Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.
Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.
Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.
Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.
Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 — Latih Tanding
Panggung batu di tengah lapangan latihan selebar delapan langkah, dikelilingi tiang-tiang rendah bertali merah, dan pagi itu seluruh murid luar berkumpul di sekelilingnya.
Jumlah mereka lebih dari seratus, karena murid-murid lama ikut hadir dan berdiri di barisan belakang dengan tangan terlipat. Kesembilan murid baru berbaris di sisi kiri, termasuk Fang Ming yang tak henti menggosok-gosok telapak tangannya, dan Su Wen yang berdiri diam sambil menatap tanah.
Gu Chen berdiri di tepi panggung dengan gulungan nama di tangan, dan suaranya datar ketika ia membaca.
"Uji tanding bulanan. Pertarungan berakhir bila salah satu jatuh, keluar dari panggung, atau menyerah. Dilarang membunuh, dilarang mematahkan tulang dengan sengaja." Ia mengangkat pandangan, dan tatapannya berhenti sebentar di wajah Yu Tian. "Han Bo, murid luar tahun ketiga, menantang Yu Tian, nomor dua ratus empat belas."
Seorang pemuda bertubuh tegap melompat naik ke panggung tanpa menyentuh anak tangga. Lengan jubahnya digulung sampai siku, dan urat-urat di lengannya menonjol di bawah kulit yang kecokelatan. Ia menyeringai ke arah Yu Tian, memperlihatkan gigi depan yang sedikit tidak rata. "Aku Han Bo. Katanya ada anak baru yang tidak mau membungkuk di gerbang dan menolak menyapu tangga. Aku cuma ingin lihat apakah punggungmu memang sekaku mulutmu."
Yu Tian naik ke panggung dengan langkah malas, dan tangan kanannya masih berbalut kain tipis di telapak.
'Tiga hari sudah cukup untuk menutup luka itu. Tubuh Suci ini menyembuhkan dirinya lebih cepat daripada yang kubutuhkan.' Ia berhenti di seberang Han Bo dan menjawab tanpa mengubah wajah. "Punggungku baik-baik saja. Kau yang sebaiknya khawatir soal giginya."
Wajah Han Bo mengeras, dan beberapa murid lama tertawa kecil di barisan belakang. Gu Chen mengayunkan tangannya. "Mulai."
Han Bo menerjang lebih dulu. Telapak tangannya terbungkus kilau biru pucat, dan udara berdesis ketika pukulan pertama meluncur ke dada Yu Tian. Yu Tian memiringkan badan, dan angin pukulan itu menyapu jubahnya dengan dingin yang menyakitkan.
Pukulan kedua menyusul ke rusuk, dan ia mundur setengah langkah. Pukulan ketiga mengarah ke dagu, dan ia menunduk sedikit di bawahnya, merasakan gesekan Qi di ujung rambutnya.
'Telapak Angin Biru, tingkat dasar. Setiap kali ia hendak memukul, tumit kirinya turun lebih dulu. Dan setiap tiga pukulan, ia harus mengembuskan napas.' Yu Tian mengamati dengan mata setengah tertutup, menghitung. Qi di perutnya hanya cukup untuk satu atau dua gerakan besar, dan ia sengaja tidak menyentuhnya. Ia menghindar dengan langkah-langkah kecil, membiarkan Han Bo menghabiskan tenaganya sendiri.
Buk!
Satu pukulan akhirnya mengenai bahu kirinya, dan Yu Tian terdorong dua langkah ke belakang dengan lengan kebas sampai ke ujung jari. Rasa nyeri merambat sampai ke leher, dan darah hangat mengalir di sudut bibirnya karena ia menggigit lidah. Ia menyeka darah itu dengan punggung tangan, dan penonton mulai bergumam.
"Dia tidak membalas," bisik seseorang di barisan belakang. "Dia cuma lari."
Han Bo tertawa lantang.
"Hanya segini? Tunjukkan sesuatu, Anak Baru!" Ia melompat maju dengan kedua tangan terangkat untuk serangan penutup, telapaknya berkilau paling terang sejauh ini, dan tumit kirinya turun.
Yu Tian sudah menunggu itu. Ia tidak mundur. Ia melangkah masuk ke dalam jangkauan, di bawah lengan Han Bo yang terangkat tinggi, dan di tangan kanannya hanya seutas Qi tipis yang ia kumpulkan dari seluruh sisa tenaga di perutnya. Telapak tangannya menghantam tepat di bawah tulang rusuk kanan lawan, di tempat napas Han Bo seharusnya keluar.
Han Bo terhenti di udara, matanya melebar, dan seluruh Qi biru di tangannya padam dalam sekejap. Ia jatuh berlutut sambil memegangi sisi tubuhnya, tidak bisa menarik napas, dan wajahnya yang cokelat berubah keabu-abuan. Yu Tian berdiri di depannya dengan dada naik turun, bahu kirinya berdenyut, dan perutnya kosong sampai ke dasar.
"Pemenang, Yu Tian." Gu Chen menurunkan gulungannya, dan suaranya tidak berubah. Dua murid lama berlari naik untuk memapah Han Bo turun dari panggung, dan sorak ragu-ragu pecah dari barisan murid baru, lalu mereda cepat ketika murid-murid lama menoleh dengan wajah masam.
Yu Tian turun dari panggung dengan langkah yang ia paksa tetap tegak. Gu Chen berdiri di dekat tali merah, dan ketika Yu Tian melewatinya, ia bicara pelan tanpa menoleh. "Tekniknya bersih, tapi Qi-mu tipis. Satu pukulan lagi dari Han Bo, dan kau sudah jatuh."
"Aku tahu." Yu Tian berhenti sebentar, menatap lurus ke depan. "Itu sebabnya aku tidak memberinya kesempatan untuk memukul lagi."
Di teras kayu di sisi timur lapangan, tempat para tetua dan murid dalam menonton, seorang pemuda kurus berjubah merah tua berdiri di dekat pagar. Lu Heng menatap panggung itu tanpa ekspresi, kedua tangannya terjalin di belakang punggung, dan tidak ada senyum atau sinis di wajahnya. Ia hanya mengangguk kecil ke arah Yu Tian sebelum berbalik pergi.
Yu Tian meliriknya, dan rasa ingin tahu tipis muncul di matanya. 'Anak itu tidak mencoba pamer. Menarik. Orang berbakat yang tidak sibuk dipuji lebih jarang daripada batu roh kualitas tinggi.'
Di sebelah Lu Heng, Tetua Shen duduk dengan cangkir teh yang belum disentuh. Kuas di tangannya bergerak pelan di atas gulungan, mencatat sesuatu, dan matanya yang tajam mengikuti Yu Tian sampai ia menghilang di balik tiang aula.
...------...
Malam itu lampu minyak di kamar nomor sembilan sudah padam, dan Fang Ming mendengkur keras di dipan atas. Yu Tian duduk di tepi jendela dengan bahu kiri terbebat kain basah, menatap langit yang nyaris gelap sepenuhnya. Bulan tinggal sehelai garis tipis di ufuk barat, hampir hilang di balik pucuk pinus.
'Tiga malam lagi, mungkin empat. Bulan baru.' Ia teringat ucapan Su Wen beberapa hari lalu tentang pasar kecil di kaki gunung yang hanya buka di malam seperti itu. Ia menarik kantong kain dari pinggangnya dan menimang sembilan inti monster di telapak tangan, yang cahayanya remang di antara jari-jarinya. Cukup untuk menukar beberapa batu roh, tapi belum cukup untuk apa yang ia butuhkan.
'Kalau sembilan, aku hanya dapat sedikit. Kalau dua puluh, aku bisa memilih sendiri apa yang kubeli.'
Yu Tian menutup kantong dan menyimpannya kembali, lalu menatap hutan gelap di lereng barat yang menghitam di bawah langit. Bel malam melarang murid luar keluar, tetapi bel itu tidak melarang orang yang sudah pergi sebelum fajar. Sudut bibirnya naik sedikit. 'Besok, sebelum matahari terbit, aku berburu.'