Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.
Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.
Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: PERHATIAN YANG TERLAMBAT DATANG
Rian segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk pemeriksaan menyeluruh. Beruntung, tak ada luka serius yang dideritanya—hanya benturan keras di kepala, luka lecet di sekujur tubuh, dan kelelahan yang ekstrem. Namun dokter mewajibkannya dirawat inap semalam untuk pemantauan lebih lanjut.
Sepanjang waktu itu, Nadia tak pernah beranjak dari kursi di samping tempat tidur. Ia melepas segala atribut kekuasaannya—jas yang rapi, sikap tegas, dan topeng ketidakpedulian yang selama ini ia pasang. Kini ia hanyalah wanita yang sedang mengkhawatirkan keselamatan pria yang pernah menjadi seluruh dunianya. Ia membersihkan sisa lumpur di wajah Rian dengan kain lembut, memastikan infus mengalir lancar, dan sesekali mengecek suhu tubuhnya dengan punggung tangan—hal-hal kecil yang dulu selalu ia lakukan saat Rian pulang lelah atau jatuh sakit.
Saat Rian perlahan membuka mata sepenuhnya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Nadia yang tampak lelah namun sorot matanya penuh perhatian yang tak bisa lagi disembunyikan.
"Kau... di sini sejak tadi?" tanyanya pelan, suaranya masih terdengar lemah.
Nadia mengangguk singkat, menyeka sudut matanya dengan cepat. "Dokter bilang kau harus istirahat total. Kau beruntung tidak terluka parah."
"Aku lebih beruntung karena kau ada di sini," jawab Rian lirih. "Dulu... saat aku sakit sekalipun, kau selalu merawatku tanpa mengeluh. Tapi aku... aku sering mengabaikanmu, bahkan saat kau terlihat sedih sendirian."
Kalimat itu menusuk hati Nadia. Ia menunduk, menatap tangan Rian yang dibalut perban tipis. "Perhatianku dulu sering kau anggap beban, Rian. Kau pernah bilang aku hanya mengurus hal-hal sepele yang tak penting bagimu."
"Aku bodoh, Nad. Aku benar-benar buta," isak Rian pelan, matanya berkaca-kaca. "Hari ini, saat tanah itu longsor dan aku pikir waktuku sudah habis, satu-satunya hal yang terlintas di pikiranku hanyalah penyesalan. Penyesalan karena belum sempat membalas sedikitpun kebaikanmu. Penyesalan karena baru sadar betapa besarnya perhatian yang kau berikan, saat kau sudah tak lagi ada di sisiku."
Rian meremas selimut pelan, menahan rasa sakit sekaligus rasa sesak yang tak kalah perih. "Sekarang... saat kau berdiri di sini, merawatku kembali... aku tahu perhatian ini datang terlambat. Aku tahu aku tak berhak mengharapkan apa-apa lagi darimu. Tapi biarkan aku... setidaknya sekali saja... membiarkanmu tahu bahwa aku sadar betapa berharganya setiap tetes keringat dan air matamu yang dulu tak pernah kuhargai."
Nadia menarik napas panjang, berusaha menahan getaran di dadanya. Ia tahu benar rasa sakit karena perhatian yang datang terlambat adalah rasa sakit yang paling sulit diobati. Namun melihat ketulusan di mata Rian, ia tak sanggup lagi memasang tembok setinggi dulu.
"Istirahatlah dulu," ucapnya pelan, suaranya melembut tanpa sadar. "Kita bicara nanti saat kau sudah lebih kuat. Dan ingat... menyadari kesalahan saja belum cukup. Kau harus membuktikannya, meski waktu mungkin tidak akan pernah kembali seperti semula."
Di luar kamar rawat, Diana yang baru tiba terhenti di ambang pintu. Ia melihat bagaimana lembutnya Nadia memperlakukan Rian—sesuatu yang tak pernah ia dapatkan dari pria itu sedemikian rupa. Ia sadar, perhatian yang kini Rian terima memang datang terlambat, namun itulah kenyataan pahit yang harus ia terima: hati Rian tak pernah benar-benar berpaling dari wanita yang dulu ia buang, dan kini wanita itulah yang kembali menjadi sandaran hidupnya.
(Lanjut ke Bab 21?)