Anastasya yang biasa di panggil Ana, meneruskan pendidikan perguruan tingginya di Ibu Kota Jakarta.
Ana bukan hanya gadis desa biasa. Dia gadis yang pintar dan cerdas. Orang tuanya bekerja keras untuk bisa membiayai pendidikan Ana hingga lulus nanti.
Apakah nasib Ana akan selalu beruntung saat berada di Ibu Kota, apakah sebaliknya?
Yuk baca kisah lengkapnya hanya di Pesona Gadis Desa😊
Follow ig: mayarentika
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maya rere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 PGD
''Naik motor?'' tanya Lufi mengerutkan keningnya.
''Iya naik motor. Kamu sama aku,'' ucap Indra mengajak Lufi.
''Ngak ah, aku sama Nino aja, aku takut sama kamu,'' ucap Lufi.
''Kamu sama aku An,'' ucap Kevin menyerahkan helm kepada Ana. Ana segera memakainya dan naik ke atas motor sport milik Kevin yang berwarna merah. Sedangkan Indra mendengus kesal karna Lufi tak mau dengannya. Indra mengendarai motor sportnya yang berwarna hijau, sementara Nino mengendarai motor sportnya yang berwarna hitam dan Lukman yang berwarna putih.
Kevin paling dulu meninggalkan parkiran kampus.
''Eh eh Na, lihat tuh Indra Cs mau kemana tuh. Kevin juga boncengin siapa itu,'' ucap Sesil yang melihat Indra Cs keluar dari halaman kampus.
''Bukannya itu gadis cupu tadi, aku harus beri pelajaran ke mereka,'' ucap Ratna mengepalkan tangannya erat.
Sementara di jalan, Kevin tak henti-hentinya menatap spion yang ada di motornya. Spion Kevin hadapkan ke arah Ana yang ada di belakangnya. Jadi ia leluasa menatap wajah cantik Ana.
''Mimpi apa aku semalam,'' gumam Kevin tak henti-hentinya tersenyum. Sementara Indra kesal setengah mati, ia berkali-kali mengumpat karna tak bisa membonceng Lufi. Awalnya ia tertarik kepada Ana, namun Indra menyerah sebelum berperang jika harus bersaing dengan Kevin yang jelas-jelas ia akan kalah. Maka dari itu Indra mendekati Lufi yang tak kalah cantik, ia penasaran dengan gadis galak tersebut.
''Kita ke cafe biasa,'' ucap Kevin kepada teman-temannya, ia lebih dulu menepikan motornya.
''Oke,'' ucap Indra Cs.
Mereka pergi ke Cafe tempat nongkrong Indra Cs. Cafe yang sangat mewah menurut Ana. Karna Ana belum pernah menginjakkan kakinya di tempat seperti ini.
''Bisa-bisa uang ku tak cukup untuk satu bulan jika berteman dengan anak orang kaya seperti mereka,'' batin Ana.
''An kok malah bengong. Kita masuk yuk,'' ajak Kevin.
''Tapi aku ngak bawa uang Kak,'' ucap Ana tertunduk malu.
''Kita sekarang teman. Aku yang akan mentraktir kalian semua,'' ucap Kevin kepada teman-temannya.
Indra Cs sudah biasa di traktir oleh Kevin. Karna Kevin paling kaya disini dan Kevin sangat royal kepada teman-temannya.
Mereka segera memesan makanan yang mereka sukai. Berbeda dengan Ana, ia tak tau makanan apa yang akan ia pesan.
''An kenapa tidak memesan,'' ucap Kevin kepada Ana.
''Em, aku samakan aja seperti pesanan Lufi,'' ucap Ana kepada Kevin.
''Oke, baiklah,'' ucap Kevin.
Setelah beberapa saat, makanan yang mereka pesan sudah terhidang di atas meja. Mereka makan bersama.
''Sekarang kita sudah menjadi teman, jadi mana nomor ponsel kalian berdua,'' ucap Kevin. Lufi segera memasukkan nomor ponselnya ke hp milik Kevin, begitu juga dengan Ana.
''Kalian udah aku masukin grub,'' ucap Kevin.
''Grub? Grub apa?'' tanya Lufi penasaran. Ia segera memeriksa ponselnya.
''Dambaan mertua?'' ucap Lufi menahan tawanya.
''Hem kita-kita ini dambaan mertua kelak,'' ucap Lukman dengan percaya dirinya.
''Ya ya ya percaya,'' ucap Lufi. Ana memilih diam karna ia tak tau harus bicara apa. Ia masih canggung dengan teman barunya ini.
Di tempat yang sama namun berbeda meja, Nindy memperhatikan Ana dari kejauhan. Ia tak sengaja melihat Ana di cafe yang sama dengannya.
''Teman-teman Ana terlihat anak orang kaya semua. Dari cara berpakaian saja sudah terlihat,'' batin Nindy yang masih fokus pada meja Ana.
Tring.
Bunyi pesan masuk ke dalam hp Nindy.
Nindy hanya menatap malas ponselnya. Ia bingung saat ini mau mencari uang kemana.
*
Setelah selesai nongkrong di cafe dengan geng dambaan mertua. Ana pulang di antar oleh Kevin karna sudah terlalu sore. Lufi di antar oleh Nino menuju kampus untuk mengambil mobilnya.
Setelah sampai depan rumah, Ana segera turun dari motor sport milik Kevin. Tanpa mereka ketahui ada yang mengintip mereka lewat jendela.
''Tampan sekali pria itu. Kayaknya aku pernah bertemu di kampus deh,'' ucap Nindy yang masih melihat di balik tirai jendela.
''Terima kasih Kak. Udah kasih makan gratis dan antar pulang juga,'' ucap Ana.
''Sama-sama. Ngak usah sungkan-sungkan, sekarang kita kan teman,'' ucap Kevin mengerlingkan sebelah matanya.
''Ana masuk dulu. Maaf ngak ngajak Kakak mampir, takut ada yang marah,'' ucap Ana berlalu meninggalkan Kevin yang masih mencerna ucapan Ana.
''Maksud Ana apa sih,'' ucap Kevin. Ia segera pergi dari depan rumah Ana.
Sementara Ana segera masuk ke dalam rumah. Ia tak mendapati siapapun di rumah itu, ia segera masuk ke dalam kamar milik Nindy. Nindy yang berada di atas ranjang hanya mentapnya dengan datar.
''Baru pulang?'' tanya Nindy.
''Iya Mbak,'' ucap Ana.
Ana segera mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Tubuhnya sudah sangat lengket sekali.
Setelah selesai mandi, Ana masuk ke dalam kamar lagi, namun ia sudah tak menemukan Nindy disana. Ana segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu matanya terpejam dan akhirnya ia tidur.
Ana terbangun saat Nindy sampai di rumah sudah hampir tengah malam, Nindy juga menenteng belanjaan yang lumayan banyak.
''Habis belanja Mbak?'' tanya Ana. Dan hanya di angguki oleh Nindy.
Ana segera mengambil selimut untuk di gunakan menjadi alas untuk tidur. Ana sudah terbiasa tidur di bawah, karna Nindy tidak mau membagi ranjangnya.
*
*
Hari pun berganti, Ana yang saat ini sudah siap untuk berangkat ke kampus. Ana ingin mengambil uang yang ada di dompetnya. Namun setelah membuka dompet tak ada selembar uang pun yang ada di dalamnya.
''Ya ampun kemana uangku?'' tanya Ana bingung. Ia segera menggeledah tas yang berisi pakaiannya. Takut jatuh ke dalam tas, pikirnya. Namun yang Ana cari tak ada juga di dalam tas. Ana selalu menaruh uangnya di dalam tas yang berisi pakaian itu. Ana akan mengambil uang saku jika yang ada di dompet yang biasa ia bawa sudah habis.
''Ya Allah kok ngak ada sih,'' ucap Ana panik. Uang itu adalah uang yang diberi oleh Bapaknya untuk hidup 1 bulan. Namun masih 1 minggu di sini uangnya sudah hilang.
''Mending aku tanyakan ke Bibi,'' ucap Ana bergegas mencari Bibi Sumi.
Setelah sampai dapur, Ana melihat Bibi Sumi yang tengah memasak makanan untuk sarapan mereka.
''Bibi, Ana mau tanya. Apa Bibi tau uang yang ada di tas Ana Bi?'' tanya Ana ragu untuk menanyakannya.
''Uang apa An. Bibi ngak tau. Bibi akhir-akhir ini tidak masuk kamar Nindy. Mungkin kamu lupa menaruhnya,'' ucap Bibi Sumi.
''Nggak mungkin Ana lupa Bi. Selama ini uang itu ada di dalam tas baju milik Ana. Tapi sekarang yang tersisa hanya dompetnya saja,'' ucap Ana yang tertunduk lesu.
''Tapi disini nggak mungkin ada maling An,'' ucap Bi Sumi.
*
*
Jangan lupa like, coment, vote dan beri hadian kawan😊😊😊