Nevan Roderick. Seorang Mafia kejam berdarah dingin dan tidak pernah terlibat dengan wanita manapun tiba-tiba tertarik dengan seorang gadis yang tanpa sengaja ditemuinya saat berada dalam kejaran para musuhnya.
Revalina Ainsley. Gadis sederhana dan cerdas yang memilih hidup mandiri karena permasalahan orang tuanya. Terpaksa terlibat dengan Nevan, pria yang dengan paksa masuk dan mengobrak-abrik kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hoshiily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Istriku!
Jam di dinding menunjukkan pukul 6 pagi, saat Reva bangun dari tidurnya. Ia turun ke meja makan, setelah cuci muka dan sikat gigi.
"Nevan mana bi?" Tanya Reva yang sejak tadi tidak melihat sosok Nevan
"Tuan belum pulang Non"
"Belum pulang? Bukannya semalam udah pulang bi? " Tanya Reva karena semalam ia sempat terbangun tengah malam saat berniat ke wc dan Nevan masih tertidur di dekatnya
Reva yang awalnya ingin protes karena lagi-lagi Nevan tidur di dekatnya hanya bisa pasrah membiarkannya tidur, setelah melihat wajahnya yang terlihat begitu kelelahan.
"Mungkin karena Non Reva makanya Tuan pulang ke rumah. Biasanya kalau ada urusan di luar, Tuan bisa tidak pulang berhari-hari"
Reva hanya manggut-manggut mengerti sembari menatap sarapan di meja makan dengan mata berbinar.
"Kalian berdua, ayo duduk denganku" Pinta Reva pada kedua bawahan Nevan yang sejak tadi berdiri diam mengawasi Reva
"Iya Non.. " Keduanya mendekat ragu-ragu
"Ayo duduk. Kita sarapan bareng" Pinta Reva yang langsung mendapat penolakan dari keduanya yang kini menggeleng tidak berani
"Aku tidak suka makan sendiri. Jadi sekarang duduk temani aku makan" Pinta Reva sekali lagi. Bukan karena tidak suka sendiri tapi ia benar-benar tidak terbiasa makan dengan diawasi seperti itu
Dengan terpaksa keduanya duduk di meja makan menuruti permintaan Reva. Mengingat perkataan Nevan yang menegaskan jika perintah dari Reva sama halnya dengan perintah darinya.
"Siapa nama kalian?"
"Saya David, Non"
"Saya Rehan, Non"
Setelah perkenalan singkat itu, ketiganya tanpa sadar menjadi akrab terutama karena ketiganya seumuran. Khususnya David yang sedikit lebih ceria ketimbang Rehan yang sedikit pendiam.
***
Reva kini berada di ruangan menembak bersama dengan David dan Rehan yang sudah diberi arahan khusus untuk menjadi pengawal dari Reva bahkan meskipun Reva berada di rumah.
"Jadi bagaimana cara melakukannya?" Tanya Reva memutar-mutar pistol itu santai seolah itu hanyalah barang mainan di tangannya
"Hati-hati Non" Ujar Rehan memperingati lalu mengambil pistol itu bersiap memperlihatkan cara menggunakannya
Rehan mengenakan penutup telinga, sekedar melindunginya dari suara tembakan lalu memperbaiki posisi berdirinya dengan tangan yang kini membidik target di depannya.
Dalam satu tarikan nafasnya, Rehan menarik pelatuknya dan menembak poster bidikan itu. Hanya dengan satu tembakan itu, Reva bisa melihat seberapa mahir ia menggunakan pistol. Bahkan tembakannya tepat mengenai sasaran, menunjukkan seberapa keras ia berlatih.
Meski ia tidak tahu mengapa ia harus melakukan ini semua, Reva tetap bersedia melakukannya. Yang mungkin akan sedikit berguna untuknya di masa depan. Selain menjadi seorang hacker, Reva juga berbakat dalam beladiri dan boxing yang sudah dilatihnya dari sejak SMP karena itulah bukan masalah besar baginya jika harus belajar menembak karena ia termasuk tipe pelajar yang cepat.
Reva mengikuti arahan dari Rehan, mulai dari posisi kaki, cara melihat dan membidik target. Lalu dengan satu tarikan nafas, Reva menembak poster bidikannya. Meski tidak tembakannya tidak mengenai lingkaran paling tengah, tembakan Reva masih terbilang lumayan bagus karena tembakannya masih mengenai lingkaran.
Setelah tembakan pertama tadi, Reva mulai merasa bersemangat dan mencobanya lagi beberapa kali hingga ia bisa mengenai lingkaran tengahnya.
Rehan dan David tak kalah bersemangat nya. Keduanya juga ikut latihan di samping kiri kanan Reva. Seolah terpengaruh akan sifat kompetitif yang ditunjukkan Reva.
...***...
Beberapa hari berlalu, Reva bersama kedua pengawalnya kini semakin akrab layaknya teman. Beberapa hari terakhir ini, ketiganya menghabiskan waktu di ruang menembak, melakukan latihan boxing hingga bermain game bersama di ruang keamanan.
Beberapa hari ini, Reva belum sekalipun bertemu dengan Nevan. Karena saat Nevan pulang, Reva sudah terlelap tidur di kamarnya.
Karena hal itulah, Reva memutuskan untuk tidak tidur malam ini. Ia berkunjung ke ruang menembak, sekedar menghilangkan rasa kantuk nya.
......
Setelah satu jam berada disana, Reva merehatkan dirinya di sofa mencoba memejamkan matanya sebentar, hingga tiba-tiba pintu ruangan terbuka.
Reva yang mengira jika itu adalah Rehan dan David, memilih melanjutkan memejamkan matanya tidak perduli. Namun setelah beberapa menit terdiam, Reva akhirnya membuka kedua matanya bingung karena tidak biasanya keduanya terdiam.
"Nevan? Jadi itu kamu?" Tutur Reva kaget saat melihat Nevan duduk di sofa sebelah menatapnya intens
"Memangnya siapa yang kamu harapkan?" Tanya Nevan dengan alis terangkat sebelah
"Aku pikir Rehan dan David" Jawab Reva memperbaiki posisinya
"Oh, sepertinya aku melewatkan banyak hal beberapa hari ini"
Nevan bangkit dari duduknya lalu membaringkan kepalanya di pangkuan Reva.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Biarkan aku tidur sebentar, aku benar-benar lelah beberapa hari ini" Tutur Nevan perlahan memejamkan matanya
"Kalau begitu tidurlah di kamar"
"Aku merasa lebih nyaman disini" Tutur Nevan sebelum benar-benar tertidur di pangkuan Reva
"Sepertinya dia benar-benar lelah" Batin Reva menatap wajahnya yang memang terlihat lelah dengan mata panda melingkari matanya seolah ia belum tidur beberapa hari ini
Untuk pertama kalinya, Reva memperhatikan dengan seksama wajah Nevan. Melihatnya sedekat ini benar-benar membuatnya kagum akan ketampanannya. Bulu matanya panjang dengan alis yang sedikit tebal. Hidungnya mancung dengan warna kulit coklat eksotik.
"Apa aku setampan itu?"
Reva sontak memalingkan wajahnya malu karena tertangkap basah menatap Nevan "Bukankah kamu sudah tidur? "
Nevan lalu membuka matanya, membuatnya bertatapan langsung dengan Reva yang kini memerah menahan malu.
Tanpa menjawab pertanyaan Reva, Nevan justru melingkarkan tangannya di pinggang Reva dan menenggelamkan kepalanya dengan mata yang kini terpejam kembali.
"Sudahlah.. " Batin Reva lalu menopang kepalanya dengan tangannya, membiarkan Nevan berbuat sesuka hatinya untuk saat ini
...***...
Keesokan paginya, Reva terbangun di kamar Nevan sendiri. Setelah tanpa sadar tertidur, Nevan memindahkan Reva ke kamarnya sebelum kakinya keram karena menahannya semalam.
"Dia sudah tidak ada" Gumam Reva lalu bangkit turun ke lantai bawah
Berbeda dengan perkiraannya, Nevan ternyata berada di meja makan dengan seorang laki-laki asing baru pertama kali ia lihat di rumah itu.
"Kamu bangun" ucap Nevan menghampiri Reva yang hanya diangguki oleh Reva
Laki-laki di sebelahnya sedikit terbelalak kaget melihat seorang wanita dan parahnya Nevan memperlakukannya dengan istimewa seperti itu.
"Dia siapa?" tanyanya menatap Nevan meminta penjelasan
"Dia calon istri ku" ucap Nevan dengan bangganya membuat Reva sontak mencubit pingganya karena berbicara seenaknya
"Jangan menganggapnya serius. Dia hanya bergurau. Aku Reva"
Laki-laki itu mengangguk mengerti, dengan senyum misterius di wajahnya "Daniel Siregar. Aku dokter pribadi keluarga ini sekaligus sahabatnya" ucap Daniel berniat menerima uluran tangan Reva namun dengan cepat Nevan justru menghalangi dan menerima uluran tangan Daniel, membuat Daniel cemberut
"Dasar posesif" gerutu Daniel lalu menarik tangannya