"Kalau kamu cinta sama aku, buktikan dong! Kamu wanita pertama dalam hidup aku, Luna. Apa kamu tidak mau menjadikan aku lelaki pertama yang pernah tidur denganmu?"
Saat Noah meminta pembuktian cintaku padanya, aku bisa apa selain dengan bodohnya memberikan keperawananku padanya? Semua atas nama cinta. Cinta yang bagaimana? Cinta yang penuh dengan toxic?
Diilhami dari kisah nyata pergaulan anak muda jaman sekarang. Mohon bijak menyikapinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Noah Selalu Ada
Luna
Setahun sudah aku berpacaran dengan Noah. Selama ini kami baik-baik saja. Noah adalah lelaki baik yang memperlakukanku dengan lembut dan penuh cinta tapi kini aku merasa kalau Noah mulai menginginkan lebih.
Baru hari pertama aku kost. Pertama kalinya juga Noah menciumku paksa seperti pagi tadi. Rasanya aku seperti tak mengenal Noah yang sudah setahun ini aku pacari.
Lelaki tampan itu tertidur pulas di atas kasurku. Hari sudah maghrib dan ia belum juga bangun. Mau membangunkannya, aku takut ia marah. Wajahnya terlihat lelah, mungkin capek sejak pagi sudah menjemputku dari rumah Mama.
Untung saja kostanku bebas, tak mempermasalahkan jika ada yang mau menginap. Mungkin karena itulah harga kostan ini agak sedikit mahal. Kebebasan, itu yang kami -para mahasiswa- cari.
Ada panggilan masuk lagi dari Papa. Panggilan yang sudah berapa puluh kali dalam sehari ini. Nampaknya aku harus menjawab panggilan Papa sebelum Papa mengamuk dan menyuruhku pulang ke rumah.
"Iya, Pa," jawabku.
"Luna! Kenapa kamu pergi dari rumah? Mama kamu ngusir kamu? Siapa yang mengijinkan kamu pergi?" tanya Papa dengan suara kencang sampai aku harus menjauhkan ponsel dari telingaku.
"Tak ada yang mengusir, Pa. Ini murni kemauan Luna," jawabku. Jangan sampai aku salah jawab dan berujung pertengkaran antara Papa dan Mama.
"Jangan bohong kamu! Pasti Mama kamu yang menyuruh agar ia bisa memasukkan lelaki lain ke dalam rumah bukan? Luna, Mama kamu tuh masih istri Papa, tidak pantas memasukkan lelaki lain ke dalam rumah!" tuduh Papa.
Aku menghela nafas dalam. Rasanya hari ini begitu panjang, lama sekali berlalu. Banyak sekali cobaan sepanjang hari ini. Aku lelah, aku ingin tidur dan terbangun seakan tak memiliki masalah dalam hidup ini.
"Pa, kalau Papa masih menuduh Mama yang tidak-tidak, aku tutup telepon ini!" kataku tegas.
Papa terdiam sejenak setelah aku ancam. "Oke! Papa tak akan menuduh Mamamu. Sekarang katakan sama Papa, kenapa kamu kost?" Papa akhirnya mengalah dan lebih memilih untuk menahan emosinya.
"Papa masih bertanya? Aku mau kost karena saat aku di rumah, aku tak pernah mendapatkan ketenangan." Air mata mulai membasahi pelupuk mataku tanpa aku komando, dalam sekali kedipan mata, seluruh air mata yang kutahan akan luruh semua. "Mama dan Papa selalu bertengkar. Aku capek, Pa. Aku mau hidup tenang. Aku mau belajar dengan tenang dan menyelesaikan kuliahku secepatnya."
Papa terdiam di ujung telepon sana. Aku yakin Papa sedang mencerna perkataanku meski suaraku agak serak karena menahan tangis.
"Aku sudah semester akhir, Pa. Aku hanya tinggal membuat skripsi dan menyelesaikan beberapa mata kuliah lalu selesai. Aku akan lulus dan bekerja. Aku tak akan menjadi benalu lagi dalam hidup kalian!" Kini aku bicara dengan sesegukan. Air mata sudah tak bisa kutahan lagi.
"Lun, maaf. Papa janji, Papa dan Mama tak akan bertengkar lagi! Pulang ya, Nak. Jangan tinggal sendirian di kostan. Siapa yang akan menjaga kamu nanti?" bujuk Papa.
Aku tersenyum sinis. Menjagaku? Memangnya selama ini Papa pernah menjagaku? Menjaga para istri sirinya, iya!
"Aku sudah dewasa, Pa. Biarkan aku hidup dengan caraku," kataku sinis. "Satu lagi, Papa sudah sering berjanji tak akan ribut lagi dengan Mama, tapi apa? Setiap kali kalian bertemu, kalian akan bertengkar. Aku capek, Pa. Aku lelah mendengar bentakan demi bentakan Papa terhadap Mama. Mau sampai kapan kalian hidup seperti ini?"
"Kali ini Papa janji, Nak. Nak, kamu tuh anak perempuan Papa satu-satunya. Papa hanya ingin menjaga kamu!"
"Apa selama ini Papa pernah menjagaku? Aku selalu menjadi anak mandiri, Pa. Aku terbiasa menyiapkan makan sendiri. Aku terbiasa menjaga rumah sendiri. Aku bisa menjaga diriku. Papa urus saja keluarga baru Papa. Sudah dulu, Pa, aku tutup teleponnya. Jangan ganggu aku, aku capek!" Kututup teleponku lalu menangis sambil menutup wajahku. Kutahan isak tangisku agar tak ada yang mendengarnya. Sakit sekali.
Korban sebenarnya dari keegoisan orang tua adalah sang anak. Melihat Papa dan Mama bertengkar setiap hari, selalu membuat hatiku teriris. Kapankah keluargaku akan akur seperti keluarga lainnya?
Aku merasakan tubuhku ditarik lalu dipeluk. Harum parfum yang begitu kukenali. Lelaki itu mengusap rambutku dengan lembut dan membiarkanku menangis di pelukannya sampai puas.
Hanya Noah yang aku miliki saat ini. Lelaki yang menyayangiku dan selalu ada di saat aku sedih. Noah yang selalu memberikanku pelukan menenangkan dan menyuruhku bersabar menghadapi cobaan hidupku.
"Nangis saja sampai kamu lega. Aku ada di sini untuk menemani kamu. Kamu tak sendiri, Sayang. Aku akan mendukung setiap keputusan kamu, apapun itu." Ucapan lembut Noah ditambah usapan penuh kasih di punggungku adalah obat dari segala kesedihan dalam hidupku.
Setelah lelah menangis, aku melepaskan pelukan Noah. Ia memberiku tisu dan menghapus air mataku yang masih lolos. "Tuh, kalau nangis jadi jelek deh! Udah lega belum?"
Aku mengangguk pelan. "Makasih, Sayang, kamu sudah menghiburku."
Noah menangkup wajahku dengan kedua tangannya. Mata kami saling menatap. Aku bisa melihat sorot matanya yang peduli kepadaku. "Tentu saja aku harus menghibur kamu, Sayang. Aku 'kan pacar kamu. Hmm ... lapar tidak? Habis nangis biasanya lapar. Bagaimana kalau kita makan nasi goreng super pedas?"
Aku mengangguk setuju. "Mau! Aku butuh makanan pedas!"
"Oke. Mau ikut pergi beli atau di kamar saja?" tawar Noah.
"Ikut!" kataku dengan manja.
Noah tersenyum dan mengacak rambutku. "Manjanya. Ayo kita beli!"
"Aku cuci muka dulu!"
Dengan bergandengan tangan, aku dan Noah pergi membeli nasi goreng. Kurasakan ada sorot mata yang terus menatap ke arah kami. Saat aku berbalik badan, tak ada siapapun. Semua kamar terkunci, entah apa yang dilakukan pemilik kamar.
"Kenapa, Sayang?" tanya Noah.
"Aneh, aku merasa ada yang mengawasiku."
"Siapa?" Noah melihat ke sekeliling dan hanya ada kamar yang tertutup. "Tak ada siapa-siapa. Mungkin itu hanya pikiran kamu saja. Ayo kita jalan lagi!"
"Iya, mungkin hanya pikiranku saja." Kami kembali pergi membeli nasi goreng. Kami bungkus dua porsi nasi goreng pedas dan makan di dalam kamarku.
Aku dan Noah kepedesan namun masih menghabiskan nasi goreng milik kami sampai kekenyangan. Rasa sedih yang tadi kurasakan kini hilang, berganti rasa kenyang.
"Sudah kenyang sekarang?" tanya Noah.
"Kenyang banget."
"Sedihnya sudah hilang bukan?"
"Sudah. Makasih ya, Sayang, kamu membantuku melupakan masalahku."
Noah tersenyum dan mengacak rambutku. "Tentu saja. Sudah malam. Aku harus pulang. Kalau kamu sedih lagi, telepon aku ya!"
Aku balas tersenyum dan menganguk. "Tentu. Makasih ya kamu selalu ada buatku. Aku bersyukur memiliki kamu!"
"Aku juga bersyukur memiliki kamu. I love you!"
"I love you too!" Noah mengecup keningku lalu pamit pulang. Kuantar Noah sampai depan pintu dan kembali kurasakan ada sorot mata yang terus menatap ke arah kami. Siapa? Kenapa gerak gerikku seakan terus diawasi?
*****
terimakasih kak author..sukses u karya2 selanjutnya🙏💐
keren sih jadi cowok 😁
kaget pas bilang mantan narapidana🙃
sirik aja kamu Zah, klu udh pikirannya negatif yaa susah deh🤦♀️
Rina jg fun2 aja sama Luna, Bahri jugaa..loe aja yg sirik Zizah
sskarang aja bilang kesepian ga ada teman..telat Pak🤪