Sang pewaris tunggal telah menghilang bak di telan bumi. Dia mengalami amnesia dan memiliki kehidupan yang baru.
Setelah sekian lama, kebenaran baru terungkap. Akankah dia mengingat keluarganya kembali?
Diantara dua wanita yang ada di dalam hatinya, siapakah yang akan dia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertangkap lagi
Seharusnya hari ini Raiden kembali ke Negaranya, namun ia menunda kepulangannya sebelum menemukan Lily dan membawanya ke Negara asal pria tersebut.
Saat itu juga Raiden memerintahkan semua anak buahnya yang berada di Indonesia untuk mencari keberadaan Lily dan membawanya ke hadapannya.
"Mungkinkah dia kembali ke tempat mami Angel?" ucap Raiden pelan.
Kemudian ia bergegas meninggalkan kamar hotel menuju tempat mami Angel. Tak sampai satu jam, Raiden telah sampai. Namun ia tidak menemukan Lily di sana, bahkan mami Angel tidak tahu kemana Lily pergi.
"Kemana wanita itu perginya," ucap Raiden dalam hati.
Tiba tiba ponselnya berdering, Raiden merogoh saku celananya. Lalu menggeser icon berwarna hijau, ponsel ia dekatkan di telinganya.
"Bos, wanita itu ada di bandara."
"Cepat tangkap dia dan bawa kehadapanku!" perintah Raiden.
"Baik Bos!"
Raiden menarik napas panjang, akhirnya Lily di temukan dalam waktu hitungan jam.
"Kau tidak bisa lari dariku Lily."
Setelah mendapatkan kabar baik dari anak buahnya, Raiden kembali ke hotel. Menunggu kedatangan anak buahnya membawa Lily.
***
Raiden duduk di sofa menatap tajam Lily. Memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lalu beralih menatap koper milik Lily.
"Siapa yang menyuruhmu untuk pergi?" tanya Raiden.
"Bukankah perjanjian kita berakhir di hari ke tujuh, seperti yang kau katakan?" tanya Lily balik.
Raiden tersenyum sinis, berdiri lalu mendekati Lily. Menerintahkan kedua anak buahnya untuk pergi dari dalam kamar.
"Kau pikir, uang yang kuberikan kepada mami Angel hanya cuma cuma?"
Lily menautkan kedua alisnya menatap wajah Raiden. "Jadi?
"Uang itu aku berikan tidak cuma cuma, itu artinya kau sudah kubeli dari mami Angel. Sekarang kau tidak bisa pergi dariku sampai aku bosan memiliki tubuhmu. Apa kau paham?"
Lily menggelengkan kepalanya, "aku pikir kau malaikat yang di kirim Tuhan untuk membebaskanku, ternyata aku salah. Kau sama saja seperti mami Angel."
Raiden tertawa menyeringai, tangannya terulur mencengkram dagu Lily. "Jangan naif, kau wanita panggilan. Apa kau berharga di mataku? tidak sama sekali, aku hanya ingin tubuhmu saja."
"Brengsek!!" Lily menepis tangan Raiden dan menghempaskannya.
"Brengsek? apa bedanya dengan dirimu?" Raiden menarik tangan Lily lalu menghempaskannya ke atas tempat tidur.
"Lepaskan aku, aku mohon. Aku hanya ingin kebebasanku." Lily berusaha untuk bangun, namun Raiden menampar pipi Lily cukup keras.
"Plak!"
"Tugasmu hanya diam dan ikuti semua perintahku, setelah aku bosan dengan dirimu. Maka kau akan mendapatkan kebebasanmu."
Raiden membuka jasnya lalu ia lemparkan sembarangan ke lantai.
"Kau pikir aku sampah? setelah puas lalu kau buang begitu saja?" Lily berusaha bangun dan menghindari Raiden yang tengah melepas satu persatu pakaiannya.
"Bukankah kau bekas? bekas pria pria hidung belang? kau masih beruntung, aku mau membelimu."
Raiden menarik tangan Lily, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Kau tidak bisa melakukan ini lagi padaku, perjanjian kita sudah berakhir!" seru Lily berusaha menggeser tubuh Raiden dari atas tubuhnya.
"Diamlah!" bentak Raiden lalu mencium bibir Lily dengan liar, hingga wanita itu kesulitan untuk bernapas.
Akhirnya Lily menyerah, tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan Raiden. Membiarkan dirinya di perlakukan sesuka hati Raiden tanpa ada rasa kasihan.
Dinding kamar hotel menjadi saksi bisu kedua kalinya, bagaimana Raiden melakukan apa yang dia suka terhadap Lily, saksi ketidak berdayaan seorang wanita yang hanya menginginkan kebebasannya.
Dua jam berlalu, mereka telah selesai dengan aktifitasnya. Raiden dan Lily sudah terlihat rapi dan bersiap siap untuk meninggalkan hotel.
"Boleh aku pergi sekarang?" tanya Lily, berdiri di hadapan Raiden dengan kepala tertunduk.
"Kau bisa bebas setelah aku bosan. Sekarang kau harus ikut aku ke Hongkong."
Lily tengadahkan wajahnya menatap Raiden yang berdiri di hadapannya.
"Apa? Hongkong? apa kau sudah gila? tidak, aku tidak mau!"
Lily balik badan hendak melarikan diri, namun Raiden menarik rambut Lily hingga mundur ke belakang.
"Aww sakit!" erang Lily.
"Diam, atau aku akan membunuhmu." Ancam Raiden serius, seraya mendekap tubuh Lily dengan erat.
"Kau benar benar brengsek!!"
Raiden hanya tertawa lebar menanggapi caci maki Lily. "Kita pergi sekarang."