NovelToon NovelToon
Terjerat Rasa

Terjerat Rasa

Status: tamat
Genre:Keluarga / Selingkuh / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:281k
Nilai: 5
Nama Author: Sarah Mai

Adinda Aira tidak menduga jika kekasihnya yang bernama Frans Albar telah memiliki calon istri yang akan segera ia nikahi.

Kini Adinda hamil.

Demi menutupi Aib itu, Frans memaksa Ryan Alaska yaitu teman sekaligus rekan kerjanya agar menikahi Adinda Aira untuk sementara saja. Frans berjanji akan menikahi Adinda setelah setahun pernikahannya dengan sang istri, Nia Devira.

Ryan terpaksa menerimanya karena hidupnya pada saat itu begitu bergantung kepada Frans dan sedang mengalami konflik besar dengan keluarganya.

Lantas apakah yang terjadi? Jika mereka ternyata sudah terjerat oleh rasa cinta yang dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 - Kelelahan Hati

"Baiklah Bang!"

Alamsyah mulai merapikan peralatan kecil medisnya.

"Oh Iyah Bang! Jujur Ryan sudah lelah menjadi Bodyguard keluarga Frans, aku juga tidak paham, apakah sebenarnya keluarga Frans itu baik kepadaku, ingin menolong atau malah sebaliknya, karena akhir-akhir ini, Frans suka memberikan beban kerja pribadi yang berat kepadaku. Rasanya aku ingin fokus saja mengembangkan bisnis Papa! Tapi aku tidak punya pilihan, masih membutuhkan modal yang cukup besar!"

Alam kembali menatap Ryan yang tertunduk penuh dengan kegelisahan.

"Ryan, Apa kamu sudah jarang sholat, kamu juga hampir tidak pernah lagi mengikuti pengajian di masjid, padahal setiap hari Abang menunggumu?"

"Kadang kelelahan Bang dan pas waktu sholat ada saja penghalangnya!" jawab Ryan terus menunduk.

"Abang mengerti, tuntutan pekerjaan kamu cukup berat, harus mengabdi sepenuhnya kepada manusia, tapi apakah itu bisa menyelesaikan masalah?"

Terlihat pemuda itu hanya tertunduk, paham betul setiap perkataan yang diucapkan oleh Alam.

"Ryan, berharap kepada manusia adalah kekecewaan yang disengaja!"

"Ryan malu Bang, saat datang ke masjid seperti tidak pantas untuk bertaubat dan sudah banyak juga yang tau, kalau Ryan ini adalah anak mantan Mafia Judi!" Pemuda itu hanya menunduk malu menatap Alam.

"Mantan bajingan itu lebih baik daripada mantan seorang ulama, Ryan...tidak ada manusia yang tidak memiliki dosa, aib dan kekhilafan, itu sudah takdir manusia itu sendiri, maka Allah luaskan ampunannya sebagai solusi terbaik, sekarang tinggal kita, apakah kita mau kembali kepada-NYA atau tidak!"

Ryan tertegun dengan kata-kata Alamsyah dan mulai berani mengangkat kepalanya,beri semangat para dirinya.

"Abang pulang dulu yah Ryan. Hari ini cukup lelah, karena Alhamdulillah banyak pasien."

"Terima kasih banyak yah Bang!"

"Kau masih muda, jalanmu insya Allah masih panjang, seperti harapan ibumu, dia hanya ingin kau menjadi anak sholeh!"

"Amin, Terima kasih banyak bang, Abang selalu memberikan motivasi hidup kepada Ryan dan itu sangat berharga!"

"Abang selalu menunggu kamu di forum pengajian, datanglah kapan saja kau mau!"

"Iya Bang!"

Alamsyah melangkah keluar dan menuju mobilnya.

"Hati-hati yah Bang!"

Sebelum masuk ke dalam mobil, Alamsyah menepuk kecil pundak Ryan.

"Jika kamu ada masalah, maka sholat lah, jangan bungkus sendiri masalahmu kau tidak akan sanggup, Abang sudah berjanji dengan Papa kamu, untuk sebisa mungkin membantu mu!"

"Terima kasih banyak yah Bang!" jawab Ryan dalam mata berkaca-kaca, pemuda itu anak tunggal di keluarganya.

"Assalamualaikum!" ucap Alam masuk ke dalam mobilnya.

"Wa'alakumsalam!" jawab cepat Ryan.

***

Ryan duduk termenung di ruang tamu menikmati sepinya malam itu. Sementara Adinda masih belum sadar dari pingsannya.

Waktu bergerak di angka 10.05 wib.

Ryan masih Mencoba menelpon Frans, namun masih dalam kondisi tulalit.

"Aaargh!" ucapnya kesal membuang ponselnya di atas meja, kemudian merebahkan dirinya.

"Tlililit!" Tiba-tiba ponsel Ryan berbunyi. Sontak Ryan bangkit terduduk merampas kembali ponselnya.

"Frans??" ucap Ryan menatap ponselnya lalu dengan cepat menerima panggilan itu.

"Apa kau sudah...?" tanya Frans.

"Adinda ingin bunuh diri, dia hamil!" ucap cepat Ryan memotong pembicaraan Frans, sambil menahan emosi.

"Apah?" gumam Frans, lelaki itu sempat terdiam dan akhirnya mengakuinya.

"Iyah!"

"Heh...ini, konyol sekali dan kau mengabaikannya begitu saja??" hentak kuat Ryan tidak bisa menahan emosinya lagi.

"Tolong jaga Adinda untukku Ryan, saat ini aku berada di rumah orang tuaku, besok kita bicarakan lagi, Ouh Iyah, aku harap kehamilan Adinda menjadi rahasia kita, jangan sampai orang tuaku ataupun orang tua Nia mengetahuinya!"

"Trup!" Frans langsung menutup ponselnya, tidak ingin membahas panjang masalah itu via telpon, membuat Ryan terkejut.

"Dasar, pria sakit jiwaaaaa!" teriak Ryan membuang ponselnya di kasur, mengungkapkan kekesalannya malam itu.

"Dengan entengnya, ia berkata tolong jaga Adinda untukku!" Ryan mengulang kembali ucapan Frans dengan perasaan marah.

"Jika begini terus, aku sudah mirip seperti budaknya, bukan lagi seorang Bodyguard!"

"Eeeeerh!" teriak Ryan menjambak rambutnya dengan kesal, ia mulai jenuh menjadi Bodyguard Frans yang selalu membebankan pekerjaan pribadinya kepada Ryan.

Pria itu terbaring lesu di ruang tamu, lalu menghempaskan tubuh yang lelah di atas sofa, memandang jauh menatap langit-langit rumah.

"Mengapa untuk merubah diri menjadi lebih baik, sulit sekali, terlalu banyak tantangannya! Apakah aku tidak akan pernah lepas dari Lim Woong (Paman Ryan)"

Ucapan Alamsyah terngiang kembali dipikiran Ryan;

Tuntutan pekerjaan kamu cukup berat, harus mengabdi sepenuhnya kepada manusia, tapi apakah itu bisa menyelesaikan masalah? Kamu tau Ryan, berharap kepada manusia adalah kekecewaan yang nyata!"

"Benar kata Bang Alam, aku terlalu mengabdi kepada manusia, terlalu berharap kepada Frans agar ia membantuku secara modal dan kembali bisa mendongkrak perusahaan Papa, tapi yang aku dapat hanyalah rasa lelah dan kecewa.

Besok, aku harus mengundurkan diri menjadi Bodyguard Frans. Kasihan Mama, hampir setiap hari ia selalu sendiri di rumah," rasa kantuk mulai menyerang Ryan malam itu, tubuhnya terasa ingin tidur akibat reaksi obat dan suntikan. Di sofa empuk itu Ryan mulai memejamkan matanya.

*

Banyak duka yang Ryan rasakan selama menjadi seorang Bodyguard, salah satunya ia tidak bisa pulang setiap hari untuk bertemu dengan sang ibu, karena tuntutan pekerjaan yang cukup berat, belum lagi harus mempertaruhkan nyawanya demi sang majikan, hal itu sudah menjadi dasar ketetapan sebagai seorang Bodyguard. Lelah namun hal itu harus dilalui Ryan.

*

Pukul 02.03 dini hari.

Adinda mulai tersadar, kepalanya masih terasa berat.

"Dimana aku, Apakah aku masih di dunia?" gumam Adinda berusaha mengenali suasana tempat.

"Bukankah ini di kamar ku!"

Adinda mulai mengingat, bahwa ada seseorang yang mencoba masuk ke dalam rumahnya saat ia ingin melakukan aksi bunuh diri.

Perempuan itu bangkit dengan cepat menyingkirkan selimutnya, lalu mencari tau kondisi di luar kamar.

Adinda terkejut, saat melihat kaca jendela rumahnya pecah, lalu pandangannya tertuju kepada seseorang yang terbaring lelah di atas sofa.

"Ryan!" perlahan Adinda mulai berjalan mendekati pemuda kekar itu.

Adinda kembali teringat kejadian aksi bunuh dirinya yang konyol. Wanita itu juga melihat jika tangan Ryan sedang dalam kondisi diperban.

"Jadi Ryan yang berusaha menolongku sampai dengan memecahkan kaca jendela?" tebakan Adinda yang masih memandangi lelaki itu.

"Artinya, Ryan tidak jadi pulang!"

"Aku pikir seseorang itu adalah Frans!" terlihat raut kecewa Adinda yang masih mengharapkan Lelaki yang sudah membuat dirinya hamil. Wanita itu berdiri fokus memperhatikan detail posisi tidur Ryan yang lurus sejajar dengan kakinya.

"Apakah tidur seorang Bodyguard seperti ini? begitu tegang, persis seperti patung!"

"Hem...kalau di perhatikan si Ryan lumayan tampan dan sangat lelaki, tidak heran jika dulu banyak para siswi yang menggilainya termasuk si Kirana sahabat karib ku saat di SMP, sangking fansnya, anak itu sering sekali mengambil foto Ryan diam-diam, dan berkata AKU SUKA PRIA BAD BOY!" Adinda tersenyum tipis mengingat kenangan masa lalu bersama temannya itu, cukup menghibur dirinya sejenak.

Tidak ingin menganggu tidur Ryan, dini hari itu Adinda kembali duduk termenung sambil melihat ponselnya, sama sekali tidak ada panggilan ataupun pesan dari Frans.

1
Rani Chiko
ikutan tegang q thor bacanya/Cry/
Afnan S
pada novel terjerat rasa author banyak menyelipkan dakwah lewat mama khaliza dan alamsyah secara tidak langsung para pembaca belajar akan ketenangan jiwa dengan selalu menyerahkan urusan pada sang pencipta.. good author
Afnan S
episode ini banyak bawangnya
Afnan S
jadi ingat kelucuan Andre dan indah
Mita
luar biasa
💜⃞⃟𝓛 ᎩᏬᏁhiat ⍣⃝ꉣꉣ❀∂я
Ceritanya bagus dan kereen😍🙏
Rohmadhona Vina
terimakasih kak,dari cerita ini aku jd belajar ilmu sabar & ikhlas yg ternyata sulit tp aku yakin hasilnya nanti akan indah.
Senyiur Borneo
😅😂😂😂
Senyiur Borneo
ternyata iyaa, mmg lbh mengerikaaann hahahaa...
Senyiur Borneo
wkwkkwwk
findry
selalu suka sama karyamu Thor
lovely
pergi k neraka aja Lo Frans 🥴
lovely
kasihan amat nasibmu Ryan apem s Dinda bekas s frans 🥵
lovely
aduhhh terlalu bnyak beragumen jd ngos³an bacanya🥴
lovely
dasar manusia lucnuttt c Frans seenaknya nyuruh org yg berta ggunh jawab realnya ogahhh mski diancam🥵
lovely
ini yg pacarnya siapa.yg hamilin siapa malah Ryan malaikat penolong Dinda 🥴
lovely
kasian Ryan dapat bekasan bosnya 😜
lovely
dasar cewek begokkk d Dinda😜
Supry Atun
bagus novelnya
Supry Atun
athor yg bikin kepo Ryan kwkwkwwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!