Bagaimana bila seseorang yang selama ini kamu cinta, pergi begitu saja?
Meninggalkanmu sendiri, tanpa kau mengerti dimana letak kesalahan?
Saat semua telah tersusun indah dalam sebuah harapan, dengan mudahnya dia menghancurkan susunan harapan dan anganmu bersama dirinya?
Setiap manusia pasti pernah berada di posisi tersebut, namun mereka semua memiliki cara yang berbeda untuk melewatinya.
Namun, jika semua itu terjadi pada hidupku... Aku belum tau harus memilih jalan yang seperti apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zubi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 "Bimbang"
****************
Bodoh, entah mengapa aku merasa bodoh. Bukankah aku telah mengakui bila aku dan dirinya tidak memiliki ikatan khusus. Rasa hanya akan jadi sebuah rasa, rasa tak harus memiliki semua, cukup merasakan dalam hati tanpa harus memaksakan untuk memiliki. Sekali lagi aku akui aku cemburu, sekali lagi aku sadar siaplah diriku.
Sempat aku khawatir bila dirimu akan mengkhawatirkan diriku, setelah melihatmu, ternyata tiada yang perlu di khawatirkan. Ada yang membuatmu tersipu dan bahagia disana. Seandainya itu bahagiamu, aku mendukungmu.
Entah apa lagi berikutnya terjadi padaku. Dulu, dia yang menjadi sumber kekuatanku. Namun, jika nanti dia terus bersinar semakin terang, perlahan dia akan menghapus diriku, karena aku hanyalah bayangan.
Mungkin, sebelum dia semakin terang, aku akan tetap ada untuk menjadi slah satu bagian dari dirinya. Sampai semua benar-benar terjadi.
****************
Nala sangat ingin menandatangi kontak yang di tapawarkan oleh Nico, namun biar bagaimanapun dia harus meminta persetujuan dari ibunya. Dengan segera Nico mengantarkan Nala untuk pulang kerumahnya untuk mendapatkan izin dari orangtua Nala.
Mendengar bila Nico ingin mengantar ya pulang, Nala pun tidak menyarankan untuk mengantar ya sampai rumah. Karena jalan menuju rumah Nala adalah jalan sempit yang hanya bisa di lewati motor sala, dan juga rumah Nala yang sempit akan membuat Nico tidak nyaman nantinya.
Namun Nico tetap memaksa untuk mengantarkan dirinya pulang, dia juga mengatakan sudah terbiasa dilingkungan yang padat penduduk, karena semasa kecil Nico dan orangtuanyapun hanya tinggal disebuah kontrakan kecil. Pada akhirnya Nala mengizinkan Nico untuk mengantar dirinya.
Mobil Nico hanya bisa parkir di sebuah mini market yang berada di pinggir jalan raya. Nico berjalan di samping Nala. Sesekali Nico mencuri pandangan untuk menatap Nala. Nico tidak berhenti mengagumi Nala dalam hatinya. Ia pun menyadari bila dirinya telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Nala, bahkan sejak pertama kali Nico melihat Nala dalam sebuah video.
Tiba-tiba warga sekitar pun hanya tercengang melihat seorang artis terkenal berjalan melewati tempat tinggal mereka, beberapa yang memang fans berat dari Nico pun mengikuti kemana Nico dan Nala pergi.
"Yang itu rumahku kak, tunggu sebentar ya aku temuin mamah aku dulu." ucap Nala dan kemudian melangkah cepat masuk kedalam rumahnya.
"mah... Mamah... Ada artis bu diluar mau kerumah kita." ucap Nala dengan antusias.
"Artis apaan nak, jangan bercanda kamu." jawab Ratih ibu dari Nala.
"Ayu, mah cepet keluar."
"Ia, ia..."
Nala beserta orangtuanyapun keluar bersegera keluar rumah.
"Mah, ini Nicolas Jeremy, penyanyi terkenal itu." ucap Nala memperkenalkan Nico pada Ratih.
Dengan cepat Nico meraih tangan ibu Ratih dan segera mencium tangannya.
"Saya Nico bu." ucap Nico setelah mencium tangan ibu Ratih.
"Ayo nak, sini masuk dulu." ajak ibu Ratih pada Nico.
"Baik bu." jawab Nico.
Nico segera masuk ke rumah Nala. Sebelum masuk dirinya, meminta izin kepada seluruh warga yang mengikuti dirinya sedaritadi untuk masuk kedalam rumah Nala. Hal ini membuat para fans semakin kagum akan sopan santun dari seorang Nico.
Setelah sedikit basa basi, Nico kini mulai serius membicarakan perihal kontrak kerja sama dengan Nala yang sempat dibicarakan dengan Nala sebelumnya. Ibunya sempat berfikir, mengingat saat ini Nala masih bersekolah dan ini tahun terakhirnya bersekolah, harus lebih intens belajar agar lulus sekolah dengan baik.
Nico menjelaskan teknis kerja sama yang akan dia jalankan bersama Nala, dan dia akan berjanji kerja sama ini tidak akan menganggu aktifitas sekolahnya. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya ibu Ratih pun setuju dan bersedia menandatangani kontrak tersebut. Ratih sangat senang dengan keputusan orangtua tercintanya teraebut. Dengan begitu cita-cita Nala untuk menjadi penyanyi profesional pun selangkah lebih maju.
Dengan penandatanganan surat kontrak kerja sama tersebut, Nico pun merasa bisa semakin dekat dengan Nala. Bahkan mungkin, dirinya bisa melihat Nala setiap hari. Setalah semua sudah selesai, Nico pun berpamitan pada Nala dan orangtuanya untuk pulang. Nico juga memberikan iphone keluaran terbaru untuk Nala sebagai hadiah dari pekerjaan pertamanya, yaitu bernyanyi di restoran Pada saat makan siang tadi.
"Kak, apa ini ga berlebihan? Ini kan mahal banget." ucap Nala.
"itu sebagai hadiah pertama kamu, karena kamu udah mau nyanyi satu lagi di restoran tadi." ucap Nico dengan senyuman
"Tapi ini..."
"Udahlah, nanti aku hubungi kamu untuk project kita berikutnya. Ya udah aku pulang dulu ya, bu aku pamit pulang" ucap Nico dan kemudian pamit untuk pulang dengan mencium tangan ibu Ratih sekali lagi.
Setelah Nico telah pergi meninggalkan kediaman Nala, kini par tetangga kembali menanyakan perihal apa yang ingin seorang Nico lakukan dengan keluarga bu Ratih. Bu Ratih menjelaskan sedikit kronologi yang terjadi, dengan serentak para tetangga ibu Ratih memberikan selamat atas kerjasama yang terjalin antara Nala deng Nico.
"Selamat ya bu, siapa tau jadi mantu hehehe..." ucap para tetangga bergurau.
................
"Loh, mau kemana nak?" Tanya Ibu Ratih yang melihat anaknya sudah memakai sepatu bersiap untuk pergi.
"Mau cari si Jawa mah, hari ini dia ga masuk sekolah. Nala khawatir sama dia. Nala pergi dulu ya bu." jawab Nala dan bergegas pergi menuju terminal.
Nala mencari keberadaan orang yang dia sayangi. Nala telah mencari ke beberapa tempat di terminal, namun belum menemukan keberadaan Awan. Nala pun menuju tempat tinggal Awan. Disana pun Nala tidak menemukan keberadaan Awan, bahkan tetangga Awan mengatakan bila Awan sudah tidak melihat Awan sejak kemarin.
Kekhawatiran Nala pun semakin besar, Nala pun memutuskan untuk menunggu Awan di terminal, berharap ia dapat bertemu Awan disana. Nala ingin sekali menceritakan tentang betapa bahagianya saat ini karena telah membuat kontrak kerja sama dengan artis terkenal. Namun rasa bahagia itu perlahan luntur, saat ini Nala lebih memikirkan tentang keadaan orang yang ia cintai saat ini.
'Lo dimana sih Wa, gue khawatir banget wa. Untuk apa gue bahagia kalo Lo ga ada disamping gue?' gumam Nala dalam hati.
Tanpa terasa air mata pum menetes membasahi pipi Nala. Tiba-tiba ada seseorang yang memberikan sapu tangan pada Nala yang sedang menangis sendiri di sebuah kursi tunggu yang berada di terminal.
...****************...
Di kediaman mayang~
Aku mencoba untuk mengistirahatkan diriku, mengistirahatkan hati dan fikiranku. Namun, mata ini tak sanggup terpejam, hati dan fikiranpun bergerak tidak sefaham, mungkin ini yang dinamakan gelisah. Timbul pertanyaan besar dalam hatiku. Masih kah sempat dirinya ingat padaku saat ini? Atau dia telah melupakan aku? Atau mungkin dia mencarokubdan tidak mampu menemukanku?
Aku pun mengumpulkan tenagaku untuk pergi ketempat biasa aku dan dia bertemu. Sejujurnya tubuhku seperti menolak untuk diajak berjalan, namun aku fikitan dan hatiku yang memaksaku untuk tetap bergerak.
Aku berharap dirinya ada disana. Ada menunggumku di tempat biasa kita bersama. Aku membuka pintu, ternyata ruang tengah ini kosong. Aku tidak melihat ada Mayang disana, mungkin berada dikamarnya. Dengan tertatih, aku berjalan meninggalkan rumah mayang.
Aku berjalan kaki menuju terminal. Aku melewati tempat dimana aku terakhir sadarkan diri. Kulihat serpihan gitarku yang telah hancur lebur dan mini MP3 yang pernah dia berikan padaku. Aku berusaha mengumpulkan serpihan Mini MP3 tersebut. Sepertinya memang sudah tidak terselamatkan.
Aku terus berjalan menuju tempat dimana aku dan dirinya menunggu bus yang akan berangkat mengelilingi kota. Aku pun tersenyum, ketika dari kejauhan aku melihat dirinya ada disana. Dengan sekuat tenaga aku mencoba melangkah secepat mungkin, karena aku tak ingin membuatnya menungguku lebih lama lagi.
Saat jarak diantara aku dan dirinya semakin dekat. Ada yang mendahuluiku, sepertinya aku tidak asing dengan orang itu. Dan benar saja, orang itu menuju ke arah Nala yang tengah duduk sendiri. Ya, sosok itu adalah Nico, dengan kacamata hitam, dan menggunakan topi, serta hodie berwarna hitam. Aku melihat dia memberikan saputangan miliknya kepada Nala.
...****************...
Bersambung...
tebakanku kalau pak yadi meninggal awan suruh jagain mayang deh
perasaan nico ngintil mulu deh