Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.
Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.
Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.
Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 ~ Antar Pulang
Damian terdiam seribu bahasa. Kalimat itu menohok tepat di ulu hatinya, membuat seluruh tubuhnya membeku seketika. Ia menatap Evan lekat-lekat, tak menyangka sekretarisnya itu berani mengucapkan hal sedemikian rupa.
Wajahnya seketika berubah kaku, terlihat jelas terguncang. Sebab, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia sadar sepenuhnya bahwa itu memang benar-benar pertama kalinya baginya. Pengalaman, perasaan, dan keintiman semalam terasa begitu asing, mendalam, dan tak pernah ia rasakan sebelumnya. Fakta itu membuatnya makin tergoda untuk terus mencari jawaban, namun di sisi lain ia tak mau mengakuinya di hadapan orang lain.
Damian membuang muka kasar, berusaha menyembunyikan gejolak batinnya yang meluap.
"Kau bicara terlalu banyak, Evan," sentaknya dingin, meski suaranya terdengar sedikit bergetar. "Aku tidak butuh nasihat darimu. Dan jangan pernah berani berandai-andai tentang diriku."
Ia berbalik punggung, langkahnya berat dan penuh keraguan saat berjalan pergi meninggalkan ruangan itu, membawa serta rasa penasaran yang makin memuncak namun terpendam rapat.
Evan menghela napas panjang, menyaksikan punggung Damian yang menjauh. Ia tahu, kalimat itu mungkin terlalu berani, namun setidaknya ia kini yakin bahwa dugaan awalnya benar, Damian juga sama tak berpengalamannya dengannya semalam.
Evan berdiri terpaku sejenak di sana, membiarkan keheningan kembali menyelimuti ruang pengawasan itu setelah kepergian Damian. Petugas di sampingnya hanya menunduk sopan, tak berani bersuara seolah tak ingin terlibat dalam ketegangan yang baru saja terjadi.
Perlahan, Evan merasakan seluruh tenaganya menguap. Ia bersandar lemas pada dinding samping, menutup matanya sejenak sambil mengusap peluh dingin di dahinya. Jantungnya masih berdegup kencang namun kini perlahan mulai teratur kembali. Ia telah berhasil lolos dari bahaya yang mengancam, namun beban di pundaknya terasa semakin berat.
Bukan hanya rahasia jati dirinya yang terancam terbongkar setiap saat, namun fakta bahwa ia telah mengambil kesucian pria dingin dan tertutup itu membuatnya merasa terikat takdir yang rumit.
"Semoga keputusan ini tidak mendatangkan malapetaka di kemudian hari..." bisiknya lirih pada diri sendiri, sebelum akhirnya ia melangkah keluar menyusul kepergian Damian, kembali menjalani perannya sebagai sekretaris setia yang tak terduga.
Evan melangkah keluar dari ruang pengawasan, menyusuri lorong kapal yang kini terasa begitu sunyi. Setiap langkahnya terasa berat, seolah beban kejadian semalam dan kebohongan yang baru saja ia sampaikan masih menghimpit dadanya. Di satu sisi ia merasa lega karena berhasil lolos dari kecurigaan Damian, namun di sisi lain, rasa bersalah dan ketakutan mulai merayapi hati.
Ia tahu, sekecil apa pun celah yang ia buat, rahasia besar ini takkan bisa disimpan selamanya. Terlebih lagi kini ia menyadari bahwa dirinya bukan satu-satunya yang kehilangan sesuatu berharga semalam. Damian juga telah terlibat sepenuhnya dalam peristiwa itu.
Sementara itu, di sisi lain kapal, Damian berjalan dengan pikiran yang masih berkecamuk hebat. Kata-kata Evan terus berputar di kepalanya, menohok harga dirinya dan memicu rasa ingin tahunya yang tak terpuaskan.
Pertama kalinya...
Bisikan itu bergema terus di benaknya, membuatnya semakin yakin bahwa ada sesuatu yang ganjil dan tak terjelaskan dari seluruh kejadian ini.
Malam itu bukan sekadar kekacauan yang disebabkan oleh obat dan alkohol. Ada jejak, ada perasaan, dan ada kehangatan yang masih terasa nyata meski ingatannya terpecah belah.
••
••
Tak berapa lama kemudian, kapal pesiar itu perlahan merapat ke pelabuhan utama. Suasana sibuk menyambut kedatangan para penumpang yang turun satu per satu. Damian berjalan tegak di depan, diikuti rapat oleh Evan dengan langkah yang berusaha tetap mantap meski hati masih diliputi kekhawatiran.
Begitu mereka melangkah turun menginjak daratan, sebuah mobil sedan hitam elegan sudah terparkir rapi tepat di area penjemputan, mesinnya sudah menyala menunggu. Pintu pengemudi terbuka, dan turunlah seorang pria berwajah tegas namun ramah, Haris.
"Tuan Damian," sapa Haris sopan sambil membukakan pintu belakang. Ia melirik sekilas ke arah Evan di sampingnya, lalu tersenyum hormat. "Selamat datang kembali. Saya sudah menunggu cukup lama."
Damian mengangguk singkat tanpa banyak bicara, lalu masuk ke dalam mobil. Evan pun menyusul masuk duduk di sebelahnya, sementara Haris kembali ke kemudi dan segera melajukan kendaraan meninggalkan pelabuhan menuju kota.
Di sepanjang perjalanan dalam keheningan yang nyaman, Damian tiba-tiba bersuara tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.
"Haris, alihkan arah sebentar. Antarkan Evan pulang ke rumahnya duluan," ucapnya tenang namun tegas.
Ia kemudian menoleh sekilas ke arah Evan. "Hari ini kau boleh beristirahat total. Kau pasti sangat lelah. Jangan masuk kerja dulu."
Jantung Evan seketika berdegup kencang hebat, rasa panik menyerang tanpa ampun. Wajahnya memucat seketika.
Dia tak bisa dibawa pulang! Bagaimana jika Damian tahu tempat tinggal aslinya? Atau lebih buruk lagi, bagaimana jika sang atasan menyadari bahwa alamat atau suasana rumahnya tak sesuai dengan identitas laki-laki yang ia sandang selama ini? Rahasia besarnya bisa terbongkar begitu saja hanya karena satu perintah sederhana ini.
"T-tidak perlu repot, Tuan Damian..." tolak Evan cepat, suaranya terdengar sedikit terburu-buru berusaha menyembunyikan kegelisahan. "Saya bisa langsung pulang sendiri menggunakan transportasi umum. Tuan tidak perlu membuang waktu dan tenaga untuk mengantar saya."
Damian menatap Evan dengan tatapan tak tergoyahkan, seolah tak mengerti mengapa sekretarisnya itu menolak begitu keras.
"Sudah menjadi tugasku memastikan bawahanku pulang dengan selamat," ucapnya dingin namun tegas. "Dan jangan banyak menolak. Aku sudah memutuskan. Haris, teruskan jalan menuju alamat Evan."
Evan semakin panik, keringat dingin mulai merembes di punggungnya. Ia sadar, jika mobil itu terus melaju, mereka akan sampai di tempat tinggalnya yang asli, tempat yang bisa membongkar semua kebohongannya dalam sekejap. Ia tak punya pilihan lain selain berpikir cepat.
"T-tunggu, Tuan Damian!" seru Evan tiba-tiba, membuat kedua pria di dalam mobil itu menoleh. "Sebenarnya... rumah saya sedang direnovasi. Suasananya sangat berantakan dan berdebu, sungguh tidak layak jika Tuan atau mobil ini harus masuk ke sana. Saya... saya sementara menginap di sebuah tempat kos sementara waktu."
Evan menelan ludah, berharap alasan itu terdengar cukup meyakinkan.
"Jadi... saya lebih baik turun di sini saja. Di persimpangan depan. Dari sini saya bisa berjalan kaki dan tidak akan menyusahkan siapa pun," tambahnya dengan nada memohon, berusaha sekuat tenaga agar tidak harus mengungkapkan alamat aslinya.
Damian terdiam sejenak, menatap lekat-lekat wajah Evan yang tampak gelisah. Ada rasa aneh yang kembali muncul di benaknya, namun ia memilih untuk tidak mempermasalahkannya lebih jauh saat ini.
"Baiklah," ucap Damian singkat. "Haris, turunkan dia di persimpangan depan."
•
•
❤️
gemess sama Axel
tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya