NovelToon NovelToon
Singgah Yang Tertukar

Singgah Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Terlarang
Popularitas:818
Nilai: 5
Nama Author: Ranu Kallanie Jingga

Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
​Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyatuan

Di dalam kehangatan temaram selimut yang menutupi tubuh mereka, Julian bergerak dengan penuh kehati-hatian. Napas mereka saling beradu di ruang sempit yang privat itu.

Sadar bahwa Elena sudah dua tahun menutup diri dan hidup dalam benteng trauma, Julian menepis segala bentuk ego atau ketergesaan.

Ia memposisikan dirinya, lalu dengan gerakan paling pelan dan lembut yang ia bisa, Julian mulai menembus pertahanan Elena.

Namun, meski Julian sudah berusaha selembut mungkin, rasa asing dan tekanan itu tetap membuat tubuh Elena menegang. Sebuah ringisan tertahan lolos dari bibirnya, disusul rintihan pelan yang mencengkeram lengan Julian.

Gelombang demi gelombang kenikmatan yang memuncak akhirnya merambati saraf-saraf kesadaran mereka. Di dalam dekapannya, Julian merasakan tubuh Elena menegang sesaat sebelum akhirnya lemas tak berdaya, terbuai dalam klimaks yang menyatukan peluh dan napas mereka.

Tak berselang lama, Julian menyusul. Dengan erangan tertahan yang diredam di ceruk leher Elena, ia melepaskan puncaknya, menyalurkan seluruh sisa tenaga dan emosi yang selama ini tertahan.

Napas keduanya memburu hebat, beradu dalam senyapnya temaram kamar hotel di balik selimut tebal.

Setelah beberapa detik membiarkan diri mereka terhanyut dalam sisa debar jantung, Julian perlahan menarik diri. Dengan sangat hati-hati, ia mengeluarkan diri dari tubuh Elena, lalu memastikan seluruh sisa pelepasan itu jatuh bersih di permukaan perut rata sang gadis.

Julian tidak langsung beranjak jauh. Mengambil beberapa lembar tisu basah dan handuk kecil yang tersedia di dekat nakas, pria itu dengan telaten dan penuh kelembutan membersihkan tubuh Elena. Gerakannya begitu sabar, seolah memperlakukan wanita itu layaknya barang porselen paling rapuh di dunia.

Setelah semuanya bersih, Julian merapikan pakaian Elena sekadarnya dan kembali menyelimuti tubuh mungil sahabatnya itu hingga sebatas dada, memastikan Elena merasa nyaman dan hangat.

"Istirahat sebentar, ya. Aku bersih-bersih dulu," bisik Julian lembut di telinga Elena, mengecup kening gadis itu sekilas sebelum akhirnya beranjak dari tempat tidur.

Julian melangkah cepat menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan menyegarkan tubuhnya yang basah oleh keringat.

Tok... tok... tok.

Belum genap sepuluh menit Julian di dalam kamar mandi, suara ketukan pintu kamar hotel terdengar dari luar.

Elena yang masih berbaring di atas ranjang mengerjap pelan, mengumpulkan kesadarannya. Tak lama kemudian, suara ketukan itu kembali terdengar, disusul suara staf hotel dari balik pintu.

"Permisi, room service untuk pesanan malam..."

"Sakit, Jules..." bisik Elena lirih dengan suara bergetar, jemarinya meremas kuat kain selimut di samping tubuhnya.

Mendengar rintihan itu, seketika seluruh gerakan Julian terhenti. Rasa bersalah langsung menghantam dadanya dengan telak. Keraguan yang besar merayap naik, membuat Julian segera menarik sedikit tubuhnya dan mengurungkan niatnya. Tanpa membuang waktu, ia berbaring di sebelah Elena, menarik tubuh mungil wanita itu ke dalam dekapannya dengan penuh kelembutan.

Julian mengelus rambut basah Elena penuh sayang, mengecup keningnya berkali-kali.

"Udah, kalau memang belum siap, kita berhenti ya, El. Aku nggak mau nyakitin kamu," ucap Julian dengan suara berat yang tulus, menyiratkan bahwa kenyamanan Elena jauh lebih penting dari hasratnya sendiri.

Elena terdiam di dalam dekapan hangat Julian. Ia meresapi ketulusan dan kepedulian luar biasa dari sahabat yang kini telah menjadi lelakinya itu. Rasa sakit di awal tadi memang nyata, tetapi gelora di dalam dadanya hasrat yang terlanjur terbangun dan kerinduan untuk lepas dari bayang-bayang masa lalu jauh lebih kuat.

Perlahan, tangan Elena terulur, menyentuh dada bidang Julian. Ia mendongak, menatap manik cokelat Julian di balik temaram, lalu memberikan senyum tipis yang sarat akan keyakinan.

"Jangan berhenti, Jules..." cicit Elena manja, jemarinya bergerak merengkuh leher Julian, menarik pria itu kembali mendekat. Waktunya merona malu, namun sorot matanya berbicara lain. "Aku nggak apa-apa... Tadi cuma kaget aja. Kamu cuma perlu... sedikit lebih lembut dan pelan lagi, ya?"

Permohonan yang dibalut dengan manja itu bagaikan bahan bakar terakhir yang meruntuhkan keraguan Julian. Dengan napas yang kembali memburu, senyum hangat terbit di bibir Julian sebelum ia kembali menunduk, menyatukan kembali dunia mereka dalam kelembutan yang tak terhingga.

Lampu hijau itu menyala begitu terang, meruntuhkan sisa-sisa keraguan terakhir yang tertinggal di antara mereka. Di dalam dekapan hangat dan lindungan selimut tebal yang memisahkan dunia luar dari rahasia mereka, Julian kembali mengambil posisinya.

Dengan gerakan yang teramat sabar dan terukur, Julian kembali menenggelamkan diri, menyatukan tubuh mereka sepenuhnya.

Sebuah terikan kecil dan tertahan lepas dari bibir Elena, diiringi tubuhnya yang sempat menegang sesaat sebelum akhirnya Julian berhasil menembus dan menyatu dengan sempurna. Menyadari kepekaan wanita di bawahnya, Julian langsung menghentikan gerakan. Ia berdiam diri, memeluk dan membiarkan tubuh Elena beradaptasi, menerima kehadirannya selama beberapa detik hingga deru napas gadis itu mulai melambat dan kembali tenang.

Setelah merasa Elena benar-benar siap, Julian mulai mengambil kendali.

Gerakan awalnya dimulai dengan lambat dan penuh kehati-hatian, namun seiring dengan kehangatan luar biasa yang merayap dan ritme yang mulai terbangun, pertahanan diri Julian perlahan runtuh. Sensasi kenikmatan yang begitu pekat dan asing menghantam kesadarannya, membuatnya tak lagi mampu menahan diri.

Napas mereka beradu dalam isyarat tanpa suara. Bisikan-bisikan tertahan dan desahan kepuasan lolos dari bibir Julian, menyuarakan rasa nikmat yang begitu dalam—sebuah kepuasan yang bahkan belum pernah ia bayangkan atau rasakan sebelumnya selama hidupnya.

Di bawah temaram selimut itu, batas antara persahabatan puluhan tahun dan ikatan terlarang ini lebur menjadi satu, membawa keduanya hanyut dalam gelombang keintiman yang tak lagi bisa dihentikan.

1
Aurora odelyn Nakeisha
alurnya agak berat tapi bikin penasaran
Anandaaa
lanjutin torr gas
Langi Wijaya
ceritanya seru agak bikin tensi naik turun.....
ayo tor lanjutin update nya
Langi Wijaya
julian cowo bingung tapi clear agak out of the box pemikirannya😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!