IG @suliani_cucu
Berawal dari sambaran petir saat mendaki gunung, bertepatan pula dengan terbukanya alam ghaib. Aneska jatuh pingsan karena takut, karena dia terpisah dari rombongannya.
Namun, setelah dia terbangun. Dia begitu kaget karena dia bisa melihat arwah gentayangan, bahkan dia mampu mendengarkan bisikan hati mereka.
Akankah Aneska mampu melawan rasa takutnya?
Yuk kepoin kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Wanita Itu
Sudah dua hari ini aku merasa sangat tidak nyaman, wanita yang dikuburkan secara paksa oleh Jony itu selalu saja datang untuk meminta tolong kepadaku di saat aku sendirian.
Aku benar-benar merasa takut saat melihat wajahnya, apalagi saat mendengar bisikannya. Dia terlihat begitu mengerikan.
Ingin aku berlari sejauh mungkin dari wanita tersebut. Namun, aku merasa tidak bisa. Apalagi keadaanku saat ini sedang tidak mendukung.
Kaki aku memang sudah pulih, tapi tetap saja untuk berjalan masih terasa sangat sakit. Bahkan aku masih membutuhkan bantuan ketiga temanku saat melakukan aktivitas.
Hari ini Villa terasa sangat sepi, bunda dan ayah lagi-lagi sedang ada pekerjaan. Sedangkan ketiga sahabatku sedang bermain ke salah satu wahana permainan yang ada di kota B.
Sungguh aku merasa kesepian saat ini, aku memutuskan untuk duduk di taman belakang dengan meminta bantuan dari mang Asep.
Mang Asep menuntunku menuju taman belakang, awalnya dia ingin menggendongku. Namun, aku merasa kasihan kepada mang Asep.
Tubuhnya terlihat cungkring, dia sangat kurus. Pria paruh baya itu seperti tidak terurus, rasa kasihanlah yang muncul.
"Mang, aku boleh nanya ngga?" tanyaku pada Mang Asep setelah aku duduk di salah satu bangku taman.
"Boleh, Neng. Mau nanya apa?" tanya Mang Asep yang masih setia berdiri di sampingku.
"Mang Asep sejak kapan kerja sama ayah?" tanyaku.
"Sejak tuan membeli Villa ini," jawab Mang Asep.
"Berarti sudah lama dong, Mang?" tanyaku.
"Sudah, sudah dua puluh lima tahun," jawab Mang Asep.
"Maaf ni, Mang. Kok setiap aku ke sini, aku tidak pernah melihat keluarga Mang Asep?" tanyaku.
"Istri Mang Asep meninggal setelah melahirkan anak kami, sedangkan anak saya sudah satu bulan ini tidak pulang." Mang Asep tertunduk sedih.
Aku melihat kesedihan yang begitu mendalam di netra mang Asep, aku menjadi penasaran dibuatnya. Sebenarnya apa yang terjadi di dalam hidupnya mang Asep?
"Duduk sini, Mang. Ceritain sama aku, kalau memang Mamang pengen berbagi cerita," kataku.
Mang Asep mengikuti apa yang aku ucapkan, dia duduk tidak jauh dariku. Dia terlihat menghela napas panjang, lalu mengeluarkannya dengan perlahan.
"Cerita saja, Mang. Biar lega," kataku.
"Sebenarnya Leni, putri Mamang sudah satu bulan yang lalu tidak pulang. Dia pergi bersama dengan kekasihnya Jony," kata Mang Asep.
Aku begitu kaget mendengar nama Jony dari mulut mang Asep, apakah mungkin Jony yang dikatakan oleh mang Asep adalah Jony kekasih dari wanita yang sudah dia siksa dan dia kubur dengan keji?
"Jony?" tanyaku refleks.
Mang Asep langsung mengalihkan pandangannya ke arahku, dia menatap diriku dengan tatapan raut bingung.
"Nona mengenal Jony, tapi bagaimana mungkin?" tanya Mang Asep.
"Eh? Tidak-tidak, aku tidak mengenal Jony. Aku hanya bertanya saja, takutnya aku salah dengar," ucapku seraya mengibas-ngibaskan tanganku.
"Oh, kirain Nona kenal. Soalnya kata orang-orang Jony kini sudah bekerja di kota, dia bekerja di salah satu perusahaan ternama. Namun, hanya sebagai resepsionis saja," kata Mang Asep.
Aku menjadi penasaran dibuatnya, aku pun kembali bertanya.
"Memangnya dia bekerja di perusahaan mana, Mang?" tanyaku.
"Kalau ngga salah denger, dia bekerja di PT. Adijaya Group," kata Mang Asep.
Aku sedikit kaget mendengar apa yang dikatakan oleh mang Asep, karena perusahaan itu adalah perusahaan milik ayah.
Apakah mang Asep tidak pernah tahu, jika Adijaya Group adalah perusahaan milik ayah? Bahkan perusahaan milik ayah begitu terkenal, karena termasuk perusahaan lima besar di ibu kota.
"Oh, apa Mang Asep ngga tahu itu perusahaan milik siapa?" tanyaku.
Mang Asep terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya, itu tandanya kalau dia memang tidak mengetahui perusahaan itu adalah perusahaan milik ayah.
Mungkin saja selama ini mang Asep hanya fokus bekerja di Villa saja, siang malam hanya menjaga Villa dan putrinya Leni.
"Ngga, Non. Mamang mah, yang penting kerja ngurusin Villa, terus ngurusin anak Mamang Leni," ucapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Aku tahu jika mang Asep kini sedang bersedih, mungkin dia mengingat akan putrinya, Leni.
Haruskah aku mengatakan jika Jony sudah mengubur wanita di tepi hutan yang mungkin saja itu adalah Leni?
Namun, aku belum yakin apakah wanita yang dikubur oleh Jony itu adalah anaknya mang Asep atau bukan?
Mungkin saja Jony yang itu, malah bukan Jony yang dimaksud oleh mang Asep. saat mang Asep sedang tertunduk sambil menangis, aku melihat bayangan wanita yang dikumpulkan oleh Joni sedang berdiri tepat di samping mang Asep.
Dia terlihat sedang menggapai mang Asep, dia seperti ingin memeluk dan memberikan kasih sayang kepada mang Asep.
Namun, karena berbeda dunia dia tidak bisa menyentuh mang Asep. Wanita itu bahkan terlihat menangis tersedu-sedu, aku menjadi sedih dan juga takut dibuatnya.
Tunggu!
Apa mungkin Leni itu adalah wanita yang dikuburkan oleh Jony di tepi hutan? Apakah mungkin Leni adalah wanita yang sudah Jony siksa?
Pertanyaan demi pertanyaan kini muncul di kepalaku, bayangan wanita yang sedang berdiri sambil menangis di samping mang Asep tiba-tiba saja menatapku.
Dia menatapku dengan penuh permohonan, dia menatapku dengan mata basah.
"Tolong! Tolong aku, tolong bilang sama orang tuaku jika aku dikubur secara tidak layak oleh Jony di tepi hutan. Tolong aku, Aneska! Tolong!" bisiknya dengan berderai air mata.
Aku hanya diam terpaku melihat akan hal itu, bahkan bibirku kembali kelu. Aku benar-benar bingung dan juga takut saat ini.
"Tolong katakan kepada bapakku, kalau aku ada di sini Aneska. Bilang padanya kalau aku sangat menyayanginya, bilang padanya kalau aku butuh bantuannya."
Aku hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan oleh wanita itu, wanita yang mungkin saja itu adalah Leni.
"Satu lagi Aneska, tolong balaskan dendamku untuk Jony. Setidaknya dia harus merasakan yang namanya mendekam di dalam penjara, walaupun aku tidak bisa membunuhnya," kata wanita itu.
Setelah mengatakan hal itu, bayangan dirinya terlihat menghilang. Aku sampai terkejut dibuatnya.
"Mang, aku mau tanya," ucapku.
"Tanya apa, Non?" tanya Mang Asep.
"Emm, apakah saat Leni pergi dia memakai baju berwarna kuning kunyit dengan rok selutut berwarna hitam?" tanyaku ragu-ragu.
Mendengar apa yang aku katakan, mang Asep terlihat mengerinyitkan dahinya. Lalu, dia menatapku dengan tatapan penuh tanya.
"Ya, itulah pakaian yang terlahir Leni pakai. Tapi, bagaimana Nona bisa tahu?" tanya Mang Asep.
"Sebenarnya ada yang ingin aku katakan kepada Mang Asep, tapi jika aku mengatakan hal ini, apakah Mang Asep akan percaya kepadaku?" tanyaku.
Untuk sesaat mang Asep terdiam, lalu tidak lama kemudian dia terlihat menganggukkan kepalanya.
"Iya, Non. Mamang percaya sama Non Anes," jawabnya.
****/
Masih berlanjut, kuy ramein kolom komentar.
anes❣️alex