'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.
》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.
》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :
~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~
》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 05. Aneka Riuh
...~•Happy Reading•~...
Ketika Alena melihat gadis itu berdiri, dia menundukkan kepala dan memajukan wajah ke arah Arni yang duduk di depannya. "Arni, orang itu sudah berdiri." Sontak Arni lihat ke meja Nelson.
"Cek dia mau ke mana. Aku penasaran sama dia." Alena meminta temannya untuk menyelidiki gadis yang duduk di samping Nelson, dan telah meninggalkan tempat makan.
Dia sudah berusaha berbagai cara dan berani mendekati Nelson. Tetapi ada wanita lain yang lebih berani dan tidak kalah cantik darinya. Hal itu membuat dia tidak bisa duduk tenang.
Dia penasaran dan ingin tahu siapa gadis yang membuat Nelson melihat dia dengan wajah baik. Padahal tadi dia sengaja mau traktir mereka bertiga untuk dapat perhatian Nelson. Tapi jangankan berbicara, melihatnya pun, tidak. Hal itu membuat hatinya gatal.
"Ok. Tutup makananku." Arni menunjuk makanannya yang belum habis dimakan di atas meja, lalu segera berdiri dan berjalan keluar untuk menyelidiki.
°°~
Bagi mereka bertiga, permintaan Alena bagaikan titah. Sebab mereka peroleh berbagai kemudahan sebagai teman Alena yang cantik, pintar dan primadona di kampus.
Mereka tahu Alena tertarik pada Nelson. Sehingga ketika melihat Nelson ada di kampus, mereka mengatur rencana untuk melewati fakultas teknik. Mereka berharap bisa bertemu Nelson untuk menyenangkan hati Alena.
Setelah melihat reaksi Nelson dan Angga terhadap mereka di halaman kampus yang menggoda mereka dengan candaan lucu, hati bagaikan tanah gersang yang diguyur hujan.
Kemudian hati mereka makin berbunga saat melihat Nelson masuk ke tempat makan. Oleh sebab itu, mereka mendesak Alena pergunakan kesempatan untuk memperkenalkan diri.
°°~
Setelah Arni pergi, Alena tidak sabar menunggu hasil penyelidikannya. "Benar, kalian gak pernah melihat dia sama sekali?" Alena bertanya kepada kedua temannya.
"Iya. Dengan wajah ayunya, masa kita gak tahu." Ucapan Danna makin mengganggu dan mengusik Alena yang merasa ada saingan baru untuk mendapatkan Nelson.
"Tapi penampilannya biasa saja. Terlalu sederhana." Ucap Darcy menambahkan sambil menyenggol Danna. Agar tidak memuji saingan Alena di depannya.
"Gimana, Arni. Dia dari mana?" Alena langsung bertanya sebelum Arni duduk lagi di depannya.
"Sepertinya dia bukan mahasiswa kampus sini. Dia tadi langsung ke dermaga fery." Arni melapor hasil penyelidikan pandangan mata.
"Mungkin dia mahasiswi dari kampus di kota yang ada kegiatan di kampus kita." Darcy mengatakan yang terpikirkan.
"Bisa juga. Karna aku tidak pernah lihat dia kuliah di sini." Danna membenarkan yang dikatakan Darcy.
"Jangan, jangan dia kenal Kak Nelson di kota. Makanya tadi dia langsung duduk di meja mereka." Arni menyampaikan kecurigaannya.
Alena makin tidak tenang. "Ya, sudah. Makan dulu. Nanti aku pikirkan cara lain." Alena memikirkan semua yang dikatakan temannya dan mulai menyusun rencana lain.
Dia tidak tahu kehidupan Nelson di kota secara detail. Sebab temannya yang tinggal di kota tidak menemukan informasi tentang Nelson di kota. Dia hanya tahu di kampus, kalau Nelson belum punya pacar.
'Benar juga, ya. Masa mahasiswa semester akhir, good looking belum punya pacar. Sedangkan mahasiswa lain sudah gonta ganti pacar.' Alena membatin dan jadi ragu, tapi hatinya tidak mau menyerah untuk mendapatkan Nelson.
Dia ingin memastikan, sebab dia mengetahui Nelson tidak masuk antrian para senior yang mendekati atau mencari perhatiannya. Apa lagi ingin menjadikan dia sebagai pacar. Sehingga Nelson masuk list prioritas untuk ditaklukan.
"Arni, bayarin makanan kita ini, ya. Aku mau ke sana untuk memastikan sesuatu." Alena menunjuk dengan wajah ke arah meja Nelson.
"Ok, siap. Pastikan dulu, karna Kak Nelson sepertinya cuma sebentar di kampus." Arni merasa senang bisa membantu Alena.
Dia tidak berpikir Alena memanfaatkan dia untuk tujuan tertentu. Sebab walau dari keluarga berada, dia tidak cukup pintar. Jadi dengan adanya Alena, dia bisa kuliah dengan baik. Semua tugas kuliah dikerjakan oleh Alena.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Darcy dan Danna. Mereka bangga bisa dekat dengan Alena yang merupakan primadona kampus. Sehingga mereka berusaha menyenangkan Alena dengan berbagai cara dan hadiah.
Tanpa ragu dan percaya diri Alena berjalan mendekati meja Nelson. 'Aku tidak boleh kehilangan kesempatan ini.' Tekad Alena sambil menegakan punggung.
"Son, Alena sedang ke sini. Jaga bicaramu." Bisik Angga tanpa melihat Alena.
"Evi, apa bicaraku bermasalah padamu?" Nelson bertanya kepada Evie yang sedang melihat Angga.
"Kalau aku, gak masalah. Malah kalau kau gak bicara seperti biasanya, aku curiga yang bicara denganku hasil kloningmu."
"Good. Kardus bekas ini selalu khawatir kalau aku salah bicara dengan ciwi-ciwi." Nelson menunjuk Angga dengan gerakan kepala.
Tanpa diduga Angga, Nelson bergerak cepat, pindah ke kursi depan Evie. "Aku sedang menyelamatkan kakiku dari tendangan kardus bekas. Dia kira kakiku bola, kalau aku bicara tidak sesuai dengannya pada ciwi-ciwi, main tendang." Nelson bicara sambil memajukan badannya mendekati Evie.
"Kenapa kau bicara mesra dengan Ayankku?" Protes Angga sambil melototin Nelson.
"Oh, ini mesra menurutmu? Mengapa gak lakukan saat lagi berdua?" Evie protes dan merai dagu Nelson. "Kau memang sangat tampan dan romantis..." Angga tidak jadi menarik tangan Evie, karena Alena sudah berdiri di depannya dan melihat ke arah Evie dengan wajah tidak suka.
Evie tidak melanjutkan meledek Angga. Dia melepaskan tangan dari dagu Nelson. "Sorry, tadi ada sesuatu di dagumu." Ucap Evie sambil membersikan dagu Nelson, seakan ada sesuatu di sana. Padahal dia sedang menghindari pandangan tajam dan tidak suka Alena.
"Maaf, Kak. Saya mengganggu." Alena langsung duduk di samping Nelson, membuat Angga salah tingkah dan tidak berani protes kepada Nelson yang sudah pindah dari depannya.
"Tidak mengapa. Silahkan duduk." Ucap Evie walau Alena sudah duduk di kursi.
"Saya ada perlu sama Kak Nelson." Alena langsung pada tujuannya. Dia berharap Angga dan Evie mengerti dan mau meninggalkan mereka berdua saja.
"Ok. Silahkan." Evie mempersilahkan dengan menggerakan tangan tanpa beranjak. Justru Evie memanggil pelayan untuk menambah minuman untuknya dan Angga.
Hal itu membuat Alena meradang tapi tidak bisa protes. Dia terpaksa memasang senyum manis saat Nelson melihatnya. "Kau perlu apa dengan saya?" Tanya Nelson datar. Kaki Angga gatal mendengar nada suara Nelson yang berbeda, saat bicara dengannya atau Evie.
"Aku dengar Kak Angga sudah selesai penelitian." Alena menahan hati agar tidak emosi atas sikap Nelson. Dia harus menurunkan ego agar bisa mendapatkan yang diinginkan hatinya.
Iya." Jawab Nelson. Alena tertegun mendengar jawaban singkat Nelson. Begitu juga Angga yang sedang diam menunggu.
"Evi, aku minta air mineral." Nelson berkata kepada Evie yang sedang berbicara dengan pelayan untuk mencairkan suasana yang membeku. Evie mengangguk sambil mengangkat jari berbentuk OK.
'Siapa Kak Evi ini? Mengapa sangat santai pegang wajah Kak Nelson?' Alena bertanya dalam hati. Dia heran Evie berbicara sangat dekat dan mesra dengan Nelson sambil memegang dagunya.
...~•••~...
...~•○♡○•~...