NovelToon NovelToon
Top 1%

Top 1%

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Angka yang Tidak Masuk Akal

Papan skor digital raksasa di langit-langit aula berkedip tiga kali sebelum menampilkan pembaruan akumulasi nilai pasca-Wawancara Psikologi dan Misi Kelompok pertama. Ratusan pasang mata langsung tertuju pada deretan angka yang bergerak dinamis sebelum akhirnya terkunci kokoh.

Di posisi puncak, nama Atharva dan Keisya masih bertahan. Namun, perhatian Atharva tidak tertuju pada namanya sendiri, melainkan pada rincian nilai numerik yang tertera di kolom parameter sekunder miliknya dan peserta lain.

Atharva memejamkan mata selama dua detik, memanggil kembali memori visualnya tentang bobot penilaian yang sempat dipaparkan Profesor Adrian di awal tahap. Sebagai seorang yang menghitung segala hal secara matematis, Atharva telah mengalkulasi nilai pastinya sendiri: 98,5 untuk logika siber, 92,0 untuk ketahanan mental, dan 90,0 untuk efisiensi kelompok. Berdasarkan bobot resmi, skor totalnya seharusnya berada di angka 94,25.

Namun, angka yang tertera di layar untuk nomor pesertanya adalah 97,80.

Ada surplus sebesar 3,55 poin yang muncul tanpa penjelasan logis.

Atharva beralih memeriksa skor milik Keisya. Berdasarkan analisis performa yang ia amati dari meja sebelah, Keisya seharusnya mengantongi nilai total 91,50. Namun, di papan skor, nilai Keisya tertulis 95,10. Pola surplus yang hampir sama.

Keanehan terbesar justru terjadi pada papan bawah. Johan, yang baru saja didegradasi oleh Raka secara verbal, secara matematis seharusnya langsung jatuh ke peringkat seratus tujuh puluh karena penalti keputusan sosial. Namun, nilai Johan tertahan di angka 70,10, membuatnya tepat berada satu strip di atas zona eliminasi terbawah.

"Ada variabel gaib dalam kalkulasi mereka," sebuah suara rendah terdengar dari sebelah kiri Atharva.

Nareswara sudah berdiri di sana, menatap papan skor dengan mata menyipit tajam. Jam tangan digitalnya yang sudah bersih dari data kini hanya ia gunakan untuk mengetuk-ngetuk pilar besi dengan ritme frustrasi. "Aku sudah mencoba menghitung ulang rata-rata deviasi dari seluruh peserta yang lolos. Algoritma papan skor ini tidak menggunakan rumus rata-rata tertimbang standar yang mereka umumkan."

"Ini bukan salah input," balas Atharva datar, pandangannya tetap mengunci angka desimal di belakang skor Johan. "Ini adalah sistem penilaian berlapis. Ada bobot rahasia yang tidak diumumkan kepada peserta."

"Bobot apa?" Keisya ikut bergabung, berdiri di sisi lain Atharva dengan melipat kedua tangannya di dada. Wajahnya tampak tegang melihat angka-angka yang tidak sinkron dengan logika matematikanya. "Jika mereka bisa mengubah angka sesuka hati, untuk apa kita memeras otak di dalam pod siber dan simulasi kelompok?"

"Untuk menguji kepatuhan dan reaksi," jawab Atharva tenang. "Skor resmi yang mereka pajang adalah umpan untuk memicu konflik antarpeserta. Sementara skor rahasia mereka gunakan untuk menilai seberapa besar potensi kita untuk dikendalikan atau dihancurkan oleh yayasan."

Atharva menyadari satu hal krusial: Surplus nilai pada dirinya dan Keisya bukan karena mereka melakukan hal yang benar, melainkan karena reaksi emosional mereka atau ketiadaan emosi pada kasus Atharva sesuai dengan profil subjek yang sedang dicari oleh Veritas Lux Fortuna. Sebaliknya, Johan dipertahankan di batas bawah bukan karena belas kasihan, melainkan untuk melihat seberapa jauh anak faksi beasiswa itu bisa bertahan di bawah tekanan sebelum benar-benar patah.

Di atas podium utama, Profesor Adrian melirik ke arah tiga remaja yang sedang berdiri menatap papan skor tersebut. Dari kilat mata mereka, Adrian tahu bahwa umpan numerik yang sengaja ia tebar telah mulai dianalisis oleh otak-otak terbaik di angkatan ini.

"Mereka mulai menyadari ketidaksesuaian angkanya, Profesor," lapor seorang pengawas teknis di balik meja kontrol. "Apakah kita perlu mengaburkan log kalkulasinya?"

"Tidak perlu," jawab Profesor Adrian dengan senyum dingin yang nyaris tidak terlihat. "Biarkan mereka mencari tahu. Menyadari bahwa sistem ini tidak adil adalah bagian pertama dari ujian akhir mereka. Kita lihat siapa yang akan menggunakan angka rahasia ini untuk berkhianat, dan siapa yang akan hancur karena mencoba mencari keadilan yang tidak pernah ada di Nexus Academy."

...****************...

Nareswara mendengus, jemarinya berhenti mengetuk pilar. "Jika tebakanmu benar, Atharva, maka papan skor ini tidak lebih dari sekadar umpan psikologis. Mereka sengaja membiarkan kita melihat angka-angka cacat ini untuk mengukur siapa yang akan panik lebih dulu."

"Dan siapa yang akan mulai mempertanyakan otoritas," Keisya menimpali, matanya beralih dari papan skor menuju podium tempat Profesor Adrian berdiri. "Papaku pernah menulis dalam catatannya bahwa Nexus tidak pernah menilai hasil akhir, melainkan pola adaptasi terhadap ketidakadilan. Mereka sengaja menciptakan parameter yang bias untuk melihat siapa yang memilih tunduk pada sistem demi poin, dan siapa yang mencoba meretasnya."

"Maka pilihan terbaik adalah tidak melakukan keduanya," kata Atharva pendek.

Keisya menoleh cepat. "Maksudmu?"

"Jika kamu tunduk, kamu menjadi alat mereka. Jika kamu menyerang secara terbuka, kamu menjadi target eliminasi seperti yang terjadi pada data Nareswara tadi," Atharva berbalik, memutuskan kontak mata dengan papan skor digital. "Variabel rahasia itu hanya berguna selama mereka mengira kita tidak mengetahuinya. Biarkan mereka menggunakan angka-angka fiktif itu. Fokus kita adalah bertahan hingga tes di Gedung Kompetisi selesai."

Di seberang aula, riak kepanikan yang diprediksi Atharva mulai menjadi nyata. Beberapa anak faksi elite yang memiliki tutor pribadi di luar akademi mulai menyadari keanehan kalkulasi tersebut. Mereka mendatangi meja pengawas di tepi aula, menuntut penjelasan atas penurunan poin individual mereka yang dianggap tidak sesuai dengan performa simulasi kelompok.

"Ini tidak adil! Kelompok kami menyelesaikan simulasi dalam waktu dua puluh lima menit! Kenapa nilai kepemimpinanku lebih rendah dari Raka?!" teriak salah satu peserta berambut klimis, wajahnya memerah karena emosi.

Pengawas yang menjaga meja tidak memberikan argumen verbal. Ia hanya menatap dingin peserta tersebut, lalu menekan sebuah tombol di komputer jinjingnya. Detik itu juga, status peserta yang memprotes di papan skor langsung berubah warna menjadi abu-abu gelap dengan keterangan: Disqualified due to emotional instability under regulatory evaluation.

Dua petugas keamanan langsung maju dan menggiring peserta yang masih berteriak protes itu keluar dari aula. Seluruh ruangan seketika hening. Ketakutan baru yang lebih mencekam menjalar ke setiap barisan peserta yang tersisa.

Raka Elang, yang berdiri tidak jauh dari meja pengawas, hanya tersenyum tipis menyaksikan kejadian itu. Ia melirik ke arah Atharva dan Keisya, lalu berbisik pada salah satu sekutunya. "Lihat? Di sini, kebenaran tidak memiliki nilai matematis. Siapa yang paling tenang menyembunyikan kebingungannya, dialah yang memegang kendali."

Lampu aula utama kembali berkedip, memutus seluruh spekulasi dan ketegangan yang menggantung di udara. Suara asisten virtual kembali menggema dari pengeras suara langit-langit, dingin dan mutlak.

“Seluruh peserta yang tersisa, persiapan untuk evaluasi akumulasi tahap akhir di Lantai 1. Pintu transisi akan ditutup dalam enam puluh detik.”

Seratus tujuh puluh sembilan remaja bergerak maju dalam keheningan yang pekat. Angka yang tidak masuk akal di atas kepala mereka telah sukses memecah sisa-sisa kepercayaan yang ada, memaksa para jenius ini berjalan masuk ke babak eliminasi dengan kesadaran penuh bahwa mereka sedang bermain di dalam permainan judi yang bandarnya telah mengatur seluruh hasil akhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!