: 05:45:00]

​"Enam jam adalah waktu yang cukup lama untuk sebuah pesta," gumam Do-Yoon santai.

​Ia membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruangan, menuruni tangga menuju lapangan utama. Saat ia tiba di bawah, suasana lapangan telah berubah drastis dibandingkan saat ia baru tiba.

​Kang Tae-Ho membuktikan mengapa ia layak menjadi komandan lapangan. Pria raksasa itu telah memisahkan para tahanan menjadi dua kelompok besar. Di sisi kiri, terdapat sekitar lima puluh tahanan yang telah menerima Pembangkitan Kelas tempur tingkat rendah. Di sisi kanan, lebih dari seratus lima puluh orang biasa dan para sipir yang tersisa berkerumun dengan wajah pucat.

​Yoo Ji-Ah berdiri tak jauh dari Tae-Ho, mengawasi para penjahat itu dengan tangan bersedekap dan pedang yang siap ditarik kapan saja.

​"Ketua," sapa Tae-Ho sambil menundukkan kepala sedikit saat Do-Yoon mendekat. Luka di dadanya telah menutup sempurna, hanya menyisakan bekas luka panjang berkat ramuan dari Ji-Ah. "Aku telah mengelompokkan mereka. Kelompok kiri memiliki sedikit energi sihir, sisanya hanya manusia biasa. Apa perintahmu selanjutnya?"

​Do-Yoon mengedarkan pandangannya. Ketakutan masih mendominasi mata para tahanan.

​"Dengar," ucap Do-Yoon, suaranya tidak keras namun memotong segala bisik-bisik di lapangan tersebut. "Cahaya biru di atas gedung itu adalah undangan makan malam bagi setiap makhluk buas di kota ini. Mereka akan datang dalam jumlah ribuan."

​Kepanikan seketika meledak. Beberapa tahanan biasa mulai berteriak histeris.

​"Diam!" bentak Tae-Ho, suaranya menggelegar layaknya guntur, membungkam keributan itu seketika.

​Do-Yoon mengangguk pelan, menyukai ketegasan garda depannya itu. Ia menunjuk ke arah kelompok manusia biasa. "Kalian yang tidak memiliki kekuatan sihir, pergilah ke gudang logistik dan blok sel. Kumpulkan semua meja besi, ranjang, dan karung pasir. Barikade seluruh celah di tembok timur dan barat. Jika ada satu ekor saja monster kecil yang berhasil menyusup dari sana, aku sendiri yang akan memenggal kalian."

​Para manusia biasa itu mengangguk panik dan langsung berlarian melaksanakan perintah, diawasi oleh beberapa sipir.

​Do-Yoon lalu beralih menatap lima puluh tahanan dengan kelas tempur.

​"Kalian akan berdiri di garis depan bersamaku, Ji-Ah, dan Tae-Ho. Kita akan menahan gerbang utama. Jangan bermimpi untuk melarikan diri, karena di luar tembok ini, kalian hanya akan menjadi camilan pembuka bagi monster yang berkerumun."

​Do-Yoon kemudian menatap Kang Tae-Ho. Pria raksasa itu berdiri tegak, namun tangannya kosong. Tameng dari pintu sel yang ia gunakan sebelumnya telah hancur akibat pertarungan melawan Hwang Jang-Ho.

​"Kau berencana menahan amukan monster dengan tangan kosong?" tanya Do-Yoon.

​"Aku akan menggunakan potongan beton jika harus," jawab Tae-Ho serius. "Kelasku memberikan peningkatan pertahanan pada benda apa pun yang kupegang sebagai perisai."

​"Menyedihkan," Do-Yoon mendengus. Ia membuka Toko Sistem di dalam benaknya, menggulir cepat ke kategori zirah dan senjata pertahanan. Matanya tertuju pada sebuah barang yang harganya cukup merobek saldo koinnya.

​[Perisai Menara Baja Hitam]

Tingkat: Langka

Harga: 4.500 Koin Emas

Keterangan: Perisai setinggi tubuh manusia yang ditempa dari campuran baja dan inti bumi. Mampu meredam 40% dampak serangan fisik secara otomatis.

​Do-Yoon menekan tombol beli. Cahaya keemasan berkedip di udara, dan sebuah perisai raksasa berwarna hitam legam dengan ukiran kepala singa jatuh menghantam aspal dengan suara dentuman berat. Aspal di bawahnya retak saking beratnya perisai tersebut.

​Mata Tae-Ho terbelalak. Kelima puluh tahanan di belakangnya ikut menahan napas melihat senjata berkualitas tinggi muncul dari ketiadaan.

​"Ambil itu," perintah Do-Yoon santai. "Menggunakan rongsokan pintu sel sangat merusak pemandangan."

​Tae-Ho melangkah maju dengan ragu. Ia meraih gagang di balik perisai raksasa itu. Saat ia mengangkatnya, wajahnya berseri-seri. Perisai itu sangat berat bagi manusia normal, namun bagi Atribut Kekuatan dan Ketahanannya, ini adalah mahakarya yang sempurna.

​"Luar biasa..." gumam Tae-Ho, meninjukan kepalan tangannya ke permukaan baja hitam tersebut. TRANG! Suaranya menggema kokoh. "Terima kasih, Ketua. Aku tidak akan membiarkan satu goresan pun melukaimu selama perisai ini masih utuh!"

​Do-Yoon hanya tersenyum tipis. "Buktikan ucapanmu. Karena tamu pertama kita sudah tiba."

​Auuuuuuuuu!

​Lolongan serigala yang sangat panjang dan bergema terdengar dari balik gerbang baja utama Rumah Tahanan Seoul yang menjulang setinggi lima meter. Suara itu disusul oleh gemuruh langkah kaki yang membuat tanah bergetar hebat.

​BAM! BAM! BAM!

​Gerbang baja utama itu ditabrak dari luar. Engsel-engselnya berderit menyedihkan.

​Do-Yoon melangkah maju, diikuti oleh Ji-Ah dan Tae-Ho. Di belakang mereka, lima puluh tahanan Pembangkit menyusul dengan tubuh gemetar, menggenggam pipa besi dan pisau darurat mereka erat-erat.

​"Buka gerbangnya!" perintah Do-Yoon.

​"A-apa?! Kita seharusnya menahannya dari dalam!" protes salah seorang tahanan.

​"Jika gerbang itu hancur, kita kehilangan titik sumbat (chokepoint). Buka sedikit saja, biarkan mereka masuk ke dalam jangkauan kita. Tae-Ho, tahan di tengah. Ji-Ah, kau bertugas sebagai algojo pengeksekusi di belakangnya," instruksi Do-Yoon mengabaikan protes tersebut.

​Tae-Ho mengangguk. Ia berlari ke arah mekanisme gerbang, menarik tuasnya hingga gerbang baja itu terbuka selebar dua meter, lalu segera menempatkan dirinya tepat di celah tersebut dan menancapkan Perisai Menara Baja Hitam-nya ke aspal.

​"Keahlian: Dinding Baja!" raung Tae-Ho. Aura perak pucat meledak dari tubuhnya, melapisi perisai raksasa itu dengan energi pertahanan absolut.

​Begitu celah terbuka, arus monster langsung tumpah ke dalam layaknya air bah berwarna merah.

​Mereka adalah Anjing Neraka (Tingkat F) dan Orc Prajurit (Tingkat E). Makhluk-makhluk buas yang kelaparan itu menerjang membabi buta ke arah Tae-Ho.

​BAM! TRANG! BRAKK!

​Puluhan tubuh monster menghantam perisai Tae-Ho secara bersamaan. Pria raksasa itu mengertakkan gigi, otot-otot kakinya menegang hingga aspal di bawahnya hancur. Namun, sesuai dengan janjinya, ia tidak mundur satu sentimeter pun. Perisai baja hitam itu berdiri layaknya tebing karang yang menahan hantaman ombak.

​Monster-monster itu tertumpuk di depan perisai, kebingungan dan marah karena gagal menembus pertahanan tersebut.

​"Sekarang, Ji-Ah!" aba-aba Do-Yoon.

​Dari balik punggung lebar Tae-Ho, Yoo Ji-Ah melompat ke udara. Energi hijau pucat menyelimuti bilah Pedang Panjang Besi Hitam-nya. Gadis itu menatap tumpukan monster di depan perisai dengan mata yang kini terbiasa dengan pembantaian.

​"Keahlian Aktif: Sabit Angin Bersih!" teriak Ji-Ah, menciptakan variasi serangannya sendiri.

​Ia mengayunkan pedangnya mendatar saat melayang di udara. Gelombang energi angin berbentuk bulan sabit melesat tajam, membelah udara dan langsung menghantam barisan monster yang terjebak di depan Tae-Ho.

​CRAT! CRAT! CRAT!

​Tiga kepala Orc dan lima tubuh Anjing Neraka terpotong bersih dalam satu sabetan. Darah segar menyembur seperti air mancur, membasahi bagian depan perisai Tae-Ho.

​Saat Ji-Ah mendarat dengan anggun di belakang Tae-Ho, pria raksasa itu tertawa terbahak-bahak.

​"Hahaha! Serangan yang hebat, Nona! Aku akan memastikan tidak ada yang bisa menyentuhmu!" seru Tae-Ho penuh semangat. Perpaduan antara pertahanan mutlak dan serangan mematikan ini membuat darah prajuritnya mendidih.

​Melihat keberhasilan kedua jenderalnya, lima puluh tahanan di belakang mulai mendapatkan keberanian mereka.

​"S-serang! Bantu mereka!" teriak salah satu tahanan. Mereka mulai menusukkan tombak pipa besi dari celah-celah aman di samping Tae-Ho, membunuh monster-monster yang terluka oleh tebasan Ji-Ah.

​Do-Yoon berdiri beberapa langkah di belakang formasi tersebut, tangannya masuk ke dalam saku celana. Ia mengawasi ritme pertarungan itu dengan pandangan analitis.

​[Rasi Bintang 'Perawan Pedang Suci' tersenyum melihat kerja sama tim yang sempurna!]

[Rasi Bintang 'Dewa Perang Tanpa Nama' mengangguk menyetujui taktik bertahan Anda.]

​Kerja sama yang bagus, batin Do-Yoon. Tae-Ho menahan titik krisis, sementara Ji-Ah memanen Poin Pengalaman dengan aman. Mereka bertumbuh lebih cepat dari garis waktu sebelumnya.

​Penghitung waktu terus berjalan. Satu jam pertama berlalu dengan genangan darah monster yang semakin meninggi di depan gerbang. Gelombang serangan makhluk buas tingkat rendah itu seolah tidak ada habisnya, namun benteng yang dibangun oleh Tae-Ho tidak menunjukkan tanda-tanda keretakan.

​Namun, Do-Yoon tahu bahwa Sistem tidak akan membiarkan mereka bersantai terlalu lama. Misi ini berperingkat C.

​Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka bergetar pelan. Getaran ini berbeda dari langkah kaki para Orc atau Anjing Neraka. Ini adalah getaran ritmis dan sangat berat.

​BUM... BUM... BUM...

​Monster-monster tingkat rendah yang sedang berusaha menembus celah gerbang mendadak berhenti menyerang. Mereka melolong ketakutan dan berlarian menyebar, membuka jalan bagi sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari luar sana.

​Dari celah gerbang yang terbuka, Tae-Ho memicingkan matanya. Keringat dingin menetes dari dahinya.

​"Ketua..." suara berat Tae-Ho terdengar sedikit bergetar. "Ada sesuatu yang besar datang."

​Do-Yoon mengaktifkan Mata Kehampaan-nya, melihat menembus tembok beton penjara. Di luar sana, energi sihir berwarna ungu pekat yang menandakan adanya racun maut berkumpul dalam jumlah yang luar biasa besar.

​Seekor laba-laba raksasa sebesar bus kota, dengan kulit luar berupa cangkang tulang berwarna hitam keunguan, merayap mendekati gerbang. Di atas punggung laba-laba tersebut, duduk sesosok makhluk bertubuh kurus kering yang memegang tongkat kayu berhiaskan tengkorak manusia.

​[Peringatan Mutlak!]

[Pemimpin Kawanan: Penunggang Laba-Laba Beracun (Tingkat C+) telah tiba di Zona Strategis Anda!]

[Rasi Bintang 'Penguasa Wabah' memandang wilayah Anda dengan penuh keserakahan!]

​"Laba-laba dan kutukan racun, ya?" Do-Yoon melangkah maju, melewati lima puluh tahanan yang kembali gemetar ketakutan. Ia menepuk bahu Tae-Ho.

​"Tarik mundur perisaimu, Tae-Ho. Tutup gerbangnya sedikit agar sisa kroconya tidak masuk," perintah Do-Yoon seraya merentangkan tangan kanannya. Energi Kehampaan yang meluap-luap meledak keluar, membekukan udara pagi.

​"Serangan racun dan kutukan tidak bisa ditahan oleh perisai baja. Giliranku yang membersihkan hama ini."

1
Alia Chans
Hadir kak 💪


jangan lupa hadir juga 😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!