NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Taubat

Cinta Dalam Taubat

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:4.3M
Nilai: 4.8
Nama Author: Syifa Sifana

Sedang REVISI

Info novel 👉🏻 ig @syifa_sifana

Dendam sang anak yang membuatnya terjerumus pergaulan bebas.

Hidayah datang membuatnya kembali dan bertaubat kepada Allah.

Dalam Taubatnya ia menemukan Cinta yang sekian lama hatinya tertutup karena masa lalu nya yang suram.

Balasan Allah kepada hamba-Nya yang bertaubat.

Kisah Cinta yang Romantis dan perjalan Cinta yang Menguras Air Mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EP 6 : MALAM PENGANTIN

Puncak pernikahan adalah malam pengantin. Perasaan yang berkecambuk, deg-degan, penasaran dan pencurahan nafsu pada hal yang halal, sehingga malam pengantin sangat dinanti-nantikan bagi pasangan yang sudah melangsungkan ijab qabul.

Rasa canggung dirasakan Asyi saat melihat lelaki yang sudah menjadi suaminya masuk ke dalam kamar. Ia segera bangun menghampirinya.

"Mas, malam ini malam terakhir aku di Pesantren." Tangan bergetar tak berani menatap. "Aku punya permintaan sama Mas, apa boleh?"

"Apa itu?"

"Bolehkah aku tidur dengan Aina malam ini?" pintanya pelan.

"Boleh," Salman mengangguk kepala.

"Tapi cium dulu dong!" Salman mengusap pipi katanya.

"Apaan sih, Mas." Asyi tersipu malu, pipinya seketika memerah.

"Ayo dong, sini!" Salman mencondongkan pipinya.

Asyi meniliknya, "Tutup mata!"

Tanpa rasa curiga ia memejam matanya. Asyi meringai, merapatkan jari-jarinya membentuk kerucut kemudian meletakkan di pipi Salman.

Salman membuka mata, menarik tangan Asyi dengan cepat, lalu melingkarkan tangannya di pinggang kecil Asyi.

Asyi seketika membelalak saat tubuhnya menempel. Bukan untuk pertama kali, tapi rasa ini begitu menggetarkan dada. Saling tatap dengan jarak yang dekat, senyuman keikhlasan tersungging indah di bibir mereka.

"Maaf," ucap Asyi canggung, mendorong bidang datar suaminya.

"Nggak perlu minta maaf. Kamu sekarang sudah sah menjadi milikku." Tatapan cinta sambil mengeratkan depannya.

Asyi tersipu malu, membuang tatapan ke dada Salman.

Salman menunduk wajah hingga bibirnya mendekat daun telinga Asyi. "Mas suka lihat kamu tersipu malu seperti ini. Asyi semakin malu dan salah tingkah, dengan cepat menoleh hingga bibir yang tertutup cadar menyentuh pipi Salman.

"Makasih ciumannya," Salman tersenyum. Asyi kembali salah tingkah dan segera melepaskan diri dari Salman.

"A—aku harus ke kamar Aina dulu." Asyi melangkah cepat meninggalkan Salman.

Berdiri di balik pintu, Asyi merasakan degupan jantung dengan tangan yang diletakkan di dada. Tersenyum menyeringai, ia pun berjalan ke kamar Aina yang berada tak jauh dari kamarnya.

Tangan memegang gagang pintu, lalu membukanya.

"Aina ..." Asyi masuk melihat Aina sedang membersihkan wajahnya dengan kapas pembersih.

"Teteh, ngapain ke sini atuh? Akang Mas—," menatap Asyi dari pantulan cermin yang berjalan semakin mendekat.

"Teteh tidur di sini ya!"

"Tidak boleh." Menggeleng cepat. "Pengantin baru harus berduaan di kamar."

"Mas Salman, ngizinin loh."

Aina bangun, menghadap Asyi. "Sana keluar! Aina mau tidur sendiri," ia mendorong pelan punggung Asyi.

"Ya Allah, kamu gitu kali sama Teteh. Padahal Teten ke sini hanya ingin tidur denganmu. Besok pun Teteh udah berangkat jadi nggak bisa lagi tidur sama kamu," ujarnya melas.

Aina menghela napas beratnya. "Ya udah, Teteh boleh tidur di sini."

Asyi tersenyum kegirangan. "Makasih Adik Teteh yang paaaling cantik."

...****************...

Hari yang telah ditunggu tiba. Salman dan Asyi mulai mengemas barang-barangnya.

Rasanya sangat berat untuk meninggalkan mereka yang telah berada di kala sudah dan senang. Tapi Asyi terpaksa menguatkan diri demi bakti pada sang suami.

Mata terlihat berkaca-kaca saat berpamitan pada mereka. Berharap doa yang terbaik, ia pun menaiki mobil bersama dengan suami mertuanya.

Lambaian tangan pun mengakhiri pertemuan mereka.

Perjalanan yang cukup memakan waktu lama tak membuat mereka bosan. Terutama Asyi sebagai mantu mendapat respon positif dari Sara. Sepanjang perjalan mereka saling mengobrol sebagai pengenalan mereka.

Salman senang melihat ibunya menerima pilihan darinya.

Kini mobil telah memasuki sebuah rumah yang berada di komplek elit, berhenti di sebuah garasi mobil, Salman turun membukakan pintu untuk ibu dan istrinya.

Seorang ibu-ibu yang sudah lama bekerja di sana datang menyambut kedatangan mereka, membawa semua barang masuk ke dalam.

"Apa kamu lelah?" tanya Salman menatap wajah istrinya.

Mengangguk kepala. "Aku sudah lama nggak berpergian jauh. Jadi sedikit lelah."

Salman menggenggam tangan istrinya masuk ke dalam kamar, lalu berjalan ke arah tangga menuju ke sebuah kamar miliknya.

Dia membuka pintu, terlihat kamar dengan warna yang gelap—abu-abu, sangat cocok untuk style cowok.

"Kamu istirahat aja dulu. Mas mau mandi."

Mengangguk kepala. Dia pun berjalan ke arah kamar mandi tanpa membawa satu kain pun di tangannya.

Tidak langsung berbaring, Asyi mengitari kamar Salman untuk mengetahui seluk beluknya. Matanya tertuju pada sebuah foto hitam putih yang melekat di dinding. Ia tersenyum saat melihat gambar suaminya menarik kerah jaket dengan wajah yang menatap ke kiri seakan memperhatikan hidung mancungnya.

Tak lama memandang foto itu, ia teringat dengan Salman. Ia pun berjalan ke walk in closet untuk mengambil baju dan celana yang akan dipakai suaminya kelak.

Cekrek ...

Suara pintu kamar mandi terdengar, Asyi memalingkan wajah menatap suaminya.

"Aaa ..." teriak Asyi menutup wajahnya saat melihat Salman keluar dari kamar mandi hanya melilit handuk di pinggangnya.

"Ada apa?" tanya Salman mengernyit kening. Sambil menutup mata dengan tangan kanannya, ia menunjuk ke bagian bawah Salman dengan tangan kirinya, Salman pun mengikuti arah tangannya.

"Memangnya kenapa?" Salman masih belum menyadari kerisihan Asyi.

Asyi mendengus kasar, mata masih tertutup rapat, tanganmu meraba-raba mengambil baju Salman lalu menyerahkan padanya.

"Cepat pakai!"

Salman menyeringai. "Ya Allah, kenapa juga harus malu, bukankah kita akan melewati yang lebih dari ini lagi?" godanya sambil mengambil bajunya.

Asyi menggedik bahunya, entah kenapa perasaan malu menghantui dirinya, tidak seperti dulu yang mampu menerobos segalanya karena dendamnya terhadap orangtuanya.

Salman mengambil baju dari tangan Asyi, lalu berjalan ke walk in closet. Tak lagi terdengar suara Salman, Asyi membuka perlahan matanya, lalu bergegas menuju ke kamar mandi.

Usai mandi, Asyi kembali ke kamar masih dengan cadarnya. Ia berjalan ke walk in closet untuk memakai baju, lalu menghampiri Salman yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang.

Salman mendongak, melihat istrinya masih utuh dengan pakaian sehari-harinya, berjalan menghampirinya, lalu duduk di sudut tempat tidur. Dia langsung merangsek mendekatinya.

"Sekarang kita sudah sah menjadi suami istri, bolehkah Mas melihat wajahmu?" Menatap Asyi yang menundukkan wajahnya.

Asyi mengangguk setuju. Tangan Salman tergerak menyentuh cadar Asyi, perlahan membukanya. Kedua mata membelalak diikuti dengan mulut yang menganga.

"Mas?"

"I—iya," terbata-bata.

"Kenapa? Apa Mas kecewa setelah membuka cadarku?" mata sendu itu mendadak sayup.

Menggeleng kepala. "Masya Allah, bidadari ... cantik sekali," ujar Salman terpukau. Asyi tersipu malu, pipi yang tereskpos kini merah merekah.

"Ternyata pilihan Mas tidak pernah salah. Kamu benar-benar sangat cantik."

"Kalau seandainya wajahku jelek, Mas kecewa?"

"Gimana ya?"

Raut wajah Asyi seketika kusam, menekukkan wajahnya, ada sedikit rasa kecewa. 'Ternyata lelaki semuanya sama, melihat wanita dari cantiknya.'

Salman meraih pipinya, membelai dengan lembut. "Cantik itu relatif. Sebaik-baiknya perhiasan dunia itu wanita sholeha. Akhlak mulia sudah menjamin kecantikan. Tapi kecantikan belum menjamin akhlaknya. Dan kamu, Mas telah menjatuhkan pilihan padamu, Mas yakin karena Allah, Asyila Fajarna tulang rusuk Mas yang hilang."

Asyi tertegun, tersenyum lebar hingga membuat Salman gemas dan mendekatkan bibirnya pada bibir Asyi. Asyi terkejut menoleh ke kanan.

"Kenapa?" tanya Salman mengernyit kening.

"Aku sedikit takut. Rasanya belum siap," lirih Asyi mengungkapkan apa yang dirasakannya.

Salman menghela napas beratnya. "Kita akan mulai perlahan-lahan layaknya seperti orang pacaran."

"Terima kasih."

1
rey_ya
ya Allah aku terharu
Yoel's Yuliana
bagus
Muhamad Taufikurrohman
alur ceritanya keren thor, saling menjaga perasaan mamanya dan istri tanpa harus menyakiti.
Selmawati Selma
h
Nonong Erawati
dpat diambil contoh setelah baca novel ini untuk kehidupan kita dlm berrumah tangga mksih untukpenulid👍
Erna Yunita
Bismillahirrahmanirrahim
Noviyanti Hendrata
l"l""""l"lll"l"
Novi Insani
lirikan menodai mata 🙈🙊
~¥^D^~
bagus bisa lanjut nih
Salma Alfian Otolomo
uuupp
Syamsurya
ceritax bagus thor,aku suka semngat dan sehat selalu
Siti Nurhana51a
intan kerjasama sama dr mantan nya arsy
Ilham Risa: Hai kak, mampir juga yuk kak ke novel aku "bangkitnya pria terhina" makasih kak🙏
total 1 replies
Siti Nurhana51a
kasian arsy....terlalu.sabaaar
Siti Nurhana51a
Kasian.arsy
Siti Nurhana51a
nyesek baca nya
Nazhila Baidha Rahma
assalamualaikum mampir
deewaaaaa
kak kenapa gak lanjutin cinta dalam taubat?ngegantung banget
Syifa Sifana: di kbm kk
total 1 replies
Sukmawati Wong
Gemes
Sukmawati Wong
Semangat yah
Yuli S
jadi ikutan tersayat" nangis mewek ....di kirain kenapa ma suami ....karna ikutañ haru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!