Perjodohan
Terdengar klasik tapi masih banyak praktik tersebut di tengah masyarakat. Capella Permata Adityawarman, gadis 23 tahun yang baru saja menyelesaikan studinya dan bekerja sebagai jurnalis. Capella sudah dijodohkan saat ia kecil dengan Mahen. Kedua orang tersebut saling mencintai. Sebentar lagi Mahen dan Capella akan menikah, namun beberapa hari lagi pesta yang akan diselenggarakan berubah kacau saat Mahen menjadi tersangka pemerkosaan dan pembunuhan. Capella ingin membatalkan pernikahan itu dan orangtua Mahen yang terlanjur menyukai Capella serta persiapan pernikahan 90% memaksanya menikah dengan anak bungsunya yang super dingin dan nakal, Januari Harrisman Trysatia, pemuda yang masih 19 tahun. Capella harus menikahi Januari yang jauh di bawahnya dan masih labil.
"DASAR PELACUR!!" Januar meludahi Capella di depan orangtunya.
"JANUARI! DIA ISTRIMU!" teriak Megan kepada anak bungsunya.
"Sampai kapan pun gue tidak akan pernah menganggap lo istri." Januar mendorong Capella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Ferina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6
Acara pernikahan pun dilaksanakan. Para saksi kompak menyebutkan kata SAH yang artinya saat ini Capella dan Januar sudah menjadi suami istri.
Capella pun diarak keluar dan wanita itu hanya menundukkan kepala ketika ia melihat pria yang sudah menjadi suaminya.
Dada Capella tak bisa berbohong jika ia sangat gugup. Hari ini antara hari paling bahagia dan juga hari paling sakit baginya. Ia tak menyangka jika saat ini ia sudah menjadi istri dari seorang pria yang umurnya jauh darinya.
Capella tersenyum simpul dan mencium tangan Januar lalu kemudian Januar pun dengan canggung mencium kening Capella.
Ella menahan napas saat Januar melakukan hal tersebut. Dada Capella terasa melayang saat setelahnya Januar menatapnya dengan jarak dekat.
Meskipun tatapan itu adalah tatapan kebencian tapi Capella sudah senang ditatap seperti itu. Januar pun memeluk Capella dan pria itu membisikkan sesuatu.
"Status kita emang udah suami istri tapi gue gak akan pernah nganggep lo istri gue dan gue juga gak mau dianggap suami lo. Kita jalani hari-hari seperti biasanya dan jangan nuntut apapun ke gue. Dan lo juga gak berhak buat larang-larang gue kalau bawa jala..Ng gue ke rumah. Gue juga gak akan make lo yang udah bekas kakak gue. Lo gak dapat Mahen carinya gue. Murahan, bahkan lo gak pernah mikirin Mahen sama sekali. Tapi bagus biar Mahen tau gimana menderitanya."
Capella terdiam kaku. Semua harapan yang ia himpun dari kecil bahwa pernikahan adalah hari paling bahagianya lantas menjadi hari yang paling ia benci dan tak ingin ia temui.
Perlakuan Januar memang sangat keji dan tak pernah peduli dengan apapun. Capella harus menahan rasa sakit itu sembunyi-sembunyi dan memberitahu orang-orang bahwa ia baik-baik saja.
"Iya."
Capella tak punya kuasa untuk melawan Januar. Januar adalah orang yang sangat keras kepala dan juga sangat dingin.
Mereka pun melanjutkan profesi pernikahan selanjutnya. Hingga malam pun tiba dan acara pesta sudya berhenti. Seharusnya orang yang bersanding dengannya hari ini adalah Mahen, tapi Mahen malah melakukan hal tercela yang membuat Capella harus menanggung akibatnya.
Capella tak bisa berbuat apa-apa saat ia harus satu kamar dengan Januar. Januar sama sekali tidak peduli dengan kamar yang sudah dihiasi penuh dengan bunga pernikahan. Begitupula dengan Capella yang tak peduli namun dapat dilihat dari sudut matanya ia pun sangat sedih.
"Apaan sih pake bunga-bunga segala. Bunda dan papa emang alay."
Lantas Januar membuang semua bunga itu dan merusak yang sudah dihias. Capella meringis menatapnya apalagi setelah melakukan itu Januar meliriknya.
"Lo juga yang buat ginian? Alay, lo pikir ini keren. Kaya jamet. Ngarep banget lo."
"Januar!! Aku tidak tahu."
"Oh."
Kemudian Januar pun berjalan ke arah nakas dan mengambil kertas yang berisi perjanjian pernikahan. Capella terdiam saat Januar melemparkan kertas tersebut di depan Capella.
"Gak usah dibaca langsung tanda tangan aja."
"Tapi kan aku harus tau tanda tangan apa," ucap Capella dan tetap membacanya.
Di dalam perjanjian itu semuanya diuntungkan oleh pihak Januar. Sama sekali tidak memihak nya. Januar boleh melakukan apapun namun Capella ruang geraknya dibatasi.
"Pokoknya gue gak mau lo ganggu hidup gue. Lo gak boleh punya pacar tapi gue boleh."
"Kok gitu?"
"Biar ko gak kecentilan dan cari korban selain gue."
Capella tidak serendah itu. Ia juga tak mungkin melakukan hal yang dituduhkan oleh Januar.
"Kenapa gak adil."
"Lo siapa?" tanya Januar yang kemudian mencengkram rahang Capella. Ia pun tahu betapa cantiknya Capella namun Januar enggan mengakuinya.
"Iya maaf."
Januar menyentak dagu Capella. Ia pun ke kamar mandi mengganti pakaiannya. Sementara Capella terisak di atas ranjang.
"Aku tidak pernah berharap malam pernikahan yang aku impikan seperti ini."
__________
Capella baru menyadari jika tadi malam Januar tidak berada di rumah. Padahal malam pernikahan mereka dan Januar lebih mementingkan balapan liar.
Capella tetap menyediakan hidangan untuk Januar meski ia tak tahu pria itu akan pulang atau tidak. Namun Capella dengan sabar menyiapkan semuanya.
Meskipun ia tak diakui tapi Capella tetap melakukan tugas seorang istri. Ia pun menyiapkan segala kebutuhan Januar untuk kuliah sebelum ia pergi bekerja.
Suara motor di teras membuat senyum di wajah Capella pun terbit. Ia menghampiri Januar dan Januar hanya meliriknya sekilas.
"Ngapain lo?"
"Aku udah siapin semua kebutuhan kamu. Kalau mau makan, bukan aja kulkas tadi aku masakin buat kamu. Aku pikir kamu akan pulang lebih lama lagi."
"Oh."
Setelah itu Januar masuk ke dalam kamar dan tak peduli dengan Capella. Capella terdiam dan menitikkan air mata. Ternyata sesakit itu hingga ia sulit untuk bernapas.
"Dan baju mu ada di sana," ucap Capella lemah meksipun Januar sudah masuk ke dalam kamar.
Januar pun murka saat tahu bahwa baju yang ia cari tidak ada berserta almetnya. Ia keluar dengan masih menggunakan handuk hingga memperlihatkan tubuhnya yang atletis.
Sontak Capella membuang wajah dan tak berani menatap tubuh laki-laki tersebut.
"Baju gue mana an.jing!"
"Ada di sana," tunjuk Capella sembari menutup mata.
Januar mengangkat alisnya dan melirik tubuhnya. Ia pun tahu kenapa Capella memandangnya seperti itu.
"Bilang aja ko mau natap gue sepuasnya."
Kemudian Januar mengambil bajunya dan berpakaian lengkap. Capella harus menunda kepergiannya dahulu untuk melayani Januar.
"Ini lauknya."
"Hm."
Capella memperhatikan Januar makan yang benar-benar lahap. Senyum di wajah Capella pun hadir karena ternyata Januar sangat menyukai makanan yang ia buat.
"Gimana enak gak. Oh iya kamu malam tadi balapan lagi?"
"Bukan urusan lo. Udah gue bilang gak usah larang-larang gue dan ngatur-ngatur gue. Terserah gue mau lakuin apapun. Dan satu malam ini gue tidur di rumah ini dan lo keluar dari kamar. Serah lo mau tidur di mana, di dapur juga gak papa."
Januar beranjak dan mengambil susu kotak dari dalam kulkas. Hal yang paling banyak orang tidak ketahui bahwa Januar sangat menyukai susu kotak dan susu tersebut harus tersedia banyak stok di dalam kulkas. Jika tidak siap-siap mendengar amukannya.
Capella pun awalnya heran kenapa banyak susu kotak di dalam kulkas dan ia baru tahu jika pria itu menyukai susu kotak. Ia ingin tertawa namun Januar mengintimidasinya.
"Awas lo ngejek gue."
Capella pun hanya tertawa kecil melihat pria itu yang pergi dari dapur dengan wajah kesal. Ternyata di balik sisi garangnya, Januar masih memiliki sisi imut.
_________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMAKASIH.