Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.
Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.
Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: KEPUTUSAN UNTUK MELINDUNGI RAHASIA
Keesokan paginya, kabar tentang upaya licik Aldo belum menyebar luas—berkat kerja cepat tim hukum dan keamanan Grup Arka yang mencegah penyebaran berita bohong itu sebelum sempat menjadi keributan publik. Namun di dalam hati Rian, kejadian semalam meninggalkan bekas yang jauh lebih dalam daripada sekadar rasa marah pada saingan bisnis. Ia duduk di ruang kerja Nadia pagi itu, menatap kotak kardus usang yang kini tergeletak rapi di atas meja—kotak yang menyimpan sisa-sisa kenangan yang dulu ia anggap tak berharga, namun kini menjadi bukti betapa tulusnya cinta yang pernah ia abaikan.
“Kau yakin tak ingin membiarkan semua orang tahu apa yang tertulis di dalamnya?” tanya Rian pelan, jari-jarinya menyentuh pinggiran kotak itu dengan hati-hati seolah takut merusak sisa-sisa kenangan yang ada di dalamnya. “Mereka harus tahu betapa hebatnya kau bertahan saat aku menyakitimu. Mereka harus tahu bahwa kau bukan sekadar wanita yang beruntung memiliki kekayaan keluarga, melainkan wanita yang memiliki hati jauh lebih besar dari apa pun yang dimiliki dunia ini.”
Nadia duduk di hadapannya, menatap kotak itu dengan tatapan yang penuh makna namun tenang. “Membiarkan orang lain membaca isi hatiku yang paling dalam bukanlah cara untuk membuktikan kehebatanku, Rian. Apa yang tertulis di sini adalah milikku—dan dulu, juga milikmu. Itu adalah bagian dari perjalanan kita yang pahit namun membentuk kita menjadi siapa kita sekarang. Jika aku memamerkannya seperti barang pameran, bukankah sama saja dengan aku mengubah rasa sakit yang pernah kita rasakan menjadi alat untuk mencari simpati? Dan bukankah itu juga merendahkanmu lebih jauh lagi?”
Kata-kata itu membuat Rian terdiam. Ia mengerti maksud Nadia. Menyebarkan isi buku harian itu memang akan membuat semua orang memihak padanya dan membenci Rian, namun itu tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi. Itu hanya akan menjadi pertunjukan rasa sakit yang tak akan pernah bisa menyembuhkan luka yang sudah terlanjur menganga.
“Tapi aku takut orang lain akan terus menebak-nebak sembarangan,” ucap Rian dengan suara bergetar. “Aku takut mereka akan menciptakan cerita sendiri yang tak benar tentangmu, tentang kita.”
“Biarkan mereka berbicara,” jawab Nadia mantap. “Kebenaran tak selalu harus diteriakkan. Kadang ia cukup berdiri tegak lewat tindakan kita sehari-hari. Selama kita bersikap jujur pada diri sendiri dan pada pekerjaan yang kita jalani, waktu lah yang akan menjawab semua keraguan itu. Dan satu hal lagi: rahasia ini bukan lagi tentang menyembunyikan identitasku darimu. Rahasia ini sekarang adalah tentang menjaga harga diri kita berdua—termasuk harga dirimu yang sedang kau bangun kembali dengan susah payah.”
Mendengar itu, dada Rian terasa sesak namun juga hangat. Bahkan setelah semua kesalahan yang ia perbuat, wanita itu masih memikirkan harga dirinya. Bahkan saat ia sudah berjanji akan menerima segala rasa malu yang pantas ia dapatkan, Nadia justru menariknya kembali agar tidak terjatuh terlalu dalam.
“Terima kasih,” ucap Rian akhirnya, air mata tak lagi bisa ia tumpahkan namun terlihat jelas di matanya yang berkaca-kaca. “Terima kasih karena kau tidak membalas kejahatanku dengan kejahatan yang sama. Terima kasih karena kau masih memberiku kesempatan untuk menjadi pria yang lebih baik, meski aku tahu aku belum pantas mendapatkannya.”
Nadia tersenyum tipis—senyum yang bukan senyum kasih sayang seperti dulu, melainkan senyum penghargaan atas usaha yang tulus. “Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada dirimu sendiri karena akhirnya kau berani menghadapi kenyataan. Dan sekarang, tugas kita bukan lagi memikirkan apa yang orang lain katakan, melainkan memastikan bahwa proyek yang sedang kita bangun ini menjadi bukti nyata bahwa kita berdua mampu berbuat baik, bekerja keras, dan menjaga kepercayaan yang diberikan kepada kita.”
Siang itu, Rian pulang dengan perasaan yang jauh lebih ringan namun juga lebih bertanggung jawab. Ia menyadari bahwa melindungi rahasia masa lalu bukan berarti melupakan atau menyangkal apa yang pernah terjadi. Melainkan menjaga agar kenangan itu tidak lagi disalahgunakan oleh orang-orang yang berniat buruk, sekaligus memberi ruang bagi mereka berdua untuk melangkah maju tanpa terbebani tatapan dunia yang selalu ingin tahu.
Namun di sudut lain hatinya, Rian menyimpan janji lain yang tak terucap: suatu hari nanti, saat ia sudah benar-benar mampu membuktikan bahwa ia berubah sepenuhnya, ia akan berdiri kembali di hadapan semua orang—bukan untuk meminta maaf belaka, melainkan untuk menceritakan bagaimana wanita yang pernah ia buanglah yang mengajarkannya arti rasa hormat, arti kesetiaan, dan arti menjadi manusia yang sesungguhnya. Dan saat itu tiba, ia akan membiarkan dunia tahu bukan lewat buku harian atau fitnah, melainkan lewat perubahan nyata yang ia wujudkan dalam tindakan.
Sementara itu, kabar tentang kejatuhan rencana Aldo perlahan tersiar. Banyak pihak yang mulai menyadari bahwa persaingan bisnis yang sehatlah yang dijunjung tinggi oleh Grup Arka, bukan permainan kotor atau pemanfaatan masa lalu. Nama Nadia semakin disegani bukan hanya karena kekuasaannya, tapi karena keteguhan hatinya. Dan nama Rian perlahan mulai dilihat kembali bukan sebagai pria yang membuang kesempatan, melainkan pria yang berani mengakui kesalahan dan berusaha bangkit kembali dengan cara yang benar.
Masa lalu mereka mungkin penuh luka dan rahasia, namun hari itu mereka sepakat satu hal: rahasia itu sudah cukup tersimpan rapi. Mulai sekarang, yang terpenting bukanlah apa yang mereka sembunyikan, melainkan apa yang akan mereka bangun bersama di masa depan—dengan kejujuran, rasa hormat, dan langkah yang tegap berdampingan, meski posisi mereka kini sudah berbeda jauh dari apa yang dulu mereka bayangkan saat duduk bersanding di pelaminan sederhana bertahun-tahun silam.