Clark hanya dianggap sebagai tumbal pelunasan hutang dalam pernikahannya dengan Dante, pemimpin mafia berdarah dingin, namun saat peluru nyasar menembus dadanya di pesta keluarga, ia baru menyadari tatapan pria itu yang penuh air mata, sungguh pemandangan tak pernah ia bayangkan ada pada sosok yang begitu kejam.
Lalu bagaimana jika takdir memberikan kesempatan kedua? Membuat Clark kembali terbangun enam tahun silam, tepat saat ia dipaksa menikah dengan pria yang kini ia tahu sangat mencintainya meski dulu ia hanya melihatnya sebagai sosok mengerikan yang harus ia hindari sebisa mungkin.
Kali ini, ia berjanji tak akan membiarkan tragedi yang sama terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Dante membentak sopirnya untuk kesekian kalinya. Wajah yang biasanya kaku tanpa ekspresi kini tergores cemas yang begitu nyata, saat ia merasakan tubuh yang ia peluk semakin melemas tak berdaya.
Salju pertama turun menyelimuti kota X, jalanan yang sepi kini tertutup hamparan putih sempurna. Sopir itu tampak bimbang, tak tahu harus berbuat apa saat tuannya menggeram memerintahkannya untuk melaju secepat mungkin.
"Bertahanlah... kumohon padamu..."
Nada suaranya kini begitu lembut, penuh kehati-hatian saat ia berbicara pada sosok yang ia genggam erat. Clark mendongak perlahan, kesadarannya perlahan memudar, namun ia masih bisa mendengar jelas suara penuh keprihatinan itu keluar dari pria yang selama lima tahun ini selalu ia pandang dengan rasa takut.
Selama ini, Dante adalah sosok yang jauh dan dingin. Namun hari ini, untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, Clark berani menatap wajah itu dari jarak sedekat ini. Ia melihat dengan jelas bagaimana manik mata hitam pekat pria itu kini berkaca-kaca hanya untuknya.
"Tetaplah sadar... jangan tutup matamu," ucap Dante bergetar.
Darah semakin deras mengalir dari luka tembak di dada Clark. Dante berusaha menekan luka itu sekuat tenaga, berharap pendarahan itu akan berhenti.
"S-sakit..." rintih Clark pelan.
Mendengar itu, jantung Dante seakan berhenti berdetak. Tangan pria itu gemetar saat ia kembali berkata, "Bertahanlah sebentar lagi. Kita akan segera sampai di rumah sakit."
Ia berusaha meyakinkan istrinya sekaligus menenangkan dirinya sendiri. Sungguh, hal ini terasa begitu mencekam baginya.
Dante, pemimpin mafia yang dikenal berhati batu, yang sudah biasa melihat darah dan mayat sehari-hari, yang bahkan pernah berhadapan maut berkali-kali tanpa rasa gentar sedikit pun, kini ia diliputi ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ketakutan itu hadir saat melihat darah segar terus merembes membasahi dress putih yang dikenakan istrinya.
"AKU KATAKAN LEBIH CEPAT! APA KAU TULI?!" teriaknya kembali pada sopir, amarah dan kepanikan bercampur menjadi satu.
Dengan sisa tenaga yang ada, Clark perlahan mengangkat tangannya, mencoba menyentuh wajah suaminya untuk pertama kalinya. Selama lima tahun mereka bersuami istri, tak pernah ada interaksi layaknya pasangan lain.
Clark tinggal di kediaman Dante, namun lebih tepatnya ia menempati bangunan kecil yang agak terpisah dari bangunan utama. Pertemuan mereka pun bisa dihitung dengan jari, sehingga tak pernah ada kesempatan bagi mereka untuk saling mengenal lebih dekat.
Namun saat itu, Dante segera menangkap tangan itu, menempelkan telapak tangan hangat istrinya ke wajahnya, lalu mengecupnya berulang kali dengan penuh kerinduan yang tak pernah terucap.
"Kau... menangis karena aku?" tanya Clark dengan suara yang begitu lemah.
Dante mengangguk cepat, membuat pikiran Clark berputar di tengah rasa sakit yang menyiksa tubuhnya.
"Kita akan segera sampai... kau pasti selamat. Aku takkan membiarkan apa pun terjadi padamu," janji Dante, disertai butiran air mata yang akhirnya jatuh membasahi pipinya yang dingin.
Clark tersenyum tipis. Wajahnya yang pucat kini berlumuran darah, mungkin terlihat mengerikan bagi siapa saja, namun baginya ada rasa bahagia yang aneh menyelinap di hati. Bahagia karena mengetahui bahwa pria yang selama ini ia hindari ternyata menyimpan perasaan begitu dalam padanya, meski nyawanya kini sudah di ujung tanduk.
"Clark! Buka matamu! Jangan tidur!"
Dante berteriak histeris saat kelopak mata itu perlahan menutup. Ia memanggil-manggil nama istrinya berkali-kali, namun tak ada lagi tanggapan dari tubuh yang terbaring tak berdaya dalam dekapannya.
***
Jam terasa berjalan begitu lambat saat Dante mondar-mandir di depan ruang ICU. Rumah sakit elit itu seketika berubah menjadi seperti markas perang. Puluhan anak buahnya berdiri tegap di setiap sudut, membuat siapa saja yang melintas merasa ngeri dan tak berani bersuara.
Saat pintu terbuka, Dante segera melangkah cepat menghampiri.
"Bagaimana keadaannya?"
Tiga dokter ahli itu tiba-tiba berlutut di hadapannya, tubuh mereka gemetar hebat.
"Tuan Dante... ampuni kami. Kami tidak sanggup menyelamatkan..."
Belum sempat kalimat itu tuntas, sebuah tendangan keras melesat menabrak dada dokter yang berbicara, membuat pria itu terlempar ke belakang.
"Kami sudah berusaha sekuat tenaga, Tuan," pinta dua dokter lainnya dengan suara bergetar. "Namun kami tak berdaya melawan takdir."
"Brengsek!" amuk Dante, matanya memerah menahan rasa sakit yang meluap-luap. "Jika kalian tak bisa menyelamatkan istriku, maka kalian pun harus ikut mati bersamanya!"
😱😱😱😱
sakit perut adek bang ,,,
😂😂😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣
koq pemuda trus nyebutnya 🤭🤭🤭🤭