"Bukankah poligami itu sunnah, kamu orang yang taat agama kan pasti juga tahu, apa kamu tidak ingin menjalankan sunnah yang satu ini?" ujar Ita pada sang suami
Ammar awalnya hanya ingin menolong seorang wanita namun sebuah kejadian yang tak terduga membuat orang lain salah paham dan bahkan istrinya sendiri tak mempercayainya
Bukan, bukan karena sepenuhnya kejadian itu yang membuat Ammar menikah lagi, tapi juga karena rumitnya rumah tangga yang saat ini ia jalankan bersama istri pertamanya karena sang istri masih terbelenggu oleh masa lalunya
"Kalian hanya ingin bermain rumah-rumahan kan, ok saya akan temani kalian bermain" ujar Zofa lantang
Namun ketika Zofa telah memasuki rumah tangga Ammar dan Ita maka saat itu pula hati Ita berubah, terombang-ambing mengikuti arus permainan. Dan kini Ita baru menyadari bahwa ia telah menaruh hati pada suaminya sendiri
____
Hay semua Jan lupa mampir ke novel saya ya, jika sudah mampir tolong tinggalkan jejak kalian baik berupa like, comment maupun vote, thanks a lot guys, ala kuli sukri askuruki
follow ig 👉 habr_zayf
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AFI_18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahar Tersavage
Esoknya hal yang tidak pernah Zofa bayangkan akhirnya terjadi, Zofa benar-benar tidak akan menyangka bahwa ia kini harus menjadi madu seseorang, apakah ini manis oh tentu tidak, ini sangat pahit sungguh ini sangat pahit seperti menelan ribuan pil sekaligus meski ia tak pernah menelan pil-pil tersebut, ia bingung kenapa orang-orang menyebut ini madu padahal jelas-jelas terasa sungguh pahit, ntah kenapa tiba-tiba orang tua Zofa menerima lamaran dari Ammar, siapa yang merasuki orang tuanya, jelas-jelas kemarin keduanya menolak
"Mahar apa yang kamu inginkan?" tanya Ammar
"Zofa" tegur sang bunda yang menepuk pelan paha Zofa
Zofa tersenyum miris "Gimana kalau kamu membacakan aku sebuah surah" ujar Zofa
Ammar tersenyum meski canggung "Surah Ar-Rahman?" tanyanya
"Oh tentu tidak, saya menginginkan SURAH YASIN" ujar Zofa ketus, ia menekan kata-katanya
"Zofa kamu itu mau ke pelaminan bukan pemakaman" tegur bundanya yang membuat Zofa jengah
Lagi-lagi Ammar tersenyum canggung "Jadi mahar apa yang kamu inginkan?" tanyanya lagi
"Terserah"
"Kalau soal acara pernikahan, apa ada dekorasi yang nak Zofa inginkan?" tanya umi
Namun Zofa hanya diam saja
"Bunga apa yang kamu suka? mungkin bisa di jadikan dekorasi pernikahan" lanjut umi lagi
"Bagaimana kalau kita menggunakan bunga melati, terus nanti ada bunga anyelir juga, sama kelopak-kelopak bunga mawar, jangan lupa ada pohon Kambojanya, terus nanti kita cari tanah yang subur, untuk bahan gaunnya yang putih bersih aja, biasanya orang-orang menyebutnya kain kafan" ujar Zofa sumringah
"Astaghfirullah nih anak, udah di bilangin ini bukan acara pemakaman tapi pelaminan" tegur bundanya
"Ini acara pemakaman untuk mengubur masa depan aku bun" ujar Zofa serius
"Zofa jangan bercanda" tegur sang ayah
"Kamu akan melewati masa depan bersamanya, dia yang akan membangun masa depan kamu" ujar ayah Zofa sok bijak
"Aku sibuk yah, aku berangkat dulu" pamit Zofa
"Eh mau kemana kamu, ini udah jam sembilan paling juga telat, udah gak usah ngajar kamu izin aja kita akan bahas soal pernikahan" tahan ayah Zofa
"Mau ada rapat jam sepuluh, lagi pula tadi aku izin setengah hari, aku berangkat yah bun" Zofa langsung kabur nyelonong pergi
"Ya Allah mengerikan, benar-benar mengerikan, kalau kayak gini mah lebih baik nikah ama duda tajir melintir" gumam Zofa sembari menyalakan motornya
***
"Bun yah plisss aku mohon aku gak mau jadi istri kedua" mohon Zofa pada orang tuanya
"Terus ayah harus apa, mereka minta kamu bertanggung jawab"
"Aku perempuan yah apa yang harus aku pertanggungjawaban"
Ayah Zofa memegang kedua pundak putrinya "Zofa dengar ayah, kamu harus bertahan ya, kalau suatu saat kamu sudah tidak tahan kamu boleh melepasnya dan kembali ke rumah ini, rumah ini selalu terbuka untuk kamu" ujar ayah lirih
"Tapi yah.." mata Zofa sudah mulai berkaca-kaca
"Percaya sama ayah semua akan baik-baik saja" ayahnya membawa putrinya masuk kedalam dekapannya
"Maafin ayah, ayah sama bunda terpaksa melakukan ini" batin ayah Zofa
Bundanya yang sedari tadi berdiri di ambang pintu kamar mengusap kedua air matanya, kemudian ia berlalu meninggalkan kamar Zofa
***
Esok harinya di pagi hari yang cerah
"Mari mbak silahkan tunggu di sini dulu" ujar seorang pria yang mempersiapkan Zofa duduk di sebuah ruangan
Zofa mengangguk, lama menunggu hingga akhirnya sosok yang sedari tadi ia tunggu datang juga
"Assalamualaikum" ujar Ammar yang mengucapkan salam kepada Zofa
"Waalikumsalam" jawab Zofa ketus
"Ada yang bisa saya bantu, mmmm apa kamu ingin membahas sesuatu dengan saya?" tanya Ammar yang duduk di seberang sofa sana
"Langsung ke intinya, untuk apa anda memaksa saya menikah dengan anda padahal jelas-jelas anda sudah memiliki istri?" tanya Zofa
Ammar terdiam mendengar pertanyaan Zofa
"Apa seorang pria memang tidak pernah cukup terhadap satu wanita?" tanya Zofa lagi
"Kenapa harus saya, bukankah anda bisa mencari orang lain yang dengan sukarela mau memasuki rumah tangga kalian"
"Kenapa harus saya?"
"Anda..... ustadz ternyata, apa seorang ustadz indentik dengan poligami?"
"Heh jawab dong, apa fungsi nya mulut serta lisan anda, harusnya anda bersyukur dapat berbicara dengan normal, tidak sedikit di luar sana yang menginginkan agar dapat berbicara"
Namun lagi-lagi Ammar hanya diam saja
"Astaghfirullah, bisa gila aku"
"Oh apa jangan-jangan anda jatuh cinta ya pada saya?" tanya Zofa sinis
"Astaga ini orang... jadi laki-laki gini amat dah" gerutu Zofa
"Maafkan saya, kamu tenang saja acara pernikahan kita sudah ada yang mengurus kamu tinggal nunggu hari h saja" ujar Ammar yang setelah sekian purnama diam membisu
Zofa membelalakkan matanya, dia nanya apa yang di jawab apa
"Heh saya gak membicarakan pernikahan kita, saya.... au ah" Zofa bangkit dari duduknya, ia sudah emosi sedari awal memasuki ruangan ini, setelah mendapat info dari ayahnya kalau Ammar mengajar di pondok ia langsung meluncur ke sini untuk berbicara empat mata dengannya, namun bukannya mendapat jawaban yang memuaskan ia malah semakin geram
"Kamu dan istrimu...." bentak Zofa keras
"Kalian hanya ingin bermain rumah-rumah kan, ok saya akan temani kalian bermain" ujar Zofa lantang, ia segera pergi meninggalkan ruangan tersebut tanpa mengucap salam
Ammar mengusap wajahnya kasar "Astaghfirullah ya Allah kenapa aku selemah ini" gumam Ammar frustasi
"Harusnya aku bisa tegas, tapi kali ini aku sungguh tak berdaya"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Ammar mendongakkan kepalanya, ternyata sang adik tersayang yang datang memasuki ruangan pribadi milik keluarga Ammar
"Bang wanita tadi?"
"Iya dia orangnya" ujar Ammar
"Takdir itu lucu ya, dulu aku yang berpikiran hendak mempoligami istriku malah gak jadi dan berakhir dengan ia yang menjadi satu-satunya wanita dalam hidupku, eh abang yang berusaha mati-matian untuk mempertahankan pernikahan abang malah harus berakhir dengan menikah lagi" ujar Azril yang menggelengkan kepalanya
Ammar menatap tajam ke arah Azril "Ini bukan akhir tapi awal" ujar Ammar datar
"Aku akan selalu berdoa yang terbaik buat abang" ujar Azril yang menepuk-nepuk pundak Ammar
"Oh ya ini titipan abi" ujar Azril yang menyerahkan sebuah dokumen
Ammar mengangguk dan mengambil dokumen tersebut
"Kalau gitu aku pamit dulu bang, wassalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Apa iya takdir itu lucu" gumam Ammar dengan pandangan yang kosong
***
Jan lupa like comment and vote, thanks all guys 🤗 see you next episode 👋