"Gue peringatin sama lo, jangan pernah sentuh barang-barang gue!" ucap Refano sambil menarik kasar gantungan kunci yang ada di tangan Wafa.
"Dan satu lagi. Jangan pernah lo deketin Fani. Karena lo cuman bawa pengaruh buruk buat dia." suara datar dan tatapan tajam Refano tujukan kepada Wafa yang masih setia berdiri didepannya.
"Fani teman aku. Dan aku merasa bahwa nggak ada salahnya Fani membuat keputusan yang membuat dia jadi lebih baik." balas Wafa dengan berusaha untuk tidak sakit hati dengan ucapan Refano barusan.
"Lebih baik dengan berhijab maksud lo?"
"Apa yang salah dengan hijab?"
"Nggak usah ikut campur urusan keluarga gue. Dan ingat, lo nggak tahu apa-apa soal kehidupan gue. Jadi berhenti untuk pengaruhin Fani atau lo akan menyesal."
Bagaimana kisah Wafa selanjutnya? akankah dia mampu untuk menghadapi rintangan demi rintangan yang menimpa hidupnya?
Silahkan berkunjung di IG author: awanmendung_26 🌻🌻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwanMendung26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjelasan Fani
Setelah melaksanakan salat subuh, Wafa kini disibukkan dengan segala rutinitas yang ada di dapur. Seperti biasa setelah membantu ibunya, ia kemudian bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Tidak lupa sebelum berangkat, dia dan keluarganya sarapan bersama. Wafa kemudian membereskan piring kotor bekas sarapan mereka dan membawanya kedapur. Ibu Yana kini hanya bisa mengikut Wafa dari belakang.
"Wafa?" panggil bu Yana. Mendengar hal itu Wafa menoleh ke arah sang ibu.
"Iya, bu. Kenapa?"
"Kalau ibu berhenti jual gorengan dan kerja di tempat catering teman ibu, menurut kamu gimana?" Tanya ibu Yana yang seolah meminta saran kepada Wafa.
"Kalau Wafa terserah ibu aja. Asal ibu nggak terlalu kecapean gara-gara kerja."
"Ibu rasa kerja di tempat catering nggak terlalu berat dan gajinya juga lumayan."
"Kalau menurut ibu pekerjaan itu nggak memberatkan ibu, ya, Wafa dukung ibu aja."
Samar-samar diruang tamu Meila mendengar kakaknya sedang mengobrol dengan sang ibu. Entah apa yang mereka bicarakan Meila tidak terlalu memusingkan. Yang dia kesalkan saat ini adalah kakaknya belum juga kembali dari mengantar piring-piring kotor di dapur padahal jam sudah menunjukkan pukul 06.50.
"Kak---" baru saja Meila ingin berteriak memanggil sang kakak tetapi niatnya dia urungkan setelah melihat Wafa keluar dari arah dapur.
"Kenapa? Mau teriak lagi?"
"Nggak capek apa teriak mulu? Nanti pita suara kamu bisa rusak lama-lama." Lanjut Wafa yang jengah dengan kelakuan adiknya yang memiliki hobi teriak itu.
Meila mengabaikan omelan Wafa dan langsung melangkah kearah bu Yana. Meila mencium punggung tangan sang ibu kemudian berpamitan untuk berangkat kesekolah.
Wafa dan Meila kini berada diperjalanan menuju sekolah Meila. Namun tiba-tiba saja Wafa merasa ada yang aneh dengan motornya itu. Wafa kemudian berhenti untuk mengecek kondisi motornya dan benar saja ban motor bagian depannya kempes.
"Ya, ban motornya kempes Mei," ucap Wafa sambil menatap lesu ke arah Meila.
"Mana bengkel jauh lagi,"
"Duh gimana ni kak, mana 15 menit lagi gerbang sekolah aku bakalan ditutup." Meila menjadi cemas sekarang.
Tidak ada cara lain lagi selain Wafa harus mendorong motornya menuju ke bengkel. Dan baru beberapa langkah tiba-tiba saja sebuah mobil putih berhenti tepat didepannya. Seseorang kemudian keluar dari dalam mobil tersebut dan kini berjalan menghampiri Wafa dan Meila.
"Fani?" Ucap Wafa yang heran tiba-tiba saja Fani lewat di daerah sini padahal ini bukan daerah rumah Fani.
"Motor kamu kenapa Fa?"
"Bannya kempes Fan. Mana bengkel disini jauh. Jadinya aku harus dorong deh." penjelasan Wafa barusan membuat Fani langsung menatap jam dipergelangan tangannya.
"Ini udah jam berapa. Pasti Meila bakalan telat kalau kayak gini."
"Kalian ikut aku aja, ya?" Ajak Fani yang tak tega melihat Wafa dan Meila harus mendorong motornya.
"Nggak ngerepotin Fan?" Jujur saja, Wafa tak enak hati. Meski dia sekarang memang butuh tumpangan namun dia juga tidak mau menyusahkan orang lain.
"Ya ampun Fa, kamu kayak sama siapa aja. Ya, udah sekarang kalian masuk ke mobil biar motor kamu nanti supir aku yang bawa ke bengkel." Mendengar ucapan Fani, sopirnya pun mengangguk patuh dan mengiyakan.
Mereka akhirnya memilih untuk berangkat bersama dan Meila juga bisa bernafas lega karena tidak terlambat kesekolah.
"Wafa, habis kuliah ikut aku, yuk. Aku mau jelasin soal yang kemarin." Fani kembali fokus untuk menyetir dan memperhatikan jalan. Sedangkan Wafa yang duduk disampingnya hanya bisa menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Hari ini Wafa tidak membawa kripik ke kampus karena ibunya juga sedang sibuk sedari kemarin dan tidak sempat untuk membuat kripik. Dengan tangan kosong Wafa akhirnya memasuki area kampus dengan berbagai macam tatapan mahasiswa lain yang ditujukan untuknya.
Hari ini Wafa ada 3 mata kuliah dan itu artinya dia akan pulang sore hari ini. Setibanya di kelas, dia kemudian mengedarkan pandangannya mencari Refano disana. Namun, dia sama sekali tak menemukan Refano. Akhirnya kuliah pun berakhir tanpa Refano yang tak terlihat sama sekali hari ini.
"Wafa!" panggil seseorang dari arah belakang yang melihat Wafa baru saja keluar kelas.
"Eh Fani? Kenapa?"
"Kok kenapa?" Fani yakin pasti Wafa sudah lupa dengan janji mereka pagi tadi. Namun, melihat reaksi Fani, Wafa kemudian mencoba mengingat urusannya dengan Fani dan benar saja mereka sudah ada janji setelah jam kuliah masing-masing berakhir.
"Hehe, aku lupa Fan. Soalnya mata kuliah aku yang terakhir terlalu berat materinya. Jadinya fokus aku cuman ke mata kuliah. Sampai lupa kalau ada janji sama kamu."
"Ya, udah yuk pergi sekarang!" ajak Fani kemudian menarik pergelangan tangan Wafa dan melangkah menuju parkiran. Kelas Wafa memang tak jauh dari lokasi parkiran hingga tidak membutuhkan banyak waktu lagi untuk mereka sampai di depan mobil Fani.
Merekapun akhirnya menuju kesuatu tempat yang sama sekali Wafa tak tahu. Sedari tadi Wafa juga bertanya kemana mereka berdua akan pergi dan Fani hanya menjawab "udah, nanti kamu liat sendiri kalau kita udah sampai." Wafa pun akhirnya memilih diam dan menatap keluar jendela menikmati pemandangan yang indah disana. Hingga akhirnya mobil Fani berhenti pada suatu tempat yang hanya ada rumput hijau dan pepohonan besar disana. Namun, dari tempat itu kita bisa melihat jelas bagaimana anak-anak bermain dengan gelak tawa yang sangat jelas di pendengaran Wafa. Kini mereka memilih duduk di bawah salah satu pohon besar yang ada disana. Tempatnya memang terlihat sederhana. Namun, ternyata sangat menenangkan saat berada ditempat itu. Rumput hijau yang menyegarkan mata dan angin yang bertiup menambah ketenangan di tempat itu.
Wafa kemudian melirik Fani yang ada disampingnya. Fani terlihat fokus pada anak-anak yang tak jauh dari posisi mereka.
"Fa. Coba deh liat mereka. Mereka bisa tertawa lepas walau hanya ditempat sederhana seperti ini." Ucap Fani sambil menunjuk ke arah segerombolan anak-anak yang sedang bermain itu.
"Iya, Fan. Mereka kelihatan bahagia banget dengan kehidupan mereka." Wafa kembali menatap Fani yang sama sekali tak bisa mengalihkan fokusnya pada anak-anak disana.
Beberapa menit mereka terdiam. "Fani, kenapa kamu bawa aku ke sini?"
"Ini tempat aku menenangkan diri kalau aku lagi ngerasa banyak beban Fa. Perasaan aku tiba-tiba aja tenang kalau berada di tempat ini." Fani kemudian menoleh ke arah Wafa yang ternyata juga sedang menatapnya.
"Kamu mau dengar nggak kisah keluarga aku? Dan kenapa kak Fano bisa benci sama perempuan yang berhijab?" Fani mengucapkan hal itu seolah tahu apa yang Wafa pikirkan sedari kemarin.
"Sebelum aku ceritain semuanya. Aku juga mau memperjelas hubungan yang sebenarnya antara kak Fano dan aku. Kami berdua adalah saudara kembar. Tapi aku selalu manggil kak Fano dengan sebutan 'kak' karena memang kak Fano yang lebih tua."
"Dulu keluarga aku dan kak Fano adalah keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang. Namun, semua itu tiba-tiba berubah sejak 6 tahun yang lalu di mana aku dan kak Fano melihat dengan jelas bagaimana papa datang kerumah dengan membawa seorang perempuan yang tidak lain adalah selingkuhannya." kini Fani mulai menceritakan kisah keluarganya yang dapat membuat Wafa sedikit terkejut mendengar semua itu. Wafa memilih diam hingga akhirnya Fani melanjutkan kisahnya.
"Kamu bisa bayangin gimana perasaan aku, kak Fano dan Mama aku waktu itu? Kami semua syok dengan perubahan sikap Papa. Bahkan Papa dengan tak berperasaan memberitahu kami bahwa dia akan menikah lagi dengan seorang perempuan yang berhijab yang dibawanya itu. Perempuan itu bahkan terlihat menutup aurat dengan baik. Tapi entah kenapa dia malah merebut Papa dari kami. Waktu itu Mama syok berat dengan semuanya yang tiba-tiba. Mama sampai nggak bisa ngomong apa-apa lagi dan akhirnya hanya bisa menangis sambil memeluk aku dan kak Fano." Tanpa disadari air mata Fani menetes ketika mengingat masa lalu keluarganya yang begitu pahit untuk diterimanya.
"Karena Mama tidak ingin diduakan akhirnya Mama memilih untuk berpisah dengan Papa. Sebagai anak tentu perpisahan orang tua adalah hal yang paling menyakitkan. Ditambah lagi semenjak papa menikah, Papa sama sekali nggak pernah menjenguk kami atau bahkan sekadar menanyakan kabar kami. Dan beberapa bulan setelah kejadian itu Mama jadi depresi berat dan lebih banyak menyendiri. Aku dan kak Fano nggak tega liat Mama waktu itu yang setiap hari hanya bisa menangis dan mengurung diri dikamar. Sampai akhirnya aku dan kak Fano bertekat untuk membuat Mama bangkit kembali dari keterpurukannya. Satu tahun lebih Mama berjuang untuk menghilangkan depresinya. Kami bahkan harus bolak balik ke dokter dan psikeater untuk konsultasi. Sampai akhirnya perlahan mama bisa sembuh dan bisa menerima semua kenyataan yang ada. Dan selama itu pula Papa sama sekali nggak pernah nemuin aku dan kak Fano. Aku tahu setelah berpisah mungkin akan ada kata mantan istri. Tapi, itu hanya berlaku untuk pasangan kan? Bukan anak. Bagaimana pun aku juga butuh kasih sayang Papa. Tanpa disadari di balik kejadian itu ternyata juga merubah kak Fano menjadi sosok yang pendiam dan pendendam. Dia bahkan sangat dendam dan benci dengan perempuan berhijab. Menurutnya perempuan berhijab itu bukan untuk menutup auratnya tapi aibnya. Mereka hanya menggunakan hijab untuk menutupi sifat buruknya di mata masyarakat."
"Jadi karena itu Refano bisa benci sama perempuan berhijab?" Tanya Wafa pelan dan kemudian mendapat anggukan dari Fani.
"Bahkan perempuan itu pernah fitnah kak Fano kalau kak Fano pernah coba buat nyelakain dia karena tidak terima dengan keputusan Papa. Memang waktu itu kak Fano marah besar dengan Papa. Sampai-sampai kak Fano menyimpan benci itu sampai sekarang. Tapi, sebenci-bencinya kak Fano dia nggak mungkin ngelakuin hal yang kayak gitu."
"Maaf Fan. Aku boleh tahu tidak kenapa kemarin kalian ada di rumah Papa kalian?" Sungguh Wafa sebenarnya sangat penasaran dengan semua ini.
"Itu semua karena Mama aku yang minta aku dan kak Fano buat tinggal disana. Awalnya kak Fano menolak dengan tegas. Tapi karena kak Fano sangat menurut ketika Mama yang minta akhirnya kak Fano mau tinggal disana walaupun hanya setiap hari Rabu saja."
"Berarti Mama kamu sudah maafin Papa kamu?"
Fani mengangguk. "Aku dan Mama udah maafin Papa semenjak Papa berpisah dengan perempuan itu. Lebih tepatnya oapa di tinggalkan oleh perempuan itu dan menikah lagi dengan laki-laki lain. Semenjak itu Papa sangat menyesal dan merasa bersalah karena meninggalkan kami dan memilih perempuan itu. 2 tahun buat Papa berjuang untuk dapat maaf dari kami. Hingga akhirnya Mama sama aku ikhlas buat maafin Papa. Tapi, semua itu sama sekali nggak berlaku buat kak Fano yang ternyata belum bisa maafin Papa karena kejadian waktu itu. Mama selalu bujuk kak Fano buat maafin Papa tapi hal itu yang pertama kali dalam hidup kak Fano buat menolak permintaan Mama. Sebelumnya kak Fano nggak pernah menolak apapun yang Mama minta. Tapi untuk hal satu itu kak Fano sama sekali belum bisa buat maafin Papa." Fani mencoba untuk tidak mengeluarkan air matanya lagi. Meski rasa sesak saat menceritakan itu semua selalu saja dia rasakan ketika dia mengingat bagaimana kehidupannya dulu. Semua tiba-tiba merubah orang-orang yang ada disekitarnya terlebih saudara kembarnya.
"Maafin aku, ya, Fan. Gara-gara kamu jelasin semuanya sama aku, kamu jadi harus teringat lagi sama masa lalu kamu." kini rasa bersalah itu tiba-tiba muncul saat Wafa melihat dengan jelas bagaimana Fani berusaha untuk tetap terlihat kuat saat didepannya.
"Nggak kok Fa. Bagaimana pun masa lalu itu bagian dari hidup kita. Sepahit apapun masa lalu kita, pada akhirnya dia akan membawa kita menjadi pribadi yang lebih kuat lagi seperti sekarang."
Wafa tersenyum mendengar hal itu. "Aku percaya kalau suatu saat kamu bisa merubah kembali Fano jadi kembaran kamu yang dulu."
Fani menatap Wafa untuk beberapa detik hingga akhirnya dia meraih tangan Wafa untuk di genggam.
"Kamu mau nggak bantuin aku untuk ngubah kak Fano?" Wafa kaget bukan main dengan ucapan Fani. Berurusan dengan Fano adalah hal yang sangat Wafa hindari. Mengingat Refano juga sangat membencinya.
"Aku-"
"Aku yakin kamu pasti mau kan?"
"Ha?" Wafa dibuat bengong karena pertanyaan Fani. Seketika Fani tertawa melihat ekspresi Wafa yang menurutnya itu lucu.
Wafa yang melihat Fani tertawa akhirnya ikut tertawa. Merekapun menghabiskan waktu disana. Wafa benar-benar tidak menyangka kehidupan Fani ternyata menyimpan luka yang masih membekas. Wafa seketika berfikir bahwa ternyata kehidupan yang kita lihat dari luar belum tentu sama dengan apa yang pernah mereka lalui.
Larut dengan pikiran masing-masing akhirnya merekapun memilih untuk beranjak dari tempat itu dan Fani langsung mengantar Wafa pulang ke rumahnya.
betapa indahnya bersama mahrom yg sejalan..
semoga solih sholihah q, juga mendapatkan spt keindahan kisah ini d akhirnya..aamiin
sub
like
vote
iklan
komen
kopi
stars
cha yo..
😘😍😘😍😘😍😘😍
berharap terbaik
apa yg terjadi skrg..adlah berharap terbaik kedepanya. aamiin..
menjaga hati..
sakit
buku diary
dl zaman nabi yusuf yg oncek2 bagianya kaum hawa, yg ampe tak menyadari tanganya kepisau saking gantenge..nabi yusuf
x ini berbeda ....hehehhe
🤣😂😁😀😃😅😆😉
krn tak bs melupakan jk hati terluka. uhhhhh..hny bs menguatkan diri sendiri.. cha yo..semua siper women disini i luv u pull
😘😍😘😍😘😍😘😍😘😍😘😍
berharap yg yerbaik